
Malam harinya, keluarga besar Khalis berkumpul di rumah Khalis, merayakan kepulangan Al.
" Alhamdulillah Al sudah boleh pulang, tapi masih harus banyak istirahat yaa."
" Iya, Yangti. "
" Gimana Al, senang bisa pulang ke rumah?? " tanya Dzaki.
" Alhamdulillah, senang banget Om. Kangen ngumpul semua."
" Besok Om Ewing sekeluarga juga mau kesini, njenguk kamu, " ucap Dona.
" In syaa Allah semuanya kumpul, barusan Pakde Verdi WA, kalau besok pagi mereka berangkat ke sini, sama Bude Hana juga, " lanjut Dona.
" Semua kangen Al. "
" Tapi Al jangan kecapean yaa, kalau mau istirahat di kamar, boleh kok, jangan dipaksain, " ucap ibu Khalis.
" Iya Yangti, ayah dan ibu tadi juga sudah ingetin Al. Al ga capek kok, nanti kalau capek, Al istirahat di kamar. "
Setelah makan malam, Khalis menggendong Al untuk beristirahat di kamarnya.
" Aku bisa jalan, Yah. "
" Ayah yang pingin gendong kamu. "
Khalis merasakan berat badan Al yang sangat ringan dibandingkan ketika Al masih sehat.
Ia dapat merasakan tulang Al yang terlihat menonjol dari balik pakaiannya.
Rasa sedih pun kembali menjalar.
" Yah, Al sayang Ayah. Ayah sehat terus yaa. Al pingin lihat Ayah terus. "
" In syaa Allah, ayah akan nemenin Al terus. "
Khalis mempererat pelukannya, begitu juga dengan Al.
Dona yang mengikuti dari belakang pun meneteskan air matanya.
Sesampainya di kamar Al.
" Al, langsung sikat gigi aja yaa. Mau, ibu
u bantu?? "
" Al sendiri aja ."
Al pun bersiap untuk tidur. Setelah itu, tak membutuhkan waktu lama, ia pun terlelap.
Khalis dah Dona menemani sambil menggenggam jari jemari Al, memandangi wajahnya dan mencium pipinya.
Tak lama Aisha masuk ke dalam kamar Al.
" Yah, Bu, malam ini aku temenin Al tidur. Siapa tahu nanti malam dia kebangun dan butuh sesuatu, " ucapnya setengah berbisik.
" Baru saja ibu mau tidur disini. "
" Ibu sama ayah istirahat di kamar aja, biar aku yang disini. "
" Yowes, makasih yaa. Kamu juga langsung tidur yaa. "
" Iya, Bu."
Khalis dan Dona pun kembali ke ruang keluarga.
__ADS_1
" Al sudah tidur?? " tanya ibu Khalis.
" Sudah, Bu."
" Kamu ga papa Khal?? " tanyanya lagi.
" Ga Bu, ga papa. Hanya saja, tadi waktu gendong Al, badannya ringan banget, aku bisa merasakan tulangnya, " jawab Khalis sambil meneteskan air matanya.
" Perjalanan kalian masih panjang, Al telah membuktikan bahwa ia pejuang yang tangguh, ia akan bertahan. Kalian berdua harus kuat, do'a ibu untuk kalian tidak akan pernah putus. "
Khalis pun memeluk ibunya.
" Jazakillah khair. "
Malam itu, malam pertama bagi Al, untuk kembali tidur di rumah semenjak dirawat di rumah sakit 4 bulan yang lalu.
Malam itu juga, akhirnya Khalis dan Dona dapat tidur dengan nyenyak setelah 4 bulan yang melelahkan berhasil mereka lewati bersama.
Keesokan harinya, Ewing sekeluarga datang menjenguk Al.
" Gimana keadaan Al sekarang, Mbak?? "
" Alhamdulillah, ada sedikit kemajuan. Sudah berkurang jauh mual dan pusingnya, jadi sudah lumayan bisa makan dengan porsi sedikit lebih banyak ketimbang kemarin di rumah sakit. "
Keluarga Dona satu persatu datang menjenguk Al dengan membawa buah tangan untuk Al.
Keceriaan Al setelah mendapat kunjungan dari anggota keluarga yang lain membuat sistem imun tubuhnya meningkat, yang menjadikan perlawanan terhadap penyakitnya tak dirasakannya.
Di hari yang lain, wali kelas Al datang memberikan pelajaran privat secara langsung. Terkadang ia juga membawakan hasil prakarya teman-teman Al untuk memberikan semangat kepada Al.
Hasil pemeriksaan rutin juga menunjukkan perkembangan yang positif.
6 bulan berlalu, Al telah diperbolehkan untuk mengikuti pelajaran di sekolah 3 kali dalam sepekan.
Al yang cerdas, tidak mengalami banyak kendala untuk mengejar ketinggalannya. Terlebih di dukung oleh guru-guru yang senantiasa memberikan bimbingan langsung kepada Al.
Bahkan di saat ujian kenaikan kelas, Al berhasil mencapai hasil yang nyaris sempurna.
Aisha, Ara dan Zalfa yang membaca raport Al pun tak percaya dengan hasil yang diraih adiknya itu.
" Ih curang kamu, nilai di rapot kok ada 10 nya!! mending 1 ... ini 3 mapel!!!?? matematika, IPA, PAI??!!! kamu nelen buku pelajaran sekolah??? dibikin serbuk gitu!!! " ucap Aisha tak percaya.
" Eh adek macam apa ini!!! katanya sakit, nginep di rumah sakit berbulan-bulan, begitu ujian bikin temennya sakit nih kalau lihat nilainya!!! Al!! kamu mau aku bedah otaknya yaa!!! ini isinya apa!!! " giliran Ara yang gemas akan hasil yang diraih Al.
" Fa, tumben ga ikutan ngomen "
" Ngapain, tuh yang dikomenin senyum-senyum doang!! mendingan kita makan-makan aja!! yuk Al "
" Yeee bocah, ga kompak nih!! "
Hari demi hari mereka lalui dengan penuh rasa syukur.
Al yang semakin sehat dan mulai kembali normal merupakan kenikmatan yang luar biasa.
Hingga akhirnya, dokter menyatakan bahwa Al telah sembuh total. Tidak ditemukan sel-sel kanker di dalam darah ataupun organ tubuh yang lain.
Untuk itu, Khalis merayakannya dengan mengajak keluarganya umrah bersama. Tentunya mereka juga akan bertemu dengan Rafif kembali di tanah suci.
Puji syukur dan doa terbaik mereka panjatkan atas semua kenikmatan yang telah Allah berikan kepada keluarga mereka.
Bulan berganti bulan, tahun pun berganti tahun.
" Don, Aisha dah ada calon?? " tanya Ita tiba-tiba melalui telefon.
" Kayaknya sih belum, lagi sibuk bikin konsultan interior sama teman-temannya. Kenapa Mbak?? tumben nanyain?? "
__ADS_1
" Mau sama Raffa ga yaa?? "
" What??? serius?? Menangnya Raffa mau sama Aisha?? "
" Ga tahu juga sih. "
" Lah ini gimana?? nyodorin anaknya tapi emaknya juga ga yakin."
" Lucu kali ga, kalau mereka nikah. Teman semasa kecil, main salon-salonan, main masak-masakan, main bola, liburan bareng, jalan-jalan bareng trus akhirnya nikah, " ucap Ita.
" Seperti film ya, Mbak. "
" Nah iya kan. Eh kita komporin mereka berdua yuk, mayan Don, kita besanan nih."
" Besan terajaib."
Ita pun tertawa.
" Gimana Don?? ok ga?? "
" Boleh lah, sudah terjamin kualitasnya. "
" Nah, kan!! kita mulai misi percomblangan kita yaa "
Di saat yang sama, Rafif kembali ke Jakarta setelah menyelesaikan kontrak kerjanya dan S2 di Qatar.
Ia kemudian diterima bekerja di sebuah perusahaan otomotif asal Eropa di Jakarta.
Di akhir pekan, seperi biasanya, mereka akan berkumpul bersama, sekedar saling bercerita ataupun makan bersama.
" Ini yang namanya makan di luar, " ucap Rafif.
" Iya, di luar beneran... " sahut Ara dengan wajah kesal.
Berkumpul di halaman belakang untuk acara BBQ keluarga, telah menjadi agenda rutin tiap bulannya.
" Ra, kamu lagi atau sudah KOAS?? " tanya Rafif.
" Lagi Mas, masih 1,5 tahun lagi. "
" Fif, kapan kamu mau nikah?? " tanya Khalis.
" Terserah Ayah, Ibu aja. Kalau sudah ada calonnya, InsyaAllah kapan aja siap, " jawab Rafif penuh percaya diri.
" Serius Fif?? " tanya Dona.
" Serius Bu. Lagian dari pada repot nyari sendiri, kalau dicariin sudah jelas kualitasnya, pasti cocok dan sesuai sama kriteria dari Ayah dan Ibu. "
" Bedakan antara terima beres, ga mau repot dan malas yaaa, " sindir Dona.
" Paket cepat, Bu. "
" Oiya Sha, kalau kamu gimana?? sudah siap untuk nikah belum?? " tanya Dona.
" Ga tahu deh, belum kepikiran. Tapi kalau ada yang tiba-tiba ngelamar trus dia shalih, ganteng and tajir kenapa ga?? "
" Siapa juga yang nolak kalau begitu, " sahut Ara.
" Hmmm apa kalian nikah barengan, tandem, paket hemat nih " usul Dona yang membuat semuanya memandanginya penuh tanda tanya.
" Fif, mau ga sama Syifa anaknya tante Ayu, teman SMU ibu. Syifa sekarang kerja jadi guru TK. "
" Nah, Sha kamu ingat Bang Raffa ga?? pasti ingat dong?? "
" Siapa Raffa ?? " tanya Khalis.
__ADS_1
" Anak pertamanya mbak Ita, teman main Aisha waktu TK sampai SD. "