
Tiga puluh menit menjelang dzuhur, rombongan peserta outbound telah kembali ke lapangan. Wajah-wajah yang terlihat lelah, tetapi cerah dan penuh tawa menghiasi para peserta outbound, termasuk Khalis si Pak Bos Kulkas.
Khalis yang terlihat di antara para karyawannya dengan senyum dan tawa yang menghiasi wajahnya, membuat para karyawan merasa ada sesuatu yang berbeda dan tidak biasa.
"Guys ! Mr. Kulkas telah meleleh, he's melting !"
"Apa gerangan yang terjadi ?! Apakah Mr. Kulkas beneran melting ?!"
"Siapakah orang yang membuat Mr. Kulkas melting ?"
Itulah sekian dari pertanyaan yang dilontarkan oleh sesama para karyawan akibat perubahan ekspresi atasan mereka yang dikenal sangat dingin, nyaris tanpa senyum. Sementara itu, Khalis sendiri tidak merasakan perbedaan pada dirinya, sehingga ia kembali mengambil langkah yang sangat di luar kebiasaannya, yaitu berbaur dengan para karyawan.
Dimana ia mengambil tempat di tengah-tengah peserta outbound yang sedang beristirahat di tengah lapangan. Hal ini membuat para karyawan keheranan karena di dua acara outbound sebelumnya, manajer mereka bagaikan pria yang anti sosial, jangankan duduk bersama, Khalis malah memilih menjadi penonton dan bukannya mengikuti acara kegiatan dari awal hingga akhir, sehingga keikutsertaan Khalis dalam kegiatan outbound kali ini menjadi suatu peristiwa yang luar biasa.
Keringat yang mengalir membasahi wajah Khalis, tidak sedikitpun mengurangi ketampanannya, bahkan ia terlihat semakin menarik, sehingga membuat para wanita tak melepaskan pandangannya dari pria menawan yang notabenenya adalah atasan mereka.
Khalis menyibakkan rambutnya yang menutupi mata dengan kedua tangannya, menyebabkan tangannya basah oleh keringat yang mengalir dari kepala. Pemandangan ini bagaikan sebuah iklan gel rambut pria di televisi yang dapat menghipnotis para wanita, yang seolah-olah terlihat bagaikan slow motion.
Tetapi kemudian teriakan putra sang Mr. Kulkas, meletuskan gelembung-gelembung khalayan para pemujanya.
"Yah, minum dulu!" seru Rafif dengan setengah berlari sambil membawa air mineral dingin.
"Makasih," ucap Khalis yang kemudian kembali memberikan persembahan iklan air mineral dengan meneguknya hingga setengah botol.
Para wanita pun ikut merasakan kesegaran di tenggorokan mereka, ditandai dengan aliran saliva dan gerakan tangan meraba leher mereka.
"Ayah basah kuyup! Itu keringat atau disiram air sih, Yah ?!" celetuk Rafif.
"Tadi kan ayah mengarung jeram, makanya basah. Oiya, tadi kamu ngapain aja ?"
"Main tali, trus ketangkasan, hmm banyak Yah, seru banget!" jawab Rafif dengan mata berbinar.
Lalu, Khalis melihat ke sekeliling dan bertanya kembali, "Yangti dimana, kok nggak kelihatan?"
"Tadi sih lagi ngobrol sama ibu di dekat yang tenda-tenda itu. Eh Yah, tadi aku lihat Yangti meluk ibu lho, Yah!"
"Eh kamu serius ? beneran?" tanya Khalis sambil memicingkan matanya.
"Nggak, aku ngarang, berhalusinasi, cuma mimpi kok, Yah," canda Rafif.
"Ya beneran dong, Yah ! Yangti tadi beneran meluk ibu, tapi ekspresi ibu kok kayak bingung gitu, ya ?" lanjut Rafif.
"Mungkin ibu kaget, tiba-tiba dipeluk sama Yangti, kan baru ketemu dan kenalan," jawab Khalis dan kali ini, tanpa ia sadari, bibirnya kembali membentuk senyuman yang menunjukkan suasana hatinya. Lalu ia pun memeluk putra semata wayangnya itu dengan tiba-tiba.
"Ayah ! Apaan sih meluk-meluk, malu Yah !"
"Mana ayah juga masih keringetan ! Ayah, buruan mandi dulu !" seru Rafif sambil mendorong badan ayahnya, tetapi ia malah mendapatkan ciuman di pipi dari sang ayah.
"Ayah ! apaan sih ?! malu tahu, Yah !" protes Rafif.
Khalis pun menjawabnya sambil tertawa,"Nggak tahu. Udah ah, ayah mau mandi dulu," lanjutnya lagi sambil bangkit dari duduknya.
"Yang butuh shalat dzuhur, segera bersih-bersih. Nanti kita jama'ah," ucap Khalis kepada para peserta outbound, sebelum ia meninggalkan lapangan.
Lalu, ia berjalan menuju MCK dengan melewati area BBQ, senyumnya pun kembali merekah ketika ia melihat kedekatan Dona dengan adiknya.
Beberapa saat kemudian, adzan dzuhur berkumandang. Khalis yang telah siap dengan kemeja kokonya berjalan menuju mushola bersama ayahnya, Rafif dan Dzaki, adik iparnya.
Sementara Dona masih sibuk menyiapkan kelengkapan untuk makan siang nanti. Melihat hal itu, Khansa pun menghampiri.
"Mbak Dona, nggak shalat ?"
"Aku libur," jawab Dona.
" Oo, kalau begitu aku ke mushola sama anak-anak, ya Mbak."
"Iya, titip yaa. Makasih."
"Sha, Ara, Zalfa, ikut ke mushola sama tante Khansa dan Alisha, gih !" seru Dona pada ketiga putrinya.
"Iya Bu !" jawab ketiganya.
"En, Tati kamu sekalian aja, saya lagi nggak shalat," lanjut Dona.
"Baik Bu."
Suasana pun menjadi hening, dikarenakan mayoritas peserta outbound dan family gathering sedang menunaikan ibadah shalat Dzuhur berjama'ah.
Dona sama sekali tidak menyangka jika keikutsertaannya merupakan cara Khalis memperkenalkan dirinya kepada keluarga Khalis. Hal inipun membuat pikirannya tidak karuan. Untuk itu, ia hanya duduk termenung sambil memainkan botol minuman di depannya dan berharap semuanya hanya mimpi, bahwa semuanya tak lebih dari khayalannya saja. Tetapi beberapa saat kemudian, shalat Dzuhur berjama'ah telah selesai dan mereka kembali berkumpul untuk menikmati sajian makan siang mereka, sesaat itu Dona pun kembali ke dunia nyata, dimana ia kembali harus berinteraksi dengan Khalis.
Sementara itu, para pria yang di kepalai oleh Khalis dan Dimas, dengan dibantu oleh beberapa karyawan pria mulai asyik memanggang daging BBQ, sedangkan Dona dibantu oleh dua asistennya dan juga Rahma, menyiapkan nasi dan kelengkapan lainnya.
"Mbak, udah biar aku aja sama temen-temen," ucap Rahma yang kemudian mengambil alih pekerjaan Dona.
"Eh, aku kan yang bertanggung jawab disini, Ma. Nggak enaklah kalau akunya malah ngilang," tolak Dona.
"Udah, Mbak kesana aja, ngobrollah sama calon mertua," goda Rahma sambil menyenggol Dona dengan bokongnya.
"Ih apaan sih kamu, Ma. Tapi baiklah, kalau kamu memaksa, walaupun aku nggak suka kalau dipaksa..."
"Mbak ! Udah sana, kalau mau kambuh jangan disini !" seru Rahma sambil mendorong badan Dona agar menjauh yang membuat Dona tertawa.
"Yowes, aku ke sana, yaa," ucap Dona sambil membawa salad dan kentang goreng menuju area makan.
"Iya, entar aku bawain yang lain," sahut Rahma
Tak lupa, Dona meminta asistennya untuk membawa sop pesanan Khalis untuk keluarganya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Khalis dan Dimas datang membawa hasil panggangan mereka.
"Ayah, aku mau!" teriak Zalfa.
Khalis pun memberikan beberapa potong daging ke atas piring dan memberikannya ke Zalfa.
Melihat Zalfa membawa piring yang berisi dengan daging BBQ, Rafif dan dua putri Dona yang lain pun ikut meminta jatah makan siang mereka.
"Aku juga dong, Yah !" pinta ketiganya.
"Iya sini, ambil sendiri," ucap Khalis.
Rafif pun menjadi yang pertama untuk mengambil daging BBQ.
"Ih, mas Rafif curang! ngambilnya yang gede semua !" protes Ara.
"Siapa cepat dia dapat!" jawab Rafif.
"Masih banyak kok, Ra. Nanti Ayah ambilin lagi kalau kurang," ucap Khalis.
"Makasih Yah, eh Ayah nggak ikutan makan bareng ? ntar kehabisan lho!" tanya Ara.
"Ini otw !" canda Khalis
"Laaa makan aja otw ! Kek mau pergi kemana, pakai otw segala," sahut Ara yang membuat Khalis tertawa.
Setelah itu, ia melihat ke sekeliling, dilihatnya orang tuanya tampak akrab dengan Dona, tawa dan senyum tak lepas dari wajah mereka.
"Khal sini, sekalian makan !" panggil ayahnya.
"Iya Pak," jawab Khalis, lalu menghampiri kedua orang tuanya dengan membawa daging BBQ hasil panggangannya.
"Ini kalau mau tambah," ucap Khalis sambil meletakkannya di tengah meja.
Melihat kedatangan Khalis, Dona pun menyudahi makan siangnya dan berdiri.
"Maaf permisi, saya sudah selesai," ucapnya sebelum pergi menjauh.
"Oya, silahkan," jawab ibu Khalis.
Dona pun berjalan ke arah anak-anaknya yang tengah menikmati makan siang bersama.
Khalis hanya dapat memandangi dari jauh, ia pun menarik nafas panjangnya.
"Sabar Khal, dia masih bingung, tunggu aja," ucap sang bunda.
"Tapi tadi ibu sudah bicara dan ibu bilang rencana kamu untuk melamarnya besok," lanjutnya.
"Trus Dona bilang apa ?"
"Coba deh kamu bicara sama anak Dona yang tertua, mungkin kamu bisa cari tahu tentang perceraian mereka. Ibu rasa ini berhubungan dengan trauma pernikahannya yang lalu."
"Baik, Bu."
Setelah acara makan siang selesai, dimulailah acara ramah tamah karyawan yang dipimpin oleh Dimas, asisten Khalis.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wa syukurillah, kita panjatkan puji syukur atas kehadirat Allah Subhanallahu Wata'ala, dimana acara outbond hari ini terlaksana dengan baik dan lancar. Di dukung dengan sajian makan siang dari katering Bu Dona yang jauh lebih lezat dari katering tahun lalu. Untuk itu terimakasih Bu Dona, BBQ-nya endesss kalau kata anak jaman now."
"Kembali kasih," jawab Dona sambil melambaikan tangannya yang diikuti oleh tawa dari peserta family gathering.
"Serta tak lupa, kepada Pak Bos Kulkas Khalis Ghiban atas dukungannya sehingga acara ini dapat terlaksana dengan baik dan sepertinya, julukan Pak Bos Kulkas, akan berganti dengan Pak Bos Meleleh, karena baru kali ini kami melihat Pak Bos full senyum dan sangat sabar menangani anak dan calon anak-anaknya."
Khalis pun tersenyum tetapi tidak dengan Dona yang segera berlalu menjauh.
"Bu Dona, kok pergi? Bu, belum selesai, masih banyak nih kata sambutanya !"
Tetapi Dona tetap berjalan menjauh, tanpa memperdulikan panggilan yang ditujukan untuknya.
"Baiklah, Pak Bos, semoga urusannya dimudahkan dan dilancarkan, kami segenap karyawan mendukung dan mendoakan Pak Khalis dan Bu Dona. Kami tunggu undangannya."
Suasana pun riuh oleh tepuk tangan dan siulan tanda dukungan untuk manajer mereka.
Keluarga Khalis menyaksikan dengan penuh haru dan bahagia karena anggota keluarga mereka sudah mulai 'mencair'.
"Baiklah, saya cukupkan sambutan ini, waktu dan tempat kami kembalikan kepada Pak Khalis. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Khalis pun kembali maju untuk memberikan kata sambutanya.
"Baik, jazakumullah khairan katsiro."
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada pihak Kaliurang Outbond atas tempat dan kegiatannya. Juga kepada karyawan beserta keluarga yang bersedia mengikuti kegiatan ini, untuk mempererat hubungan kekeluargaan yang semoga berimbas pada peningkatan kinerja kita kedepannya. Acara yang InsyaAllah, diadakan setahun sekali ini bertujuan untuk dapat membawa suasana baru di tempat kerja. Saya juga ingin meminta maaf, jika selama ini saya banyak memberikan pekerjaan-pekerjaan dengan dateline yang mepet, sengaja! Agar kalian nggak mager! Tapi Alhamdulillah, dengan adanya sistem mepet ini, kinerja kalian meningkat secara signifikan. Sales per-semester tahun ini meningkat hingga 30%. In syaa Allah bonus menanti."
"Alhamdulillah! Terima kasih Pak !"
"Saya cukupkan saja sambutan saya siang ini, karena kalau terlalu lama akan berubah menjadi sambitan dari kalian semua. Sekali lagi terimakasih atas kerjasama hebat kalian! Applaus for all of you, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
"Pak Bos, nanya dong!"
"Kayaknya saya tidak membuka sesi tanya jawab," jawab Khalis santai dan tanpa ekspresi.
"Pak, mulai deh !"
"Baiklah, silahkan ajukan pertanyaan."
"Hubungan Pak Bos dengan Bu Dona itu apa sih?"
__ADS_1
Khalis pun tersenyum mendengar pertanyaan dari salah satu karyawatinya.
"Do'akan aja yang terbaik," jawab Khalis diplomatis.
"Baiklah, saya serahkan kembali ke MC. Lanjut Dim!"
"Dan ketika namaku dipotong, kalau depan jadi 'Dim', kok kayaknya nggak enak ya, tapi kalau belakang jadi 'mas', kok jadinya mesra banget ya ?" protes Dimas.
"Sudahlah kamu terima nasib aja, yo wes lanjutkan," sahut Khalis yang kemudian kembali ke pinggir lapangan.
Riuh tawa pun bersahutan menyaksikan duo Pak Bos dan asistennya. Dimas pun melanjutkan acara ramah tamah dengan beberapa games hingga menjelang Ashar.
"Baiklah, saya sudahi acara hari ini. Kita bersiap shalat Ashar berjama'ah terlebih dahulu, sebelum kita kembali ke kantor. Untuk itu saya ucapkan terimakasih atas kerjasama kalian semua. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Akhirnya selesai sudah acara outbond hari itu. Setelah shalat Ashar, mereka pun segera kembali ke Sleman.
Tidak seperti saat berangkat, suasana pada saat pulang pun cukup hening, dikarenakan kegiatan fisik seharian sehingga mereka semua pun tertidur.
Hingga beberapa saat kemudian, Khalis mulai terjaga dan melihat ke arah seberangnya, dilihatnya Icha terbangun.
"Cha, boleh duduk di samping Ayah sebentar," panggil Khalis setengah berbisik.
"Kenapa, Yah?"
"Nggak papa, ayah mau ngobrol sebentar," jawab Khalis.
Aisha pun berpindah duduk di samping Khalis.
"Cha, ayah mau tanya, tapi jangan beritahu ibu, yaa."
"Memangnya Ayah mau nanya apa ?" tanya Aisha.
"Maaf kalau Ayah nanya ini, tapi Icha boleh nggak jawab, kok," ucap Khalis.
"Apa sih, Yah? kok ngomongnya pelan-pelan?"
"Ada apa dengan ibu dan ayah Icha ? Kenapa pisah ?" lirih Khalis.
"Oh itu, soalnya ayah selingkuh trus diam-diam nikah lagi. Aku sih tahunya itu aja tapi kayaknya ada masalah yang lebih dalam deh, tapi aku nggak tahu. Ibu juga nggak mau cerita, yang tahu ya hanya ibu, sama yangti yangkung trus saudara-saudaranya ibu," jawab Aisha.
"Trus masih kontak sama ayah nggak ?"
"Kalau ibu sih nggak, karena ayah sama sekali nggak mau bicara sama ibu. Heran deh, padahal ayah yang jahatin ibu, tapi kok ayah yang benci banget ke ibu. Alhamdulillah, bulan lalu ayah kirimin aku HP sama nomornya, jadi sekarang ayah bisa telpon aku."
"Alhamdulillah. Oiya, kamu pinginnya ibu gimana?" tanya Khalis.
"Maksudnya, apa aku pingin ibu nikah lagi?" tanya balik Aisha.
"Iya."
"Hmm, aku sempat nanya ke ibu, waktu ibu baru cerai. Aku tanya, kapan ibu mau nikah lagi? ibu cuma ketawa, trus bilang yaa mungkin paling cepet tiga atau empat tahun lagi. Tergantung kapan Allah akan ngasih ibu jodoh lagi. Gitu jawabnya."
"Kok kamu bisa nanya gitu, kan ibu baru cerai dari ayah kamu? memangnya nggak sedih?"
"Nggak, aku senang ibu akhirnya pisah sama ayah, karena ayah jahat ke ibu. Setelah cerai, ibu jadi lebih santai, banyak ketawa dan bercanda."
"Kapan terakhir ketemu ayah?"
"Tahun lalu, setelah itu, ibu nggak akan kasih kita ketemu ayah lagi. Pakde, bude di Jakarta, kakaknya ayah setuju sama keputusan ibu. Yaa karena ayah jahat sih."
"Jahat gimana ?"
"Ya ayah itu nggak nepatin janjinya ke ibu, ayah juga jadi kasar, bahkan sering marah-marah. Trus ibu juga sering disalahin sama ayah, padahal waktu itu ibu kan baru selesai operasi, jadi masih pemulihan, tapi ayah malah marah-marah aja," jawab Aisha.
"Operasi ? Operasi apa, kapan ?"
"Aku nggak tahu namanya, susah nyebutinnya, tapi ibu operasi kepala sampai empat kali berturut-turut, sekitar sebulanan setelah melahirkan Zalfa. Trus ibu juga sempat jadi lupa, ya nggak inget gitu, tapi alhamdulilah nggak lama ibu mulai ingat lagi, tapi yaa sampai sekarang masih suka ada yang lupa-lupa gitu," jelas Aisha yang membuat Khalis tertegun.
"Memangnya kenapa, Yah ?" tanya Aisha.
"Hmm, oh nggak papa, ayah cuma penasaran sama ibu," jawab Khalis.
"Hmm, trus kamu kangen ayah, nggak?"
"Awalnya iya, tapi sekarang nggak."
"Kok nggak, kenapa ?"
"Karena ayah selalu bikin ibu marah dan nangis setiap ketemu, yang anehnya lagi, ayah malah blokir ibu. Jadi ya ngapain aku kangen ?"
Mendengar jawaban Aisha, Khalis pun mulai memahami rasa sakit dan trauma yang dialami oleh Dona. Hal itupun yang membuatnya semakin ingin melindungi dan menjaga Dona.
"Cha, menurut kamu, hmm gimana yaa ?"
"Ayah mau nanya apa ?"
"Hmm gini, kalau ayah ngelamar ibu, kamu setuju nggak ?"
Mata Aisha pun berbinar mendengar keinginan Khalis, bahkan hingga ia tidak berkata-kata, ia hanya dapat menjawab dengan anggukan kepala berkali-kali.
"Tapi ini masih rahasia, ya. Jangan sampai ibu tahu dulu," lirih Khalis.
"In Syaa Allah, ayah mau ngelamar ibu, tapi kamu diam dulu. Rahasia kita berdua, jangan kasih tahu siapa- siapa, termasuk Ara. Oke !"
"Oke, Yah!"
__ADS_1