New Chapter Of My Life

New Chapter Of My Life
Episode 6 Cerai


__ADS_3

Keesokan harinya, Dona bersiap-siap untuk kembali ke Jogja. Dengan di bantu Wawan, Dona merapikan semua barang-barang keperluan anak-anaknya.


"Mbak, nanti mau beli oleh-oleh apa buat anak-anak?" tanya Wawan.


"Hmm apa yaa? eh lapis bogor aja. Coba pesan pakai ojol. Outletnya ada di Rawamangun seberang Tip Top. Kamu pesan lima, masing-masing satu untuk rasa keju, strawberry, blueberry, coklat, original," jawab Dona.


"Oiya, sekalian asinan Kamboja, beli lima sekalian," lanjut Dona.


Wawan pun segera memesan via ojol dan satu jam kemudian Ita, Dona dan Wawan tengah menuju Bandara Halim.


Tiga puluh menit kemudian, mereka telah sampai di Bandara Halim Perdanakusuma dan segera menuju konter check-in.


Setelah selesai check-in, Ita membeli aneka roti dan pastry sebagai oleh-oleh untuk ketiga putri Dona.


"Don, ini buat anak-anak," ucap Ita sambil menyerahkan box berisi aneka roti dan pastry kesukaan anak-anak Dona.


"Eh Mbak, ngapain ? nggak usah, jadi ngerepotin."


"Nggak repot, kan cuma ambil di bakery," jawab Ita santai.


"Yaa kali Mbak yang manggang!" canda Dona.


"Jazakillah khair," lanjut Dona.


"Wa'iyaki."


Tak lama panggilan boarding untuk penerbangan tujuan Surabaya pun terdengar.


"Don, aku duluan ya. Salam buat anak-anak, buat Bapak Ibu juga yaa."


"Iya, Mbak. Salam juga buat Bang Farhan, makasih udah minjemin istrinya," canda Dona.


"Iya, biar istrinya jalan-jalan," jawab Ita sambil tertawa kecil, begitu juga dengan Dona.


"Salam buat anak-anak juga, ya Mbak, jangan lupa berkabar ya Mbak," ucap Dona.


"Iya, ntar ku WA."


"Wan, duluan. Hati-hati yaaa semua! Assalamu'alaikum !"


"Wa'alaikumsalam."


Lima belas menit kemudian Dona dan Wawan pun bersiap memasuki pesawat tujuan Bandara Adisutjipto, Yogyakarta.


Selama penerbangan yang hanya ditempuh dalam waktu lima puluh menit, Dona dan Wawan gunakan untuk istirahat. Dua hari yang melelahkan baik fisik dan batin keduanya, membuat segera terlelap sebelum pesawat take-off.


Sesampainya di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, Wawan segera mengantri bagasi dan setelahnya segera mencari taxi untuk pulang ke rumah.


Akhirnya, Dona dan Wawan tiba di rumah orang tua mereka. Kedatangannya telah ditunggu oleh ketiga anak Dona.


"Assalamu'alaikum," salam Dona


"Wa'alaikumsalam! Ibu !" teriak Zalfa si bungsu sambil berlari menghampiri Dona, Dona pun memeluk dan mencium buah hatinya.


"Bu, ibu bawa buku-buku aku sama alat-alat tulisnya?" tanya Aisha dan Ara.


"Ada, ibu bawa semua, tuh di dalam kardus. Kalau buku Hallo Balita nanti di kirim tante Ratna."

__ADS_1


"Nih, ada oleh-oleh juga dari Bunda," ucap Dona sambil memberikan plastik berisi roti dari Ita yang biasa dipanggil 'Bunda' oleh ketiga anak Dona.


"Asyij, Bunda masih ingat roti kesukaan ku !" seru Ara sambil membuka roti keju.


"Oiya, ini ada lapis bogor juga, tadi ibu beli."


"Makasih ibu."


Dona membereskan barang bawaannya dan segera naik ke atas menuju kamarnya untuk beristirahat sesaat sebelum kembali melakukan rutinitasnya sebagai ibu.


Sedangkan Wawan melaporkan kepada orang tuanya apa yang terjadi selama ia menemani Dona di Jakarta.


Dengan suara bergetar menahan tangisnya ia menceritakan semua yang ia ketahui, tidak kurang, tidak lebih. Setelah itu ia meminta izin untuk beristirahat di kamar.


Malam hari setelah makan malam, orang tua Dona mengajak Dona bicara.


" Sha, Ibu mau ngobrol dulu sama Yangkung dan Yangti, kamu bertiga belajar aja di atas yaa. Tolong jangan turun yaa "


" Ada apa sih Bu?? " tanya Aisha.


" Ga ada apa-apa sih, cuma mau ngobrol aja. Tolong ya "


" Ok!! " jawab Aisha.


Setelah ketiga anaknya tenang di dalam kamarnya, Dona mulai berbicara dengan kedua orang tuanya.


" Jadi kemarin rumahnya Ratna sudah dibereskan, sudah kosong. Tapi ada mainan manik-manik ga tahu punya siapa " jelas Dona sambil menunjukan fotonya.


" Terus, aku juga sudah ngobrol sama tetangga, katanya 2 pekan setelah aku pindah ke sini, Tyo bawa perempuan sama anaknya tinggal di kontrakan. Dugaan ku yaa si Uma sama anaknya" lanjut Dona.


" Jadi keputusanmu bagaimana?? " tanya Ayahnya.


" Aku mau cerai Pak"


" Aku ga mungkin terima dia lagi, apa lagi jelas-jelas sudah tinggal serumah dengan perempuan itu, ntah apa statusnya. Ga mungkin mereka ga ngapa-ngapain kan?? apalagi waktu itu Uma bilang mereka ga mungkin putus, karena hubungan mereka sudah dalam. Ngebayanginnya aja aku sudah jijik "


Dengan suara berat dan sedikit bergetar, ayah Dona pun berbicara.


" Terserah kamu, itu hak kamu, bapak ibu mendukung apapun keputusan mu. Semoga ini yang terbaik untuk semua. Tapi kamu yakin, kamu sudah siap dengan segala resikonya?? sudah siap menjelaskan ke keluarga Tyo?? "


" In syaa Allah sudah Pak " jawab Dona tegas.


" Baiklah, bapak dan ibu do'akan yang terbaik untuk kamu dan anak-anak mu"


" Syukron Pak "


" Kamu sudah bisa komunikasi dengan Tyo?? " tanya ayah Dona.


" Belum Pak, selama ke Jakarta nomor kontaknya aku blokir, biar ga bisa nelpon aku, tapi aku sudah titip pesan di WA, kalau mau bicara sama anak-anak hubungi HP ibu "


" Tyo ga nelpon anak-anak sama sekali selama kamu pergi " ucap ibu Dona.


" Sama sekali??? WA juga ga??? " tanya Dona.


" Iya, ga ada " jawab ibunya.


" Sudah jelaskan?? memang sudah tidak perduli lagi. Malam ini aku akan WA Tyo, aku minta cerai " tegas Dona.

__ADS_1


Dona kemudian kembali ke kamarnya. Ia mulai mengetik pesan di WA untuk Tyo.


" Kamu tega!!! Kamu tega!!! setelah sekian tahun??? aku minta cerai!!! ceraikan aku!! "


Dona sudah tidak memanggil Tyo dengan sebutan 'Mas' lagi, baginya sebutan itu sudah tidak berharga untuk seorang Tyo.


Tak lama WA balasan dari Tyo masuk, Dona segera membacanya.


" Saya istikharah dulu, nanti saya hubungi kamu lagi "


Dona tersenyum sinis, " tumben cepat di balas " gumamnya akan balasan Tyo masih yang masih 'berdrama'.


" Ayo!! ku ga takut sama drama sok baikmu !! "


" Istikharah??!! gayamu istikharah, kemaren selingkuh emang kamu istikharah???!!! sejuta umat juga bakalan ketawa baca WA mu ini!!! " ucap Dona dalam hati.


Malam itu, dengan hati yang masih sakit, Dona berusaha untuk istirahat, karena esok hari, ia harus kembali berperan sebagai ibu untuk ketiga anaknya.


Sepekan berlalu, akhirnya Tyo mengirim WA ke Dona.


" Assalamu'alaikum, permintaanmu untuk bercerai ku kabulkan "


" Wa'alaikumsalam, Terima kasih. Tolong segera urus perceraian secepatnya, saya ga akan datang " jawab Dona segera.


" Baik, terimakasih untuk 12 tahun ini dan maafkan segala kekurangan dan kesalahan saya " jawab Tyo.


Dona pun menjawab,


" Sama-sama, terima kasih telah mendampingi saya selama 12 tahun dan maafkan segala kekurangan dan kekhilafan saya sebagai isteri selama itu"


" Selama menikah, pengorbanan saya untuk kamu sangat banyak, kamu harus ingat itu. Waktu kamu sakit dan harus dioperasi, belum lagi pemulihannya, banyak yang saya korbankan untuk kesembuhan kamu" lanjut Tyo.


Dona tak percaya dengan apa yang ia baca, bukankah itu adalah kewajiban Tyo sebagai suami di kala itu. Jadi selama ini Tyo tidak ikhlas???


Dona hanya dapat beristighfar membaca pesan Tyo, kemudian membalas pesannya.


" Saya ucapkan banyak terimakasih atas segala pengorbanan kamu selama saya sakit, selama menjadi suami saya, saya tahu saya tidak dapat membalas semua pengorbanan yang telah kamu lakukan untuk saya. Saya do'akan yang terbaik untukmu "


Tak lama, Tyo membalas pesan Dona kembali.


" Ketika kamu dioperasi, Zalfa masih 1,5 bulan, saya ke ruang ICU dan ke rumah bolak-balik, belum lagi menyiapkan sekolah anak-anak. Biayanya juga tidak sedikit "


Dona kembali beristighfar, ia tahu pada saat ia dioperasi tak lama setelah melahirkan Zalfa, kedua orang tuanya datang menemani di Jakarta, bergantian dengan orang tua Tyo.


Mereka lah yang mengurus kebutuhan anak-anaknya. Belum lagi Ita yang tidak pernah absen memberikan perhatian ke anak-anak Dona selama ia sakit.


Biaya??? Tyo hampir tidak mengeluarkan biaya sedikitpun, ketika itu orang tua Donalah yang langsung mentransfer semua biaya operasi.


Dona tidak tahu harus menjawab apa. Ia memutuskan untuk tidak membalasnya.


Kemudian ia teringat untuk membuat surat pengaduan atas perbuatan yang melanggar norma susila yang dilakukan Tyo.


Ia segera menghubungi mbak Yani HRD tempat Tyo bekerja, untuk mendapatkan format surat pengaduannya.


Malam itu juga, setelah mendapatkan formatnya, Dona mengetik surat pengaduan tersebut dan segera mengirimnya, agar segera dapat diproses keesokan harinya.


Jelang 3 hari, ia mendapat kabar, bahwa Tyo telah mendapat sanksi atau SP 1, yang membuatnya kehilangan seluruh proyek yang sedang ia tangani. Semua tanggungjawabnya di alihkan ke rekan kerjanya. Posisinya pun diturunkan, sehingga ia hanya mengurus masalah administrasi saja.

__ADS_1


__ADS_2