New Chapter Of My Life

New Chapter Of My Life
Episode 33 Menjelang Akad Nikah


__ADS_3

Setelah prosesi lamaran Dona, sang ayah pun membangun bungalow di belakang rumahnya, untuk ditempati Khalis dan Dona setelah menikah nantinya dan tentunya, Dona adalah desainer yang bertugas untuk merancangnya.


"Lah ini mau nikah, ee kok malah disuruh gambar rumah ? Sudah lama aku nggak nggambar desain lho, Pak," protes Dona.


"La wong ini juga buat kamu kok, kamu desain sesuai keinginan kamu. Nanti, secepatnya Bapak bangun. Yaa kalau cuma bungalow kecil, paling lama dua bulan, mudah-mudahan bisa dikebut jadi sebulan setengah aja. Jadi nanti, untuk sementara yaa pakai kamarmu dulu atau kamu pindah ke apartemen Khalis," ucap ayah Dona.


Kesibukan Dona pun bertambah dengan mendesain bungalow yang akan ia tempati setelah menikah nantinya.


"Dulu, mau nikah sibuk mayetin kebaya pengantin, eh sekarang malah sibuk nyiapin rumah pengantin. Pertanyaannya, apakah ada pengantin yang begini rempongnya ?" sungut Dona kesal.


Tetapi walaupun begitu, Dona tetap mengerjakannya sepenuh hati. Satu hal yang tidak ia lupakan adalah ia tetap menghubungi orang tua Tyo di Bekasi, guna mengabarkan tentang rencana pernikahannya.


"Bu, in syaa Allah, Jum'at pekan depan, saya akan melangsungkan akad nikah dan Sabtunya resepsi di Royal Ambarukno."


"Alhamdulillah, kamu akan menikah ? ibu bahagia mendengarnya. Siapa calonnya ?" tanya ibu Tyo


"Namanya Khalis, Bu. Dia manajer di dealer dan servis otomotif," jawab Dona.


"Ibu bisa datang atau siapa yang bisa datang ke Jogja?" tanya Dona.


"Ibu sama bapak mendoakan saja dari sini, kami sudah tidak sanggup untuk melakukan perjalanan jauh. Nanti ibu akan beritahu mas dan mbak disini, in syaa Allah dari mereka ada yang akan menghadiri pernikahan kamu," jawab ibu Tyo.


Dona tidak berharap banyak akan kedatangan keluarga Tyo di hari pernikahannya nanti, mengingat hubungan yang semakin merenggang setiap tahunnya, bahkan belakangan hanya sekedar formalitas di setiap lebaran. Anak-anak pun merasa semakin asing dengan keluarga dari ayah mereka.


Waktu pun terus berjalan, hingga menyisakan tiga hari menjelang hari H dan persiapan pernikahan Dona dan Khalis hampir mencapai puncaknya. Undangan telah disebarkan ke seluruh kerabat dan orang-orang terdekat dari keduanya. Gaun pengantin berwarna gading pun telah tergantung sempurna di kamar Dona.


Tetapi Khalis nampak lebih sibuk dari hari biasanya, karena untuk mempersiapkan cutinya itu, ia harus memastikan semua pekerjaannya telah selesai dan ia juga harus memastikan pendelegasian pekerjaannya kepada Dimas, selama ia tidak di tempat. Suasana di kantor juga tidak lepas dari pembicaraan tentang pernikahan Khalis dan Dona. Para karyawan pun mempersiapkan ucapan untuk atasan mereka.


Sementara itu, Kakak dan adik Dona, telah berkumpul di rumah orang tua Dona sejak kamis malam. Hana sebagai saudara perempuan satu-satunya, mencoba mengulik tentang calon adik iparnya ini.


"Hmmm aku penasaran, Khalis itu kayak apa," ucap Hana.


"Yaa kayak gitu, Mbak."


"Oh begitu ya, nanti aku akan cari yang kayak gitu itu kayak apa. Eh, kamu honeymoon kemana?" tanya Hana.


"Nggak tahu, belum ngobrol. Dia sibuk sangat menjelang nikah!"


"Pastinya. Wah seerunya adikku nikah lagi! semoga kali ini princess mode on and live happily ever after."


"Aaaamiiiinnn."


Ketiga anak Dona pun sibuk mempersiapkan kedatangan ayah dan kakak laki-laki mereka yang akan datang esok hari, sambil berbincang di lantai atas.


"Mbak, mas Rafif nanti kan tidur sendiri, di kamar tengah. Trus kita jadi bertiga, Zalfa kamu nggak boleh tidur sekamar sama ibu lagi !" tegas Ara.


"Iya, aku tahu kok. Ibu sudah bilang. Bajuku juga sudah dipindah ke lemari kamar Mbak Icha," jawab Zalfa.


"Eh Mbak Icha sudah ngasih tahu ayah, kalau ibu mau nikah?" tanya Ara.


"Sudah, kata ayah selamat buat ibu, maaf ayah nggka bisa datang. Yaa siapa juga yang mau ayah datang? apa lagi kalau datang sama Uma, males deh !" jawab Aisha.


"Eh, kata ibu, bunda sekeluarga mau datang lho!" lanjut Aisha.


"Beneran Mbak ? bunda mau datang trus nginapnya dimana Mbak ?" tanya Ara.


"Iya kata ibu, bunda mau datang dan nginap di hotel tempat ibu nikah besok," jawab Aisha.


Tak lama, terdengar suara Dona di lantai bawah, memanggil ketiga putrinya.


"Icha, Ara, Zalfa, turun sekarang, pakai jilbab !"


Ketiga putri Dona pun bergegas turun ke lantai bawah dan menuju ke ruang keluarga dan seampainya di ruang keluarga, ketiganya disambut dengan salam dari seorang wanita yang tak asing bagi mereka.


"Assalamu'alaikum."


"Bunda!" seru Icha dan Ara yang segera memberi salam dan memeluk Ita.


"Lho Zalfa kok diam, nggak ingat yaa sama Bunda ?" tanya Ita sambil merangkul Zalfa yang masih malu-malu.


"Ingat dikit," jawab Zalfa.


"Nih, Bunda bawain coklat sama marshmallow. Hmm, ini ada chocopie kesukaan Zalfa juga," ucap Ita sambil memberikan bungkusan oleh-olehnya.


"Terima kasih, Bunda."


"Sama-sama."


Keluarga besar Dona pun akhirnya dapat bertemu dengan Ita secara langsung, setelah beberapa tahun hanya melalui pesan WA.


"Alhamdulillah, akhirnya bisa ketemu juga sama mbak Ita dan bang Farhan. Terima kasih atas semua dukungan dan bantuannya untuk Dona selama ini," ucap ibu Dona.

__ADS_1


"Sama-sama, Bu. Itu sudah kewajiban kami untuk saling membantu kepada saudaranya yang kesulitan, apalagi Dona sudah saya anggap seperti saudara sendiri," ucap Ita.


"Ini berdua saja? Anak-anak nggak ada yang ikut ?" tanya ibu Dona


"Iya, kami berdua saja, hitung-hitung bulan madu lagi," jawab Iya sambil bercanda.


"Aaa ciee yang mau honeymoon lagi. Apakah akan ada junior baru ?" goda Dona.


"Nggak !" jawab kompak Ita dan Farhan yang membuat Dona tergelak.


"Seneng yaa, ngegodain kami berdua, aku yang akan menunggu juniormu," balas Ita.


"Ouuh, aku tidak dapat berkata-kata, but mau nanya, Ratna datang nggak ?" tanya Dona.


"Katanya sih mau datang, dia bilang Sabtu aja sekalian ketemu di resepsi. Dia baru bisa berangkat Jum'at sore, biasa ibu manajer sibuk luar biasa. Oiya, nanti dia nginap di lantai yang sama sama aku," jawab Ita.


"Alhamdulillah, bakalan seru nih, ada reuni tim investigasi," sahut Dona sambil terkekeh.


"Pastinya. Oiya, ini gimana ceritanya, ketemunya gimana?" tanya Ita.


"Cerita apa ?" jawab Dona dengan balik bertanya dan berpura-pura tidak tahu akan maksud pertanyaan Ita.


"Cerita pada suatu hari dimana seorang putri dilamar oleh pangeran," canda Ita sambil memberikan tatapan tajam ke arah Dona.


Melihat ekspresi Ita, Dona pun tertawa lalu berkata, "Jumpa persnya ntar aja, sekalian kalau sudah ngumpul semua. Biar nggak bolak-balik cerita."


"Hmmm kebiasaan !"


"Biar semakin penasaran!"canda Dona.


Tak berapa lama, Devi dan Hana yang juga belum lama tiba menghampiri Dona, di ruang tamu.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Akhirnya setelah sekian purnama, kita ketemu juga ya Mbak," ucap Hana sambil memberikan pelukan hangat kepada Ita.


"Alhamdulillah, ini Mbak Hana?"tanya Ita.


"Iya, ini Mbak Hana dan ini Mbak Devi," jelas Dona.


"Hmm yang dua lagi mana, istrinya Wawan mana ?" tanya Ita


"Back to, siapa namanya?" tanya Ita.


"Mas Khalis?"


"Sudah fix nih, manggilnya ganti?" goda Hana.


"Iya, kemarin kayaknya masih manggil 'pak' deh," tambah Devi.


"Ya kali aku manggilnya 'pak' terus, berasa bos sama bawahannya dong. Latihan dulu biar besok nggak kaku. Duh manggil 'Mas' kok rasanya gimana gitu, aneh!"


"Ciiee yang mulai jatuh cintrong!" goda Hana.


"Alhamdulillah akhirnya bisa juga kan," jawab Dona.


"Iya, alhamdulillah. Trus, proses kenal sampe lamaran berapa lama?" tanya Ita.


"Hampir sebulan... hmmm segituan deh, kalau sama sekarang yaaa sekitar satu setengah bulan," jawab Dona.


"Wah instan !" sahut Ita yang cukup terkejut.


"Itu namanya gercep ! cowok idaman, nggak bikin cewek nunggu nggak jelas !" sahut Hana.


"Iyes, mungkin aku akan memberikan dia julukan baru, Mr. Gercep," canda Dona.


"Sstt, dia sudah mulai. Kita harus menghentikannya, sebelum lebih parah !" bisik Hana tetapi cukup jelas terdengar oleh mereka berlima.


"Next, dia juga kambuh. Lanjut kepada pertanyaan selanjutnya!" seru Devi.


"Nah, baiklah. Inti dari segala inti, kerja dimana, ketemunya gimana ?" tanya Ita.


Dona pun kembali menceritakan pertemuannya dengan Khalis hingga proses lamarannya.


"Penasaran kayak apa orangnya?" tanya Hana.


"Iya, kayak apa sih orang yang bisa bikin Dona menjawab, aku sih yes," goda Devi.


"Yang jelas nggak kayak mas Anang!" sahut Dona yang kembali memecahkan suasana.

__ADS_1


"Trus kayak siapa dong, masak aku harus nunggu besok buat ngeliat penampakan bapak itu ?" ucap Hana gemas.


"Hmm kalau dicari mirip siapa yaa, nggak tahu mirip siapa, aku kan belum merhatiin mukanya banget-banget, Mbak. Pokoknya ganteng lah!" jawab Dona.


"Sama yang dulu?" canda Ita.


"Jaaauuuuh, ini lebih tinggi, lebih mulus lah, lebih kinclong," jawab Dona penuh semangat.


Lebih mateng juga yaa Don!" seru Devi.


"Pastinya," sahut Dona.


Lalu, untuk mengurangi rasa penasaran akan Khalis, Dona membuka akun FB Khalis, kemudian memperlihatkan beberapa foto acara family gathering yang lalu.


"Komennya, aku nggak nahan !" seru Hana setelah membaca berbagai komentar.


"Anak buahnya kocak, lucu-lucu," ucap Dona.


"Sepertinya acara besok akan seru dengan kehadiran anak buah si pak bos melted," ucap Hana.


"Hmm sepertinya akan begitu," ucap Dona sambil membayangkan apa yang akan terjadi pada acara pernikahannya.


Sementara itu di apartemen Khalis, persiapan untuk seserahan esok hari sudah tersusun rapi. Perbincangan akan rencana esok hari pun menjadi topik utama, "Besok malam, kamu kan nginap di hotel. Nah Sabtu siang, selesai resepsi, kamu ke hotel, apartemen atau rumah Dona ?" tanya ibu Khalis.


"Ke rumah Dona, malam berikutnya aku pingin langsung honeymoon!" seru Khalis.


"Kamu mau kemana?" tanya ayahnya.


"Besok baru mau aku bahas sama Dona, kata Rahma, Dona nggak bisa dikasih kejutan, dia orangnya ter-planning. Mood-nya langsung anjlok kalau kejutannya nggak sesuai. Jadi ngobrol dulu. Ngobrol asik, ngobrol halal, setelah akad," harap Khalis.


"Semoga kalian awet sampai akhir hayat," do'a yang terlantun dari ayah dan ibu Khalis.


"Aaamiiinnn."


"Mas, sku facial mukanya yaa. Nyalon di rumah ala Khansa. Aku sudah beli masker kinclong, besok dijamin pas akad, terkinclong-kinclong!" seru Khansa.


"Sepertinya virus Dona mulai menyebar ke rumah ini, bahasa kayak gitu hanya dikuasai oleh Dona," ucap Khalis.


"Hadee, isi otaknya cuma Dona doang nih !" protes Khansa.


"Adik dilarang protes. Buruan kalau mau mau nginclongin muka !"


Khansa pun segera mengaplikasikan cairan pembersih dan penyegar pada wajah Khalis dan diakhiri dengan pemasangan masker wajah instan.


"Diam lima belas menit, biar cairan maskernya meresap dulu," ucap Khansa.


Lalu ia mengambil foto Khalis yang sedang memakai masker wajah.


"Heh, kamu .. !" protes Khalis sambil berusaha mengambil handphone Khansa.


"Eit ! Nggak boleh ngomong, nggak boleh gerak, harus diam, anteng!" seru Khansa sambil menahan badan Khalis agar tidak berdiri.


Lalu, Khansa meng-upload foto Khalis ke dalam grup WA, dengan memberikan keterangan,


Persiapan menuju kinclong besok pagi. Mbak Dona, wait and see how handsome is your prince.


Dona yang sedang asyik berbincang dengan Ita, segera membuka pesan WA dari Khansa setelah ia mendengar suara notifikasinya. Ia pun tertawa melihat Khalis dengan masker wajahnya.


"Kenapa Don?" tanya Ita.


"Nih lihat Mbak, aku yang cewek aja nggak maskeran, eee dia malah lagi perawatan. Di apartemennya sih itu, sama adiknya," jawab Dona.


"Yowes Don, kamu perawatan dulu, maskeran, scrub, biar ikutan kinclong!" seru Ita.


"Emang sekarang aku nggak kinclong?" protes Dona.


"Iiisshh kinclong yang paripurna dong! Eh sudah nyiapin buat malam pertama?" tanya Ita.


"Hadeeh, nyiapin apaan?"


"Lingerie sexy, dong ! kalau belum, besok aku kadoin itu," goda Ita.


"Ogah ! Aku menolak keras pemberian lingerie!" tolak Dona.


"Nggak, pokoknya besok ku beliin! aku tahu seleramu, ntar dipakai pas honeymoon ya," goda Ita.


"Terserah dah," jawab Dona pasrah yang membuat Ita, Devi dan Hana tertawa.


"Eh anyway, honeymoon kemana?" tanya Hana.


"Belum tahu, belum ngobrol. Besok lah kalau sudah sah, ngobrolnya lebih enak," jawab Dona.

__ADS_1


"Ho oh lebih mesra ngobrolnya," goda Ita.


"Hmm mulai deh!"


__ADS_2