
BAB 74
****
Tuan bambang kusuma Wijaya langsung mengambil langkah yang sangat tepat ketika mendengar kalimat demi kalimat yang di ucapkan aditya.
Dirinya yang memiliki kemampuan membaca dan menelisik sesuatu yang berniat di rahasiakan oleh seseorang tersebut.
"Aku harus segera terbang ke Indonesia, mereka harus mendengar langsung dari mulutmu sendiri sebelum rasa kecewa merajai hati mereka, mereka adalah anak anakku harta yang paling berharga, aku tak mau jika mereka kecewa jika saja ada orang lain yang terlebih dahulu memberi tau tentang siapa aku sebenarnya.
Karena merasa sangat khawatir dirinya pun segera kembali ke indonesia tanpa membawa ibu amalia karena dia hanya membutuhkan waktu satu malam saja untuk menjelaskan kepada anak anaknya tentang segalanya, kemudian setelah itu dirinya pun akan kembali ke negara di mana sang istri menunggu.
"Siapkan alat transportasi lewat udara sekarang.
" Untuk siapa tuan dan tujuan ke mana? Tanya orang dari seberang sana.
"Untuk saya dengan tujuan Indonesia.
" Baik tuan.
"Segera, kita berangkat lima belas menit lagi.
" Ha..., lima belas menit lagi?
"Iya, kenapa apa ada masalah?
" Oh..., tidak tuan.
"Kalau begitu tunggu apa lagi.
" Baik tuan.
Tak lama setelah itu, telpon tuan bambang kembali berdering.
__ADS_1
"Iya, ada apa?
" Maaf tuan menganggu tapi sekarang semuanya sudah siap.
"Baiklah kita berangkat sekarang.
" Siap tuan.
Mereka pun berangkat dengan menggunakan jet pribadi .
Tidak butuh waktu yang sangat lama mereka yang berangkat sekitar jam sepuluh menjelang siang kini tuan bambang sudah sampai di rumahnya dengan selamat .
Aditya dan kinayah yang sedang duduk santai di halaman belakang sangat kaget ketika bi inem mendatangi mereka berdua dan berucap.
"Deng....non, di panggil tuan di tunggu di ruangan kerja beliau.
" Ha...., papi bi...? Tanya kinayah tak percaya.
"Iya non, tuan memanggil non dan adeng.
"Beneran adeng... Non,tuan ada di ruangannya.
" Baiklah bi, tapi awas lho bi kalau ngerjai kami tak geleteki bibi inem sampai pingsang, ancam kinayah sambil menatap bibi inem horor.
"Ih..., non ini kayak bibi pernah ngerjai aja.
" Belum pernah sih tapi siapa tau sekarang bibi ada dendam pribadi sama kami.
"Ya Alloh, kok gini amat non ngomongnya.
" He... he.... he.... Maaf bi canda, ucap kinayah sambil tertawa kemudian berlalu pergi menyusul kakaknya yang sudah terlebih dahulu melangkah pergi meninggalkan tempat yang tadi di dudukinya.
Mereka berdua pun saling tatap setelah mereka sudah sampai di tempat yang di maksud bi inem.
__ADS_1
"Papi..?
" Assalamu'alaikum nak.
"Wa, alaikum salam pi.
" Kok papi pulang tanpa memberi tahu kami lalu di mana mami? Tanya aditya dan kinayah secara bersamaan.
"Maaf kak mami kalian masih di sana.
" Lalu ada urusan apa papi datang ke mari.
"Duduklah terlebih dahulu nak, karena papi akan menjelaskan sesuatu yang sangat penting kepada kalian berdua.
Mendengar perintah tuan bambang ke dua anaknya pun menurut saja, kini mereka sudah duduk dengan saling berhadapan.
" apa yang kalian lakukan dengan ruangan tersebut?
"Maaf pi, tetapi kami hanya penasaran saja dengan ruangan tersebut.
" Lalu apa yang kalian lihat?
"Ada banyak hal yang sungguh di luar pikiran dan akal sehat pi ucap aditya sambil menatap tuan bambang seakan menuntut penjelasan.
" Maafkan papi nak jika selama ini masih banyak yang papi rahasiakan kepada kalian berdua.
"Lalu apa sekarang kami sudah bisa tau pi?
" Kau mau tau tentang apa nak?
"Tentang semuanya termasuk foto keluarga yang ada di ruangan tersebut.
" Dan juga tentang satria pi, sambung kinayah yang tiba tiba membuat aditya menoleh ke adiknya dengan tatapan penuh tanya.
__ADS_1
"Iya kak, jadi ada sesuatu yang aku dapatkan dengan nama satria, jelas kinayah kepada aditya.
" Baiklah, tolong suruh bibi bikin minum dulu untuk kita sebelum memulai percakapan kita karena aku juga tidak mempunyai waktu lama karena harus segera terbang ke negara di mana moms kalian sendirian.