New Chapter Of My Life

New Chapter Of My Life
Episode 24 Perkenalan Awal Keluarga


__ADS_3

Sabtu pagi satu pekan kemudian, Dona tengah menyelesaikan nasi kotak untuk sarapan acara family gathering kantor Khalis.


"Sudah jam setengah enam, jam enam nanti nasi box-nya akan diambil Pak Andi, jadi kamu atur di depan sekalian. Biar nanti tinggal diangkut," ucap Dona kepada Eni, asistennya.


"Baik Bu."


"Oiya, kita juga langsung berangkat setelah nasi box-nya diambil. Jangan lupa siapkan tisu basah, handuk kecil, plastik untuk pakaian kotor dan plastik untuk tempat sampah. Oiya, tolong masukkan sandal ke mobil ya, buat nanti wudhu," pinta Dona.


"Saya mau nyiapin anak-anak dulu."


"Baik, Bu."


Kemudian Dona menuju kamarnya di lantai atas, untuk melihat kesiapan ketiga putrinya.


"Eh Zalfa sudah cantik, sudah wangi. Oiya, siapa yang lagi mandi?" tanya Dona.


"Mbak Ara, mbak Icha sudah mandi, lagi ganti baju," jawab Zalfa.


"Bu, aku mau sarapan," pinta Zalfa.


"Zalfa turun sendiri yaa, ibu mau mandi dulu. Minta sama mbak Tati ya," jawab Dona.


"Iya Bu, aku turun ya, Bu."


"Iya, ibu mandi sebentar ya."


Tak lama setelah Zalfa keluar untuk sarapan, Ara pun keluar dari kamar mandi.


"Kamu langsung ganti baju. Baju ganti, kaos kaki, sabun, handuk, sudah siap semua ya?" tanya Dona.


"Sudah Bu, tinggal masukin sandal aja."


"Ya sudah, ibu mandi dulu, kamu langsung sarapan, ya."


"Baik, Bu."


Tepat pukul enam, Pak Andi datang untuk mengambil nasi kotak dan paket BBQ untuk makan siang nanti. Kedua asisten Dona pun segera memasukkan kotak-kotak sarapan ke dalam mobil, beserta perlengkapan untuk BBQ siang nanti.


Setelah semua terangkut ke dalam mobil, Dona kembali mengecek semua barang, memastikan tidak ada yang tertinggal.


"Alhamdulillah, sudah semuanya Pak, saya segera menyusul sebentar lagi."


"Baik Bu, kalau begitu saya langsung ke kantor. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Beberapa saat kemudian, Dona bersama ketiga putri dan dua asistennya berangkat menuju kantor Khalis, menggunakan kendaraan pribadinya.


Sementara itu, di depan gedung kantor dealer telah terparkir tiga bis eksekutif pariwisata yang akan membawa rombongan karyawan beserta keluarganya menuju lokasi outbound di Kaliurang.


Tak lama setelah Pak Andi tiba di kantor, kendaraan Dona pun tiba. Rahma yang tengah menunggu kedatangan Dona pun segera menghampiri.


"Mbak, langsung parkir di belakang aja. Pak Bos sama keluarganya sudah datang, tapi masih di lobby. Mbak nanti di bis satu, bareng aku, sama keluarga Pak Bos juga," ucap Rahma.


"Oke Ma, aku parkir dulu ya."


Setelah Dona memarkirkan kendaraannya, ia segera menuju ke lobby bersama dengan ketiga putrinya.


"En, Tati, kamu langsung ke bis satu yaa, titip tas baju ganti anak-anak, saya ke lobby dulu sama anak-anak," ucap Dona.


"Baik, Bu."


Dona pun menuju lobby yang telah ramai dengan anggota keluarga karyawan, tetapi Khalis dan keluarganya tidak terlihat disana.


"Bu Dona, ditunggu Pak Bos di ruang tamu," ucap salah seorang front officer yang menghampiri dan mengajak Dona ke ruang tamu yang terletak di belakang lobby.


"Silahkan, Bu."


"Terima kasih."


Dona pun mengetuk pintu ruang tamu sebanyak tiga kali, sebelum Khalis membuka pintunya dan mempersilahkan Dona untuk masuk.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, masuk dulu," ucap Khalis.


Dona dan ketiga putrinya pun memasuki ruang tamu yang telah ramai dengan anggota keluarga Khalis.


"Ibu," panggil Rafif yang berdiri disamping neneknya.


"Eh Rafif, makin ganteng aja," sapa Dona.


"Iya dong, kan anak instannya ibu," jawab Rafif diikuti oleh tawa Dona.


"Mas Rafif, berarti kakak instan Zalfa ya, Bu. Bu, kakak instan itu apa sih? anak instan ? aku tahunya mie instan," tanya Zalfa dengan polosnya yang mengundang gelak tawa.


"Pagi-pagi, kok sudah ngasih soal ujian buat ibu ? jawabannya nanti ya," jawab Dona.


"Anak instan itu anak yang suka makan mie instan. Kakak instan itu, yaaa kakak yang suka makan mie instan !" canda Ara yang memecahkan suasana.


"Maaf....," ucap Dona.


"Eh kenapa minta maaf, Anda pasti Dona ya, saya Nina ibunya Khalis," potong seorang wanita paruh baya yang nampak sangat anggun sambil menghampiri Dona.


"Iya Bu, saya Dona," ucap Dona sambil menyalami ibu Khalis.


"Kenalin dong Khal, kok diam aja," pinta ayah Khalis.


"Iya Pak, kenalin ini Dona, ibu katering... hmm yaa pokoknya itu," ucap Khalis yang kehilangan kata-katanya.

__ADS_1


"Plus calon ibunya Rafif !" celetuk Rafif kencang yang membuat Dona membelalakkan matanya.


Ini anak bisa bikin salah paham keluarga nih! Duh, timbuktu dimana sih ? Aku pingin kabur ! gumam Dona dalam hati.


"Fif, nol yaa, big zero!" ucap Khalis yang berusaha mengendalikan suasana.


"Ya Allah, aku dimiskinkan oleh ayahku sendiri ! Yangti, dengar sendiri kan. Ayah tuh kayak gitu kalau sama aku!" protes Rafif.


"Yangti nggak ngerti, apa sih nol itu?"


"Nol itu artinya aku nggak dapat jatah uang saku bulan ini," jawab Rafif.


"Panjang ceritanya Bu, nanti aja dibahasnya. Oiya lanjut kenalannya...," ucap Khalis yang tiba-tiba dipotong oleh Dona.


"Aku protes !" seru Dona.


"Eh protes kenapa?" tanya Khalis tidak mengerti.


"Kok tadi aku disebut ibu katering? yang bagusan dikit dong Pak. Mbok yao, ini Dona, owner-nya katering Dona's Kitchen. Sing apik sithik ngono lho."


Keluarga Khalis pun tertawa, lalu Khansa pun menghampiri Dona untuk berkenalan.


"Mbak, kenalin aku Khansa adik tunggalnya Mas Khalis. Ini anakku Alisha trus itu suamiku Dzaki."


"Saya Dona si ibu katering dan ini anak saya, yang pertama Icha, yang kedua Ara dan ketiga Zalfa," ucap Dona memperkenalkan diri dengan menggunakan sebutan yang diberikan oleh Khalis untuk menyindirnya.


"Semuanya cantik seperti ibunya," puji ibu Khalis.


"Akan menjadi aneh kalau ganteng seperti ibunya," canda Khalis yang segera mendapatkan tatapan tajam dari sang bunda.


"Bercanda, Bu," ucap Khalis.


"Uwau ! Pak Bose iso guyon tho, what a surprise, a joke from mr. fridge," balas Dona santai yang membuat Khalis terdiam.


"Mr. Fridge?" tanya Khansa.


"Maaf, itu bercandaan yang saya dengar dari karyawan di sini, untuk sebutan Pak Khalis," jawab Dona.


"Mas Khalis, Mr. Fridge? really ?! a clown become a fridge?" tanya Khansa yang tak percaya akan julukan untuk kakaknya.


"Iya, Sa. They call me, Pak Bos Kulkas. Percaya nggak percaya, percaya aja lah. Pokoknya nanti kamu akan menemukan kakakmu dalam bentuk kulkas."


"Ngeri amat Mas, kok jadi kulkas? Eh anyway, kapan naiknya nih?" tanya Khansa.


"Sudah siap semua belum? kalau sudah, ya ayo masuk ke bis sekarang," ajak Khalis.


Khalis pun berjalan keluar ruangan diikuti oleh keluarganya dan Dona untuk menaiki bis yang telah menunggu mereka.


"Bu, aku mau di depan ya !" pinta Ara yang didengar oleh Khalis.


Khalis pun berjalan cepat dan segera menaiki bis terlebih dahulu, untuk memastikan enam baris terdepan masih kosong. Lalu dilihatnya Icha dan Ara berjalan mendekati bis. Setelah keduanya di depan pintu, Khalis memanggilnya.


Aisha dan Ara segera berlari memasuki bis.


"Makasih, Yah," ucap mereka berdua.


Beberapa karyawan yang telah duduk di dalam bis pun berpandangan dan bertanya dalam hati, drama apakah ini ?


Dona yang mendengar panggilan itu hanya pasrah akan opini karyawan kantor.


Sekarep mu wae Pak! gumam Dona.


Ketika Dona menaiki bis bersama Zalfa, Rafif memanggilnya.


"Zalfa, duduk sama mas Rafif ya."


"Asyiiiikk," Zalfa pun menghampiri Rafif yang duduk dibelakang Aisha dan Ara.


Satu persatu anggota keluarga Khalis menaiki bis, dimana di setiap kursi telah tersedia paket sarapan untuk mereka.


Dona memilih duduk di barisan samping Zalfa dan Rafif, agar mudah mengawasi ketiga putrinya itu.


"Mbak, aku duduk disini ya," ucap Khansa yang menghampiri Dona.


"Silahkan, aku sendirian kok."


Sedangkan Khalis, memilih duduk di belakang supir, di depan Dona dan adiknya.


Bis pun segera melaju, setelah dipastikan semua telah menaikinya.


"Mbak, sudah berapa lama kenal Mas Khalis?" tanya Khansa.


"Hmmm hampir sebulanan kayaknya, waktu diminta katering untuk rapat."


"Ooo, tapi kok bisa ngirim juga ke apartemen?"


"Yaa, aku dengar mereka seringnya beli, yaa daripada beli di tempat lain, mending beli di aku. Lagian nggak kebayang juga sih, tinggal cuma berdua aja, pasti pulang kerja dan sekolah sudah capek, maunya kan tinggal makan. Jadi yaa aku kirim deh makanan untuk mereka berdua, tapi nggak nyangka kalau ternyata berefek pada anak-anak yang langsung akrab," jawab Dona.


Khansa pun tersenyum mendengar jawaban Dona.


"Eh Mbak, ini Mbak yang nyiapin?" tanya Khansa menunjuk nasi box.


"Iya, dibantu dua asisten. Tuh mereka berdua duduk di belakang."


"Oo, ikut juga."


"Iya, alhamdulillah Pak Khalis ngajak kami semua."


"Kok orang tua Mbak nggak ikut sekalian?" tanya Khansa lagi.

__ADS_1


"Bapak-ibu lebih senang di rumah, untuk sekarang acara-acara seperti ini, bapak-ibu milih nggak ikut, katanya capek. Jadi mendingan di rumah saja."


"Memangnya usia bapak ibu berapa Mbak? Yaa kalau boleh tahu."


"Tujuh puluh tahun," jawab Dona


"Dua-duanya ?"


"Iya, usia bapak-ibu itu cuma terpaut satu bulan aja."


"Hmm kalau boleh tahu usia Mbak berapa ?"


"Dikurangi tiga puluh dari usia bapak-ibu."


"Empat puluh ? serius ?"


"Iya."


"Berarti kita nyaris seumuran, aku tiga puluh sembilan, terpaut lima tahun dari Mas Khalis."


"Oo, Pak Khalis empat puluh empat tahun."


"Oiya Mbak, maaf yaa. Katanya single parent, hmm apa ada rencana untuk nikah lagi?"


"Aku sih tadinya nggak mikirin nikah lagi, ada sedikit trauma lah. Tapi melihat anak-anak yang membutuhkan figur ayah, yaa mungkin suatu saat nanti kalau tiba-tiba ada yang ngelamar, kenapa nggak ?"


"Nah, kriterianya gimana ?" tanya Khansa penasaran.


"Hmm tajir, ganteng, shalih," jawab Dona sambil tertawa.


"Nggak lah," koreksi Dona.


"Yang utama shalih dulu, itu yang penting. Bagaimana pun ia nantinya adalah imam keluarga. Jadi shalih itu wajib," lanjut Dona.


"Tajir mengikuti ya, Mbak," canda Khansa yang membuat keduanya tertawa.


"Mas denger nggak ?" tanya Khansa kepada Khalis.


"Iya denger, noted !"


Dona memandang Khansa dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Nggak, Mbak. Biasa lah, ngisengin kakak itu ada tugas utama adik," canda Khansa.


"Ooo, kirain apa."


"Hmmm, tapi memang paling enak ngisengin jombloers yaa," lanjut Dona yang membuat Khansa tertawa.


"Eh tapi beneran lho, sama Mas Khalis mau nggak ? yang sudah jelas kan tajir, manager area lho, ganteng juga kan, hmmm shalihnya in syaa Allah. Yang kelihatan sih, shalat tepat waktu berjama'ah di masjid hampir nggak pernah absen dari jaman SMP. Ketua Rohis selama SMP dan SMA... eh kuliah juga."


"Pinter ngaji juga, sering ngimamin shalat di sekolah sama di kampus, ini kata temennya soalnya waktu aku masuk, Mas Khalis dah lulus. Trus, katanya dulu suka jadi rebutan kaum akhwat waktu sekolah. Belum ditambah sabuk hitam taekwondo, aman lah, bukan kaleng-kaleng untuk urusan machonya."


"Sa, promosinya bagus amat ? lanjut !" celetuk Khalis.


"Siap Bos! tuh demen dia."


"Eh ini beneran, serius?" tanya Dona.


"Yaa bener lah Mbak, ngapain kita datang ke Jogja cuma buat acara family gathering?"


Dona terdiam dan memandang Khansa, kemudian dilihatnya Zalfa asyik bermain dan tertawa bersama Rafif.


"Mbak pikirin aja dulu, tapi jangan lama-lama. Aku balik ke Jakarta, Ahad malam. Siangnya, Mbak kasih jawaban, ya."


"Lah, besok dong?!"


"Sorry, but surprise !" seru Khansa sambil tertawa.


"Gubrak! aku pingin gelundungan! perasan ini mau seneng-seneng, eh ternyata aku harus mikir. Sungguh, ini jebakan Betmen !" protes Dona.


Khalis pun tertawa mendengar jawaban Dona.


"Ya gitu deh, Mas Khalis penganut aliran gercep!"


"Jadi sebetulnya ini adalah modus ada udang di balik bakwan, kah?" tanya Dona.


"Begitulah."


"Hmm wait ! jadi waktu Pak Khalis ke rumah itu....?"


"Iya, Don...," jawab Khalis.


"Dan sekarang aku pingin kabur ke Timbuktu tapi apa daya hanya nyampe Kaliurang!" seru Dona.


Khalis dan Khansa pun tertawa mendengar ucapan Dona.


"Udah deh Mbak, iya aja. Aku yang nggak sabar punya kakak kayak Mbak," bujuk Khansa.


"Apakah aku begitu memukau dirimu? eh terpesona, sstt jangan nyanyi," celetuk Dona lagi.


"Mas, buruan deh! ntar malam kita langsung ke rumah aja ya, Mbak."


"Wait ! tidak bisa begitu Marimar! Lupita belum siap !" celetuk Dona yang membuat Khalis dan Khansa tertawa cukup keras hingga para karyawan keheranan.


"PAK BOS! lucunya dibagi-bagi dong! jangan ketawa sendiri, kita kan kepo Pak!" teriak salah satu karyawan.


"Masa' saya harus ngobrol pakai microphone? Maaf, ini urusan keluarga bukan untuk konsumsi umum," jawab Khalis santai.


Para karyawan kembali terdiam, tetapi dalam hati mereka bertanya-tanya, ada apa dengan Pak Bos Kulkas ?

__ADS_1


__ADS_2