NIKMAT MEMBAWA PETAKA

NIKMAT MEMBAWA PETAKA
BAB 71


__ADS_3

BAB 71


Aditya yang tengah sibuk mencari di mana arah yang bisa di raba agar bisa mendapatkan penerangan di ruangan tersebut sangat panik karena teriakan kinayah.


" Dek kamu kenapa?


"Aku takut kak, entah apa yang aku sentuh begitu asing rasanya.


" Sabar sebentar ya, kakak masih mencoba mencari di mana saklar lampu tersebut.


"Tapi jangan lama lama kak, aku entah mengapa aku juga sangat takut berada di tempat gelap seperti ini.


" Sabar, ini kayaknya.


Dengan mengandalkan sebelah tangannya aditya berusaha menggapai dan memencet saklar tersebut sehingga ruangan itu seketika terang benderang.


Kinayah segera menoleh di tempat yang sempat tersentuh olehnya, dan alangkah kagetnya karena sesuatu yang di sentuh oleh kinayah adalah sebuah patung yang di bagian wajahnya di tempeli oleh sebuah foto wajah seseorang yang sangat familiar baginya .


"Kak coba lihat ini.


" Itu kan foto om....?


"Siapa kak?

__ADS_1


" Tunggu nay, ini aku tau orangnya tetapi kamu mungkin sudah lupa karena kamu saat itu masih sangat terlalu kecil, tapi foto satu keluarga ini benar benar aku tidak tau bahkan aku belum pernah melihatnya sama sekali.


"Huuu....., makin banyak teka teki yang harus kita ungkap kak.


" Benar sekali dek, aku tidak pernah menyanka jika papi kita yang terlihat sangat tenang ternyata banyak menyimpan rahasia, ucap aditya sambil berjalan hingga langkah aditya seketika berhenti karena matanya tanpa sengaja melihat lima foto berderet tetapi tiga di antaranya sudah di silang dan kebetulan sekali jika tiga orang tersebut sudah di nyatakan meninggal secara tragis karena di akibatkan oleh pembantaian yang sampai sekarang pelakunya belum bisa di temukan dan mereka semua tak lain adalah sahabat papi.


"Astaga , kak lihat itu foto foto itu bukannya sahabat papi.


" Iya dek dan tiga di antaranya sudah di nyatakan meninggal secara tragis.


"apa pelakunya adalah papi kak?


" Uuusssttt..., papi bukan orang seperti dek.


"Tapi kak, kenapa semua ini ada di ruangan ini?


"Kak, coba bayangkan seandainya papi hanya ingin mengenang sahabatnya lalu memprediksi tentang siapa yang sudah pergi untuk selamanya atau siapa lagi yang hidup tentu foto papi juga ada di barisan ini kak, dan satu lagi kak, lihat ke arah sudut ruangan tersebut ada foto papi bersama pemilik foto keluarga yang ada di sana mereka hanya berdua dengan sangat dekat bahkan mereka saling berpelukan tetapi pemilik foto keluarga itu pun tidak ada di sana sedangkan dia juga sudah meninggal.


"Ayo kita cari sesuatu yang bisa memberi kita petunjuk dek.


" Ayo kak, kakak periksa bagian di sana aku di sini.


"apa kamu yakin?

__ADS_1


" Kenapa?


"Maksud kak aditya apa kamu tidak akan merasakan takut.


" Tidak kak, untuk saat ini rasa penasaran ku mengalahkan rasa takutku.


"He... he... he..., dasar ratu kepo.


" Tapi benar benar membangkitkan jiwa kekepoanku kak.


Setelah itu mereka pun berpisah meski masih satu ruangan tetapi banyak rak buku dan lemari yang menjadi penghalang di antara mereka berdua.


Tak lama setelah mereka mengacak acak semua yang ada di sana tiba tiba mata aditya terbuka lebar ketika membaca sebuah berkas salah satu perusahaan yang sekarang di kelola papinya karena nama di dalam berkas tersebut bukanlah atas nama bambang kusama Wijaya melainkan baskoro kusuma Wijaya.


"Apakah papi memiliki saudara? Tanya aditya di dalam hati, lalu kembali membuka berkas yang lainnya dan dirinya pun kembali membuka mulut lalu menutupnya dengan satu tangan karena ke kagetan yang makin luar biasa karena ternyata rumah semua aset ke dua orang tuanya ternyata atas nama baskoro semua bahkan ada sebuah foto kopy surat wasiat atas nama satria putra wijaya, setelah aditya membaca secara seksama semua berkas tersebut dirinya pun menoleh menatap sebuah foto keluarga memperhatikan kembali sosok anak yang berumur sekitar enam tahun tersebut tiba tiba aditya teringat dengan wajah seseorang terlintas di pikirannya.


"Sungguh mirip, ucapnya lirih.


Tetapi belum sempat aditya melanjutkan ucapannya tiba tiba saja suara kinayah kembali terdengar menjerit sehingga membuat aditya seketika berlari ke arah adik perempuannya hingga dirinya kini sudah berada tepat di belakang kinayah berdiri mematung karena dirinya juga kaget dengan apa yang di temukan kinayah di sebuah lemari paling belakang.


Aditya pun segera menarik kinayah ke dalam pelukannya dan berusaha menenangkan adiknya dan membawanya keluar dari ruangan tersebut dengan pikiran yang berkecamuk dan langkah yang tertatih Ratih.


"Hari ini kita sudahi dulu kegiatan kita , besok biar kakak yang melanjutkannya.

__ADS_1


" Tapi aku takut kak.


"Nanti kamu tidurnya di temani bibi inem ya.


__ADS_2