New Chapter Of My Life

New Chapter Of My Life
Episode 21 Aku Mau Nikah Lagi


__ADS_3

Pukul 16.30, katering hari pertama telah selesai, Dona dan Tati dibantu office girls merapikan kotak-kotak bento dan perlengkapan lainnya untuk kemudian dimasukkan ke dalam mobil.


Sementara itu, Khalis masih berada di dalam ruang rapat karena sedang membahas hasil rapat dengan karyawannya.


"Bu, ini sudah selesai, saya minta Pak Andi langsung ke rumah ya. Sekalian saya ikut Pak Andi saja, ibu kan masih nunggu Pak Bosnya," ucap Tati.


"Nggak kok, saya langsung pulang aja, kan nggak tahu dia selesai jam berapa. Nanti kalau ada perlu, dia bisa WA saya kok. Yuk kita pulang," ajak Dona.


Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, Dona dan Tati menuju parkiran dan segera kembali ke rumah.


Sesampainya di rumah, setelah mengeluarkan perlengkapan katering Pak Andi pun pamit untuk kembali ke kantor.


"Bu, saya kembali ke kantor. Besok pagi, seperti hari ini kan, jam setengah delapan?"


" Iya Pak, pagi jam setengah delapan, kemudian siang jam setengah dua belas dan sore jam tiga," jawab Dona.


"Baik, Bu. Kalau begitu saya permisi. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Terima kasih, Pak."


"Iya Bu, sama-sama."


Pak Andi pun berlalu, Dona segera masuk ke dalam rumah.


"Ibu sudah selesai ?" tanya Zalfa.


"Alhamdulillah, hari ini sudah selesai. Tapi besok lanjut lagi sampai hari Jum'at."


"Asyik ! tiap hari jadi makan bento!"


Dona pun tersenyum melihat kebahagiaan putri bungsunya.


"Ibu ke dapur dulu ya. Kamu mandi, sudah sore, nanti ibu nyusul ke kamar," ucap Dona.


"Iya, Bu."


Zalfa segera naik ke kamarnya di lantai dua sementara Dona menuju dapur.


"En, tadi aku minta dua bento lagi, untuk nanti malam, sudah disiapin ?"


"Sudah Bu, tinggal dihangatkan saja."


"Nanti mau aku kirim jam tujuh, yaa. Oiya, tolong siapkan empat bento deh, ditempatkan di wadah untuk microwave itu, biar praktis dan paginya bisa diangetin langsung di microwave"


"Menunya sama, Bu ?" tanya Eni.


"Di tambah buah aja, hmm atau hari ini masak apa?"


"Hari ini masak sop bakso ikan sama tumis tahu kecap."


"Boleh deh, tambahin sop bakso ikan," ucap Dona.


"Baik Bu."


"Saya istirahat dulu ya, nanti ba'da maghrib saya ke dapur," ucap Dona sambil menuju ke kamarnya.


Sampai di kamarnya, Dona segera melepaskan jilbabnya dan berganti pakaian, sebelum merebahkan badannya di kasur.

__ADS_1


"Zalfa, mandinya cepet yaa, gantian sama Ibu."


"Iya ,Bu."


Ketika Dona hendak merebahkan dirinya di kasur, notifikasi pesan di handphone-nya pun berbunyi. Dilihatnya nomor Khalis pada layar HP-nya, ia pun segera membukanya.


Assalamu'alaikum, maaf saya tadi rapat dengan karyawan sampai jam setengah enam. By the way, congrats ya, they love your food dan mereka sangat menantikan menu selanjutnya. Oiya, untuk besok Bu Dona tidak perlu standby lagi, kan tadi Nina dan Asri ikut ngebantuin, jadi besok serahkan saja ke mereka. Biar nggak bolak-balik, cukup koordinasi sama mereka berdua. Nanti saya kirim nomor kontaknya.


Senyuman pun terukir di wajah Dona, lalu ia segera membalas WA tersebut,


Wa'alaikumsalam, maaf juga tadi pulang nggak pamitan. Oiya, nanti jam tujuh, aku kirim empat pack bento, sekalian untuk sarapan. Aku tempatin yang aman untuk microwave, jadi besok pagi bisa langsung dihangatkan di microwave.


Eh ini serius, jadi suplay makanan ke rumah? Saya minta nomor rekeningnya, saya akan transfer, saya tidak mau ngutang, balas Khalis.


Dona pun kembali membalas pesan dari Khalis, Iya, serius. Emangnya mau bayar berapa? iki spesial lho. Ne' spesial iku larang, eh ngerti bahasa Jawa nggak?


Ngerti sedikit, yowes ra popo. Saya transfer langsung buat sepekan yaa, sampai hari Sabtu. #ngelunjak, balas Khalis.


Temenan (beneran) apa musuhan ? yowes terserahlah mau transfer berapa, yang ini ngga aku patok harganya," ketik Dona pada pesan WA-nya.


Dona pun mengirim nomor rekeningnya kepada Khalis. Tak lama, transferan dari Khalis telah masuk. Dona pun segera mengeceknya, ia pun terbelalak melihat jumlahnya. Untuk itu ia kembali mengirimkan pesan ke pria menawan itu.


Kepada Bapak Khalis Ghiban yang terhormat, apakah anda telah mentransfer ke rekening saya sebesar lima juta rupiah?! sampai Sabtu thok lho?akeh men iki. Lima juta itu katering sebulan, Bapak Khalis yang terhormat !#kebanyakan


Khalis membuka pesan Dona, ia pun tertawa membaca pesan tersebut, lalu ia segera membalasnya kembali.


Don, kan kamu kirim untuk dua kali makan per harinya. Kalau bento itu aja dua ratus ribu per pax, berarti empat ratus ribu untuk dua pax sehari, lalu dikali dua jadi delapan ribu sehari. Kalau dikali enam berarti empat koma delapan juta, belum termasuk snacknya juga yang kamu kirim.


Eh tapi itu kan harga bisnis, beda sama harga rumahan. Lagian emang biasanya makan seminggu bisa habis lima juta ? jadi kalau sebulan berarti habis 20 juta dong, hanya buat makan doang?! balas Dona kembali.


Untuk menyudahi berbalas pesan, Khalis pun mengirimkan pesannya, kamu terima uangnya dan saya terima makanannya, jadinya terimakasih.


Setelah maghrib, Dona kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam Khalis dan putranya.


Tepat pukul tujuh paket makan malam dan sarapan telah siap diantar ke apartemen Khalis. Dona pun mengirim pesan WA ke Khalis.


Aku kirim makanannya sekarang pakai ojol.


Siap menanti, jawab Khalis.


Beberapa menit kemudian, paket makanan pun telah diterima oleh Khalis. Ia pun memotretnya dan mengirimkannya ke Dona dilengkapi dengan ucapan terimakasih.


Enjoy your dinner, jawab singkat Dona.


Khalis pun memanggil putra semata wayangnya untuk makan malam bersama.


"Fif, ayo makan dulu, mumpung masih hangat."


"Iya, Yah," jawab Rafif dari kamarnya.


Rafif pun bergegas menuju ruang makan. Matanya pun berbinar, ketika melihat susunan bento di atas meja makan.


"Wah, oishi nih! Ayah pesan ke tante Dona lagi?" tanya Rafif.


"Iya, pokoknya mulai hari ini kita makan dari kateringnya tante Dona, senin sampai sabtu. Ahad biar dia istirahat," jawab Khalis.


"Asyik, akhirnya makan makanan rumahan setiap hari. So next, lamaran kapan, Yah!" tembak Rafif.

__ADS_1


Khalis pun memukul Rafif dengan sumpitnya, sehingga Rafif tertawa akan reaksi ayahnya.


"Dah lah, sesama jomblo, maju duluan dong Yah, laki!kudu tampil!" goda Rafif lagi.


"Berisik! Dah makan aja! Nanti kamu yang beresin, ayah mau istirahat. Meeting pakai bahasa Inggris itu lebih capek, karena mikirnya dobel. Oiya nanti tolong, makanan yang buat sarapan, kamu simpan di kulkas. Jangan lupa!"


"Oke,Yah!"


Khalis pun beristirahat di kamarnya, sambil membaca berita melalui gawainya. Hingga di saat menjelang tidurnya, pikirannya kembali menari-nari.


Melamar? iya sih, dosa juga kalau aku chatting sama Dona terus. Besok telpon ibu deh, gumam Khalis.


Keesokan harinya setelah shalat subuh, Khalis menelfon ibunya yang tinggal di Jakarta.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, ibu sehat?"


"Alhamdulillah, kamu sama Rafif gimana?"


"Alhamdulillah sehat, Bu."


"Tumben pagi-pagi nelpon ibu, suaranya kayak hepi banget."


"Ah ibu, tahu aja. Bu, aku mau nikah lagi," ucap Khalis tiba-tiba yang mengejutkan ibundanya.


"Alhamdulillah! kamu serius?!"


"Iya, Bu."


"Siapa calonnya?"


"InsyaAllah janda anak tiga."


Ibu Khalis terdiam sejenak, lalu kembali bertanya untuk memastikan keputusan putranya, "Serius kamu, dengan janda anaknya 3?"


"Iya Bu, nanti aku kirim keterangannya. Sekarang, aku minta waktu, kapan bapak-ibu bisa ke Jogja untuk ngelamar?"


"Apa kamu yakin? kamu sudah bilang ke dia, eh namanya sapa?"


"Namanya Dona Aqeela, umur tiga puluh delapan tahun, punya bisnis katering. Sekarang aku langganan makanannya setiap hari," jawab Khalis.


"Orangnya gimana?"


"Pakai jilbab syar'i, wajahnya ayu dan lembut. Orangnya ramah, humoris juga," jawab Khalis.


"Tipe kamu ya. Janda apa, cerai atau meninggal?"


"Belum tahu Bu, belum sempat ngobrol masalah pribadi."


"Gini deh, ibu mau lihat dulu. Kamu bikin acara apalah jadi bisa pesan makan ke dia dan dia bisa ikut acaranya."


"Hmmm apa yaa?" tanya Khalis sambil berfikir akan kegiatan outing kantornya.


"Hmm family gathering yang paling bisa sih, Bu. Acara tahunan kantor, family gathering dan BBQ."


"Nah pinter, kamu tentukan tanggalnya, nanti bapak ibu akan datang."

__ADS_1


"In Syaa Allah, nanti aku kabarin Ibu."


__ADS_2