
Keesokan paginya, seperti mendapatkan energi tambahan, Dona sudah sibuk di dapur dengan dibantu oleh duo asistennya, untuk menyambut kedatangan keluarga Khalis. Melihat kesibukan putrinya, sang bunda pun bertanya, "Kok sudah mulai sibuk lagi, apa hari ini ada pesanan?"
"Nggak Bu, insyaaAllah hari ini keluarga Pak Khalis mau datang. Kata ibunya, hari ini Pak Khalis mau melamar aku," jawab Dona.
"Dilamar ? Sama yang kemarin datang ambil katering itu kan?"
"Iya, Bu."
"Kok kamu nggak cerita ? Sejak kapan kalian dekat ? Kok nggak bilang ke ibu?"
"Aku nggak pernah dekat dengan beliau, hubungan murni sebatas profesional kerja. Nggak tahu juga kenapa tiba-tiba ngelamar, tapi kemarin ibunya bilang kalau mereka ke Jogja memang untuk melamar aku."
"Makanya kemarin aku nggak bisa nikmatin acaranya, tegang rasanya," lanjut Dona.
"Anak-anak gimana kemarin?"
"Entah gimana awalnya, semua tiba-tiba manggil Pak Khalis 'ayah'," jawab Dona.
"Jadi anak-anak sudah manggil Khalis 'ayah'?"
"Iya, dan Pak Khalis kelihatan senang setiap anak-anak manggil dia 'ayah'."
"Trus kamu masih manggil 'Pak' ? mbok ya diganti."
"Ih ntar lah, aku juga kagok kalau manggilnya beda. Dah lah aku mau siapin paket sarapannya dulu, setelah itu lanjut masak buat makan siang nanti."
"Trus kamu nanti mau terima lamarannya apa nggak ?" goda ibu Dona.
"Kira-kira diterima nggak, Bu?"
"Hmm mulai deh, laa wong wis arep teko, kok asih takon diterima opo ora? ne' sampe ditolak yo kebangetan !" ucap sang bunda yang membuat Dona tertawa.
(laa ini sudah mau datang, kok masih nanya diterima atau ga, kalau kamu sampai nolak yaa namanya keterlaluan)
"Terus, kamu mau nyiapin apa, sama mau masak apa untuk makan siang nanti?"
"Aku bikin bronis kukus cup aja yang cepat, sama bola-bola kentang mozzarela. Untuk sarapan, nasi uduk komplit. Makan siang menu tradisional, ayam goreng kalasan, mie goreng, sayur asem, sambel sama lalapan. Menu sejuta umat, Bu."
"Alhamdulillah kamu sudah nyetok ayam di freezer, jadi tinggal nggoreng. Jangan lupa minumannya !"
"Iya, ntar es buah aja yang seger, aku pakai segala buah yang ada di kulkas ya, Bu," jawab Dona.
"Iya, pakai aja yang ada. Ya sudah, ibu nunggu matengnya aja yaa. Oiya, kamu sudah kasih tahu Rahma?"
"Belum, ntar aku habis digodain sama dia, tapi nanti tetap ku suruh ke rumah, sekalian ngebantuin," jawab Dona.
"Nah itu yang penting, mumpung masih pagi, telpon Rahma suruh kesini sebelum jam tujuh !"
"Baik, Bu."
Dona pun segera menghubungi Rahma setelah shalat shubuh.
"Assalamu'alaikum Mbak, kurang pagi nelponnya," salam Rahma dengan mata setengah terpejam karena menahan kantuk.
"Wa'alaikumsalam, iya nih, harusnya aku nelon kamu jam empat. But anyway, kamu bisa ke rumah sebelum sebelum jam delapan nggak, tapi kalau bisa sih sebelum jam tujuh ?"
"Ah mbak Dona bercandanya terlalu canggih, ini jam berapa sih.... ini masih jam setengah enam ! mataku masih liyep-liyep nih Mbak. Nyawaku juga belum ngumpul semua !" protes Rahma.
"Oh ya sudah kalau mau lanjut tidur, tapi nanti kalau ketinggalan momen terwow jangan salahin aku lho yaa."
"Ada apa sih ? badanku masih butuh kasur," ucap Rahma sambil menguap.
"Yowes, met istirahat."
"Eh blom dijawab, ada apa? kenapa aku disuruh ke rumah bude ?"
"Karena ada aku..."
"Haadee mbak Dona kambuh."
"Baiklah, nanti jam sepuluh, Pak Khalis sekeluarga mau datang," ucap Dona datar.
"Bo ? Sincha ?!"
"Sincha lah, emang sinchan ? makanya buruan, banyak makanan nih. Ntar pulangnya kamu bisa bawa ransum cukup untuk dua hari pokoknya," jawab Dona.
"Aiih nyogoknyaa nggak nahan, nggak pakai sogokan juga aku bakalan datang kalau tamu agungnya Pak Bos meleleh," ucap Rahma.
"Yowes buruan ya, aku tunggu."
"Eeeh resmi kah? ini menyangkut dresscode !'
"Apaan pakai dresscode segala, santai ajalah."
"Oke, baiklah. Eh Mbak, apakah ini yang diomongin anak-anak kemarin?"
"Anak-anak siapa?"
"Eh maksudnya orang kantor."
"Emang ngomongin apa?" tanya Dona.
"Ish pura-pura nggak tahu, kemarin pakai acara kabur sih !"
"Apaan sih ? Ngomong yang jelas, napa !"
"Lamaran! Pak Bos mau ngelamar Mbak !"
"Serius ? orang kantor ngomong gitu?!" tanya Dona.
__ADS_1
"Iya ! Emang nggak baca status sama komen mereka di FB ? mereka tuh nunggu moment ini !"
"Serius ? Ya Allah, diriku seperti ditelanjangi," ucap Dona.
"Lagian Pak Bos beda banget kemaren tuh ! biasanya jutek banget, eee kemaren bisa ketawa-ketawi, mana ikutan manggang BBQ pulak ! Sebelumnya, mana pernah dia ikutan."
"Serius ?" tanya Dona.
"Seriburius !"
"Duh, tuh orang ketahuan banget sih !" geram Dona.
"Biasanya cowok yang susah jatuh cinta, sekalinya jatuh cinta, dia nggak bisa kontrol ekspresi, jadi otomatis ketahuan, Mbak."
"Alhamdulillah urusan katering dah kelar, kalau belum, ku malu kalau harus ke kantor!"
"Sementara ini kelar, tapi ntar juga ada lagi. Soalnya, Pak Bos suka banget sama masakan Mbak !"
"Baiklah, aku buka kartu deh. Jadi waktu, acara rapat sama orang Korea and Jepang itu, Mbak kan, dari pagi sudah standby di ruangan. Pak Bos juga datang lebih awal. Waktu Pak Bos nyapa Mbak aja itu sudah amazing! trus dia ngajak Mbak sarapan bareng.... itu peristiwa langka yang belum pernah terjadi! Pak Bos mana mau makan sama cewek, kalau bukan keluarganya !"
"Maaa, diriku speechless."
"Intinya, anak-anak sudah nunggu moment ini, pakai banget!"
"Tapi kamu diam-diam aja ya, jangan sampai tersebar sebelum jelas semuanya!"
"Sip, aku tahu kok! Yowes aku mandi trus langsung ke rumah, waaa dandan cantik dong hari ini!"
"Yowes aku tunggu yaa. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Dona terdiam sesaat setelah menelpon Rahma, senyum malu-malu pun menghiasi wajahnya.
"Sssttt aku ngga boleh GR, bukan waktu untuk ber-GR-ria. Dona! fighting!"
Dona pun kembali sibuk dengan persiapan lamarannya nanti dan tak lama berselang
Rahma, telah sampai di rumah orang tua Dona.
"Ma, tolong kamu atur meja ruang keluarga, segala cemilan kamu atur disana yaa. Oiya, nih sarapan nasi uduk dulu, mumpung masih anget."
"Alhamdulillah, tahu aja, anak kost-an membutuhkan asupan gizi di pagi hari."
"Oiya En, sarapan untuk Pak Khalis sudah siap?"
"Sudah, Bu."
"Makasih, yaa."
Lalu, Dona segera menghubungi ojek online langganannya, untuk mengirim paket sarapan ke apartemen Khalis.
Tak lupa, sebelum ia mengirim pesan WA beserta foto paket sarapannya, paket sarapan siap meluncur.
Siap menunggu. Syukron, balas Khalis.
Beberapa saat kemudian, paket sarapan telah sampai di apartemen Khalis.
"Ayo sarapan dulu, masih anget nih !" seru Khalis dari ruang makan.
"Apa menu sarapannya, Yah?" tanya Rafif.
"Kamu buka aja."
Orang tua Khalis pun ikut menghampiri bersama dengan adiknya.
"Bu, Pak, sarapan," ajak Khalis
"Dari Dona?" tanya ibu Khalis.
"Iya Bu."
"Walaupun galau, tapi dia tetap profesional," celetuk ibu Khalis yang membuat Khalis tertawa.
"Aku baru dengar ibu ngomong pakai kata 'galau'," ucap Khalis.
"Kan biar kayak anak muda kekinian."
"Jadi apa menu sarapan pagi ini?" tanya ibu Khalis.
"Nasi uduk komplit."
"Kapan masaknya sih? Nggak mungkin tadi malam dia sudah sibuk di dapur."
"Ibu tanya aja nanti pas ketemu, mungkin dia punya ilmu ' jebret ' trus jadi!" jawab Khalis.
"Khal, kamu mending kembali diam lagi deh! semakin ngaco aja!"
"Peace Bu!"
Sementara itu, di kediaman orang tua Dona, aroma bronis kukus yang menggugah selera telah memenuhi dapur hingga ruang makan.
"Bu, jadi pingin," pinta Ara.
"Nanti, ini masih panas. Sarapan nasi uduk dulu. Eh sudah mandi belum?"
"Belum, ntar aja. Kan ayah datangnya masih nanti "
"Jangan pakai ilmu mepet yaa," ucap Dona mengingatkan putrinya.
__ADS_1
"Dah segera sarapan ! trus bantu bersih-bersih, teras belum di pel," lanjut Dona.
"Mbak Icha aja yang ngepel teras depan, aku yang teras belakang," ucap Ara.
"Terserah, pokoknya ibu tahunya bersih sih sih. Oke ?!"
"Siap Bu!"
Ara pun memanggil Aisha untuk membantunya membersihkan teras dan menata meja. Beberapa saat kemudian seluruh ruangan di lantai satu telah bersih dan rapi. Sajian makanan pun telah tertata rapi di atas meja.
"Don, sudah jam delapan, kamu siap-siaplah," ucap ibu Dona.
Dengan menarik nafas panjangnya, Dona berjalan gontai menuju kamarnya.
"Don, semangat dong, jangan lemes gitu !"
"Iya Bu, fighting," jawab Dona tak bersemangat.
Ia pun segera membersihkan badannya, lalu ia menatap pantulan wajahnya di cermin. Kegalauan di hatinya pun kembali.
"Aku nikah lagi, for real ?"
"Am I ready, wakaranaii !" (tidak tahu)
Lalu terdengar suara ketukan pintu dari luar, Dona pun berjalan gontai untuk membuka pintu kamarnya. Ternyata Rahma telah datang dengan penampilan terbaiknya. Ia pun terkejut mendapati kakak sepupunya belum bersiap .
"Mbak, kok belum dandan syantix ? Ini hampir jam sepuluh lho !"
"I know Ma, tapi aku galau dot com !"
"Kenapa sih, Mbak ? Pak Khalis itu super high quality jomblo, lho, mikir apa lagi sih ?"
"Mbak yang baru kenal sebulan yang lalu, telah berhasil meruntuhkan pertahanan hati Mr. Kulkas ini, membuat sejuta umat wanita cemburu sama Mbak, kok malah galau ?!"
"I know that, Ma ! tapi bukan itu masalahnya. Aku bisa aja GR berkelanjutan, tapi aku nggak tahu apa aku sanggup memulainya lagi. Walaupun disatu sisi, aku bahagia, ternyata ada seorang pria baik yang bersedia menjadi pendampingiku, tapi aku nggak tahu, apakah hati ini sanggup untuk memulainya lagi dari awal. Aku capek, Ma," ucap Dona.
"Yang dulu, he used to be a gentleman but suddenly, he turned out to be an evil, just a blink of an eye, just like that!"
"Mbak, you never know if you never tried."
Rahma pun memeluk Dona dan mengelus punggungnya, untuk menenangkannya.
"Mbak, kepikiran nggak sih, kalau ini adalah jawaban atas do'a yang Mbak panjatkan ? Mbak selalu berdo'a untuk diberikan yang terbaik, ya kan ? pasti Allah sudah kasih jawabannya, tapi Mbak yang nggak ngeh. Hmm, eh semalam mimpi apa?"
"Hmmm apa yaa ? Aku nggak ingat, tapi bangun tidur tadi, aku happy, hmm gimana yaa, rasanya kayak badan baru selesai di charge," jawab Dona.
"Nah, itu tanda Mbak ! itu tanda kalau hati Mbak sudah siap untuk memulai cinta yang baru. Wah prestasi, aku ternyata bisa ngomong kayak gini !"
"Wah daebak, benar-benar sebuah prestasi yang membanggakan !"
"Kayaknya akan menjadi semakin error kalau kita begini terus. So, aku mau pilihin bajunya !" ucap Rahma sambil membuka pintu lemari pakaian milik Dona.
Rahma pun memilah aneka gamis yang tergantung dengan rapi di dalam lemari dan pilihannya jatuh pada gaun berwarna merah marun dengan model A, yang lebar pada bagian bawahnya. Lalu Rahma mengambil jilbab dua lapis berwarna hitam berbahan sifon.
"Ini Mbak, gamis dan jilbabnya, akan membuat penampilan Mbak, 'uwaw' deh !"
"Buruan ganti baju. Nanti aku dandanin," ucap Rahma lagi.
"Nggak mau ah, aku nggak mau pakai make-up, aku mau polosan aja," tolak Dona.
"Mbak, acara lamaran kok polosan ajah! Itu nggak boleh, tak patut !
"Dah nurut aja, pokoknya aku dandanin, eeeiit nggak bisa bilang aku nggak punya make-up. Bukan Rahma kalau nggak menyiapkan segala kemungkinan yang terjadi, termasuk dengan membawa make-up set dari kost-an."
"I know you so well, Mbak. So, buruan cuci muka dan ganti baju !"
"Baik Nyah, galak amat sih Nyah!"
"Ngelawaknya dilanjut nanti. Sekarang, waktunya dandan! ayo hurry !"
Dona kemudian menyegarkan wajahnya dan mengganti pakaiannya dengan gamis marun yang dipilih Rahma. Setelah itu, Rahma membersihkan wajah Dona dan menyemprotkan toner agar terlihat lebih segar dan cerah.
"Tipis-tipis aja, lho," pinta Dona.
"Tenang, aku bikin kayak Song Hye-kyo," jawab Rahma.
"Iya, versi Sleman," canda Dona.
"Tuh bisa bercanda. Aku tuh jealous sama Mbak, umur kita terpaut banyak banget, tapi kulit Mbak kinclong mulus kayak gini," ucap Rahma sambil mengaplikasikan make-up pada wajah Dona.
"Emang kamu nggak mulus?"
"Eee umurku baru dua puluhan, wajar kayak gini kulitnya. Kalau Mbak? siapa yang percaya kalau Mbak sudah hampir empat puluh tahun!"
"Nggak usah diingetin umur deh. Cukup kinclongnya aja," sahut Dona.
"Baiklah, dia mulai lagi," sungut Rahma yang membuat Dona tertawa.
"Mbak Dona juga curang, aku masih menjomblo, eee Mbak udah mo nikah lagi ! pakai calonnya Mr. Melted lagi ! Mimpi apa sih Mbak !"
"Tapi aku happy kuadrat, karena Mr. Melted jadi kakak sepupu aku. Wah, bahagianya bisa ngisengin Bos di waktu libur ! it's privilege!"
"Eh, dia tau nggak, kalau kita sepupuan?" tanya Dona.
"Hmm kayaknya sih tahu, aku lupa, aku sempet cerita nggak ?"
"Tapi kalau nggak tahu __ Mr. melted, surprise !" ucap Rahma diiringi dengan tawanya.
Beberapa menit kemudian, Rahma telah selesai mendandani Dona, yang kini tampak jauh lebih cerah.
__ADS_1
"Ah, aku ternyata jago juga ngedandanin gaya flawless ala-ala korean look," ucap Rahma yang memuji dirinya sendiri.
"Sangkyu adek!" ucap Dona yang sangat puas dengan hasil riasannya.