New Chapter Of My Life

New Chapter Of My Life
Episode 38 Resepsi


__ADS_3

Tepat pukul 10.00, Khalis dan Dona memasuki ruang resepsi mereka. Dengan berjalan beriringan, di awali oleh Zalfa dan Ara, lalu Rafif dan Aisha, kemudian Khalis dan Dona diikuti oleh keluarga mereka berdua.


Kerabat dan teman, tidak melewatkan momen tersebut untuk diabadikan dalam telepon genggam mereka.


Karyawan Khalis tampak berkumpul di salah satu sisi dengan senyum yang merekah.


Kebahagiaan tidak hanya terpancar dari Khalis dan Dona, tetapi seluruh anggota keluarga, kerabat dan para tamu undangan.


Sambutan demi sambutan di sampaikan oleh kedua pihak keluarga. Tak lupa, sambutan terhangat dari karyawan Khalis, yang diwakilkan oleh Dimas, Sang Asisten.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, saya Dimas Nugroho, yang biasa dikenal sebagai asisten Pak Bos, tetapi juga biasa disebut sebagai bayangan beliau, mungkin dikarenakan ketampanan kami yang 11-12. Maaf tidak menerima protes!!"


Tawa pun menggema di dalam ruang, akan kalimat awal sambutan Dimas.


"Saya diberikan amanah oleh teman-teman, senasib seperjuangan di kantor untuk memberikan kata sambutan dan ucapan selamat atas pernikahan Bapak Khalis Ghiban dan Ibu Dona Aqueela. Kepada Pak Bos, akhirnya ya Pak, nikah juga setelah dua tahun menjomblo dan menjadi kulkas, tetapi akhirnya dua bulan belakangan melted juga, yang ditandai dengan kehadiran Bu Dona. Untuk itu kami mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Ibu Dona, karena telah membuat suasana di kantor lebih rileks."


"Kehadiran Ibu Dona dalam kehidupan jomblo Pak Bos, memang telah mengubah sikap beliau secara drastis, ntah rahasia apa yang dimiliki Bu Dona, jujur ini misteri bagi kami para karyawan. Selama dua tahun bekerja dengan Pak Bos, kami tidak pernah menikmati senyum ataupun tawa dari beliau. Tetapi, kehadiran Bu Dona yang dari pertemuan pertamanya telah berhasil merubah Pak Bos dari Bos dibawah 5 kata untuk 1 kalimat perintah, menjadi lebih. Kami ucapkan selamat atas keberhasilan Bu Dona!"


Tawa dan gemuruh tepuk tangan pun menggema dalam ruangan resepsi, tetapi tidak dengan Khalis yang memberikan tatapan tajam ke arah Dimas.


"Mas, santai aja sih, kulkasnya kan sudah melted. Lagian, aku kan pemenangnya," bisik Dona di telinga Khalis.


"Pemenang apaan ?" tanya Khalis.


"Tuh kan tadi Dimas ngasih ucapan keberhasilanku atas pemeltedan Pak Bos Kulkas," jawab Dona santai.


"Sayang, kenapa kambuhnya sekarang ?!" bisik gemas Khalis yang membuat Dona tertawa.


Sementara itu, Dimas mulai mengakhiri kata sambutannya.


"Pak saya cuti yaa setelah ini, yang lain liburan, tapi saya malah dapat dobel task, antar jemput anak-anak Pak Bos dari rumah ke hotel, MC akad nikah dan resepsi, eh begitu ada yang kurang saya juga yang kena. Jadi setelah ini, saya cuti dulu ya Pak, boleh ya Pak Bos, saya juga butuh istirahat Pak! Eh Maaf diluar konteks. Kembali ke ucapan selamat untuk pasangan baru terhits di kantor, doa dari kami semua, semoga pernikahan Pak Khalis dan Ibu Dona menjadi pernikahan yang sakinah, mawaddah, warrahmah. Semoga segera dikaruniai junior, awet hingga jannah. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Tepuk tangan yang riuh pun diberikan kepada Dimas, yang telah berhasil memberikan kata sambutan yang meriah dan mewakili semua karyawan Khalis.

__ADS_1


Lalu, seperti yang biasa terjadi dalam setiap resepsi, yaitu tiada kesan tanpa antrian. Baik antrian pemberian ucapan selamat maupun antrian makan.


Para tamu undangan pun mulai memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai dan sebagiannya lagi mulai menikmati hidangan makan siang.


Setelah beberapa saat, Dona melihat sosok yang ia sangat kenal baik mendekati dengan senyum merekah.


Dona pun membalas senyuman itu, lalu mereka pun berpelukan erat cukup lama. Air mata menetes di pipi mereka berdua.


"Apa kabar Mbak, alhamdulillah Mbak bisa datang. Maafin aku ya Mbak, jarang WA ataupun nelpon," ucap Dona.


"Kabar baik, sama-sama maafin Mbak yang tidak banyak membantu kamu selama ini. Tapi Mbak bahagia sekali mendapatkan kabar jika kamu menikah lagi. Selamat yaa."


"Makasih, Mbak. Mbak sendirian ?" tanya Dona.


"Nggak, sama mas Adi, kok. Tuh, lagi ngobrol sama bapak."


"Eh kita lanjut nanti, antrinya panjang," ucap Retno yang kemudian berjalan menjauh menuruni pelaminan.


Khalis memandangi Dona, tetapi sebelum ia bertanya, Dona telah menjawab pertanyaan yang ingin ia tanyakan.


Khalis pun menganggukkan kepalanya. Lalu, setelah hampir tiga jam acara berlangsung, akhirnya antrian pemberian ucapan terlihat mulai sepi, hanya satu-dua orang bergantian untuk menyalami kedua mempelai.


Untuk itu Khalis mengajak Dona untuk turun menuju area keluarga.


"Turun yuk, sudah sepi, bapak ibu juga sudah turun dari tadi, tuh lagi pada makan."


"Yuk, aku juga laper," jawab Dona.


Keduanya pun berjalan menuju area keluarga. Setelah mereka duduk, dua orang pelayan segera membawakan makanan dan minuman untuk keduanya.


"Terima kasih, Mas," ucap Dona kepada mereka.


"Sama-sama, Bu."

__ADS_1


"Yuk, makan," ajak Khalis.


Khalis dan Dona pun mulai menikmati makan siang mereka sambil berbincang.


"Tadi siapa ?" tanya Khalis.


"Mbak Retno? itu kakaknya Tyo, dia tinggal di Bekasi. Bisa dibilang dia yang terlihat paling care, yaa mungkin karena sama-sama perempuan, karena kakak yang lainnya laki-laki. Mbak Retno lumayan rajin transfer untuk kebutuhan anak-anak, terutama di awal tahun ajaran baru. Nggak seberapa sih jumlahnya, tapi itu sudah ngebantu aku dan yang lebih utama, yaa niatnya untuk tetap menjaga hubungan kekeluargaan, yang awalnya sempat terputus karena ulah adiknya," jawab Dona.


"Memang sempat tidak ada kontak dengan keluarganya?"


"Iya, sempat beberapa bulan, bahkan mungkin hampir setahun," jawab Dona.


"Ya wajar sih sebenarnya, mereka malu karena salah satu dari anggota keluarganya berbuat sesuatu yang diluar ekspektasi mereka. Tyo itu bungsu, yang diharapkan lebih berhasil dari kakak-kakaknya karena hanya dia yang lulus SMA dan bisa langsung kuliah. Sedangkan yang lain, mereka masuk ke sekolah kejuruan trus kerja, baru kuliah setelah mereka bekerja. Yaa karena mereka memang dari keluarga yang cukup sederhana. Dulu ibunya sempat ragu sewaktu Tyo mau melamar, karena melihat perbedaan status ekonomi yang cukup jauh. Tapi setelah mendapat masukan dari kakak-kakak Tyo, akhirnya ibunya menyetujui," lanjut Dona.


"Kok sepertinya, dia bukan seseorang yang tegas dalam mengambil keputusan, kenapa bukan dia yang meyakinkan ibunya? kenapa malah kakaknya?" tanya Khalis.


"Aku juga baru tahu kalau dia bukanlah pengambil keputusan yang baik, setelah beberapa tahun menikah. Selama menikah, selalu aku yang memutuskan semua masalah di dalam rumah, dengan dalihnya , ia tidak mau ada konflik, jadi yaa dia nurut aja. Kebayang kan Mas, aku juga sebagai pengambil keputusan. Lelah hayati sangat. Makanya setelah pisah dan akhirnya cerai, yang prosesnya setahun itu, aku butuh me time yang ternyata aku nggak dapatkan juga, karena ya anak-anak siapa yang urus, antar jemput sekolah dan segala urusan rumah. Jadi bisa dibilang, di satu sisi aku berusaha menyembuhkan luka, tapi di sisi yang lain tetap bergerak walaupun luka itu belum sembuh. Stress berat, hingga akhirnya setiap harinya aku sakit kepala, itu sekitar sebulanan. Berat badan juga turun drastis, sekitar delapan kilogram selama hampir enam bulan."


"Eh kok jadi ngebahas ini ? maaf ya, Mas," ucap Dona.


"Nggak papa, kan aku juga tadi yang nanya."


Sementara itu, satu persatu tamu undangan dan keluarga telah meninggalkan area resepsi. Ibu Dona pun menghampiri.


"Don, ibu sama anak-anak pulang dulu, kasian mereka sudah pada capek."


"Iya Bu, aku sebentar lagi juga pulang."


Khalis dan Dona pun segera menyelesaikan makan siang mereka, lalu bergegas pulang ke rumah.


"Dim, kamu tadi sudah check out kamar saya kan?" tanya Khalis.


"Sudah Pak, tadi kamar sudah kosong, barang-barang sudah masuk mobil semua," jawab Dimas.

__ADS_1


"Terima kasih, saya nggak perlu cek lagi ya. Kalau ada yang ketinggalan, kamu yang tanggung jawab," canda Khalis.


"Yah Pak, haadee terima nasib."


__ADS_2