New Chapter Of My Life

New Chapter Of My Life
Episode 20 Sarapan Bersama


__ADS_3

Tibalah hari Senin, di hari dimana Dona harus menyelesaikan pesanan kateringnya, tetapi ia juga harus mengantarkan kedua anaknya. Untuk itu, wajah Dona terlihat panik, karena ia harus bertanggung jawab untuk dua urusan yang sama pentingnya.


Melihat kesibukan sang putri, ayah Dona pun menawarkan bantuannya.


"Bapak aja yang nganter anak-anak ke sekolah, kamu siapin kateringnya aja."


" Eh maturnuwun, Pak," ucap Dona lega.


Lalu, ia kembali sibuk di dapur menyiapkan kateringnya. Malam sebelumnya, Dona mendapatkan pesan singkat dari Khalis.


Assalamu'alaikum, saya Khalis. Maaf saya mendapatkan nomor kontak ini di kotak bento kemarin. Besok akan saya titipkan kotak bento kemarin ke Rahma. Untuk pengantaran besok, apa kendaraannya sudah siap ? Kalau tidak keberatan, saya akan siapkan kendaraan untuk mengambil kateringnya.


"Wa'alaikumsalam. Baik Pak, jazakumullah khair atas tawarannya. Besok pagi, in syaa Allah jam 07.30 sudah bisa dijemput."


Dona pun tak lupa untuk mengirimkan lokasi rumahnya kepada Khalis.


Baik, Pak Andi akan menjemput besok pagi pukul 07.30, balas Khalis.


Pada Senin pagi, Dona telah menyiapkan dua termos dispenser stainless masing-masing untuk kopi dan teh panas telah siap, cangkir set dan piring kecil telah tersusun rapi dalam box container, begitu juga dengan poffertjes dan aneka berry beserta sausnya, yang kesemuanya menunggu untuk diangkut.


Tepat pukul 7.30 pagi, sebuah mobil minivan yang banyak digunakan oleh produsen katering tiba di depan rumah Dona. Sang supir pun segera menghubungi Dona perihal kedatangannya.


"Assalamu'alaikum Bu Dona, saya Andi. Saya diminta Pak Khalis menjemput kateringnya."


"Wa'alaikumsalam, baik Pak. Saya segera keluar," jawab Dona.


Lalu, Dona meminta asistennya untuk membawa makanan dan perlengkapannya masuk ke dalam mobil. Beberapa saat kemudian, mobil tersebut segera berangkat menuju kantor, setelah semua perlengkapan katering dan makanannya masuk ke dalamnya. Dona pun mengikuti dari belakang dan ia meminta Tati, salah satu asistennya untuk ikut membantunya disana.


"Tati ikut saya, kamu nanti bantu mengatur meja."


"Eni, kamu lanjutkan masak untuk siang nanti. Saya nggak lama kok, setelah beres saya langsung pulang," ucap Dona.


"Baik, Bu."


Dona dan Tati pun berangkat menuju kantor Khalis. Sesampainya disana ia telah ditunggu oleh office girls dan boys, untuk membantu Dona menyiapkan hidangannya.


"Mana Bu yang mau di bawa naik?"


"Di mobil Pak Andi," jawab Dona sambil menunjuk ke arah minivan putih.


"Tat, kamu bantu angkatin barangnya ya, saya mau ngecek mejanya," ucap Dona.


"Baik, Bu."


Setelah mobil berhenti dengan sempurna, Tati di bantu para OB segera menurunkan perlengkapan katering dan membawanya ke area meeting di lantai dua.


Dona yang telah berjalan masuk terlebih dahulu, memastikan meja telah rapi.


Kesibukan di lobby lantai dua pun mulai terlihat.


"Bu, ini diletakkan dimana?" tanya salah satu OB yang membawa dispenser berisi teh dan kopi.


"Tolong letakkan di dekat dispenser di ujung meja ini. Tolong atur sekalian bersama cangkir-cangkir disebelahnya, yaa," jawab Dona.


Tati dan para OB pun sibuk menata meja dengan aneka hidangan dan minuman, sementara itu Dona memastikan semua posisinya tepat pada tempatnya.


Setelah semua terlihat rapi, Tati pun meminta ijin untuk pulang.

__ADS_1


"Bu, saya pulang duluan ya. Kasihan Eni sendirian, ntar bingung dianya."


"Ya sudah, saya masih harus nunggu disini dulu. Oiya, kamu pulang pakai taksi online aja ya," jawab Dona.


"Iya Bu, tadi saya sudah order. Eh mobilnya sudah sampai, saya pulang dulu ya, Bu."


"Ya, hati-hati."


Setelah itu, Dona mengambil foto kudapan pagi yang telah tersusun rapi di atas meja. Kesibukan di lobby lantai dua, dengan adanya karyawan yang mondar-mandir melewati ruang rapat, membuat Dona tidak menyadari kedatangan Khalis.


"Assalamu'alaikum," sapa Khalis.


Dona pun terkejut dan menengok ke arah datangnya suara, dilihatnya Khalis tengah berdiri di depan pintu ruang rapat.


"Wa'alaikumsalam, maaf Pak saya nggak lihat Bapak datang," jawab Dona.


"Saya yang minta maaf, jika telah membuat Anda terkejut," ucap Khalis yang membaca keterkejutan Dona.


"Nggak Pak, nggak papa, kok. Saya yang harusnya minta maaf, karena tidak mengetahui kedatangan Bapak," jawab Dona.


Kekakuan pun datang kembali, yang menyebabkan kebekuan diantara keduanya. Hingga akhirnya Khalis mencairkannya.


"Oiya, ini lunch box yang kemarin, syukron," ucap Khalis sambil memberikan dua kotak bento.


"Oiya, saya lupa pesan untuk dibawa pulang sore nanti. Kira-kira masih ada lebih dua porsi, nggak ?" tanya Khalis yang masih mempertahankan wajah datar tanpa ekspresi.


"In syaa Allah masih, Pak. Bapak tinggal dimana ya ? biar masih hangat, nanti saya kirim saja pakai ojek online," jawab Dona.


"Saya di Viva apartemen, Seturan," jawab Khalis.


"Eh dekat, kalau hulk lompat langsung sampai tuh !" celetuk Dona yang dengan spontan mengeluarkan karakter humorisnya untuk menghilangkan kegugupannya.


"Ya memang nyampe sih, tapi langsung gempa dan hancur tanahnya," jawab Khalis santai dan ekspresi wajahnya kembali ke mode datar.


"Dan kemudian apartemennya ambruk karena goncangan Hulk," canda Dona.


"Akhirnya Pak Khalis nggak ada tempat tinggal lagi, kasian," lanjutnya lagi dan kali ini berhasil membuat Khalis tertawa.


"Sarapan pagi saya ternyata humor tanpa henti dari Bu Dona," sahut Khalis dengan ekspresi wajah yang mulai melunak, membuat wajah tampannya terlihat jelas walaupun tertutup oleh janggutnya yang rapi dan lebat.


"Daripada tegang Pak. Oiya, sarapan!" seru Dona sambil mengambil bento box dari dalam tas yang khusus ia siapkan untuk Khalis.


"Ini untuk sarapan Bapak," lanjut Dona.


"Hmm telepati, ya," canda Khalis.


"Telepon tapi tidak ditepati ? haish, aku ngomong apa? Nggak lah Pak, saya dapat info kalau Bapak biasa sarapan di kantor, jadi yaa ini sekalian saya buatin. Kan Bapak mau meeting, ngga lucu ntar tetiba Pak Bosnya pucat dan nggak konsen karena belum sarapan," canda Dona balik.


Khalis akhirnya tertawa kembali, hingga menambah aura ketampanannya.


"Jazakillah khair. Dua ratus ribukan ?" tanya Khalis sambil mengambil uang dari dalam dompetnya.


"Eee nggak usah Pak, ini free," tolak Dona.


"Kok free ? nggak lah. Bu Dona kan sudah repot masaknya," ucap Khalis lagi.


"Nggak repot kok, kan sekalian. Jadi, silahkan dinikmati sarapannya," ucap Dona.

__ADS_1


"Baiklah, saya makan ya."


"Silahkan."


Lalu Khalis masuk ke dalam ruang rapat dan menikmati sarapannya, tetapi kemudian di tengah-tengah sarapan, ia kembali menghampiri Dona.


"Bu Dona, ayo sekalian sarapan juga," ajak Khalis.


Dona memang membawa dua kotak bento cadangan untuk Khalis dan asistennya.


"Maaf Pak, tapi satu kotak lagi saya siapkan untuk Pak Dimas," tolak Dona halus.


"Dimas nggak ada, dia ada tugas keluar pagi ini. Ayo, saya nggak suka makan sendiri tapi ada orang lain yang nggak makan," ajak Khalis sambil kembali masuk ke dalam ruang rapat.


Dengan sedikit ragu, Dona mengikuti Khalis ke dalam ruang rapat. Sementara karyawan yang menyaksikan pemandangan langka itu, hanya dapat bertanya dalam hati.


"Masih jam delapan, rapat mulai jam sembilan, santai aja," ucap Khalis yang membaca bahasa tubuh Dona.


Dona pun mengambil tempat, tiga bangku di samping Khalis. Dalam keheningan, keduanya menikmati sarapan pagi bersama.


"Oiya, Bu Dona sendiri?" tanya Khalis di tengah sarapannya, untuk memecahkan keheningan yang menyeruak.


"Nggak, tadi saya sama Tati, asisten saya. Tapi tadi setelah rapi, dia langsung pulang, untuk mempersiapkan makan siang nanti," jawab Dona.


"Bu Dona nggak ikutan pulang?" tanya Khalis lagi


"Nanti setelah peserta rapat datang. Hmm maaf Pak, tapi jangan panggil saya, Bu. Boleh nggak? Soalnya saya kok merasa jadi ibu-ibu, padahal emang iya sih. Tapi bukan itu maksudnya," jawab Dona yang bingung sendiri dengan kalimatnya.


Khalis pun tertawa mendengar ucapan Dona.


"Jadi bagaimana saya harus memanggil Anda ?" tanya Khalis lagi.


Ampun deh ini orang, kaku amat ? batin Dona.


"Langsung nama aja," jawab Dona.


"Baik, kalau begitu panggil saya juga langsung nama," tawar Khalis.


"Hmm nggak sopan kalau saya manggil Pak Khalis langsung nama," ucap Dona.


"Kenapa? kamu minta saya panggil, hmm kok kamu yaa, nggak enak juga manggilnya kamu," ucap Khalis.


"Yowes, ta' panggil bro wae yo!" canda Dona ditengah kebingungan sebutan panggilan untuk mereka berdua.


"Oke deh, Sis," sahut Khalis.


Keduanya pun tertawa bersama, hingga wajah mereka memerah. Tanpa keduanya sadari, beberapa karyawan yang berada di depan ruang rapat mendengar suara tawa atasan mereka, sungguh peristiwa yang tak biasa pikir mereka.


"Aku sudah selesai. Sekarang sudah jam delapan lewat, sebentar lagi peserta rapat mulai datang. Aku standby di luar, tapi nanti jam sembilan aku pulang dulu," ucap Dona.


Khalis pun menjawabnya hanya dengan anggukan kepala.


Di luar ruang rapat, dilihatnya beberapa karyawan telah bersiap menerima kedatangan tamu rapat.


Tak lama kemudian, satu persatu peserta rapat tiba. Ternyata memang bukan rapat biasa, pria-pria bermata sipit berwajah oriental dari negara penghasil drama televisi mulai memasuki area lobby rapat


Khalis pun menyambut kedatangan tamu-tamunya, sambil mempersilahkan untuk mencicipi hidangan pagi yang telah tersaji.

__ADS_1


Dona pun mulai merasa lost in translation, karena Khalis berbicara menggunakan tiga bahasa, yaitu Inggris, Jepang dan Korea. Lalu, tepat pukul sembilan, pintu ruang rapat telah ditutup, menandakan rapat telah dimulai.


__ADS_2