
2 tahun sudah Dona menjadi single parent, tanpa bantuan dari Tyo dan keluarganya.
Hingga Mas Deni, kakak Tyo menghubungi Dona via WA.
" Assalamu'alaikum, 'pa kabar Don?? Anak-anak sehat kan?? Semoga semua sehat selalu yaa. Saya mau kasih info aja kalau Jum'at ini saya ke Jogja, Sarah diterima kuliah di UTY, jadi saya sekeluarga mau antar Sarah, sekalian ketemu sama keponakan, boleh yaa kita nanti mampir ke rumah?? "
" Wa'alaikumsalam, Alhamdulillah semua sehat Mas. Boleh banget lah mampir, kita semua juga kangen. Kami tunggu kedatangannya "
" Oiya, mau dibawain lapis Bogor ga?? Anak-anak suka yang rasa apa?? "
" Waaa anak-anak suka banget, mereka suka semua. Makasih ya Mas "
" Oke deh, kalau gitu nanti kita bawain lapisnya. Salam buat bapak, ibu sama anak-anak ya Don"
" Iya Mas, salam juga buat keluarga disana "
Dona tersenyum bahagia, akhirnya ada juga anggota keluarga Tyo yang akan datang berkunjung.
Mas Deni adalah kakak Tyo yang kedua, ia tinggal di Bogor bersama istrinya, mbak Tini dan ketiga anaknya, Sarah, Fahri dan Niana.
Sesuai janjinya, keluarga Mas Deni akhirnya tiba di rumah pada Sabtu sore.
" Assalamu'alaikum "
" Wa'alaikumsalam, masuk.... Ya Allah tambah tinggi aja nih Fahri!! "
" Apa kabar Don " tanya Mbak Tini.
" Alhamdulillah baik Mbak "
" Anak-anak mana nih " tanya Mas Deni.
" Biasa, pada malu, ngumpet tuh dibelakang " jawab Dona sambil memanggil ketiga anaknya yang duduk dibelakang ruang tamu.
" Eee ini gimana sih?? pakde sudah datang, kasih salam dulu!! ga sopan, ngumpet kayak gini!"
Aisha, Ara dan Zalfa mengikuti Dona ke ruang tamu.
" Assalamu'alaikum " ketiga anak Dona memberi salam.
" Wa'alaikumsalam "
" MasyaAllah dah pada besar, Aisha tingginya dah lebih dari ibu yaa?? "
" Iya Pakde "
" Aisha ga di asrama?? "
__ADS_1
" Alhamdulillah Sabtu ini jadwal pulang, besok ba'da Ashar kembali ke asrama lagi "
" Berapa jam perjalanan Mas?? "
" Sekitar 12 jam, kan ke Bandung dulu, ibu nitip oleh-oleh buat anak-anak"
Mbak Tini memberikan bungkusan kepada Dona.
" Ini mukena dari ibu, baju dari kita "
" Jazakumullah khair "
" Bapak ibu ada, Don ? " tanya Mas Deni.
" Ada Mas "
" Oiya, kita pindah ke ruang tengah aja yang lebih luas " ajak Dona.
" Assalamu'alaikum " salam Mas Deni ketika bertemu dengan orang tua Dona.
" Wa'alaikumsalam, apa kabar?? " jawab ayah Dona.
" Alhamdulillah, baik Pak "
" Ayo, silahkan duduk"
" Maaf Pak, kami baru sempat datang sekarang " ucap Mas Deni.
" Ga pa-pa, gimana kabar bapak ibu di Bandung, sehat?? "
" Alhamdulillah, sehat . Ada salam dari bapak ibu"
" Wa'alaikumsalam " jawab ayah Dona.
" Sebenarnya kedatangan kami kesini untuk menyambungkan kembali hubungan keluarga yang telah putus. Jujur kami, di Jakarta, Bogor dan Bandung sangat menyesali keputusan adik kami, Tyo. Kami juga tidak tahu harus berbuat apa, karena Tyo selalu menghindar, terutama dari saya, karena dia tahu saya bakalan habisin dia karena perbuatannya"
" Jadi belum ketemu sama Tyo lagi?? " tanya Dona.
" Terakhir ketemu sebelum nggugat cerai kamu Don, setelah itu dia selalu menghindari bertemu saya"
" Tapi kalau sama yang lain gimana Mas?? "
" Masih mau ketemu, hanya sama saya aja dia menghindar "
" Yaa, kalau dia ga ngerasa salah kan ga bakalan menghindar, ini karena hati kecilnya mengatakan bahwa dia salah " lanjut Mas Deni.
" Di grup WA keluarga, dia juga keluar " Mbak Tini ikut bicara.
__ADS_1
" Serius Mbak?? dia ga ada di grup keluarga juga?? waaa dia benar-benar menghilang, karena dia juga keluar dari grup sekolah dan kampus. Saya juga sempat ketemu sama teman liqonya, katanya Tyo juga sudah lama tidak aktif dan akhirnya keluar dari grup WA "
" Berarti dia menghilang dari semua teman-temannya.... aneh " ucap Mas Deni.
" Oiya, Aisha ajak Mbak Sarah, Mas Fahri sama Mbak Niana ke belakang. Main di belakang aja, ke kolam ikan " pinta Dona, agar anak-anak tidak mendengarkan pembicaraan mereka lebih lanjut.
" Sarah, ikut Aisha gih... " Mbak Tini menyetujui.
Setelah anak-anak berada di belakang, mulailah pembicaraan serius.
" Tyo memang sudah ga wajar, kita juga bingung gimana cara ngontaknya, WA ga dibalas, telpon ga diangkat, bahkan terkadang langsung di reject" ucap Mas Deni.
Dona pun mengingat percakapannya dengan Tyo beberapa bulan sebelum ia pindah ke Jogja.
" Jadi ingat, dulu dia pernah ngomong ke saya, kalau dia ingin menghilang, menghilang dari semua. Saya ga ngerti maksudnya, saya cuma tanya 'mau menghilang gimana?? buat apa?' dia ga jawab. Ternyata akhirnya dia benar-benar menghilang "
" Sebenarnya ada apa sih Don?? kita semua tuh bingung, kenapa Tyo tiba-tiba bisa berubah?? " tanya Mas Deni.
" Saya sih cuma mencoba mengambil kesimpulan dari apa yang saya ketahui. Menurut saya, Tyo sudah lelah menjadi seseorang yang bukan dirinya, ia ingin keluar dari cangkangnya. Ia merasa terkungkung di dalam cangkang pria baik dan shalih. Tetapi ia tidak memiliki keberanian untuk keluar, hingga akhirnya bertemu dengan seseorang yang mencintai dirinya yang asli, dengan karakter yang sama, akhirnya yaa kita semua ia korbankan, termasuk anak-anaknya"
" Saya ga ngerti maksud kamu " ucap Mas Deni.
" Jadi selama ia bekerja di Aeril Corp, prestasinya bisa dibilang biasa saja, bahkan dapat dikatakan jauh dari ekspektasi. Ratna, manajernya bilang, kalau dibuat rata-rata kinerjanya, dia hanya bisa kasih B- paling tinggi. Waktu awal terlihat bagus, tetapi 2 tahun belakangan semakin kacau, yang akhirnya tanggung jawabnya di ambil alih oleh yang lain. Bahkan terakhir ia dia 'kandangkan' karena berkas-berkas proyek yang ia tangani berantakan dan akhirnya diambil alih oleh Ratna "
" Pantesan kok jabatannya ga naik-naik!! " ucap Mas Deni.
" Nah, kita di sini selalu diberikan info bahwa dia presentasi di perusahaan inilah, itulah. Tapi yaa only presentasi, kelanjutannya zonk. Yang lebih parah lagi, masalah Uma, itu kan sampai kantor heboh, karena Tyo dengan PDnya bawa Uma ke kantor, sedangkan semua orang tahu status Tyo dan siapa istrinya "
" Intinya, Tyo bukanlah orang yang dulu kita kenal " lanjut Dona.
" Oiya, masalah tanggungjawab, gimana?? " tanya Mas Deni.
" Maksudnya nafkah ke anak-anak?? "
" Iya "
" Sedih Mas, paling rajin 2-3 bulan sekali, jumlahnya juga ga cukup untuk bayar uang sekolah anak-anak "
" Astagfirullah!! segitunya dia tega!! "
" Mas Deni, do'a kan saja saya sehat, sehingga dapat mendampingi Dona membesarkan anak-anaknya. Alhamdulillah saya diberikan rezeki lebih untuk membiayai Dona dan cucu-cucu saya" ucap ayah Dona.
" Iya Mas, semua kebutuhan saya, ditanggung sama Bapak"
" Dona, tidak saya izinkan bekerja di luar. Sebaik-baik wanita di dalam rumahnya. Yaa semoga bisnis kulinernya berkembang, sedikit-sedikit juga lumayan dapat orderan roti, cake atau nasi box " jelas ayah Dona.
" Oiya, saya lihat postingan orderan kamu di FB dan IG. Semoga berkembang, bisa punya restoran dan bakery sendiri " ucap mbak Tini.
__ADS_1
" Aaamiiinn"