New Chapter Of My Life

New Chapter Of My Life
Episode 29 Lamaran


__ADS_3

Langit biru dengan semburat seputih kapas, diiringi dengan kicauan burung di atas pohon, melantunkan isyarat pagi yang indah, mengiringi kedatangan rombongan keluarga Khalis di kediaman orang tua Dona, dengan membawa bingkisan tanda lamaran.


Ayah Dona yang telah menantikan kedatangan keluarga calon besannya ini, segera menyambutnya di teras depan rumahnya, begitu mendengar suara kendaraan berhenti di depan rumahnya.


"Assalamu'alaikum," sapa keluarga Khalis.


"Wa'alaikumsalam," jawab ayah Dona.


"Kenalkan Pak, ini orang tua dan adik saya beserta keluarganya," ucap Khalis.


"Saya Ismail Ahmad, ayah Dona," ucap ayah Dona sambil sambil menyalami para tamunya.


"Saya Khairi Umar, ayah Khalis dan ini Dzaki, adik ipar Khalis. Senang bertemu dengan Anda."


"Saya juga sangat senang bertemu dengan keluarga Khalis, mari silahkan masuk," ajak ayah Dona.


Ayah Dona pun mengajak keluarga Khalis masuk ke dalam ruang keluarga, dimana ibu Dona telah menunggu untuk menyambut keluarga calon besannya itu.


"Assalamu'alaikum, saya Utami, ibunya Dona."


"Wa'alaikumsalam, saya Nina, ibunya Khalis dan ini Khansa adiknya, serta Aliyah putrinya."


Mereka pun bersalaman dan berpelukan, sebelum mengambil tempat di ruang keluarga.


Ketiga putri Dona yang telah menunggu, ikut menyambut kedatangan calon kakak dan sepupunya itu dengan riang gembira.


"Mas Rafif, Aliyah !" sapa ketiga putri Dona.


"Yangti, aku ajak main di belakang, yaa," ucap Ara.


"Iya, kalian main di belakang saja. Hati-hati kalau naik sepeda, jangan ngebut!" jawab ibu Dona mengingatkan cucu-cucunya.


Setelah mendapatkan izin, tanpa menunggu lebih lama lagi, ketiga putri Dona beserta Rafif dan Aliyah berhambur menuju taman di belakang rumah.


Suasana di ruang keluarga pun menjadi senyap, Khalis yang memakai baju Koko terbaiknya, terlihat sedikit tegang dengan senyum yang agak dipaksakan.


Mengetahui akan ketegangan yang dirasakan putranya, ayah Khalis pun menyegerakan maksud dan tujuan kedatangan mereka.


"Sebelumnya kami minta maaf, jika kedatangan kami sedikit mendadak. Kami sendiri cukup terkejut dengan keinginan putra pertama kami, Khalis, untuk meminang putri bapak, karena selama beberapa tahun terakhir, Khalis sangat tertutup akan kehidupan pribadinya. Hingga beberapa pekan yang lalu, ia menghubungi ibunya, mengatakan ia ingin menikah lagi. Jujur, kami sebagai orang tuanya, sangat bahagia mendengar keinginan Khalis. Singkat cerita, ibunya meminta Khalis untuk mempertemukan mereka tanpa Dona harus curiga. Yaa akhirnya, kemarin pada saat acara kantornya, kami dipertemukan. Kesan pertama kami berdua terhadap Dona, kami sangat menyukainya. Ditambah anak-anaknya yang sangat sopan dan ramah. Hingga kami memutuskan untuk segera melamar Dona untuk Khalis."


"Kami, sebagai orang tua Dona, sangat berterima kasih dan tersanjung dengan lamaran Khalis. Jujur saya baru diberitahu setelah subuh oleh ibunya Dona. Itupun setelah ibunya bertanya, kenapa pagi-pagi sudah sibuk di dapur? apa ada pesanan lagi? Dona yang seringnya bicara tanpa basa basi menjawab, kata orangtuanya, Pak Khalis mau ngelamar aku, tapi adiknya bilang mau berkunjung. Kita lihat nanti, sebenarnya mau apa?"


Keluarga Khalis pun tertawa mendengar cerita ayah Dona.


"Yaa begitulah Dona, walaupun sudah menjadi ibu, tetapi sisi kekanak-kanakannya masih melekat. Kami bersyukur ternyata ada yang mau," canda ayah Dona.


Dona yang mendengarkan dari dapur bersih pun memprotes dengan suara lirih, "Ih Bapak!"


"Yaa, ini ngomong-ngomong, Donanya mana?" tanya ayah Dona yang tidak melihat keberadaan putrinya di ruang keluarga.


"Ma, kamu deh yang keluar duluan, aku mau ngumpulin niat dulu," pinta Dona kepada Rahma.


"Lah ini lagi ?! Udah sih, Mbak. Ayo, aku temenin," ucap Rahma.


"Nggak, kamu duluan. Nanti aku nyusul, kalau niatku sudah terkumpul dengan lengkap, please Ma. Thank you, ya Ma."


Rahma yang tak habis pikir dengan tingkah kakak sepupunya itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, lalu ia pun memenuhi keinginan Dona untuk muncul terlebih dahulu.


"Nanti Pakde, Mbak Donanya lagi ngumpulin niat buat ketemu Mr. Melted," ucap Rahma.


Mata Khalis pun terbelalak melihat kemunculan Rahma.


"Lho Ma, kok kamu bisa ada di sini ?" tanya Khalis.


"Maaf Pak, tadi saya ditelpon mbak Dona habis Subuh, katanya disuruh bantuin disini. Mbak Dona bilang Bapak mau ke rumah, yaa saya tidak mungkin melewatkan momen ini dong, Pak," jawab Rahma.


"Tapi kok bisa?" tanya Khalis yang masih belum mengerti akan posisi Rahma dalam keluarga Dona.


"Lho, Khalis belum tahu? Rahma itu adik sepupunya Dona, ibunya Rahma itu adik kandung saya," jelas ibu Dona.


Mendengar jawaban ibu Dona, degup jantung Khalis mendadak berdetak lebih cepat.


"Maaf ya Pak, surprise dikit lah. Tapi tenang, aku akan diam, nggak akan aku sebar sampai undangan berbicara. Aku sudah janji kok sama Mbak Dona," ucap Rahma yang membuat Khalis bernafas lega.


"Hmm, sepertinya aku membaca ekspresi Pak Khalis, panik nggak, panik nggak, yaa paniklah, masa' nggak?" goda Rahma yang memecahkan suasana.


"Hmm mulai berani ya, Ma ?" ucap Khalis kepada Rahma dengan pandangan tajam.


"Selama ada mbak Dona sebagai tameng," jawab Rahma santai tetapi jantungnya berdegup kencang.


Suara tawa yang pecah pun menurunkan ketegangan Khalis dan Dona.


Lalu ayah Dona kembali angkat bicara, "Maafkan kami, tapi memang kalau sudah berhubungan dengan Dona, selalu saja ada yang membuat tertawa."


"Pastinya keluarga Anda tidak pernah bosan dengan kehadiran Dona," sahut ayah Khalis.


"Lebih tepatnya, tidak sempat untuk bosan, karena selalu ada saja celetukan-celetukan Dona yang tidak pernah terpikirkan oleh kami," jawab ayah Dona.


"Maaf Pak, maafkan sikap saya barusan dan maafkan jika kedatangan kami yang mendadak," ucap Khalis.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, kita santai saja, tidak perlu terlalu resmi dan sepertinya saya sekarang sedikit banyak paham akan julukan Pak Bos Kulkas untuk Khalis," canda ayah Dona yang membuat wajah Khalis memerah.


"Itulah Khalis, selalu tampak dingin ketika berhubungan dengan profesionalisme kerja, tetapi sebenarnya dia sosok yang lembut dan humoris," ucap ayah Khalis.


Perbincangan santai dengan senda gurau pun mengisi awal perkenalan dua keluarga. Tetapi ada satu yang kurang, yaitu pemeran utama wanita yang masih asyik bersembunyi di dapur bersih. Untuk itu, ayah Dona pun memanggil putrinya itu.


"Don sini, kamu keluar dulu, jangan ngumpet terus!"


Rahma pun menjemput Dona, yang masih enggan untuk memperlihatkan dirinya di hadapan keluarga Khalis.


"Ayo Mbak, aku temenin," ajak Rahma sambil menggandeng tangan Dona.


Seketika itupun Rahma terkejut akan suhu tangan Dona yang sangat dingin.

__ADS_1


"Ya Allah ! Dingin amat ini tangan ?! Wah, apakah efek kulkasnya pindah ke tangan mbak Dona ?" canda Rahma.


"Auk ah gelap !" bisik Dona.


Keduanya berjalan bergandengan tangan menuju ruang keluarga, tetapi sesampainya di sana, Dona menyembunyikan dirinya di belakang badan Rahma.


Rahma pun mulai angkat suara, "Maaf, tetapi tugas saya sebagai tameng cukup sampai disini, saya persilahkan kepada Mbak Dona untuk memperlihatkan wujud aslinya."


Cubitan kecil di pinggang Rahma pun berhasil disematkan oleh Dona, sehingga menimbulkan teriakan yang cukup nyaring dari Rahma.


"Astaghfirullah!"


"Kenapa kamu, Ma ?" tanya ibu Dona.


"Tanyakan saja kepada tersangka penyubit lemak di pinggangku," jawab Rahma sambil mengelus-elus pinggangnya.


Seketika itu suasana pun kembali pecah.


"Assalamu'alaikum," sapa Dona yang segera menyalami ibu Khalis dan Khansa.


"Wa'alaikumsalam."


"Duduk sini, Don," ucap ayahnya.


"Wah, aku serasa bagaikan bos mafia Italia, yang mempunyai gelar Don," lirih Dona tetapi jelas terdengar hingga di telinga Khalis.


"Well actually, Dona adalah sebuah gelar kehormatan untuk seorang wanita di Italia, sedangkan Don diperuntukkan bagi pria. Hanya saja sekarang banyak digunakan pada cerita-cerita mafia," ucap Khalis tiba-tiba.


Tetapi Khalis segera menyadari situasinya.


"Oh maaf, ini hanya sekedar ...."


"Informasi nggak penting yang bagaikan selingan iklan di televisi," celetuk Dona yang memotong kalimat Khalis.


Semua mata pun menuju ke arah Khalis, menunggu apa yang akan diucapkannya.


Tetapi Khalis malah mengangkat kedua tangannya sembari berkata, "White flag."


"Good," sahut Dona.


Suara jangkrik tiba-tiba mengisi keheningan sesaat akibat pertunjukan dari Dona dan Khalis, hingga Rahma berdiri sambil bertepuk tangan, seraya berucap, "Perfetto!"


Khansa dan Dzaky pun mengikuti sebagai tanda bahwa mereka menikmati sajian drama dari kedua anak manusia yang akan dipersatukan dalam ikatan pernikahan dalam beberapa waktu yang akan datang.


"Baiklah, sepertinya sudah terlalu banyak dan panjang intermezzo-nya, untuk itu saya lanjutkan kepada pertanyaan yang jawabannya sangat dinantikan oleh kita semua," ucap ayah Dona.


"Dona apakah kamu menerima lamaran Khalis ?" tanya ayah Dona.


Semua mata pun menuju ke arah Dona yang sedang berfikir keras untuk dapat memberikan jawaban yang tepat atas lamaran yang ditujukan untuknya.


Jantung Dona pun berdegup semakin kencang, lalu menutup matanya dan meremas jari-jemarinya, lalu diliriknya Khalis yang terlihat tegang menunggu jawaban darinya. Mata mereka pun beradu dan wajah Khalis mulai melembut dengan memperlihatkan senyumnya yang teduh, sehingga membuat hati Dona luluh.


Lalu dengan mengucapkan basmallah, Dona menjawab, "In syaaAllah saya terima."


Khalis pun tersenyum bahagia karena cukup lama ia tidak merasakan hal yang ia rasakan saat ini, yaitu jatuh cinta.


Kemudian Khalis memberikan sebuah kotak perhiasan kepada Dona melalui Khansa.


"Saya tidak tahu ukuran jarinya, semoga muat," ucap Khalis.


Dona pun membukanya, terlihat sebuah cincin platina bermata batu safir, membuatnya segera menutup kembali kotak tersebut.


"Kok ditutup lagi ? Apa tidak cocok atau tidak suka dengan modelnya ?"" tanya Khansa mewakili kakaknya.


"Ooo bukan, maaf tapi karena ___ hmm, silau," jawab Dona.


"Mbak, dilamar malah ngelawak!" celetuk Rahma yang gemas dengan tingkah Dona.


"Ku tegang tauk!" bisik Dona ke Rahma, tetapi cukup terdengar jelas oleh yang lain, sehingga tawa kembali menghiasi acara lamaran tersebut.


Ibu Dona pun berkomentar akan putrinya itu,"Khalis, kamu nanti akan menikmati sajian seperti setiap hari. Semakin berumur, Dona agak semakin... "


"Memukau, " potong Dona.


"Kayaknya baru kali ini, ada acara lamaran tapi lebih mirip acara komedi," celetuk Khansa.


"Welcome," jawab singkat Dona yang kembali mengundang tawa.


Merasa acara menjadi semakin melenceng dari seharusnya, ayah Dona pun mengembalikan acara pada alurnya.


"Maaf ini jadi ngelantur. Setelah lamaran ini, kira-kira kapan rencana akad dan resepsinya diadakan?" tanya ayah Dona.


"Karena KTP saya masih KTP Jakarta, untuk itu saya harus mengurus surat-suratnya di Jakarta terlebih dahulu," jawab Khalis.


"Mas, titip ke aku aja, besok langsung aku urus," ucap Dzaky.


"Oke, jadi lebih cepat. Jadi untuk surat-surat tinggal menunggu berkas dari Jakarta ya. Nah, selanjutnya untuk tanggal akadnya bagaimana?" tanya ayah Dona kembali.


"In syaa Allah, dua pekan lagi ada libur tiga hari," ucap Khalis sambil menunjukkan kalender dari handphonenya, dimana terlihat tanggal merah di hari Jum'at.


"Akad Sabtu pagi, resepsi siang atau malamnya," usul Khalis.


"Untuk resepsi tergantung ketersediaan gedung. Mau di mana?" tanya ayah Dona.


"Royal Ambarukmo," usul Dzaki.


"Selain dekat, kalau lihat di webnya tempatnya bagus, bisa indoor dan outdoor," lanjutnya lagi sambil menunjukkan foto-foto paket pernikahan dari handphone-nya.


"Coba kamu hubungi, tanyakan tanggalnya itu kosong atau nggak," pinta Khalis.


Dzaki pun segera menghubungi pihak gedung.


Tak lama kemudian, Dzaki menginformasikan ketersediaan ruang di Royal Ambarukmo.

__ADS_1


"Ada Jum'at pagi, mulai dari jam sembilan pagi sampai sebelas siang. Itu ruangan terbesar, aku lupa namanya, tapi kapasitas 1000 undangan atau 2500 orang."


"Boleh, booking aja. Sepulang dari sini, kita kesana untuk DP sekalian," ucap Khalis.


"Ini ada WO-nya juga, apa mau sekalian Mas?"


"Iya sekalian aja, biar nggak repot."


Sementara Khalis dan Dzaky sibuk mengatur persiapan pernikahan, Dona yang merasa tidak dimintai pendapat mengajak Rahma ke dapur.


"Eh, perasaan aku yang mau nikah, kok dia diskusi sama adeknya doang. Dunia serasa milik mereka berdua kah ?"


"Hmmm aku curiga," celetuk Rahma dan keduanya pun tertawa.


Lalu Dona menyantap gorengan yang berada di meja dapur.


"Laper juga, setelah ketegangan tadi," ucap Dona.


"Bagi tahu isinya, Mbak," pinta Rahma yang ikut menikmati gorengan.


Keduanya pun asyik menyantap gorengan di dapur, hingga notifikasi di HP Dona berbunyi.


"Mbak, dah buruan masuk lagi, tuh sudah dicariin kan ?!" ajak Rahma.


"Ntar ah, aku mau nafas dulu. Kamu aja yang masuk duluan, aku masih butuh cemilan untuk meredakan ususku yang meronta-ronta," jawab Dona sambil membuka pesan di handphone-nya.


Ternyata pesan dari Khalis, dimana ia mengirimkan beberapa foto gaun pengantin syar'i dengan pesan singkat, Pilih yang mana.


"Ish, beneran masih kulkas! Dimana ada melted-nya?" gerutu Dona.


Dona pun memilih gaun putih tulang, berlapis brokat berwarna senada dengan aksen pita berwarna lavender pada bagian dada.


Tak lama kemudian, Khalis mengirim WA kembali, kali ini ia mengirimkan foto dekorasi pelaminan dan gedung.


Pilih lagi, ketik Khalis pada pesan gambarnya kali ini.


"Yaa Allah, serius nih orang! Milihnya gitu doang?" lirih Dona.


Dengan memilih foto dekorasi minimalis bernuansa putih, Dona pun mengirimkan balasannya hati yang sedikit kesal, Yang ini, nggak pakai ribet !


Terlalu polos, yang lain! jawab Khalis.


Pilih sendiri ! balas Dona.


Ih marah ! balas Khalis lagi.


Terserah!


Dona pun mengintip Khalis dari dapur, dimana dilihatnya Khalis sedang menahan tawanya.


"Hmm ketawa deh," lirih Dona.


Kembali di ruang keluarga, Rahma pun mendapatkan pertanyaan dari ibu Dona, "Ma, mana Mbak Dona?"


"Tuh di dapur, katanya mau nafas dulu."


"Hmm kambuh lagi," ucap ibu Dona sambil menggelengkan kepalanya.


"Khal, Dona itu agak unik yaa. Harus sedia ekstra sabar karena walaupun sudah menjadi ibu, terkadang 'anehnya' suka kambuh kalau lagi sendirian. Tetapi, kalau sudah ketemu sama yang satu frekuensi, bisa ... "


"Ambyar kuadrat, Bude," potong Rahma.


"Maaf Bude, tapi kalau menurut aku sih yaa, Mbak Dona sama Pak Bos tuh klop. Sama-sama eror pada saatnya, maaf ya Pak, saat ini saya berbicara sebagai calon adik sepupu Pak Bos, yang dua pekan lagi, panggilan di rumah akan berubah menjadi 'mas'. Iii aku nggak kebayang manggil pak bos dengan sebutan 'mas'," lanjut Rahma sambil menggodai Khalis.


"Nggak usah dibayangin, panggil aja.... kalau berani," sahut Khalis tanpa ekspresi.


"Ish, mulai balik ke kulkas!"


"Panggil mbak Dona, gih!" pinta ibu Dona kepada Rahma.


"Iya, Bude."


Rahma pun berjalan gontai menuju dapur.


"Mbak, ...."


"Iya, udah denger. Ntar !" jawab Dona dari dapur sambil membersihkan tangan dan mulutnya dari minyak dari gorengan yang ia makan, sebelum ia kembali ke ruang keluarga.


"Iya Bu, ada apa?" tanya Dona.


"Eh kok, malah nanya ada apa ? kamu mau nikah apa nggak, kok malah pergi ?"


"Ooo aku masih dibutuhkan disini, perasaan dari tadi diskusinya nggak melibatkan aku deh," sindir Dona.


Mendengar sindiran dari Dona, Khalis kembali mengirim pesan WA, Sensi.


Itu mall di Jakarta, balas Dona.


"Eh malah main HP, udah sini dulu. Undangannya mau seperti apa ?" tegur ibu Dona.


"Via WA sama FB aja," jawab Dona singkat.


Khalis pun mengirim pesan kembali dengan melampirkan beberapa desain undangan digital, Pilih.


Dona yang merasa kesal, akhirnya memprotes, "Bapak Khalis yang terhormat, tolong yaa, calon pengantin perempuannya ini sedang tidak mood untuk mikir, lebih memilih untuk terima beres, jadi silahkan putuskan sendiri. Saya mau pamit ke dapur, jadi nggak usah WA muluk! cuma satu kata doang aja pakai WA!"


Dona pun berjalan menuju dapur, lalu Rahma mengejar Dona untuk mengambil HP-nya kemudian ia pun membaca pesan WA dari Khalis. Setelah ia membacanya,


"Nggak jadi melted kayaknya! balik ke kulkas lagi !"


Sedangkan di ruang keluarga, Khansa juga mengambil HP kakaknya untuk mencari tahu apa yang dimaksud Dona.


"Ya pantes, haadeee Mas, kulkas kok dipiara!"

__ADS_1


Kedua pasang orang tua mereka pun hanya berpandangan, tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


__ADS_2