
BAB 10
Dari waktu ke waktu aku dan tuan bambang semakin sering bertemu, dirinya sering memintaku menemani dirinya bahkan sekarang kerap aku di jemputnya pada jam kerja dengan menghubungi mandor ku yaitu pak aksan.
Jika saya tidak salah sebulan yang lalu dirinya memintaku bekerja di perusahaannya sebagai asisten pribadinya tetapi aku tetap tidak mau menerima kebaikan orang dengan suka rela bukan aku sombong dan sok tidak butuh, tetapi saya ingin mendapat kerjaan seperti itu dengan prestasi bukan belas kasih dari orang yang kebetulan dekat denganku.
Keakraban kami sudah berjalan empat bulan dan penawaran serta pemberian darinya sudah banyak tetapi aku masih belum menginginkan semua itu sehingga aku terus menolak semua pemberian darinya.
Seperti hari ini tuan bambang tiba tiba datang menjemput saya lalu membawa saya ke sebuah villa miliknya lalu dengan wajah sangat sedih dirinya duduk di lantai pas di dekat kakiku, karena aku sedang duduk di sebuah sofa, melihat dirinya duduk di lantai aku pun hendak bangkit dari duduk ku dan hendak ikut duduk di bawa bersamanya tetapi dirinya melarang ku dengan memegang lututku dirinya pun mulai berbicara dengan raut wajah yang penuh dengan kesedihan.
"Andra maukah kau menolongku kali ini, tanya tuan bambang.
" Jika saya mampu untuk menolong tuan , mengapa tidak. Ucapku.
"Kali ini aku tidak memberi kamu harta atau ke dudukan Andra, tetapi aku ingin memberikan separuh jiwaku yang sudah tidak mampu untuk aku merawatnya.
" Maksud tuan apa....? Tanyaku.
"Tolong menikahlah dengan putriku, aku tau hanya lelaki sepertimu yang akan mampu untuk mendampinginya. Ucapnya tanpa berbelit belit.
" Tuan..... Apakah tuan sekarang dalam keadaan tertekan... Tanyaku kembali.
"Tidak Andra... Aku sama sekali tidak dalam keadaan tertekan.
" Lalu kenapa tuan berbicara seperti ini...
"Karena aku memang ingin kamu yang menikah dengan putriku hanya kamu yang aku percaya untuk menjaganya.
" Itu mustahil tuan bukan kah putri tuan sedang memadu kasih dengan seorang pemuda yang sederajat dengan tuan, mana mungkin putri tuan mau memilih aku yang hanya seorang kuli bangunan, jawabku.
"Mau atau tidak dirinya harus mengikuti perintah ku andra, sekarang aku hanya menunggu kesediaan kamu menerima putriku, yang soal kehidupannya kamu sudah tau maka dari itu aku tidak ingin memaksa kamu tetapi jika bisa aku sungguh meminta sama kamu,jangan ada kata penolakan. Ucapnya kembali sambil mengusap air matanya.
__ADS_1
Entah mengapa tiba tiba hatiku terasa nyeri melihat tuan bambang mengusap air matanya sehingga aku memberanikan diri berbicara kembali dengan nada sedikit bergetar.
"Bisakah aku meminta waktu untuk berpikir tuan.
" Berapa lama andra.... Tanyanya.
"Mungkin seminggu cukup tuan, ucapku kembali.
" Baiklah.... Aku setuju dan aku akan menunggu jawaban dari kamu yang paling terbaik.... Ucapnya.
Setelah berbicara panjang lebar akhirnya aku dan tuan bambang memutuskan untuk pulang, tetapi aku tidak pulang ke rumahku tetapi aku pulang ke rumah mandor ku yang sudah ku anggap sebagai pengganti orang tuaku.
Sesampainya di rumah pak aksan , aku berjalan masuk menuju teras rumahnya sambil mengucapkan salam dengan wajah di tekuk, pak aksan yang memang sedang duduk santai di teras rumahnya sebelum aku datang tampak tersenyum melihatku lalu kemudian dirinya mengerutkan keningnya.
"Assalamu alaikum....
" Wa alaikum salam... Jawabnya.
" Terima kasih pak... Balas ku.
"Tumben datang jam segini.... Wajahnya pakai di tekuk lagi, ucap pak aksan sambil tersenyum.
" Banyak pikiran pak... ... Jawabku lemas.
"Emangnya anak bujang sepertimu mikir apa,bukannya kamu tadi di jemput tuan bambang kusuma...... Tanya pak aksan lembut sambil membetulkan kacamatanya.
" Nah..... Itu dia pak, dia bikin aku pusing. Ucapku sambil menarik rambutku.
Tampak sekali wajah pak aksan penasaran, dia pun kembali menutup buku yang sedang di bacanya lalu menatap wajahku sambil bertanya.
"Memangnya tuan bambang kusuma memberi kamu apa lagi sampai pusing begitu... Tanya pak aksan karena selama ini aku tidak pernah menyembunyikan hal apa pun kepada pak aksan termasuk kuliahku dan semua pemberian tuan bambang yang hampir semuanya ku tolak.
__ADS_1
" Putrinya... Jawabku yang membuat pak aksan menyemburkan kopi yang baru saja di minumnya.
"ha... Tidak salah... Tanyanya kembali.
" Itu dia pak... Yang membuat aku pusing,
"Enak dong dapat barang branded.... Jawabnya ngamblang.
" Enak dari mananya pak, dari mana aku mendapatkan uang untuk biaya hidup putrinya, orang kaya begitu mana mau memakai baju yang di jual di pasar apa lagi barang obral jijik mereka, jawabku dengan muka masam.
"Kan gampang suruh aja dia minta sama orang tuanya., atau kamu suruh aja putrinya minta jatah warisan dari pak bambang. Ucap pak aksan sambil tersenyum jahil.
" Ala... Bapak ini bukannya ngasih solusi tapi bikin martabat aku jatuh sejatuh jatuhnya, ucapku.
"Iya deh... Maaf bapak sekarang akan serius ucapnya kembali.
" Aku juga minta maaf Pak karena datang ke sini menganggu bapak tetapi, aku benar benar buntu, entah apa yang harus aku lakukan.
"Apakah dia memaksa ...
" Memaksa sih tidak pak..
"Lalu.... Ngapain pusing.
" Karena tuan bambang kusuma wijaya tidak mau mendengar penolakan dari aku untuk kali ini.
"Ya... Itu sih sama aja kalau dirinya memaksa kamu...
" Lalu aku harus apa pak..
"apa kau kenal dengan anaknya..
__ADS_1
" Tidak.... Tetapi tuan bambang sendiri pernah bercerita jika anaknya susah jauh terjerumus di pergaulan bebas dan sekarang putrinya sedang pacaran dengan putra salah satu orang yang sangat berpengaruh di kota ini tetapi tuan bambang tidak suka dengan laki laki itu.