New Chapter Of My Life

New Chapter Of My Life
Episode 23 Anak Instant


__ADS_3

Kekakuan Khalis pun mulai mencair dengan senda gurau yang dilancarkan oleh putra semata wayangnya dan Dona. Ditambah dengan sarapan pagi bersama di rumah Dona, membuat dirinya merasa diterima. Hanya saja, keraguan akan status Dona membuatnya menahan rasa. Hingga Dona mulai menanyakan masalah pribadinya.


"Maaf, apa Rafif cuma tinggal berdua sama ayah ? karena selama ini paketnya selalu hanya untuk dua orang."


"Iya Tan, sudah dua tahun terakhir, kami tinggal berdua saja. Ayah konsisten menjomblo setelah ibu meninggal dua tahun yang lalu," jawab Rafif santai.


Mendengar jawaban Rafif, Dona pun menyesali telah menanyakan masalah pribadi yang seharusnya tidak perlu ia tanyakan.


Khalis yang melihat ekspresi wajah Dona berubah, segera menimpali.


"Iya, saya sudah menjomblo dua tahun ini. Ya memang jalannya seperti ini, dinikmati saja."


Ara yang sedari tadi menguping pembicaraan dari dalam, tiba-tiba menghampiri, "Sama dong, ibu juga jomblowati sudah hampir tiga tahun."


"Raaa...," tegur Dona halus.


"Kan emang, ibu pisah sama ayah nggak lama setelah kita pindah kesini. Ayah di Jakarta punya istri baru, makanya kita dipindahin kesini sama Ayah," jelas Ara lagi.


"Maaf, om nggak ngerti maksudnya ?" tanya Khalis.


Dona menarik nafasnya dalam-dalam lalu ia segera menghentikan pembicaraan ini.


"Nanti ya, itu ceritanya panjang, berepisode-episode, sinetron juga kalah panjang."


Khalis membaca bahasa tubuh Dona yang terlihat tidak nyaman dengan pembahasan ini, membuat dirinya tidak bertanya lebih lanjut.


Keheningan sesaat pun terjadi. Khalis dan Dona sama-sama tidak tahu harus berkata apa. Hingga telepon Khalis berdering.


"Maaf, saya harus terima dulu."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, Khal, bapak ibu sudah pesan tiket untuk ke Jogja, sehari sebelum acara kantormu," ucap sang bunda.


"Lho, kan aku yang mau pesan tiketnya. Kenapa sudah pesan duluan?"


"Tadi Khansa buka tiket online, lihat ada promo ke Jogja, yaa langsung pesan aja," jawab sang bunda.


"Ooo, tapi belum bayar kan ? kirim ke aku kodenya Bu, nanti aku bayar dari sini."


"Iya belum bayar, ini baru selesai booking. Sa, kirim kode booking-nya ke Mas Khalis, dia yang mau bayar tiketnya."


"Iya Bu, sudah kukirim ke e-mailnya," jawab Khansa.


"Sudah Khansa kirim ke e-mailmu, kamu cek aja nanti. Oiya, kamu sudah sarapan?"


"Lagi sarapan Bu, di rumah Dona," jawab Khalis dengan berbisik.


"Bu maaf, nanti aku telpon lagi ya . Assalamu'alaikum," ucap Khalis untuk mengakhiri percakapan dengan ibunya.


"Kenapa Yah?" tanya Rafif.


"Yangti, sudah booking tiket pesawat kesini, sehari sebelum acara kantor," jawab Khalis.


"Asyik, Yangti jadi kesini ! sama tante Khansa sekeluarga juga kan ?"


"Iya, Yangti, Yangkung sama tante Khansa sekeluarga," jawab Khalis.


"Eh, keluarga dari Jakarta mau datang ? berapa orang?" tanya Dona.


"Rencananya berlima, orangtua saya sama adik saya sekeluarga."


"Kapan ?"

__ADS_1


"Sehari sebelum family gathering."


"Berapa lama ?"


"Kalau orangtua saya sih sekitar sepekan, tapi kalau adik saya hanya dua hari, Jum'at malam sampai Jogja, Ahad malam kembali ke Jakarta."


"Hmmm kok nggak bilang, kan ini berhubungan sama makan?" protes Dona.


"Oiya lupa, nggak kepikiran sampai sana."


"Ayah mikirin yang lain sih," goda Rafif.


"Oke Fif, uang jajan kamu, Ayah potong 25%, kamu protes lagi akan di potong jadi 50%!"


"Ayah mah tega sama anak sendiri !"


Dona yang tidak paham tentang pembicaraan ayah dan anak ini hanya tersenyum geli.


"Kayaknya seru ya, obrolan Ayah sama Rafif ?"


"Iya, seru dari Hongkong! Ayah itu nggak pernah mau kalah, selalu melakukan segala cara biar aku yang kalah, nggak adil !"


" Makanya aku pingin ayah nikah lagi, aku minta ibu baru, biar ada yang ngebela !"


"Fix, sisa 25% !" ucap Khalis geram.


"Biarin ! Bu, aku minta di suplay jajanan buat bekal di sekolah ya," pinta Rafif kepada Dona.


Mendengar permintaan putranya, Khalis hanya dapat menundukkan wajahnya yang memerah menahan malu.


"Sip, in syaa Allah. Nanti..., eh tapi kok manggilnya ganti ?"


"Nggak papa, pingin manggil ibu aja, kangen," jawab Rafif yang membuat hati Dona trenyuh.


Khalis pun menyadari bahwa putra semata wayangnya ini merindukan belaian dan kasih sayang dari seorang ibu.


"Nggak, nggak papa kok. Rafif boleh manggil ibu, lumayan dapat satu anak laki-laki secara instan," canda Dona yang membuat Rafif girang.


"Wah makasih Bu. Hmmm aku merasa diriku bagaikan mie instan yang bisa membuat orang bahagia, anak instan," seloroh Rafif.


Dona dan Ara pun tertawa mendengar ucapan Rafif.


"Aku suka mie instan, emang bikin seneng!" sambung Ara.


"Kode keras nih, Yah!" bisik Rafif ke ayahnya, yang membuat Khalis terdiam salah tingkah.


"Maaf... ," ucap Khalis.


"Nggak ada yang perlu dimaafin, kan nggak ada yang salah, santai aja," sahut Dona.


Khalis yang salah tingkah segera menyelesaikan sarapannya dan kembali ke ruang tamu yang diikuti oleh Rafif.


"Maaf, jadi sarapan gratis disini," ucap Khalis.


"Hmmm formal lagi. Fif, makanan kesukaan kamu apa, kalau cemilan? nanti kamu WA ke ibu ya, biar ibu siapin untuk hari Senin," ucap Dona.


"Makasih, Bu. Nanti aku WA daftar makanan kesukaan aku dan ayah," jawab Rafif.


"Maaf, jadi ngerepotin," ucap Khalis.


"Siapa yang repot ? Saya malah senang dapat anak instan, yaa Fif," canda Dona.


"Iyes Bu!"

__ADS_1


Khalis pun semakin salah tingkah dengan perilaku Rafif, sehingga memutuskan untuk segera pulang.


"Ini sudah semakin siang, saya pamit pulang. Terima kasih atas sarapannya," pamit Khalis.


"Kembali kasih juga atas anak instannya," jawab Dona yang membuat Rafif tertawa.


"Oiya ini untuk makan siangnya. Jangan lupa dihabiskan buah dan sayurnya ya, Fif " lanjut Dona sambil memberikan paket makan siang kepada Rafif.


"Iya, Bu"


"Eh ibu lucu juga, baru kali ini dengar jawaban terima kasih itu kembali kasih," lanjut Rafif.


"Ibu kan anti main stream, tapi kalau main yang lain nggak masalah, asal jangan main hati aja," canda Dona lagi yang membuat Rafif semakin tidak sabar agar sang ayah mulai melangkah.


"Yah, buruan dong!" bisik Rafif.


"Hmm ada apa sih dari tadi kok bisik-bisik aja ? memang ada rahasia apa?" tanya Dona.


"Ada deh Bu, urusan laki!" jawab Rafif dengan senyum penuh makna.


Khalis hanya menggelengkan kepalanya menyaksikan Rafif yang tampak berbeda dari biasanya.


"Kamu kenapa sih, Fif. Kok kayaknya happy banget ?" tanya Khalis.


"Hmm emang Ayah nggak ? terlalu jaim sih!"


"Ooo Mr. Kulkas bisa jaim juga ya?" canda Dona.


"Bisa banget Bu! tapi ketika jaimnya hilang, kejaiman itu berubah menjadi kesaltingan! kayak sekarang !" jawab Rafif yang segera berlari keluar dan masuk ke dalam mobil untuk menghindari serangan balasan dari sang ayah.


"Eee, kamu belum pamit !" panggil Khalis.


"Titip Yah! Eh Bu, aku pulang yaaa. Tunggu WA dari ku! Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalam," jawab Dona sambil tertawa.


"Maaf ya, tiba-tiba Rafif nggak seperti biasanya," ucap Khalis.


"Hmm memang biasanya seperti apa? apa biasanya lebih parah?" canda Dona.


Khalis pun terdiam tidak tahu harus menjawab apa.


"Kayaknya hari ini kita bertukar peran," ucap Dona.


"Maksudnya?"


"Waktu di kantor, aku yang kaku dan agak tegang, trus Pak Khalis yang ngomong 'santai aja'. Tapi hari ini, Pak Khalis yang terlihat tegang, hmmm tapi kenapa tegang? Kalau aku kemarin kan, karena pertama kalinya ngurusin katering kantor, tapi kalau sekarang, memangnya ada apa?"


Ingin rasa hati Khalis menjawab, karena ada kamu, tapi ia memilih untuk menyimpannya hingga saatnya tiba.


"Nggak ada apa-apa, cuma ini kali pertama saya ke rumah perempuan, selain istri saya rahimullah."


"Oh maaf...," ucap Dona yang menjadi merasa serba salah dan tidak enak.


Uch mulut ini kok ga bisa anteng aja sih, gumam Dona dalam hati.


"Nggak papa, well there's always for the first time," ucap Khalis.


"Saya pamit pulang, oiya maaf nggak pamit sama bapak ibu, tuh bocah dah masuk mobil aja," lanjut Khalis.


"Nggak papa, santai aja," ucap Dona.


"Saya pulang dulu, makasih sarapannya ya. Assalamu'alaikum," pamit Khalis.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam."


Dona pun berdiri di depan pagar rumahnya, hingga mobil Khalis berlalu.


__ADS_2