NIKMAT MEMBAWA PETAKA

NIKMAT MEMBAWA PETAKA
BAB 94


__ADS_3

BAB 94


Tubuh Kinayah yang sudah lemas dan tak kunjung sadar lalu di bawah di ruang perawatan lain yang terus di dampingi oleh Nisa.


Sedangkan tuan Bambang dan Aditya berusaha menguatkan diri mereka dan mulai mengurus kepulangan jenasah wanita yang sangat di kasihi oleh mereka.


"Apa perlu di pulangkan di negara kita pi?


" Tidak nak negara ini adalah negara tempat kelahiran ibumu.


"apa maksud papi?


" Maafkan aku nak yang sangat tidak jujur terhadap kalian tetapi ketahuilah jika semua yang di lakukan papi atas permintaan seseorang dan bahkan ibu kamu pun tidak pernah tau tentang semua yang papi rahasiakan tentang masa lalunya.


"Lalu terhadap kami apa papi akan merahasiakannya juga.


" Tentu tidak nak tetapi sekarang bukanlah waktu yang sangat tepat.


"Baiklah pi aku juga mengerti keadaan kita sekarang tetapi papi harus ingat jika papi memiliki hutang penjelasan kepada saya dan Kinayah.


" Insya allah nak jika usiaku masih panjang.


"Jangan berkata begitu pi, perjuangan kita masih terlalu berliku hingga kematian orang orang yang bertanggung jawab atas kematian moms habis terbunuh di tanganku.

__ADS_1


" Baiklah, ayo kita urus jasad moms kalian.


"Tunggu pi, sebaiknya kita bagi tugas aku akan menemui Kinayah sedangkan papi temui dokter dan selesaikan semua administrasinya.


" Baiklah nak papi setuju.


Setelah berkata begitu keduanya pun sama sama berbalik dan melangkah berlawanan arah.


Tak butuh waktu lama Aditya sudah sampai di ruangan di mana Kinayah di sempat di rawat tadi.


"Assalamu alaikum, ucap Aditya.


" WA alaikum salam.


" Dia sudah sadar tetapi masih belum berucap sepatah kata pun hanya air mata yang terus mengalir deras di kedua pipi Nay.


Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi Aditya lalu berjalan menuju arah di mana Kinayah meletakkan wajahnya menatap arah dinding dengan tatapan kosong.


"Hai...., apa kabar dek sayang? Ucap Aditya sambil menunduk mencoba menyapa dan menghalangi pandangan sang adik yang tampak begitu nanar.


Melihat jika yang datang adalah sang kakak Kinayah segera menarik tangan Aditya lalu mendekap nya dengan erat dan seketika tangis Kinayah pecah tanpa bisa di tahan lagi.


Sedangkan Nisa dan Aditya yang melihatnya juga turut meneteskan air mata sehingga mereka bertiga berpelukan lalu menangis sejadi jadinya.

__ADS_1


Aditya yang merasa dirinya yang paling tua di antara mereka bertiga segera menyudahi dan kembali menasehati mereka.


"Sebaiknya kita berusaha tegar dan mengikhlaskan kepergian moms agar beliau tenang di alam barunya.


" Hiks hiks hiks... Tapi moms terlalu cepat pergi meninggalkan kita kak, protes Kinayah sambil menangis.


"Bukankah semua itu adalah salah satu rahasia allah dek.


" Tapi kepergiannya cukup kejam kak siapa yang melakukan ini?


"Berjanjilah akan tegar dan kuat agar kakak bisa menjawab pertanyaanmu dan lindungi dirimu giatlah berlatih karena mungkin ke depannya sangat mungkin kalian adalah target selanjutnya dan ingat jangan pernah hanya sekedar mengandalkan nak buah.


" Maksud kakak kita semua memiliki musuh.


"Tepatnya iya, dan sebentar lagi kita akan mengangkat bendera perang karena hutang nyawa harus di balas nyawa.


" Baik kak aku bersumpah aku akan menyemburkan darah orang yang sudah meneteskan darah moms ku.


"Bagaimana bisa kamu menyemburkan darah orang tersebut jika kamu hanya bisa menjadi wanita cengeng sekarang, ledek Nisa.


Tetapi Kinayah tidak memperdulikan ledekan Nisa meski dia tau jika itu di tujukan padanya, entah tetapi yang dia tau sekarang ini hatinya cukup sedih dan terasa lelah memikirkan moms nya yang tiba tiba pergi meninggalkan dirinya.


"Sebaiknya sudahi pembicaraan kalian berdua mari kita datangi papi yang sedang mengurus kepulangan jenasah moms.

__ADS_1


" Baiklah kak ayo kita ke sana menemui papi, ucap keduanya secara bersamaan.


__ADS_2