New Chapter Of My Life

New Chapter Of My Life
Episode 27 Pulang ke Rumah


__ADS_3

Akhirnya bis tiba di kantor setelah menempuh satu jam perjalanan. Satu persatu peserta outbound dan family gathering pun turun dari bis dan berkumpul di parkiran sebelum pulang ke rumah masing-masing.


"En, Tati, jangan sampai ada barang yang tertinggal, dobel cek ya !" pinta Dona kepada dua asistennya.


"Iya, Bu," jawab keduanya.


"Cha, Ara, tasnya sudah semua? botol minum?"


"Sudah Bu, tadi aku sudah cek di kolong juga sudah kosong," jawab Icha.


Lalu Dona kembali memeriksa kelengkapan kateringnya yang telah dimasukkan ke mobil.


"Bu, saya langsung ke rumah antar barangnya, ya," ucap Pak Andi.


"Baik Pak, tapi nanti tunggu dulu yaa. Nanti tunggu saya di rumah, jangan langsung pulang. Saya masih mau pamitan dulu," ucap Dona.


"Baik Bu, nanti saya tunggu di depan rumah."


"Terima kasih, Pak."


Sesaat kemudian, para karyawan telah berbaris rapih, dengan dua barisan sesuai gender, untuk mendengarkan Pak Bos mereka berbicara.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah family gathering dan outbond kita hari ini telah berakhir dengan sukses!"


Tepuk tangan meriah pun di berikan kepada Khalis.


"Semua terjadi karena Allah mudahkan acara ini, dengan diberikannya cuaca yang cukup cerah, tidak panas dan tidak dingin."


"Baiklah, terima kasih atas kerja sama kalian hari ini dan terima kasih atas kerja keras kalian selama ini. Saya meminta maaf untuk segala hal yang tidak berkenan dan mengganjal selama acara ini. Sekali lagi, maaf dan terima kasih. Applaus for us!"


"Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Rangkaian acara pun berakhir dengan bersalam-salaman sebelum kembali pulang ke rumah masing-masing. Begitu pula dengan Dona dan ketiga anaknya, yang berpamitan kepada keluarga Khalis terlebih dahulu, sebelum mereka kembali ke rumah.


"Ayo sini, pamit dulu sama Yangti dan Yangkung," panggil ibu Khalis.


Ketiga putri Dona pun menyalami orang tua Khalis.


"Tante Khansanya nggak, nih ?"


Mereka pun berlari menuju keluarga Khansa, untuk berpamitan, sedangkan Dona masih berpamitan dengan kedua orang tua Khalis.


"Bu, saya pamit dulu. Terima kasih atas semua nasihat ibu," ucap Dona.


"Sama-sama. Ibu berharap yang terbaik untuk kalian berdua. Hati ibu sekarang seperti mempunyai putri baru dan cucu baru. Ibu bahagia sekali hari ini."


"Terima kasih Bu, maaf jika ada yang kurang.."


"Nggak ada yang kurang, semuanya pas dan sesuai.. Kamu istirahat ya, jangan kecapekan, hari ini pasti melelahkan. Yah, ibu jadi melo nih. Pingin bawa pulang kalian, belum kepingin pisah."


"Ibu bisa aja. Maaf Bu, kami pamit pulang. Ibu, bapak juga istirahat ya," ucap Dona sambil memberikan pelukan hangat.


"Sa, aku pulang ya, makasih ya, Sa," pamit Dona kepada Khansa.


"Makasih juga, Mbak."


"Eh Mbak, jangan lupa. Besok pagi kita kerumah yaa. Berkunjung lah, sebelum aku ke Jakarta."


"Bener nih, berkunjung aja?"


"Iya, pakai plus lamaran lah, santai aja, palingan bocah pada main. Kata Rafif, halaman belakangnya luas, Alisha jadi penasaran pingin main. Boleh ya, Mbak."


Dona pun terdiam sesaat mendengar kata lamaran yang keluar dari mulut Khansa.


"Eh kenapa, Mbak ? Kok diam ?" tanya Khansa.


"Lamaran, ya ? Ini beneran, serius ? Besok ? Langsung ?"


"Iya, Mbak. Seperti yang tadi aku bilang, mas Khalis penganut aliran gercep. Jadi nantikan kami besok pagi, yaa !"


Jantung Dona pun berdegup dengan kencang, sungguh ia tidak menyangka jika prosesnya akan sesingkat ini.


"Sha, besok kabarin aku kalau sudah mau ke rumah, ya," lirih Dona.


"Siap, ntar aku WA. Eh tapi, emangnya mau nyiapin apa ?"


"Nyiapin nyali !" jawab Dona yang membuat Khansa tertawa lepas.


Khalis yang memperhatikan dari jauh pun ikut tersenyum melihat interaksi keduanya.

__ADS_1


"Yowes, tunggu kedatangan kami ya, Mbak," ucap Khansa.


"Iya, eh jam berapa ?"


"Hmm paling sekitar jam sepuluhan."


"Oke deh, aku tunggu ya."


Mereka berdua pun berpelukan sebelum akhirnya pulang.


Sesampainya Dona di rumah, Pak Andi telah menunggu kedatangan Dona di depan rumahnya.


"Tati, Eni tolong barang- barang yang di mobil Pak Andi dikeluarkan ya," pinta Dona kepada dua asistennya.


Kedua asistennya pun bergerak cepat untuk mengosongkan perlengkapan katering dari mobil Pak Andi. Beberapa menit kemudian, mobil telah kosong dan Pak Andi pun meminta izin untuk kembali ke kantor.


"Bu, mobilnya sudah kosong, barang-barangnya sudah dikeluarkan semua. Saya pamit, ya Bu."


"Makasih Pak, oiya ini ada buah sama cemilan buat keluarga bapak di rumah," ucap Dona sambil memberikan bungkusan makanan kepada Pak Andi.


"Eh makasih Bu, jadi ngerepotin."


"Nggak repot kok, Pak."


"Terima kasih, Bu. Kalau begitu, saya pamit. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Dona pun masuk ke dalam rumahnya dan kembali kepada rutinitasnya sebagai ibu.


"Ayo pada naik, langsung gantian mandi, sebentar lagi maghrib !"


"Iya Bu," jawab ketiga putrinya yang kemudian segera naik ke lantai atas menuju kamarnya.


"Gimana acaranya? sukses?" tanya ibu Dona.


"Alhamdulillah, habis bersih nggak bersisa. Aku kan nyediain dagingnya lebih, itu juga bersih," jawab Dona.


"Alhamdulillah, tinggal capeknya ya."


"Nggak capek sih, yang manggang-manggang kan mereka, aku duduk aja. Tapi aku pingin selonjoran dulu."


"Aku naik ya, Bu."


Di lain tempat, tepatnya di apartemen Khalis, setelah isya, keluarga Khalis tengah berkumpul untuk makan malam bersama.


"Ayo makan dulu, keburu dingin !" ajak Khansa.


Seluruh anggota keluarga pun mendekat ke arah ruang makan dan mengambil tempat untuk makan malam bersama. Ditengah makan malam bersama itu, pembahasan mengenai rencana lamaran pun menjadi topik utama.


"Besok rencananya gimana, Mas?" tanya Khansa.


"Besok jam sepuluh, kita ke rumah Dona. Semoga lamaranku diterima," jawab Khalis.


"Aamiin."


"Kalau diterima, rencana akad kapan?" tanya ibu Khalis.


"Yaa secepatnya Bu, kalau besok bisa langsung, ya langsung deh, surat mah bisa nyusul," jawab Khalis.


"Hmm ada yang kebelet nih !" celetuk Dzaki.


"Emang kamu dulu nggak gitu, waktu mau nikah sama Khansa?"


"Iya sih, pinginnya langsung akad aja."


"Jadi kapan akad, resepsi ?" tanya Khansa lagi.


"Untuk akad yaa tergantung, kalau bisa paling cepat sepekan lagi kenapa nggak ? mumpung pas bapak ibu masih disini, biar nggak bolak-balik," jawab Khalis.


"Iya, biar sekali jalan," tambah ayah Khalis.


"Oiya, jangan lupa kamu beritahu kalau kita besok mau ke rumahnya," ibu Khalis mengingatkan.


"Tadi aku sudah bilang ke Mbak Dona, pas pamitan," jawab Khansa.


"Kalau begitu, besok pagi kita langsung ke rumah Dona."


"Khal, kamu sudah siapkan tanda lamarannya?" tanya ayah Khalis.

__ADS_1


"Insyaallah sudah, Pak. Ini cincin lamarannya," jawab Khalis sambil mengeluarkan cincin bermata berlian dari saku celananya.


"Wait, sudah berapa lama itu cincin ada di dalam saku, Mas ?" tanya Khansa.


"Hmm guess, Sha."


"A week or so ?"


"Emang pinter adekku satu-satunya ini ! A week !" seru Khalis.


"Aduh, sepertinya aku mencium gelagat kebucinan tingkat akut ! Ini jauh lebih parah ketimbang dulu, waktu sama mbak Nadia," celetuk Khansa.


"Memangnya dulu gimana ?" tanya Dzaky.


"Dulu belum berpengalaman, jadi takut-takut malu, mikirnya juga panjang. Kalau sekarang, mikirnya cuma satu, gimana secepatnya aku bisa menyembuhkan luka di hatinya."


"Beeuh, gaya banget bahasanya!" goda Khansa.


"Nggak Sha, it's true. Coba kamu lihat sinar matanya Dona, terlihat pilu dan sayu, tetapi terkadang berubah menjadi terang dan bersemangat, hanya saja itu cuma sesaat. Aku ingin membuat sinar matanya kembali terang. Hmm I think I'm totally melted !"


"Sudah serius aku nyimak, ndengerin penuh penghayatan, tetapi kenapa ujungnya menggubrak !"


"Itu tandanya Khalis sudah sehat, Sha. Dia sudah kembali ke karakternya yang asli. Alhamdulillah, ibu sangat bersyukur, akhirnya kamu bisa kembali ceria," ucap ibu Khalis penuh rasa syukur sambil menepuk-nepuk punggung putranya.


Malam hari sebelum tidur, Khalis menyempatkan membuka laman media sosial, dilihatnya status karyawannya yang berisikan seputar acara hari ini. Di beberapa status, mereka bahkan menge-tag dirinya, dengan caption yang membuatnya tertawa.


Mantab Pak Bos, sering-sering aja yaa!


Akhirnya kita bisa menikmati wajah Bos kulkas yang full senyum! Gantengnya nggak nahan eeuuii !


Kemudian terdapat sebuah foto, yang memperlihatkan tampak belakang Dona bersama orang tuanya dengan caption, ngiri sama Bu Dona.... huhuhu, padahal aku di kanan.


Khalis sontak tertawa ketika membacanya. Lalu ia terus men-scroll ke bawah, dilihatnya sebuah foto yang memperlihatkan wajah-wajah lelah setelah outbond tetapi wajah dirinya tetap terlihat cerah dan penuh senyum.


Walau capek tetep ganteng! slogan yang hanya berlaku untuk Pak Bos!


Khalis pun kembali tertawa membaca caption foto tersebut.


Setelah puas berjalan-jalan di laman medsosnya, akhirnya Khalis membuat status untuk merespon semua status karyawannya.


Jazakumullah khairan katsiro atas kerjasama kalian hari ini. It was fun and entertaining. Selamat beristirahat. See you on Monday !


Dilihatnya postingan terbaru dari Dona, memperlihatkan wadah-wadah kosong setelah acara pada foto pertama. Pada foto kedua, memperlihatkan dirinya dan karyawan pria yang sedang memanggang daging.


Alhamdulillah BBQ famgath today berjalan sukses, habis tak bersisa sedikit pun. Kepada bapak-bapak yang hari ini beralih profesi menjadi tukang BBQ, well done! Kayaknya kalau ada yang pesan BBQ, bisa dipanggil nih!


Khalis tertawa membaca status Dona.


"Ah can't wait till tomorrow!"


Khalis pun membuat status baru.


Seorang Pak Bos Kulkas yang katanya hari ini meleleh, setelah memanggang daging BBQ. Siap menerima panggilan bagi yang membutuhkan ahli BBQ.


Tak lupa, ia mengambil foto dirinya yang sedang memanggang daging dari status Dona. Setelah itu Khalis pun mematikan HPnya, tak lama kemudian ia pun terlelap.


Di kamar Dona, dengan diterangi lampu tidur, ia membuka laman media sosialnya yang dihujani dengan permintaan pertemanan dari para karyawati tempat Khalis bekerja. Ia pun menerima semua permintaan pertemanan itu.


Tak lama setelah ia memposting status barunya, ia pun tertawa setelah membaca postingan Khalis.


"Bisa yaa menyebut dirinya sendiri Pak Bos Kulkas."


Lalu, dilihatnya foto-foto kegiatan family gathering hari ini yang memenuhi beranda media sosialnya itu. Semua tampak ceria dengan senyum dan tawa. Dona lalu menghentikan gerakan tangannya pada beberapa foto yang membuat hatinya berdesir, dimana Khalis tampak bagaikan model profesional dengan berbagai ekspresi dan gayanya.


Tetapi kemudian, Dona mematikan gadgetnya, karena jantungnya tiba-tiba kembali berdetak dengan cepat.


"Apa benar mereka akan melamarku ? Bukankah ini terlalu cepat ?" lirih Dona.


Ia pun berbaring di tempat tidurnya dan memandang langit-langit.


"Ya Allah, apakah dia akan menjadi jodoh terakhirku ? Jodoh 'till Jannah-ku ?"


"Ya Allah, kuserahkan semua kepada-Mu, jika dia adalah yang terbaik bagiku, maka lancarkanlah prosesnya dan berikan aku ketetapan dan ketenangan hati."


Dona pun melanjutkannya dengan istighfar, hingga akhirnya ia tertidur dan bermimpi. Ia berada di sebuah taman yang indah, penuh dengan bunga berwarna putih. Dona berjalan sendiri dengan menggunakan gaun putih yang menjuntai hingga tanah. Kemudian terdengar suara yang tak asing untuknya, memanggilnya dengan sebutan, sayang.


"Yang, tunggu."


Dona melihat kearah suara, ia pun tersenyum ke arah pria tinggi, berwajah tampan dengan sorot mata yang teduh. Pria itu pun meraih tangannya kemudian mereka berjalan bergandengan.

__ADS_1


__ADS_2