
Di bulan ke delapan kehamilan Dona, Khalis lebih semangat berbelanja kebutuhan bayinya dibandingkan dengan Dona. Salah satu tempat favoritnya untuk berbelanja adalah dari gadgetnya, terutama di malam hari sebelum mereka tidur.
" Yang, lihat nih, box bayi yang portabel, bisa dipasang di samping tempat tidur "
Dona hanya melirik.
" Eee, kok ngelirik doang. Lihat sini dong?!! "
" Iya aku sudah lihat, di FB banyak itu iklannya"
" Aku beliin ya?? mau ga?? kan enak tuh ga makan tempat "
" Terserah Mas aja "
" Bener yaa, aku beli nih "
" Ya silakan, aku tinggal terima beres " ucap Dona tak bersemangat.
Khalis yang menyadari hal tersebut, meletakkan HPnya dan membalikkan badannya ke arah Dona yang sedang membaca buku.
" Baca apa?? "
" Buku "
" Ooo buku yaa, kirain baca pikiran "
Dona melirik ke arah Khalis sambil menarik nafasnya, kemudian kembali membaca bukunya.
" Buku apa?? "
" Buku tabungan " jawab Dona sekedarnya yang membuat Khalis tersenyum.
" Ada yang moodnya lagi ga enak nih "
" Mau es krim?? coklat?? " lanjutnya lagi.
" Nope "
" Mau dipeluk?? " ucap Khalis sambil mendekatkan posisinya ke samping Dona.
" Dipeluk juga ga enak, ngeganjel di depan "
" Dari samping aja, sini "
Dona pun menyandarkan kepalanya di dada Khalis. Khalis lalu mengelus-elus lengan Dona, sambil mencium kepala istrinya itu.
Khalis sudah memahami benar mood Dona yang belakangan naik turun. Dan cara terbaik adalah diam saja, karena Dona akan menjawab dengan seenaknya apa pun yang ditanyakan oleh suaminya.
" Yang, kita jalan ke pantai, yuk. Besok pagi gimana?? ke pantai Indrayanti "
" Kita berangkat jam 6, jadi sampai sana sekitar jam 7.30. Ga usah nyiapin sarapan, nanti kita sarapan di sana "
" Kan pas Aisha juga lagi di rumah. Mau ajak Rahma juga boleh "
" Terserah Mas aja " jawab Dona.
Khalis pun mematikan lampu kamarnya dan menggantinya dengan lampu tidur.
" Besok pagi kita jemput Rahma, terus lanjut ke pantai. Ok?? "
Dona hanya mengangguk kemudian menarik selimutnya.
Khalis pun menunggui Dona hingga ia tertidur, lalu ia mengirimkan pesan WA ke Rahma.
" Besok pagi, jam 6 saya jemput. Kita ke pantai Indrayanti "
Rahma yang baru akan tidur pun segera membalasnya.
" Oke "
Keesokan paginya di pantai Indrayanti, sinar matahari masih bersahabat.
Keempat anak mereka segera berlarian menuju bibir pantai, Aisha dan Ara asyik bermain air dan berlarian kesana kemari. Rafif, seperti biasa, ia menemani Zalfa bermain pasir.
" Kita bikin istana pasir yuk?? "
" Caranya gimana, Mas?? "
" Zalfa tadi bawa ember-ember kecil, kan?? embernya kita jadiin alat untuk nyetak pasir jadi istana "
" Maauuuu!! ayo Mas!! "
Khalis memeluk pinggang Dona sambil berjalan mengawasi keempat anaknya bermain. Sedangkan Rahma asyik mengambil gambar dan video suasana pantai dan tanpa sengaja, kameranya menangkap sosok pria yang dikenalnya sedang berjalan seorang diri.
__ADS_1
Rahma pun melambaikan tangannya dan pria itu pun menghampiri.
" Ngapain?? sendiri?? kayaknya ga mungkin "
" Haadee Paaaak, nanya belum dijawab sudah nanya lagi, eh dijawab sendiri lagi. Ga mungkin sendiri lah. Tuh Pak Bos dan istri bersama keempat anaknya " jawab Rahma.
" Eh mana?? kok aku ga lihat?? "
" Tuh ke arah sana, jalan berduaan, pacaran mode on. Dan aku sudah menduga kenapa aku diajak "
" Hahaha buat ngejagain bocah yaa!!?? "
" Eeeiiiimmm, temenin dong Pak. Sendirian kan?? nganggur kan?? "
" Sok tahu, ga tuh aku bareng teman kuliah dulu. Mereka di sana lagi pada duduk-duduk juga. Yowes aku temenin "
" Eh, bawa apa aja?! "
" Bawa diri, ama tikar aja nih. Mas Khalis bilang ntar jajan aja. Ini minuman bocah "
" Ooo, aku beli makanan sama minuman dulu deh, tunggu yaa "
" Ok "
" Ih tumben Pak Dimas ramah " batin Rahma.
Tak lama kemudian Dimas kembali membawa aneka gorengan dan rebusan serta minuman.
" Nih, mumpung hangat "
" Makasih Pak "
" Eh kita ga di kantor, jangan panggil 'Pak' dong!! "
" Trus?? ga mungkin aku manggil langsung nama juga kan?? "
" Kenapa ga?? "
" Ga enak lah, situ kan lebih tua, atasan di kantor juga "
" Hmmm yowes, terserah deh mau panggil apa"
" Hmm asli mana?? kayaknya bukan orang Jogja "
" Idih impor!! dari mana?? "
" Sama kayak Pak Bos, Jakarta. Tapi aku dari kuliah sudah di Jogja, jadi yaa logatnya sudah mengikuti "
" Hooo, Abang dong!! "
" Ya begitulah "
" Ok deh, ku panggil Abang aja ya "
" Ok deal "
Khalis dan Dona menghampiri keduanya.
" Eh, Dimas. Disini juga?? "
" Iya Pak, tuh sama teman-teman kuliah dulu "
" Lho, kamu kuliah disini?? Dimana?? " tanya Dona.
" Teknik Mesin UGM "
" Waaah pinter dong, alumni UGM tho "
" Kalau ga pintar, ga mungkin dia jadi asisten saya "
" Dia lulus tes dari 6 kandidat yang ditawarkan, dan Dimas yang termuda diantara semuanya "
Dona dan Rahma pun berpandangan,
" Waaah daebak!! " ucap Rahma.
Dimas pun tersipu akan pujian dari Khalis.
" 5-6 tahun lagi, kamu sudah bisa menempati posisi saya saat ini. Makanya jangan protes kalau kamu saya kasih tugas banyak, itu latihan buat kamu nantinya "
" Hihihi iya Pak, terima kasih "
" Oiya, Pak, Bu, silahkan ini ada cemilan seadanya, dari warung " ucap Dimas sambil menunjuk ke arah warung tempat dimana ia membelinya.
__ADS_1
" Syukron "
" Afwan "
" Jadi gimana perkembangan hubungan kalian?? " tanya Khalis.
Dimas dan Rahma pun berpandangan,
" Maksudnya?? "
" Lho kok maksudnya?? kapan lamaran?? sudah berapa lama semenjak kita ngejodohin kalian?? kayaknya sudah lama deh " jawab Dona.
Dimas pun menjawab dengan santai,
" Ooo, sampai ' nanya panggilannya apa ' "
Rahma pun membelalakan matanya.
" Eh ga gitu!! kok?? eh ini gimana sih?? "
" Ma, ikutin aja, biar cepet selesai interogasinya " bisik Dimas.
" Hmmm ngapain bisik-bisik niii "
" Kalau boleh rikues, diriku lagi ndut-ndutnya nih. Kalau mau nikah, ntar yaa tunggu melahirkan, paling ga 3 bulan sesudah aku melahirkan, yaaa 5-6 bulan dari sekarang "
" Yang!! kelamaan itu, kasian mereka nunggunya. Waktu kita aja, cuma 2 pekan langsung jadi "
" Emangnya Mas mau, aku yang membengkak bagaikan bola ini, ikutan foto pas akad dan resepsinya?? ntar jelek banget Mas!! "
" Ya ga masalah, wajar namanya wanita hamil badannya besar. Tapi Sayang ga jelek... "
" Pokoknya nanti tunggu setelah aku melahirkan!!"
Rahma dan Dimas menyaksikan pertengkaran pasangan aneh ini dengan wajah penuh tanda tanya.
" Kenapa mereka yang berantem?? " ucap Rahma.
" Pertanyaan tuh, trus emangnya kita mau nikah?? " tanya Dimas.
" Nah!! jadi sebetulnya gimana sih?? kita mau nikah?? kapan?? kok aku ga tahu?? " tanya Rahma juga.
" Aku juga ga tahu kalau kita mau nikah. Terus mereka berantem karena apa dong?? " tanya Dimas lagi.
Khalis dan Dona akhirnya menyadari pertengkaran unfaedah mereka.
" Ok!! Dimas kamu tentukan tanggal pernikahan kalian, cowok tuh yang tegas!! harus berani mengambil keputusan!! "
" Maaf Pak, memangnya siapa yang mau nikah?? " tanya Dimas.
" Yaa kalian berdua!! kan waktu itu sudah dibahas "
" Lah yang ngebahas kan Pak Bos sama Bu Dona, kita ga ikutan, cuma ndengerin aja " jawab Dimas.
Khalis dan Dona akhirnya menyadari kesalahannya, mereka pun berpandangan lalu menarik panjang nafasnya dan...
" Waktu itu kan kita sudah pernah ngebahas masalah ini, mungkin ini yang ketiga kalinya, yang pertama waktu selesai akad atau resepsi tuh, trus yang kedua setelah kita pulang umroh dan yang ketiga yaa sekarang " jawab Dona.
" Ok, maaf Mas, Mbak. Perasaan selama ini yang ngebahas Mbak sama Mas aja. Kita cuma ndengerin aja " jelas Rahma.
" Iya, kita ga pernah bilang iya, trus ga pernah saling kontak juga " tambah Dimas.
" Baiklah kalau begitu. Dimas dan Rahma, saya minta kalian berdua fikirkan akan kemungkinan kalian berdua menikah. Saya serius menjodohkan kalian berdua, coba lihat kriteria yang kalian inginkan. Dimas, kamu mau wanita yang berhijab, Rahma berhijab. Rahma, kamu mau pria yang cerdas dan cekatan, Dimas telah membuktikannya selama bekerja. Kalian pikirkanlah, waktu saya seusia kamu, saya sudah punya Rafif " ucap Khalis.
" Kalian berdua sama-sama pendatang di kota ini, sama-sama tinggal di kost-kostan. Kan lebih baik, jika kalian saling mengisi. Coba kalian istikharah, siapa tahu memang kalian berjodoh" tambah Dona.
" Kita berdua serius " tambah Khalis lagi.
Dimas dan Rahma hanya terdiam tidak menjawab. Setelah beberapa saat hening, Dimas akhirnya bersuara.
" Baiklah, kita istikharah, apa pun hasilnya nanti itu yang terbaik dari Allah "
Rahma mengernyitkan dahinya dan
" Serius?? Ini beneran?? bukan lip servis?? "
" Udah iyain aja Ma, biar cepet beres urusannya " jawab Dimas.
" Lho Pak?? eh Bang!!! ga gitu dong!! emang Pak Dimas, mau nikah sama saya?? "
" Manggilnya Bang atau Pak sih?? "
" Manggil 'Bang' ga cocok sama namanya!! eh jawab itu, tadi aku nanya apa!! "
__ADS_1
" Ma, sesama jomblo, dah lah ga ada ruginya, kita istikharah!! "