
BAB 45
Andra dan kinayah sudah sampai di rumah, begitu juga dengan aditya mereka pulang bersama.
Aditya sempat bertanya perihal yang membuat wajah andra bonyok, sehingga membuat kinayah sangat bersemangat bercerita dengan masalah yang di akibatkan olehnya, dari cerita kinayah andra dapat menyimpulkan jika kinayah sagat menyesal tentang apa yang terjadi tadi , begitu juga mengenai dirinya yang tiba tiba di peluk darco tanpa seijin dirinya membuat dia seketika mengepalkan kedua tangannya.
Aditya yang dengan antusias mendengar cerita adik perempuannya juga tampak mengepalkan tangannya karena amarahnya mulai memuncak.
"Sudah ceritanya, jangan sampai kedua orang tua kita tau tentang masalah ini , ucap andra menyela pembicaraan dua kakak beradik tersebut.
" Iya benar juga kamu andra, bisa bisa kinayah kena semprot papi lagi, sudah kalian masuk ke kamar saja, aku juga mau istirahat. Ujar aditya.
Aditya pun sudah berlalu meninggalkan dua sejoli yang sedang kasmaran.
"Ayo dek sayang kita ke kamar, obatin luka kak andra.
" Oke kak, duluan saja aku mau ngambil kotak p3k di laci di ruan tengah.
"Baiklah , kak andra duluan ke atas ya.
" Sip, ucap kinayah setengah berteriak setelah itu dia segera beranjak ke arah laci dan segera meraih kotak p3k lalu berlari lari kecil menemui bi inem.
"Bi...., teriak kinayah yang tidak menemui bi inem.
Sedangkan bi inem yang mendengar namanya samar samar di panggil segera berlari tergopoh gopoh dari halaman belakan.
__ADS_1
" Iya non..., apa ada yang non nay butuhkan...? Tanya bi inem dengan sedikit ngos ngosan.
"Bi inem kok ngos ngosan gitu sih...?
" Iya non kan bibi lari dari halaman belakang,
"He... he.... he... Maaf ya bi inem , nay udah bikin bibi repot kayak gini...,
" Nggak apa apa non, non lagi nyari apa..?
"Ini bi, mau nyari air hangat mau kompres luka kak andra.
" Oh gitu...., tunggu ya non bibi ambilkan.
"Oke bi.
" Nah, ini non air hangatnya.
"Makasih ya bi, ucap kinayah sambil membalikkan badannya dan mulai melangkah menjauhi bi inem.
" Sama sama non.
Sedangkan andra di dalam kamar sudah selesai membersihkan badannya, kini dirinya sudah duduk di sofa dengan hanya menggunakan handuk saja sehingga seluruh bagian dadanya terpampang jelas dengan dada yang kekar dan berotot ber bentuk kotak kotak.
"Kinayah kemana sih..., apa dia menghindari aku ya...? Monolog andra di dalam hati .
__ADS_1
Tiba tiba terdengar suara pintu di buka.
" Kreeek, maaf ya kak and, suara kinayah menggantung di udara setelah melihat pemandangan yang baru pertama kali di lihatnya, tubuh kekar dan berotot seperti kotak kotak terpampang nyata di hadapannya dengan tanpa ada penghalang, sehingga kinayah hanya berdiri mematung di ambang pintu kamar miliknya sambil menatap tubuh suaminya tanpa berkedip.
Andra yang menyadari keterkejutan sang istri dengan santainya dia bangkit dan berjalan mendekati kinayah sambil tersenyum.
"apa adek mau berdiri saja di depan pintu menunggu air hangatnya membeku seperti es...? Tanya andra sambil menutup pintu yang belum sempat di tutup kinayah, andra juga tidak lupa mengunci pintu kamar mereka.
" A.. a.. a... aku....., itu.... anu.. Kak.ucap kinayah gagap.
"A... I.. U.., apaan dek bicara yang jelas, ucap andra yang sudah memeluk kinayah dari belakang dan mulai mengendus gendus kepalanya di ceruk leher kinayah .
" Kak andra geli,ucap kinayah.
"Tapi enak kan dek...? Tanya andra yang terus beraksi .
" Eum...., kak andra ayo kita bersihkan lukanya dulu nanti takut infeksi, ucap kinayah tetapi andra tidak memperdulikan kinayah, hingga kinayah pun pasrah dan tidak lagi menghalangi kegiatan andra bahkan dia juga sudah membalikkan badannya sehingga keduanya sudah saling berhadapan dan saling menyatukan bibir lalu keduanya tenggelam di dalam lautan gelora hasrat yang memuncak .
Sementara di luar kamar kinayah, aditya tampak berdiri, dirinya sudah menggayungkan tangan hendak mengetuk pintu karena ingin meminta sesuatu kepada kinayah, tetapi tiba tiba dirinya mendengar suara suara laknat dari kedua sejoli yang berada di dalam sana yang membuat dirinya harus mengurungkan niatnya.
"Dasar pasangan gila, siang siang begini masih juga produksi keturunan, nggak bisa apa nunggu malam tiba, gerutu aditya sambil berjalan turun menyusuri anak tangga dengan muka masam.
Karena merasa kesal aditya berjalan terus hingga dirinya sampai di teras rumah bagian depan dengan kasar dia menjatuhkan punggungnya di kursi yang ada di teras rumahnya.
Tanpa dia sadari jika maminya sudah berdiri di dekatnya.
__ADS_1
Nyonya amalia yang baru datang mengerutkan keningnya sambil menatap wajah anaknya yang sudah bermuka masam.
"Adit..., sudah lama nak...? Tanya nyonya amalia yang merasa bersalah karena tidak menjemput anaknya di rumah sakit.