New Chapter Of My Life

New Chapter Of My Life
Episode 96


__ADS_3

2 pekan kemudian,


" Bu, jadinya Bang Raffa gimana?? " tanya Aisha.


" Gimana apa?? kamu sendiri gimana?? buruan dong buat keputusan, iya atau ga?? "


" Hmmm kalau iya, trus gimana?? "


" Kalau iya, nanti keluarganya Bang Raffa yaa kesini, ngelamar langsung. "


" Lamaran itu ngapain aja sih Bu?? "


" Yaaa nerima tamu biasa aja sih sebenarnya, tapi yaa di situ nantinya ayahnya Bang Raffa akan ngomong 'maksud kedatangan kami adalah untuk melamar Aisha sebagai calon istri Raffa', biasanya sih gitu. Nantinya yaa kamu yang jawab, iya atau ga-nya. "


" Lah, masih ditanya lagi??


" Iya, ditanya langsung. Trus biasanya nanti dari pihak laki memberikan tanda lamaran, bisa cincin atau yang lain. Biasanya sih cincin. "


" Ooo, trus ?? "


" Yaa seperti pertemuan keluarga biasa, makan-makan. Nanti juga dibahas acaranya, akad dan resepsi secara garis besar aja. Kapan, dimana, adat apa. "


" Gini deh Sha, perasaan kamu gimana, pingin ketemu Bang Raffa, kangen kah atau sebaliknya?? "


" Kalau iya, artinya iya. Makanya kamu yakinkan hatimu, kalau ayah dan ibu sih ngikutin mau kamu bagaimana, kan kamu yang akan menjalani seumur hidup kamu. "


" Trus kalau aku nikah sama Bang Raffa, nanti aku tinggal dimana?? "


" Yaa, itu bisa dibahas nanti. Yang penting persiapan kamu bukan hanya lahiriah tapi yang utama itu yang batinnya. Ibu kan sudah kasih kamu buku hak dan kewajiban istri dalam Islam. Kamu kan sedikit banyak sudah tahu lah, bagaimana ibu melayani dan bersikap ke ayah."


" Tapi ingat, ibu tidak memaksa, kamu harus yakin 100%, bukan karena ibu atau bunda yang minta atau pun orang lain. "


" Bu, kalau akad nanti, aku ga mau ayah yang jadi wali aku, gimana ?? "


" Trus?? ayah bisa marah dan tersinggung lho. "


" Ya aku tahu, tapi aku ga mau. Aku mau pakde Dedi aja yang nikahin aku. "


Dona pun menarik nafasnya,


" Nanti kita bahas lagi, setelah kamu membuat keputusan. Untuk wali nikah, ibu akan bicara ke bude Retno yaa. "


" Iya Bu, syukron."


" Afwan. "


Dona lalu menghubungi kakak perempuan Tyo.


" Assalamu'alaikum "


" Wa'alaikumsalam, apa kabar Don??"


" Alhamdulillah baik Mbak. Mbak aku langsung aja yaa. "


Seperti biasa, Dona tidak memakai basa-basi untuk mengutarakan maksudnya dan orang-orang yang mengenalnya juga sudah paham benar dengan gaya Dona yang to the point.


" Hmmm, mbak juga bingung kalau begini. Tyo pasti akan tersinggung dan marah. "


" Yaa tapi gimana, anaknya sudah menolak. Aisha selalu bilang, ' ngapain ayah yang nikahin aku, ayah ga pernah ada, ayah ga mendidik aku dan membesarkan aku ', walaupun sudah aku jelasin bahwa tidak ada mantan ayah atau anak, tapi yaa tetap Aisha tidak mau. "


" Kamu sudah bilang ke Mas Dedi? "


" Belum Mbak, aku nanya Mbak dulu. "


" Yowes, aku bicarakan dulu disini. Rencananya kapan?? "


" Belum tahu juga, aku nanya dulu agar Aisha bisa memutuskan lebih cepat. "


" Yowes, nanti aku bahas di sini. Semoga ga ada yang sakit hati. "


" Syukron, Mbak."


Dona tidak berharap Tyo akan rela menyerahkan tanggungjawab untuk menikahkan Aisha kepada kakaknya, tetapi ia tetap harus mencoba dan berharap semoga Tyo legowo.


Di saat yang sama, Dona juga masih mencarikan istri untuk Rafif.


" Yang, lihat sini !! " panggil Khalis.

__ADS_1


" Ada apa?? "


" Just take a look at this. "


Khalis memberikan lembaran kertas tertulis CV Ta'aruf.


" Dari mana?? " tanya Dona.


" Ikhwan dari kajian di masjid."


" Anak kedua dari 3 bersaudara, kakak pertamanya sudah punya anak 1, adiknya masih SMA."


" Umurnya 22 tahun, lebih muda setahun dari Aisha. "


" Lulusan Jakarta Culinary Schooll, sekarang rutin terima orderan untuk snack anak sekolah. Kalau ayahnya cerita, Annisa ini sudah terbiasa untuk berbisnis, dari kecil sudah sering jualan di sekolah ke teman sekelasnya. Jiwa bisnisnya sudah terasah sejak dini. "


Dona kemudian membaca lembaran kertas tersebut dengan teliti.


" Lulus LTQ Al Utsmani, hafal 10 juz??!! "


" Ini calon yang MasyaAllah Mas!! "


" Trus anaknya seperti apa?? " tanya Dona.


" Ini fotonya. "


Khalis memberikan sebuah foto, seorang gadis putih berhijab panjang.


" Cantik."


" Aku sih, yes. " ucap Khalis.


Dona pun melirik,


" Apakah ini Idol-idolan itu?? aku sih, yes?? "


" Pokoknya itulah Yang. What do you think?? "


" Aku sih oke, yuk ke Rafif "


Setelah makan malam, Khalis dan Dona mengajak Rafif bicara, tentang calon istri untuknya.


" Kamu baca dulu, kalau sekiranya menurut kamu oke, nanti ibu kasih lihat fotonya. "


" Eh, sudah ada?? trus CV ku sudah dikasih ke dia, eh siapa namanya?? "


" Bacalah namanya disitu. " jawab Dona.


" Annisa Faiha, panggilannya Nisa, 22 tahun."


" CVku sudah di Nisa?? "


" Sudah, tadi sudah ayah kasih ke ayahnya. "


" Trus aku gimana?? "


" Rasanya ingin ku tepuk dahi ku!! Fif?? kamu baca, kalau sesuai sama kriteria kamu, nanti kita ke rumahnya. Kita ketemu dulu, yaa seperti interview, tanya jawab lah, dia mau tanya apa dan kamu mau tanya apa?? "


" Ya nanti setelah itu lanjut lamaran, " jelas Dona.


" Ooo, aku baca dulu ya Bu, eh kapan ke rumahnya?? "


" Yaa tergantung kamu, kalau bisa secepatnya kenapa tidak." jawab Dona lagi.


" Ooo gitu. "


" Iya gitu, kamu mikir lah, jangan kelamaan mikirnya "


" Siap Bu!!"


Setelah itu, Dona dan Khalis berbincang berdua di dalam kamarnya.


" Kok aku yang deg-degan ya, Mas. "


" Hmmm melankolisnya muncul, kah?? " tanya Khalis.


" Mungkin?? baper mode on!! ih aku gemes pingin segera iyain aja. "

__ADS_1


" Santai Yang, anyway dulu waktu sebelum lamaran, ada tanda-tanda apa sampai akhirnya langsung terima lamaran mas?? "


" Hmmm kenapa yaa?? aku lupa, pokoknya pagi bangun tidur, rasanya segar aja trus yaa rasanya ingin cepat ketemu Mas lagi. "


" Hooo sudah mulai kangen yaa."


" Hooo ada yang GR yaaa " balas Dona.


" Yaa GR dong, masa' ga. Tapi waktu itu, maunya langsung akad aja, nikah secara agama. "


" Hooo ada yang sudah ga sabar."


" Iya lah, namanya juga laki, maunya langsung selesai, SAH!! "


" Kok ga bilang ke Bapak?? "


" Ga lah, malu. Kecuali ditawarin bapak , 'bagaimana kalau langsung akad dulu '. Kalau itu terjadi, langsung deh Mas keluarin maharnya. "


" Lho?? memangnya sudah siap?? "


" Sudah, kan persiapan kalau ditembak untuk langsung akad. "


" Hooo, ternyata .... "


" Ya begitulah. Oiya Yang, pada saat Aisha nikah nanti, kalau benar jadinya Mas Dedi sebagai wali nikahnya Aisha, Mas ingin memberi sesuatu untuk Mas Dedi. "


" Ngasih apa?? "


" Pantasnya apa?? "


" Apa yaa?? jam tangan?? "


" Boleh tuh, Swiss Army, Fossil, Tag Heuer ?? "


Seperti biasa, Khalis membuka internetnya untuk mencari model jam tangan yang dia inginkan.


" Yang ini gimana?? "


Khalis menunjukkan sebuah jam tangan asal Swiss, yang merupakan jam tangan sponsor resmi F1.


" Berapa?? " tanya Dona.


" 28 juta, diskon dari 35 juta "


Dona memejamkan mata dan menarik nafasnya.


" Mas, boleh agak miring lagi ga harganya?? "


" Ini sudah miring banget Yang. Jam tangan yang Mas pakai itu kan jauh lebih mahal."


" Ooooouch don't reminds me, auto sakit kepala kalau ingat belinya. "


Khalis pun tertawa, mengingat kekesalan Dona ketika ia membeli jam tangan seharga 95 juta rupiah, yang menurutnya sudah cukup murah dari model yang serupa seharga 135 juta.


" Yang Rafif pakai sekarang tuh kalau ga salah sekitar 50 juta. "


" I know that !!! aku juga kesal sama bocah itu, kok nurun sih gaya belanjanya!!! "


" Sayang sih, ga pakai jam tangan, ada nih... "


" Ada HP, " jawab Dona singkat.


" Kalau ada cerita seorang suami takut istrinya diculik, karena barang yang dipakai istrinya itu sekitar 100 jutaan, kalau Mas ga pernah khawatir. Jam tangan ga ada, perhiasan dari kalung, gelang, cincin, bros ga ada ... "


" Aman dari penculikan aku tuh Mas, " dalih Dona.


" Cincin nikahnya kenapa ga dipakai sih?? "


" Ribet ah, copak terus!!"


" Apa tuh copak ?? "


" Copot pakai. Kan kalau wudhu harus dilepas, mandi juga, ribet. "


" Jadi yang pakai cincin, kotaknya aja yaa?? "


" Bingo!! biarkan ia beristirahat dengan tenang di dalam kotaknya."

__ADS_1


" Ngeri ih!! "


__ADS_2