
Dona masih tidak habis pikir dengan apa yang telah Tyo katakan dan lakukan padanya. Tyo benar-benar berubah menjadi orang yang tidak Dona kenal. Tyo yang lembut, perhatian padanya berubah 180 derajat. Apa alasannya, apa pemicunya, Dona sama sekali tidak mengerti.
Hari berlalu seperti biasa, telah lewat hampir satu bulan, tetapi masih belum ada kabar tentang gugatan cerai Tyo untuknya. Dona kembali bertanya-tanya, kenapa Tyo tidak segera melakukan gugatan cerai.
"Mungkin Tyo bingung. Bingung alasannya apa, kamu kan selama ini sudah melakukan yang terbaik, ketika kamu sakit itu kan beda," ibu Dona memberikan pendapat.
Sementara itu, Ita masih memonitor keadaan Dona, dengan rutin menghubunginya.
"Don, Tyo belum ngontak kamu lagi ?"
"Iya Mbak, sudah hampir sebulan nggak ada kabar, aku nungguin nih," jawab Dona.
"Dia mungkin bingung juga, mau buat gugatan seperti apa?" lanjut Dona.
"Oiya, kamu sudah dapat kabar Tyo tinggal dimana setelah pindah dari rumah Ratna?"
"Belum Mbak, aneh deh, masih bertahan di kantor padahal namanya sudah tercoreng, apalagi sudah kena sanksi, kok nggak malu yaa?"
"Itu juga yang aku pikirkan."
"Eh ntar, coba aku telpon om Imran, dia kan punya waktu buat 'nyepy' kalau anak-anak sedang sekolah atau sekalian pada saat antar jemput sekolah, kan keluar masuk komplek, siapa tahu ada 'penampakan'," sahut Ita.
"Eh boleh Mbak, nanti laporan pandangan HP ya."
"Sip, ku minta tolong om Imran ya."
Ita pun segera menghubungi om Imran, supir antar-jemput sekolah anak-anak Dona dan Ita sewaktu masih di Jakarta.
"Om maaf nih, mau minta tolong lagi, nyari tempat tinggal ayahnya Aisha. Jujur kita buntu nih, dimana dia tinggal sekarang, aku tahu Jakarta luas banget, tapi kan bisa di deteksi dari mobilnya. Masih ingat mobilnya kan?"
"Masih Bu, Avanza silver kan?"
"Iya Om, tolong ya," pinta Ita.
Beberapa hari kemudian, Ratna mendapat info dari Mayang, salah satu karyawati yang bekerja di kantornya, bahwa ia melihat Tyo di sebuah rumah yang satu komplek dengannya. Hanya beda beberapa blok saja. Ratna pun meminta alamat rumah yang diduga tempat tinggal Tyo ke Mayang, setelah mendapatkannya ia segera menghubungi Ita.
"Mbak, aku dapat info dari Mayang, kalau dia lihat Tyo di dekat rumahnya, ini alamatnya aku WA."
"Oh Pulo Asem, masih sekitaran situ juga. Oke deh, aku minta tolong ke Om Imran untuk meriksa kesana."
Ita segera menghubungi Om Imran kembali, untuk mengecek alamat tersebut.
"Siap Bu, nanti saya akan lewat di depan rumahnya trus saya videoin. Sekalian saya tanya-tanya tetangganya untuk memastikan ya, Bu."
__ADS_1
"Wah makasih Om, saya cuma minta dibantu untuk cari alamat, Om Imran malah nambahin investigasi nih!"
"Saya pernah di posisi ibunya Aisha, jadi saya tahu bagaimana rasanya. Saya akan bantu semaksimal mungkin, nanti akan segera saya kabari."
Tanpa menunggu lagi, Om Imran segera menuju ke alamat yang dimaksud ditemani istrinya untuk mengambil video dari dalam mobil.
Setelah sampai di lokasi, om Imran kemudian menemui tetangga sekitar rumah untuk menanyakan perihal siapa kah yang menempati rumah yang dimaksud.
"Yang tinggal di situ duda, baru nikah lagi. Kalau nggak salah kerja di perusahaan ternama gitu, banyak cabangnya di Jawa dan Sumatera," jawab salah satu tetangga.
"Istri pertamanya memang dimana ?" tanya Om Imran.
"Kata si ibu itu, istri pertamanya sudah meninggal, nah anak-anaknya sekarang diasuh sama kakek neneknya di Jogja. Gitu sih katanya."
"Eh istri si bapak itu, galak banget ! nggak ramah dan sok kaya !" tambahnya lagi.
"Oo gitu, makasih ya Bu. Permisi," pamit om Imran.
Om Imran pun segera mengirim video tampak depan rumah yang dimaksud kepada Ita.
Tak berselang lama, Ita segera menghubungi Om Imran dan ia menceritakan informasi yang ia dapatkan dari para tetangga.
Kemudian Ita mengirim video dari Om Imran kepada Dona. Video yang memperlihatkan sebuah rumah tanpa pagar, di dinding carportnya tersandar karpet plastik berwarna pink, yang Ita tahu benar itu adalah milik anak-anak Dona.
"Mbak, itu karpetnya anak-anak! itu bener artinya dia tinggal disitu!" sorak Dona penuh semangat.
"Apa sih, Mbak?"
"Jadi om Imran juga sekalian investigasi, nanya-nanya ke tetangga, siapa yang tinggal disitu. Trus katanya, yang tinggal disitu duda anak tiga sama istri barunya. Nah, Om Imran tanya lagi, istri pertamanya kemana, menurut keterangan ibu-ibu disana, kata istri baru rumah itu, kamu sudah meninggal," jawab Ita.
"Astaghfirullah ! diriku masih hidup dibilang sudah meninggal ?! wah ku hantui saja hidupnya nanti !"
"Makanya Don, kamu harus ikut, in syaa Allah ini yang terakhir, biar urusan kamu cepat selesai dan kamu nggak digantungin terus sama Tyo," bujuk Ita.
"Duh Mbak, aku sudah capek bolak-balik, mana harus keluar biaya lagi," tolak Dona.
"Kata Bang Farhan kamu harus ikut ke Jakarta, kita semua berangkat. Nanti kita ketemu di Adisucipto, aku sama Bang Farhan ke Jakarta transit Jogja buat jemput kamu. Tiketnya serahin semua ke Bang Farhan, pokoknya kamu nggak keluar biaya sedikit pun. Ratna juga sudah nungguin, nanti kita ketemu Ratna disana. Pokoknya harus, biar urusan cepat selesai, Don !" bujuk Ita.
"Ntar aku ngobrol sama ibu dulu."
"Ibu sudah ngizinin, tadi aku sudah telpon ibu," sahut Ita.
"Ih curang!" protes Dona.
__ADS_1
"Udah yaa kamu siap. Sabtu pagi kita ke Jakarta, nanti aku WA tiketnya," ucap Ita sebelum menutup teleponnya.
Dona sebenarnya telah lelah baik fisik maupun batinnya. Kantung matanya terlihat semakin jelas, wajah yang tidak segar sudah menjadi kesehariannya, berat badannya pun turun drastis, sehingga ia nampak lebih tua dari usianya. Tetapi wanita mana yang bisa baik-baik saja, setelah mengetahui suaminya selingkuh dan Dona kini harus menghadapi kenyataan pahit ini.
Alhamdulillah ia mendapatkan dukungan penuh dari keluarga dan rekan kerja Tyo, suatu hal yang tidak ia sangka. Betapa tidak, karena selama ia mendampingi Tyo, ia lebih banyak berada di belakang, hanya pada momen-momen tertentu seperti lebaran atau acara besar yang diselenggarakan kantornya, Dona baru menampakkan keberadaannya.
Tak lama berselang, WA dari Ita masuk. Dona pun segera membukanya dan benar saja, terpampang pemesanan tiket pesawat PP Jogja-Jakarta di akhir pekan ini, yang artinya dalam dua hari ini, ia harus kembali ke Jakarta. Dengan sisa kekuatan hati yang ia miliki, ia pun mempersiapkan batinnya untuk kemungkinan terburuk.
Hari yang dinanti pun tiba, Dona telah siap untuk berangkat menuju Jakarta, melalui Bandara Adi Sucipto dengan diantar oleh Ayah dan ketiga putrinya.
"Dah ya, ibu berangkat, nurut sama Yangti dan Yangkung. In syaa Allah besok malam ibu sudah di rumah lagi. Baik-baik semua yaa. Assalamu'alaikum," pamit Dona sambil mencium ketiga buah hatinya sebelum ia turun dari kendaraan.
"Wa'alaikumsalam, ibu nanti telpon yaa," pinta ketiga putrinya.
"In syaaAllah," ucap Dona.
Lalu, ia berjalan memasuki terminal keberangkatan. Setelah check-in, Dona segera menuju ruang tunggu dan tak sulit baginya untuk menemukan Ita dan Farhan diantara para calon penumpang.
"Assalamu'alaikum, Mbak, Bang," salam Dona. kepada Ita dan Farhan.
"Wa'alaikumsalam, gimana anak-anak kamu tinggal lagi, nggak rewel kan?" tanya Ita.
"Alhamdulillah nggak, paling ntar minta oleh-oleh."
"Bang, makasih yaa. Tapi beneran ini nggak pa-pa?" tanya Dona kepada Farhan.
"Udah lah kamu nggak usah mikirin biaya dan lain-lain, fokus sama urusanmu dengan Tyo, biar beres semua urusan kamu. Kita semua juga sudah kesal sama Tyo," jawab Farhan.
Tak lama menunggu, pengumuman boarding pun berkumandang. Ketiganya pun bergegas untuk antri masuk pesawat.
Ketika di pesawat, ketiganya duduk dalam baris yang sama dan mulai mengatur strategi.
"Don, nanti kita nginap di mess kantor, mereka sudah siapkan untuk kita. Sampai Jakarta nanti, kita dijemput Ratna untuk segera ke rumah kontrakan Tyo. Tadi saya sudah koordinasi sama Ratna dan Mayang, untuk buat janji ketemu dengan Pak RT terlebih dahulu,sebelum kita ke rumah Tyo," jelas Farhan.
"Kamu siap yaa, in syaa Allah ini terakhir."
"In syaa Allah, Bang!"
Sekitar satu jam kemudian, ketiganya telah berada di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Tanpa membawa bagasi, mereka segera keluar menuju tempat penjemputan dimana Ratna telah menunggu kedatangan mereka.
"Gimana, Na ?" tanya Farhan.
"Tadi Mayang ngabarin kalau Pak RT hari ini ada acara keluar, baru di rumah nanti malam."
__ADS_1
"Kalau gitu kita tunggu aja lah," ucap Farhan.
"Sekarang, kita ke mess dulu."