New Chapter Of My Life

New Chapter Of My Life
Episode 88 Leukemia


__ADS_3

Malam itu, Khalis dan Dona menginap di rumah sakit. Walaupun Dona meminta agar Khalis kembali ke rumah, tetapi Khalis memilih untuk mendampingi putranya dan memberikan dukungan moril untuk istrinya.


Setelah beberapa saat keduanya menenangkan diri, Dona terlihat lebih kuat dibandingkan dengan Khalis. Karena pengalamannya akan sakit sewaktu remaja dan dukungan keluarga serta teman membuatnya kuat dan bertahan menghadapi sakitnya hingga sembuh.


Berbeda dengan Khalis, bayangan kematian Nadya kembali menghantuinya. Ketakutan akan hal yang sama terjadi pada putra bungsunya pun mulai dirasakannya.


Dona merasakannya kekhawatiran suaminya, tanpa berusaha untuk menenangkan kecemasannya, ia memilih untuk berbagi pengalamannya dalam menghadapi sakitnya bertahun-tahun lamanya.


" Mas, aku punya teman SD waktu aku sekolah di Surabaya, namanya Sari. Sewaktu kelas 6, Sari terkena leukemia, padahal anaknya pintar, selalu ranking di kelas. Lupa sih berapa lama ga sekolah, tapi kita gantian jenguk, bawain catatan pelajaran dan soal-soal latihan ujian. Alhamdulillah sekarang sudah punya 3 anak dan sekarang dia berprofesi sebagai dokter gigi di Surabaya. "


" Intinya, aku optimis Al bisa sembuh, walaupun perjuangannya berat. Efek kemoterapi yang akan menyayat hati kita, tetap harus kita jalani dengan kuat. Mas tahu kenapa aku dulu kuat dan sangat positif aku bisa sembuh?? "


Khalis menggelengkan kepalanya tanpa berkata apa pun.


" Karena bapak dan ibu yang sangat optimis, belum lagi mbak Hana yang support selalu, mereka selalu datang dengan senyum. Dan teman-teman sekolah yang selalu ngelawak kalau menjenguk aku di RS atau di rumah. Jadilah the power of positive thinking and environment membuat aku ga mikirin sakit aku and it's gone aja."


" Pusing, mual, badan melayang, kalau jalan rasanya oleng seperti di kapal, aku rasakan berbulan-bulan pasca operasi. Minum obat dan pemeriksaan rutin setelahnya juga berbulan-bulan lamanya. "


" Itu baru yang hydrocephalus sewaktu aku sudah lulus kuliah, belum yang nefrotik syndrom. Aku terkena penyakit nefrotik syndrom sewaktu SMP, masih sekitar usia 13-14 tahun. Bapak tidak seperti orang tua kebanyakan yang nangis ataupun manjain anaknya, tetapi dengan gaya dan sifat bapak yang keras, bapak membuat aku sadar, bahwa akulah yang bertanggungjawab atas kesehatan badanku. Bapak bilang seperti ini, ' Dona, kamu tahu kapan jadwal periksa darah, kontrol ke dokter dan apa yang boleh dimakan dan tidak. Kamu yang tahu kondisi badanmu. Bapak dan ibu hanya bisa membantu proses pengobatan, membiayai hingga kamu sembuh. Kalau kamu tidak disiplin, kemudian sakitmu semakin parah, bapak ibu tidak dapat melakukan apa pun. Kamu sendiri yang merasakan sakitnya. Orang lain hanya bisa kasihan'. Ngeri yaa, aku baru pulang dari RS, baru divonis sakitnya dan terapi apa yang akan dijalani, sudah dapat gertakan dari Bapak. Ibu saja kaget, kalau Bapak bisa bicara seperti itu ke aku. Yaa dari situ lah, aku terlatih untuk tidak manja, ga menyek-menyek, dan always be positive ."


" Intinya, kita berdua harus kuat dan kita harus saling menguatkan. Kita juga harus menguatkan anggota keluarga yang lain, karena mereka pasti akan terpukul mendengar kabar ini. "


" Anak-anak di rumah harus disiapkan, karena adiknya akan menjalani pengobatan yang cukup berat dan lama. Ada saat-saat dimana mereka tidak boleh bertemu dan bersentuhan setelah proses kemoterapi, itu harus kita pahami bersama. "


Khalis hanya terdiam mendengarkan Dona bicara. Ia pun setuju dengan istrinya itu, tetapi berat rasa hatinya menghadapi hal ini.


Khalis tidak mau menunjukkan kesedihan dan kekhawatirannya kepada Dona, bagaimana pun ia adalah pemimpin keluarga. Ia harus menunjukkan ia mampu mendampingi Al menjalani proses pengobatannya.


Khalis pun memeluk erat Dona.


" Mas, jangan ditahan, keluarin aja. Mas nangis bukan tanda lemah, tapi tanda kasih sayang, it's okay to show your emotion "


Sedetik itu pun Khalis mulai menangis, badannya berguncang mengeluarkan kesedihannya.


Dona mendekap erat tubuh Khalis dan membelai lembut punggung suaminya itu.


" It's okay to cry, we're human after all. It's normal to be sad, it's okay. Just let it go, release all your pain inside. "

__ADS_1


Khalis menyadari jika ia memang tak sekuat yang ia bayangkan, bahkan Dona jauh terlihat lebih tegar menerima cobaan ini.


" I've been through all of this pain before, so I know how it feels. "


" Though it's different but the pain is the same after all. "


" We have Allah, we let Allah do His way, let His do the magic, we just need the power of du'a. We need to surrender. "


" Allah loves us, and it's His way to show that we need to back to Him. "


" Berapa kajian yang kita lewatkan tanpa udzur tertentu, berapa banyak sumbangan yang kita berikan. Mungkin ini adalah cara Allah mengingatkan kita, Mas, " ucap Dona sambil meneteskan air matanya.


Khalis memeluk Dona lebih erat, ia mendekapkan tubuhnya di badan mungil Dona.


Di tengah malam, keduanya pun terbangun untuk melaksanakan shalat malam berjama'ah.


Setelah itu mereka melantunkan ayat suci Al-Quran di samping tempat tidur Al hingga adzan shubuh tiba.


" Mas jama'ah di musholla yaa. Assalamu'alaikum " pamit Khalis.


" Wa'alaikumsalam. "


Ia duduk menyendiri dan merenungi apa yang terjadi.


Ia kemudian menghubungi ibunya untuk memberitahu tentang sakit yang Al derita.


" Assalamu'alaikum. "


" Wa'alaikumsalam. "


" Tumben pagi-pagi kamu nelpon?? semua baik-baik aja kan?? "


" Maaf Bu, cuma mau memberitahu kalau Al sekarang di rawat di RS Omni Pulomas. "


" Al?? Alta??? kenapa?? dia sakit apa kok sampai di rawat?? sejak kapan?? " tanya ibu Khalis sedikit panik mendengar cucunya sakit.


" Dari kemarin malam, selepas maghrib kami memeriksakan kondisi Al yang belakangan mudah lelah dan sering mimisan. Sewaktu Dona memeriksa badan Al, ia menemukan beberapa luka lebam di lengan dan kaki Al. Setelah pemeriksaan darah oleh dokter, Al didiagnosis terkena leukemia. "

__ADS_1


" Innalillahi.... Altaaaa cucu ibu kena leukimia??!! kamu ga bercanda kan Khal?? ini beneran?? " suara ibu Khalis pun terdengar bergetar.


" Iya Bu, sekarang aku masih di RS, dari semalam kami berdua menginap di RS menemani Al. "


Terdengar suara tangis ibunya, membuat Khalis kembali menangis.


" Dona!! Dona gimana?? dia ga papa kan?? "


" Alhamdulillah Dona ga papa Bu, dia lebih kuat dibanding aku, semalam dia yang nenangin aku. Aku jadi merasa ga berguna sebagai suami dan ayah. Kenapa aku tiba-tiba menjadi lemah seperti ini Bu?? " tangis Khalis semakin pecah.


Tangisan ibunya membuat ayah Khalis mengambil HP-nya.


" Assalamu'alaikum, Khal. Ada apa?? "


Khalis pun membersihkan suaranya sebelum menjawab pertanyaan dari sang ayah.


" Wa'alaikumsalam, Pak. Maaf pagi-pagi sudah buat ibu sedih. Al dirawat di RS di Pulomas, Al terkena leukemia Pak."


Seketika itu juga, tubuh ayah Khalis mendadak lemas. Ia terduduk dan mulai menangis.


Ibu Khalis mengambil kembali HPnya.


" Khal, kamu WA ibu, nomor kamar Al. "


" Iya, nanti aku WA. Minta doanya ya Bu. "


" In syaa Allah kami selalu mendoakan yang terbaik untuk kesehatan dan keselamatan keluarga kita semua. "


" Kamu sudah siap pakaian?? " tanya ibunya.


" Alhamdulillah, Dona susah menyiapkan untuk 2 hari. "


" Ya sudah, kamu di RS aja, nanti ibu dan Khansa yang mengambil kebutuhan kamu di rumah. Anak-anak di rumah sudah tahu?? "


" Belum Bu, aku ga tega ngomong ke mereka apalagi ke Rafif, aku belum cerita apa pun ke mereka semua. "


" Ya sudah pelan-pelan saja. Nanti ibu kesana yaa. Jangan lupa istighfar. "

__ADS_1


" Iya Bu, in syaa Allah. "


__ADS_2