
" I love my bed!! Hi, how are you?? Do you miss me?? I miss you so much!! "
" I'm glad my Dona is back. " ucap Khalis sambil memandangi Dona yang telungkup di kasur.
" Sebulan ya?? iya kan Mas, sudah sebulan Al dirawat?? "
" Iya, sudah sebulan juga Sayang nginap di rumah sakit. "
" Sekarang istirahatlah, nanti Mas bangunin menjelang maghrib. "
Tak butuh waktu lama, Dona pun terlelap.
Khalis pun menikmati makan siangnya yang tertunda di kamar sambil memandangi wajah Dona yang tertidur pulas.
Malam harinya, mereka berkumpul bersama untuk makan malam.
" Kapan ibu ke rumah sakit lagi?? " tanya Zalfa.
" Nanti selesai makan malam ini. "
" Kok cepet?? Ibu ga nginap di rumah?? Ayah juga?? "
" Maaf, tadi ibu janji ke Al cuma sampai malam, ga nginap. Next ibu pulang, ibu tidur di rumah. "
" Ayah ga nginap di RS, cuma nganterin Ibu sama jemput mbak Aisha aja. "
" Besok Ayah mau ke bengkel dan cafe. Ayah 2 malam nanti tidur di rumah, " jelas Khalis.
" Yeeeeiiii Ayah di rumah!!! sepi banget ga ada Ayah sama Ibu. " ucap Zalfa girang.
" Fa, pengobatan Al masih lama dan panjang, jadi ayah sama ibu akan sering bolak balik ke rumah sakit. Tapi maaf yaa, sebulan kemarin ibu ga pulang dan kamu juga ga bisa jenguk. "
" Aku kangen Al, kapan Al boleh di jenguk?? kok mbak Aisha boleh nginap disana?? " tanya Zalfa.
" Usia mbak Aisha sudah lebih dari 17 tahun, jadi sudah boleh nungguin Alta, karena daya tahan tubuhnya sudah kuat. Al ga boleh dijenguk banyak orang, karena resiko virus yang akan memperburuk kondisi badan Al sekarang. "
" Nanti kita video call aja yaa. Kamu juga boleh kirim kartu atau video untuk Al, dia pasti senang, " lanjut Dona.
Dona dan Khalis memanfaatkan moment makan malam yang hanya bertiga dengan Zalfa setelah sebulan tidak bertemu.
Zalfa menumpahkan semua isi hatinya selama ditinggal Khalis dan Dona ke rumah sakit.
__ADS_1
" Maafin ayah dan ibu ya Fa, kemarin lupa kalau masih punya Zalfa di rumah, maafin yaa Sayang, " ucap Dona sambil memeluk Zalfa.
" Dan sekarang ibu minta maaf lagi, ibu harus kembali ke rumah sakit, karena ibu sudah janji ke Al. In syaa Allah lusa ibu nginap di rumah. "
Zalfa mengangguk, walaupun ia paham situasi saat itu, tetapi sebagai anak, ia juga ingin orang tuanya selalu ada di dekatnya.
Khalis lalu mengantarkan Dona kembali ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Khalis menggenggam tangan Dona.
" Yang, nanti Mas coba bicara ke Aisha, untuk bergantian berjaga di rumah sakit. Kalau kita bagi 3, kan lebih ringan untuk kita semua. "
" Mumpung dia masih kerja free lance, bisa atur waktunya sendiri."
" Tapi jangan sampai memberatkan Aisha lho Mas."
" Iya, makanya nanti Mas mau bicara dari hati ke hati "
" Intinya, perjalanan untuk kesembuhan Al masih panjang, kita ga mungkin melakukannya sendiri. Jangan menipu diri kita sendiri yang akhirnya akan merusak kesehatan kita. Kita juga harus istirahat, kita harus sehat, " lanjut Khalis.
HP Dona pun berdering.
" Assalamu'alaikum Bu " sapa Rafif.
" Sudah, baru aja sampai apartemen. Ibu dimana?? "
" Lagi di mobil, mau ke rumah sakit. Tadi ibu pulang sebentar untuk istirahat. "
" Ibu sama Ayah harus jaga kondisi yaa, jangan kecapekan, " ucap Rafif dengan nada khawatir.
" In syaa Allah. Ada apa, Fif ?? "
" Aku baru kirim uang ke rekening ibu, untuk bantu biaya pengobatan Al. "
" Eh ngapain?? kamu masih butuh untuk kamu sendiri. In syaa Allah ayah dan ibu masih sanggup untuk membiayai pengobatan Al. "
" Iya Bu, aku tahu. Ayah dan ibu pasti mampu, tapi aku ga mungkin berdiam diri disini tanpa melakukan apa pun untuk kesembuhan Al. Aku pingin pulang tapi belum bisa, aku pingin berbagi kesedihan, kelelahan dengan ayah dan ibu, tapi aku masih terikat disini, " sesaat itu pun tangis Rafif pecah.
" Aku pingin pulang Bu, aku mau nemenin Al di rumah sakit, aku pingin ada disana, tapi gimana?? aku ga bisa!!! "
Khalis menghentikan kendaraannya, lalu mengambil HP Dona.
__ADS_1
" Fif, tugas kamu adalah bantu doa dari sana. Ayah serius, kamu disana dekat dengan Baitullah, gunakan waktumu untuk bermunajat di rumah Allah. Kamu bisa gunakan waktu liburmu untuk umrah, bantu do'a dari sana. Nanti saat kamu bisa pulang, pulanglah. Tapi sekarang Ayah minta kamu untuk berfikir jernih, bersikap dewasa, kita semua sedih, kita semua takut kehilangan Al. Tapi jangan lupa, kita mempunyai tugas dan kewajiban masing-masing. Ayah terima bantuanmu, tetapi jangan menyiksa diri kamu dengan perasaan bersalah karena tidak ada di sini, jangan!! Kamu harus tenang. "
Rafif pun tersadar, karena ucapan ayahnya memang benar.
" Maafkan aku Yah, Bu. Aku terlalu emosi. "
" Ga papa, itu wajar. Ibu minta kamu sekarang tenang, kamu pasti tadi barusan telpon Aisha makanya langsung mewek begini. "
Rafif pun tertawa lirih.
" Mewek tapi ga sampai termehek-mehek, Bu. "
" Ooouuch bahasa mana tuh!! aduh gelap, kenapa menjadi gelap... "
" Ini malam Yang, jelas gelap lah!! Akting teruuus. "
" Maaf, tetapi ini adalah bakat terpendamku. "
Rafif pun tertawa mendengar kedua orang tuanya berkelakar.
" Alhamdulillah ibu sudah recharge lagi, otw fighting never dies!! " lanjut Dona.
" Fif, kamu tenang aja yaa. Kita fight di tempat kita masing-masing, Allah memberikan ujian untuk kita karena Allah sayang kita. In syaa Allah ujian ini menjadi penggugur dosa-dosa kita di akhirat kelak " Khalis menambahkan.
" Yowes Fif, Ayah lanjut nyetir dulu. Nanti kita lanjut ngobrol lagi."
Rafif pun menyudahi video call nya dan Khalis melanjutkan perjalanannya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Khalis dan Dona menemui dokter Asih terlebih dahulu untuk mengetahui kondisi Al saat ini.
" Saya optimis Al bisa melewati semuanya, sepertinya dengan kehadiran kakaknya sedikit banyak membantu kondisi psikis Al. "
" Rencananya, saya akan bergantian dengan ayahnya dan Aisha ke depannya, " ucap Dona.
" Ya itu lebih baik, jikalau ada anggota keluarga lain yang bisa membantu menggantikan juga tidak masalah. Tetapi, sebelum itu kita harus pastikan kondisi kesehatannya terlebih dahulu. "
" Baik Dok, nanti saya akan membuat jadwal untuk menemani Al " ucap Khalis.
" Biasanya berapa lama ya, Dok, sampai sembuh total?? " tanya Dona.
" Saya tidak bisa memastikan, karena kondisi fisik dan psikis setiap pasien berbeda-beda. Coba Anda bergabung dengan komunitas orangtua dengan anak leukemia. Anda berdua akan mendapatkan bantuan moril dari komunitas itu. Nanti saya berikan linknya. "
__ADS_1
" Yang jelas, leukemia memang berbahaya, efek samping kemoterapi juga menyakitkan, tetapi sampai saat ini, pengobatan inilah yang paling ampuh untuk kondisi Al. Dan perlu diingat, kita harus siap dengan segala kemungkinan, ntah komplikasi ataupun penyebaran, tentu saja kita semua tidak mengharapkan itu terjadi. Tetapi saya sebagai dokter tidak boleh menutup mata untuk kemungkinan yang terjadi. "
" 2 pekan lagi, adalah jadwal kemoterapi yang kedua. Kita harus mempersiapkan fisik dan psikis Al. Ayat Al-Quran yang diperdengarkan sepanjang hari membuat efek yang positif. Paling tidak, dibandingkan pasien lain, Al terlihat lebih segar dan muntah-muntahnya sangat minimal. Terlebih lagi, tadi sore saat saya visite, Al sedang murajaah hafalannya di bimbing Aisha. Saya terharu menyaksikannya, Al punya daya juang yang tangguh. Saya juga tadi sempat bicara dengan Aisha, dia mengatakan bahwa ia sedih, ia ingin Al segera pulang, sehat seperti sedia kala, tapi yang dapat ia lakukan sekarang selain berdoa adalah menghibur dan menemani Al. Anda berdua harus bersyukur memiliki anak-anak yang tangguh dan kuat."