
Setelah satu jam perjalanan, tibalah mereka di lokasi outbond, di kaki gunung Merapi, Kaliurang. Cuaca yang cerah, udara yang sejuk dan angin yang berhembus terasa dingin, membuat peserta outbond tak sabar untuk memulai aktivitas mereka.
Dimas pun mengumpulkan peserta outbound di lapangan, sementara Dona dibantu oleh asistennya dan beberapa karyawan menurunkan perlengkapan BBQ.
Setelah semua karyawan dan keluarganya berkumpul di lapangan, termasuk Khalis dan Dimas. Para pelatih outbond pun memberikan arahan untuk memulai aktivitas mereka, sedangkan anak-anak dikumpulkan oleh pelatih outbond anak untuk bermain di lapangan.
"En, Tati, kalau kalian mau ikutan main sama anak-anak, main aja. Mumpung disini, mau main, jalan-jalan, terserah. Ini kan sudah beres, tinggal aja," ucap Dona kepada asistennya.
"Kita ke lapangan ya Bu, terimakasih."
Dona dan keluarga Khalis pun bersantai sambil mengawasi anak-anak mereka.
"Ya ampun aku cowok sendiri ! adekku cewek semua ?!" ucap Rafif.
"Bu, ntar pesen adek laki ya!" teriak Rafif dari tengah lapangan.
Hmmm dia kira diriku restoran! pesen adek pulak! emangnya aku apaan ? gumam Dona.
Khansa pun menghampiri Dona, setelah mendengar permintaan keponakannya.
"Kayaknya sudah ada yang nggak sabar," ucap Khansa.
"Ya, sabar ya, ini ujian. Selesai nggak selesai, dikumpulkan ! jawab Dona sambil berlalu meninggalkan Khansa yang tertawa.
Ayah dan ibu Khalis telah memperhatikan Dona sejak awal pertemuan mereka di lobby kantor. Sejak saat itu, senyum pun tak lepas dari wajah mereka berdua.
"Mas, kayaknya pilihan Khalis tepat, aku suka, orangnya lucu, pembawaannya santai, tapi terlihat cukup tegas."
"Iya, aku juga merasakan hal yang sama."
"Kalau gitu, besok pagi kita langsung lamar Dona untuk Khalis."
Di area BBQ, Dona sedang sibuk mengatur bahan makanan untuk acara BBQ nanti, tetapi kemudian ia teringat akan kata-kata Khansa, tentang menikah dengan Khalis.
"Baru kenal sebulan deh kayaknya, nikah? ah nggak tahu ! ingat Dona, kamu disini liburan, senang-senang, istirahat otak, rest your mind and soul, take a deep breath then release,"
__ADS_1
Setelah beberapa saat, "Nggak ngaruh kayaknya aku memang harus ke Timbuktu! Donal, aku ikuut ! teriak Dona dalam hati.
Eh itu namaku ditambah L ! oh no, oh no, oh no no no no no no! pikirannya pun semakin tidak karuan.
Ibu Khalis pun menghampiri Dona yang sedari tadi duduk sendiri sambil membungkukkan badannya ke depan.
Menyadari kehadiran ibu Khalis, Dona pun segera berdiri.
"Eh ibu. Ibu mau makan apa, nanti aku ambilin," ucap Dona.
"Nggak usah, ibu hanya mau ngobrol aja, kok."
Dona pun menarik kursi untuk ibu Khalis.
"Silahkan duduk, Bu."
"Terima kasih. Oiya sarapannya tadi enak sekali, ibu suka."
"Syukron, tapi tadi cuma menu biasa kok Bu."
"Menu biasa, tetapi jika dimasak dengan hati gembira dan penuh cinta, rasanya pasti berbeda."
"Mungkin kamu sudah menduga, mengapa saya ingin bicara."
Dona tetap terdiam.
"Seperti yang sudah Khansa katakan tadi, sebenarnya kedatangan kami ke Jogja bukanlah untuk mengikuti family gathering, tetapi kami ingin melihat seseorang yang telah membuka kembali hati Khalis."
"Khalis bukanlah laki-laki yang mudah jatuh cinta, kriterianya tinggi, sehingga tidak mudah menaklukkan hatinya. Tetapi sekalinya ia menyukai seseorang atau bahkan jatuh cinta, ia berkomitmen untuk mencintai orang itu sampai akhir hayatnya."
"Nadya, ibunya Rafif, dia setahun lebih muda dari Khalis. Dia anak dari rekan kerja ayahnya. Mereka bertemu ketika Khalis baru saja diterima bekerja, saat acara halal bi halal di rumah orang tua Nadya."
"Singkat cerita, Khalis jatuh hati pada pandangan pertama. Lalu tiga bulan kemudian mereka menikah dan tidak sampai setahun, Rafif pun lahir. Pernikahan mereka jauh dari konflik. Tetapi tiga tahun setelah Rafif lahir, Nadya terkena leukemia. Maka dari itu, Rafif tidak memiliki adik. Setelah sempat dinyatakan sehat selama beberapa tahun, tiba-tiba penyakit itu kembali datang tiga tahun yang lalu. Setelah berjuang selama hampir setahun, akhirnya Allah mengambil nyawanya."
"Khalis sangat terpukul akan kepergian Nadya. Hingga dua tahun yang lalu, ia memutuskan untuk pindah ke sini. Tidak ada satu pun dari kami yang berani untuk bertanya apakah ia akan menikah lagi atau tidak. Ya seperti yang kita dengar tadi, karyawannya menjulukinya Mr. Kulkas, ya begitulah Khalis. Di luar terlihat dingin, tetapi sebenarnya dia seorang yang penyayang dan perhatian."
__ADS_1
"Khalis menghubungi ibu dua pekan yang lalu, ia bilang ia ingin menikah lagi. Ini WA Khalis, coba kamu baca."
Ibu Khalis menyerahkan HP-nya yang berisi pesan Khalis.
Bu, namanya Dona Aqeela, kelahiran tahun '80, empat tahun lebih muda dari aku. Dia janda cerai, anaknya tiga perempuan semua. Sekarang dia tinggal di rumah orang tuanya, nggak jauh dari apartemen. Dia pakai jilbab syar'i. Kalau wajahnya, jujur Bu, aku nggak berani lihat atau merhatiin. Nyari di FB-nya juga nggak nemu fotonya, tapi data ini aku dapat dari Fb-nya. Aku pikir aku nggak bakalan nikah lagi setelah Nadya meninggal, tapi kok setelah mengenal Dona, hati ini nggak mau diam, loncat- loncat terus. Ditambah Rafif yang juga sangat menyukai Dona, bukan hanya masakannya. Jujur Bu, aku nggak tahu apakah Dona mau menerima aku, hmm mungkin lebih tepatnya, apakah dia sudah siap menikah lagi. Do'a ku sekarang, minta Allah tunjukkan apakah Dona jodohku yang terakhir... bantu do'a ya Bu.
Dona semakin menundukkan kepalanya, ia tidak tahu harus berkata apa.
Ia pun menyerahkan kembali HP kepada ibu Khalis.
"Dona, ibu bahagia akhirnya Khalis membuka hatinya, sehingga ibu tidak mempermasalahkan siapa calonnya, yang penting Khalis ingin menikah lagi, ibu sudah bahagia. Selain itu, ibu percaya akan penilaian Khalis, tetapi sebagai seorang ibu, tetap ingin melihat pilihan anaknya. Untuk itu, ibu minta agar Khalis mempertemukan ibu dan kamu, terlebih dahulu."
Ibu Khalis pun menggenggam kedua tangan Dona.
"Dona, jika memang kalian berjodoh, pernikahan kali ini adalah pernikahan kedua untuk kalian berdua. Kalian sudah mempunyai bekal sebelumnya, untuk membuat pernikahan kalian nanti menjadi lebih indah dan bermakna. Terlepas dari anak-anak yang kalian miliki, yang terpenting adalah bagaimana hubungan kalian berdua."
"Jika tidak keberatan, besok kami akan ke rumah, melamar secara resmi di depan orang tuamu."
Dona menarik nafas panjangnya dan berucap, "Bu, saya belum bisa memberikan jawaban saat ini juga."
"Ibu tidak minta jawaban sekarang, pikirkan terlebih dahulu matang-matang. Semoga esok pagi, kamu telah mendapatkan jawabannya," ucap ibu Khalis.
"Baik Bu, terima kasih."
"Ibu yang seharusnya berterima kasih."
Ibu Khalis pun berdiri dan diikuti oleh Dona.
"Sudah ya, ibu mau melihat cucu-cucu ibu bermain."
Sebelum meninggalkan Dona, ibu Khalis pun memeluk dan mencium pipinya.
"Ibu kesana dulu ya."
"Iya Bu."
__ADS_1
Setelah ibu Khalis berlalu, Dona kembali merenung seorang diri dan berdo'a.
Yaa Allah, mudahkan urusan hambaMu ini. Tetapkan hati hamba, dekatkan hati kami jika kami berjodoh. Jauhkan jika kami tidak berjodoh.