New Chapter Of My Life

New Chapter Of My Life
Episode 87 Ada Apa dengan Al


__ADS_3

Malam hari sebelum tidur, akhirnya Dona bercerita tentang masalah Al di sekolah.


" Mas, kita sudah dzalim ke anak-anak."


" Maksudnya?? "


" Kita berdua terlalu sibuk dengan bisnis kita, membuat kita lupa menemani dan membimbing anak-anak. Kita menganggap mereka telah dewasa, dapat mengatasi masalah mereka, tugas sekolah mereka tanpa kita bertanya, " jawab Dona sambil meneteskan air mata.


" Kita berhutang waktu ke anak-anak, Mas. Puncaknya hari ini, ternyata Al banyak tidak mengerjakan tugas sekolahnya, nilai ulangan hariannya pun jauh dibawah KKM, merah semua. Tapi itu belum seberapa, selama ini di sekolah, Al tidak banyak bersosialisasi dengan temannya, ia banyak menyendiri, sampai akhirnya ia sering di goda oleh temannya. Dibilang anak manja, seperti perempuan, hingga akhirnya ia tidak tahan dengan bully-an temannya. Jadi tadi siang, Al memukul 2 orang teman kelasnya. Alhamdulillah mereka ga papa hanya sedikit memar di lengannya. Dan wali kelasnya telah menghukum 2 anak itu, karena perilaku mereka terhadap Al. Al tidak mendapatkan hukuman, hanya peringatan saja diganti dengan perbaikan nilai tugas dan ulangan harian saja. "


Khalis hanya terdiam mendengarkan Dona yang menangis sambil bercerita. Ia pun memeluk Dona erat tanpa berkata apa pun, karena ia pun akhirnya menyadari kelalaiannya terhadap anaknya.


" Bisnis bisa ditunda, bisnis bisa diulang, tapi kesempatan dengan anak-anak hanya sekali, kita tidak bisa memutar waktu. Mereka butuh kita, Mas. Belum lagi belakang kita sering konflik karena bisnis, aku yakin mereka dapat merasakan perang dingin kita. Tapi mereka tidak bisa mengungkapkan kesedihan atau frustasi mereka, karena kita terlalu sibuk mengejar dunia. "


Khalis tetap terdiam dan kali ini ia juga meneteskan air mata penyesalannya.


Mulai malam itu, Khalis dan Dona banyak meluangkan waktunya di rumah, menemani Alta bermain dan saling bercerita. Tak jarang ia menghabiskan waktunya di akhir pekan, hanya berdua dengan putra bungsunya itu.


Dari menonton pertandingan olahraga, bersepeda hingga bertukar cerita.


Hingga suatu saat, tiba-tiba setelah pulang sekolah, Al mengeluarkan darah yang cukup banyak dari hidungnya.


Dona segera menghentikan pendarahan dengan kasa yang selalu tersedia di kotak P3K di rumahnya.


" Al kenapa?? kepalanya sakit?? " tanya Dona.


" Sedikit Bu. Tapi biasanya kalau sakit kepala, aku ga sampai mimisan. "


" Al sering sakit kepala?? "


" Kadang sih Bu, biasanya kalau siang, tapi pernah juga malam-malam. "


" Kok Al ga cerita?? "


" Cuma sakit sedikit kok Bu, sebentar juga baikan, " jawab Al sambil tersenyum.


" Al, kamu harus cerita ke ibu kalau kamu sakit, walaupun sakitnya sedikit. "


Dona pun memeriksa badan Al, lalu ia, menemukan beberapa lebam di badan Al.


" Al ini kenapa?? kamu jatuh?? atau kenapa?? "

__ADS_1


" Ga tahu, aku ga jatuh, tapi tiba-tiba ada aja yang biru-biru gitu. Tapi nanti hilang sendiri kok, Bu."


Dona merasakan ada yang tidak beres dengan kondisi badan putranya itu, hingga ia pun memutuskan untuk memeriksakan Al ke rumah sakit hari itu juga.


Setelah maghrib, Khalis dan Dona memeriksakan Al ke dokter anak di rumah sakit berskala internasional tempat Dona dulu dirawat ketika sakit.


" Jadi keluhannya apa yaa?? " tanya dokter Asih, dokter anak yang memeriksa Al.


" Tadi pulang sekolah tiba-tiba Al mimisan, cukup banyak darahnya. Lalu ketika saya tanya, katanya dia cukup sering mimisan. Saya juga periksa badannya, saya menemukan beberapa luka lebam di tubuhnya, seperti ini Dok " jelas Dona sambil menunjukkan lebam di lengan dan kaki Al.


" Berat badannya bagaimana?? " tanya dokter Asih.


" Sepertinya agak turun Dok, nafsu makannya juga terlihat berkurang. " jawab Dona.


" Alta sering pusing ?? "


" Iya, Dok. "


" Suka capek juga?? "


" Iya, Dok."


" Naik ke bed periksa dulu yaa."


Dokter Asih pun memeriksa Al dengan seksama, dari ujung kepala hingga kaki.


Dokter Asih menghela nafasnya kemudian,


" Kita tes darah dulu, saya curiga dengan penyakit tertentu, tetapi kita pastikan dulu dengan pemeriksaan darah lengkap "


Al pun dibawa menuju laboratorium untuk pengambilan sampel darah. Khalis dan Dona mendampingi Al yang ketakutan ketika akan diambil sampel darahnya.


" Bapak atau Ibu silahkan pangku anaknya, ga papa " ucap perawat yang membaca ketakutan Al dan kekhawatiran Khalis dan Dona.


Dona pun memangku Al dan membisikkan ayat-ayat Al Qur'an untuk menenangkannya.


Jarum suntik masuk ke dalam pembuluh darahnya, rasa sakit pun dirasakan oleh Al, hingga akhirnya ia pun menangis. Sebagai ibu, Dona pun merasakan sakit yang dirasakan putranya itu, terlebih ia tahu bagaimana rasa sakitnya di ambil darah, terlebih Al masih kecil.


Dona pun mengusap-usap kepala putranya, hingga tangisnya mereda.


Setelah 1 jam, hasilnya pun telah keluar dan mereka kembali ke dalam ruang periksa.

__ADS_1


" Maaf Pak, Bu, tetapi sepertinya kecurigaan saya benar. Putra Bapak dan Ibu terkena leukimia. "


Dunia Khalis dan Dona mendadak runtuh mendengar hasil diagnosis dokter.


Dokter Asih membacakan hasil pemeriksaan darah Al dan menjelaskan artinya satu persatu. Tetapi Dona tidak dapat mendengarkan dengan baik penjelasan dokter Asih, air mata pun membasahi kedua pipinya.


Tangannya memegang erat tubuh Al, begitu juga dengan Khalis yang merasakan hal yang tidak jauh berbeda dengan Dona.


" Jadi saya minta putra Bapak dan Ibu untuk dirawat intensif di rumah sakit. Alhamdulillah ini masih stadium awal, jadi in syaa Allah masih banyak kesempatan untuk penyembuhannya. "


" Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir, leukimia banyak ditemukan pada anak-anak, dengan perawatan intensif yang tepat, in syaa Allah dapat disembuhkan, " lanjut dokter Asih yang membaca kecemasan pada Khalis dan Dona sebagai orang tua.


" Saya pesankan ruang perawatan intensif hari ini juga, " ucap dokter Asih.


Dokter Asih kemudian menghubungi bagian rawat inap, untuk menanyakan ketersediaan kamar yang ada.


" Pak, dari bagian rawat inap menginfokan ada kamar kosong di ruang VIP, Super VIP dan Suite "


" Super VIP saja, " jawab Khalis dengan suara sedikit bergetar.


Dona kembali teringat masa-masa ketika dirinya harus segera dirawat intensif ketika di diagnosis hydrocephalus. Ibunya telah mempersiapkan semua kemungkinannya, sehingga ia telah menyiapkan pakaian Dona di dalam koper.


Dona pun melakukan hal sama, sebelumnya ia telah menyiapkan pakaian Al dan dirinya, untuk kemungkinan Al dirawat di RS.


Al kemudian di jemput menggunakan kursi roda menuju kamar perawatan, sedangkan Khalis menyelesaikan administrasi rumah sakit terlebih dahulu sebelum menyusul naik ke ruang perawatan dimana Al akan dirawat.


Wajah Al tampak bingung dan sedikit ketakutan, membuat Dona meminta agar ia dapat memangku Al di kursi roda.


" Al tenang yaa, Al sama Ibu, kita jalan-jalan naik kursi roda " ucap Dona sambil memeluk bungsunya itu.


Sampai di kamar perawatan, Al didatangi oleh perawat untuk dipasangi gelang pasien dan selang infus.


" Buuu, kok aku disuntik lagi??? sakit Buuu, " protes Al sambil menangis.


" Maaf ya Sayang, tapi ini obat agar Al cepat sembuh. Ibu dulu juga dipasangi selang infus. Al mau sehat kan?? nurut yaa, ibu temenin Al kok. "


Dengan terus memeluk putranya, Dona harus menyaksikan jarum masuk kedalam tubuh mungil Al berulang kali, membuatnya beristighfar tiada henti dan kembali meneteskan air matanya.


Khalis pun merasakan kesedihan yang sama, tetapi ia tidak ingin Dona melihatnya sedih, karena sebagai suami, ia ingin melindungi keluarganya, anak dan istrinya. Bahkan jika ia bisa, ia ingin memindahkan rasa sakit Al kepadanya.


Untuk itu sebelum ia menyusul putranya ke ruang perawatan, ia menenangkan dirinya di kamar mandi dan kemudian menuju mushola untuk shalat Isya.

__ADS_1


Bayangan akan Nadia yang sakit kembali muncul dalam ingatannya. Setelah bertahun-tahun ia dapat melupakan rasa sakit itu, tetapi saat ini ia harus kembali merasakannya.


__ADS_2