
Khalis akhirnya merencanakan acara family gathering untuk karyawannya, setelah berhasil menjamu tamu dari luar negeri.
Untuk itu ia mengumpulkan beberapa karyawannya di ruang rapat.
"In syaa Allah, dua pekan lagi kita adakan family gathering di Kaliurang."
"Nginap nggak, Pak?"
"Kalau saya tidak, tapi kalau kalian mau yang paket menginap, silahkan saja. Kalian atur acaranya, nanti saya lihat."
"Diskusikan tanggal, lokasi dan acaranya, saya tanda tangan saja. Baiklah itu saja, kalian bisa kembali bekerja."
"Baik, Pak."
"Oiya, Rahma, ke ruangan saya."
Khalis segera masuk ke dalam ruang kerjanya diikuti oleh Rahma yang bertanya-tanya, kesalahan apa yang telah ia lakukan.
"Untuk family gathering nanti, tolong hubungi Dona, saya mau pesan nasi box untuk sarapan dan paket BBQ untuk acaranya. Untuk jumlahnya, kamu data jumlah karyawan dan keluarganya yang akan ikut serta."
Mendengar perintah dari atasan, membuat Rahma lega, karena ternyata ia dipanggil hanya untuk urusan katering.
"Menu sarapannya apa, Pak?"
"Terserah Dona, oiya sekalian saja ajak dia untuk ikut acaranya, buat refreshing. Ajak anak-anak dan asistennya juga."
"Nggak sekalian sama orang tuanya aja Pak?" canda Rahma.
"Ya kalau orangtuanya mau ikut, kenapa nggak ? coba saja kamu tanyakan."
"Perasaan saya bercanda deh, Pak."
"Kamu atur aja lah. Oiya paket untuk saya, tolong tambahkan lima orang, jadi total ber-tujuh. Saya kira cukup, silahkan kembali."
"Baik Pak."
Setelah keluar dari ruangan atasannya, tanpa menunggu lebih lama, Rahma segera menghubungi Dona.
"Mbak, dua pekan lagi, Pak Bos mau ngadain family gathering di Kaliurang. Pesan nasi box untuk sarapan plus paket BBQ untuk makan siangnya, jam dan jumlah menyusul."
"Hmmm kalau ke Kaliurang biasanya pagi ya ? berarti jam enam harus siap. Okelah! menu sarapannya?"
"Kata Pak Bos terserah aja. Oiya, mbak disuruh ikut, katanya ajak anak sama asistennya sekalian, buat refreshing."
"Sekalian aja sama bapak ibu !"
"Nah, tadi aku juga bilang gitu. Trus Pak Bos bilang, kalau mau yaa sekalian aja juga boleh."
"Yaa kali Ma, nggak lah aku berenam aja. Pas jadwal Aisha pulang juga. Aku tunggu datanya, ya."
Rahma menyudahi telefonnya dengan Dona, kemudian ia pun kembali bekerja.
Siangnya, Rahma mengirimkan data jumlah peserta gathering sebanyak enam puluh tiga orang kepada Dona.
Dona pun mengirimkan harga menu paket BBQnya.
Satu set paket BBQ , 500 gram sukiyaki sliced plus sauce, 500 gram beef tenderloin, 500 gram paha ayam, salad, nasi dan buah potong, ini paket untuk 3-5 orang, paket untuk satu keluarga, harganya 450ribu.
Rahma segera melanjutkan pesan Dona kepada Khalis.
Oke. Saya minta tambahan sup untuk sepuluh orang saja. Supnya terserah, pesan Khalis.
Rahma pun kembali melanjutkan pesan Khalis kepada Dona.
Heran deh, kenapa Pak Bos nggak WA langsung aja, ngapain pakai perantara? gumam Rahma.
Dona pun segera membalasnya, Oke, noted ! untuk enam puluh tiga orang yaa, berarti tiga belas set, plus sop untuk sepuluh orang dan enam puluh tiga nasi box untuk sarapan. Total enam setengah juta.
Seperti biasa ya Mbak, nanti aku transfer 50% dulu.
Tak lama kemudian, Khalis kembali memanggil Rahma ke dalam ruangannya.
"Potong gaji saya bulan ini sebesar 1juta untuk family gathering."
"Kenapa Pak?"
"Itu untuk paket BBQ saya dan tamu saya nanti."
"Oo yang lima orang itu. Baik, Pak Bos !"
"Kamu atur seperti biasa," ucap Khalis.
"Oiya, tanggalnya Pak?" tanya Rahma.
"Hmm tadi kalian belum tentukan tanggalnya?"
"Belum, Pak."
"Kalau gitu, Sabtu atau Ahad, dua pekan lagi."
"Sabtu aja Pak, biar Ahadnya bisa mager di rumah," pinta Rahma.
"Hebat kamu ! masih mau mager, masang pager."
"Waaa Pak Bos sudah bisa bercanda nih !"
"Dari dulu juga bisa," lirih Khalis.
__ADS_1
"Sabtu, tanggal 29, jangan lupa !" lanjut Khalis mengingatkan.
"Baik Pak Bos, kalau begitu saya permisi."
"Silahkan."
Rahma kembali menuju ruang kerjanya, dalam hatinya, dua pekan lagi terasa lama, begitu juga dengan karyawan lainnya. Keinginan untuk rekreasi bersama yang hanya diadakan setahun sekali memang telah mereka nantikan.
Tak lupa ia menginfokan ke Dona, tanggal acara kantornya itu.
Sementara itu, Dona mulai membuat daftar belanja untuk persiapan acara tersebut.
Keesokan paginya, Dona pergi ke pasar Gowok yang tidak jauh dari rumahnya, untuk memesan daging. Di dalam pasar Gowok, terdapat tempat penjualan daging layaknya di supermarket. Tempatnya bersih dan di dalamnya terdapat mesin alat pemotong daging dan tulang. Selain itu, juga terdapat freezer yang berisi potongan daging steak, sukiyaki, iga dan lain sebagainya.
"Mas, aku pesan daging sukiyaki tujuh kilo, tenderloin tujuh kilo, ditempatin setengah kiloan. Aku ambil tanggal 28 pagi."
"Tenderloinnya di potong setebal apa, Mbak?"
"Yang biasa untuk steak, beratnya yang sekitar 180-2000 gram," jawab Dona.
"Saya ulangi pesanannya, ya. Tanggal 28 pagi, kemasan 500 gram, berat total masing-masing daging tujuh kilogram?"
"Iya, Mas."
"Oke Mbak, sudah saya catat, nanti kalau ada yang kurang di WA aja. Ambil aja kartu namanya di meja, Mbak."
"Makasih Mas."
Setelah mengambil kartu nama, Dona menuju penjual ayam langganannya.
"Mbak, aku pesan tujuh kilo paha ayam fillet , buat tanggal 28. Tolong di tempatin setengah kiloan, di wadah plastik yang ada tutupnya kayak di supermarket iku," pinta Dona.
"Ooo ya ya, yang tempatnya item ada tutupnya itu kan?"
"Iya, yang kayak gitu. Aku ambil Jum'at tanggal 28 pagi ya."
"Tanggal 28, tujuh kilo paha ayam fillet, di tempatin per setengah kilo ?"
"Iya, 28 pagi ya Mbak, ojo lali."
Setelah menyelesaikan seluruh pesanan ke para tukang daging di pasar dan berbelanja kebutuhan dapur, Dona pun kembali ke rumah.
Hari-hari Dona kembali seperti biasa, hanya sekarang ia harus menyiapkan makan malam dan sarapan untuk Khalis beserta putranya.
Di hari Sabtu pagi, Dona memasak spaghetti dan memanggang bruschetta untuk Khalis. Tak lupa ia menyiapkan salad dan buah potong.
"Hmm apa lagi yaa, cukup kali ya ?"
"Eh Sabtu kan dia libur, coba aku cek."
Dona pun mengirim pesan WA kepada Khalis.
Khalis yang tengah santai menonton berita di TV, memicingkan matanya begitu mendengar suara notifikasi WA-nya.
No kerjaan please, gumam Khalis.
Setelah ia membukanya, senyumnya pun merekah.
"Oh Mbak Dona, kenapa nih ?" lirihnya.
Wa'alaikumsalam, saya di rumah. Sabtu libur.
Aku kirim lunch-nya sekarang, tulis pesan WA Dona sambil mengirim foto lunch boxnya.
Sementara itu, putra Khalis yang sedang mengerjakan tugas prakarya sekolahnya, ingin berbelanja kebutuhannya di toko alat tulis yang tak jauh dari apartemen.
"Yah, aku mau ke toko alat tulis," ucap Rafif.
"Sekarang ?" tanya Khalis.
"Iya, aku lupa kalau ada tugas prakarya. Dikumpulin hari Senin. Anterin dong, Yah. Aku lagi males naik sepeda," pinta Rafif.
"Hmm, tapi nanti mampir sebentar ya," jawab Khalis.
"Kemana?"
"Ada deh, yuk !"
Sebelum pergi, tak lupa Khalis membalas WA Dona terlebih dahulu.
Saya mau keluar, nanti sekalian saya ambil saja di rumah.
Oke, aku tunggu. Oiya, belnya suka nggak bunyi, jadi nanti bunyiin gemboknya aja.
Oke, jawab Khalis singkat yang segera turun ke parkiran mobil apartemennya.
Setelah ke toko alat tulis, Khalis menuju rumah Dona dengan berbekal google map.
"Hmm kayaknya itu deh rumahnya, nah iya itu ada mobilnya. Yuk turun."
Khalis dan Rafif turun dari mobilnya, tetapi ketika hendak membunyikan gembok pagar, tiba-tiba ayah Dona keluar. Khalis pun memberi salam.
"Assalamu'alaikum, Pak."
"Wa'alaikumsalam."
"Saya Khalis, kliennya Dona. Saya mau ambil katering."
__ADS_1
"Ooo ya ya, silahkan masuk," jawab Ayah Dona sambil membukakan pagar dan mempersilahkan Khalis serta putranya masuk ke ruang tamu.
"Silahkan duduk, tunggu saya panggilkan Dona," ucap ayah Dona lalu menuju ke ruang tengah rumahnya.
"Ara, panggilkan ibu di dapur, ada tamu yang mau ambil katering," pinta ayah Dona kepada cucunya.
"Iya Yangkung."
"Bu ! ada tamu, ambil katering !" teriak Ara dari ruang tengah yang terdengar jelas hingga ruang tamu
Khalis dan Rafif pun tertawa mendengar teriakkan Ara.
Dona yang sedang di dapur, segera menuju ruang tamu tetapi tak lupa untuk menegur putrinya terlebih dahulu.
"Astaghfirullah, manggil ibu kok teriak, nggak sopan. Kamu sarapan dulu, sudah siang kok baru turun. Tuh spaghettinya sudah matang dari tadi. Siap jilbab yaa, tamunya laki-laki," ucap Dona.
"Ya maaf, tapi makasih ya Bu," jawab Ara yang segera berjalan menuju ruang makan.
Dona pun menemui Khalis dan Rafif di ruang tamu.
"Assalamu'alaikum," sapa Dona.
"Wa'alaikumsalam."
"Maaf ya, tadi ada yang teriak- teriak," ucap Dona.
"Nggak papa, biasa anak- anak kan suka begitu," maklum Khalis.
"Oiya, ini Rafif anak saya satu-satunya."
Dona pun terpukau dengan kemiripan wajah dua pria di depannya.
"Apakah kalian berdua, sebenarnya adalah kembar yang terpaut usianya dua puluh tahun lebih ?" canda Dona.
"Eh nggak, nggak mungkin itu ! aku kan lebih ganteng dari ayah !" sahut Rafif.
Sementara itu, Khalis yang kembali ke dalam mode kulkasnya, tidak bereaksi apapun.
Dona pun melanjutkan percakapannya.
"Kalau begitu, perbaikan keturunan berhasil," canda Dona yang berhasil membuat Khalis tersenyum.
"Hmm belum-belum aku sudah kalah," gerutu Rafif.
"Kalah gimana maksudnya ?" tanya Dona.
"Kalah karena ayah adalah sumber atau asal muasal wajah tampan anaknya," jawab Khalis yang sontak membuat Dona tertawa.
Tetapi kemudian Dona menghentikan tawanya dengan mengalihkan pembicaraan karena melihat ekspresi kekesalan dari wajah Rafif.
"Oiya, sekolah dimana ?"
"Di SMPIT ABY, tapi yang full day," jawab Rafif
"Eh sama dong seperti anak tante, tapi dia yang boarding," sahut Dona.
"Aku nggak boleh boarding sama Ayah," keluh Rafif.
"Lho, kenapa?" tanya Dona.
"Ayah takut kalau malam sendirian di apartemen, jadi aku disuruh nemenin," canda Rafif yang membuat Dona kembali tertawa.
Khalis pun menyahuti celotehan putranya, "Dikurangi lima puluh."
"Hah ! lima puluh ? Ayah !" protes Rafif.
Dona yang menyaksikan drama antara ayah dan putranya ini pun bertanya akan maksud dari percakapan keduanya.
"Apa yang dikurangi lima puluh ?"
"Uang jajanku sebulan !" sungut Rafif.
Dona pun tertawa mendengar jawaban Rafif.
"Sering ?" tanya Dona singkat kepada Rafif.
"Bukan sering lagi, terkadang aku harus ngemis-ngemis ke ayah, biar dapat tambahan," jawab Rafif dengan nada dan wajah memelas.
"Mbak Dona, sebaiknya tidak perlu melakukan interview kepada putra saya," ucap Khalis dengan tatapan dingin yang membuat Dona ketakutan.
"Oh maaf, Pak," ucap Dona yang merasa bersalah.
Tetapi kemudian Khalis kembali berucap, "Saya memberikan larangan itu karena Rafif belum meminum obatnya, sehingga apapun yang keluar dari mulutnya, tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya."
Mata Dona pun mendelik mendengar kalimat yang keluar dari mulut Khalis. Lalu Dona kembali bertanya, "Pak, saya bingung harus takut atau ketawa ya ?"
"Bingung aja, Tan. Ayah memang suka aneh dan membingungkan !" sahut Rafif
"Iya deh, Tante mode bingung aja. Oiya, ini paket makan siangnya dan aku barusan selesai manggang chicken schotel, jadi gimana kalau sarapan dulu, mumpung masih hangat," ajak Dona.
"Wah nambah menu nih, Yah !" seru Rafif sementara Khalis masih tetap dalam mode frozen.
"Ini bukan tambahan menu, ini free kok," ucap Dona.
"Bayar juga nggak masalah," sahut Khalis tanpa ekspresi yang membuat Rafif menggelengkan kepalanya.
Lalu, Rafif pun berbisik di telinga ayahnya, "Yah, katanya Elsa, mode frozen itu harus di let it go !"
__ADS_1
Sontak Khalis berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawanya, alhasil senyum simpul pun terangkai di bibirnya.