NIKMAT MEMBAWA PETAKA

NIKMAT MEMBAWA PETAKA
BAB 16


__ADS_3

BAB 16


Tepat jam sembilang malam pesta yang di adakan dengan sederhana saja di rumah tuan bambang sudah selesai, semua tamu sudah pulang ke rumah masing masing begitu juga dengan pak aksan.


Kini tinggal aku dan tuan bambang yang sedang duduk di sebuah sofa mewah milik tuan bambang.


Sedangkan kinayah yang sudah terlebih dahulu ke kamarnya sudah tidak lagi keluar.


Tiba tiba tuan bambang memulai berbicara memecahkan kesunyian di antara kami.


"apa kamu sudah makan... Tanya tuan bambang yang sudah sah menjadi bapak mertuaku.


Dengan malu malu aku menjawab pertanyaannya.


" Belum tuan.... Tapi aku.... Ucapanku kembali menggantung di udara karena tuan bambang sudah berdiri dan mengajakku makan ingin rasanya aku menolak ajakannya tetapi tuan bambang sangat tidak suka di tolak, akhirnya aku memaksakan diri makan walau hanya sedikit meski memang sedari tadi rasa lapar terus melilit kampung tengahku.


"Mengapa kamu makan sedikit saja.... Tanya tuan bambang sambil memandangiku.


" Aku sudah kenyang tuan... Jawabku.


"Kamu jangan malu, jika lapar hubungi bibi inem, jangan malu anggap rumah sendiri dan satu lagi kamu jangan lagi memanggilku dengan sebutan tuan, karena mulai sekarang kamu adalah menantuku berarti kamu juga anakku, jadi kamu harus memanggil aku dengan sebutan papi dan mulai besok kamu harus berhenti kerja sebagai kuli bangunan di proyek milikku tetapi kamu harus membantuku di perusahaan... Ucapnya panjang lebar.

__ADS_1


"Maaf tuan tapi aku tidak tamat sekolah bagaimana aku akan membantu tuan di perusahaan sebesar itu, maaf bukan aku menolak tetapi aku tidak mau tuan mengalami kerugian besar hanya karena kebodohanku... Jawabku dengan berbohong.


" Tapi kamu sudah berkeluarga , sudah memiliki istri, jika kamu tetap dengan pekerjaan kamu maka pendapatan kamu tidak akan cukup untuk biaya hidup kalian berdua.


"Maaf tuan.... Tetapi saya benar benar tidak ingin menerima semua pemberian tuan, biarkan aku menjalani hidup dengan caraku sendiri dan saya juga akan meminta ijin kepada tuan untuk memboyong kinayah pindah ke rumah kontrakan milikku.


Tampak tuan bambang berhenti mengunyah untuk sejenak.... Lalu kembali mengunyah makanan yang sudah terlanjur di suapnya tanpa bicara lagi.


Aku pun memilih diam, tetapi di dalam benakku aku berpikir jika tuan bambang tidak akan pernah sudi membiarkan putrinya tinggal di sebuah rumah kost yang sangat jauh dari kata mewah.


Sampai pada akhirnya tuan bambang kembali berbicara sambil tersenyum setelah selesai makan.


"Sebaiknya kamu ke kamar kinayah ini sudah larut malam , soal kamu dan kinayah mau pindah kita bicarakan di lain waktu saja... Istirahatlah, ucapnya sambil memanggil bibi inem untuk menunjukkan di mana kamar kinayah.


"Iya tuan .... Ucap perempuan paruh baya tersebut.


" Antar Andra ke kamar kinayah... Perintahnya.


"Baik tuan.


" Mari tuan muda..... Ajak bi inem sambil berjalan di depanku.

__ADS_1


Setelah berjalan melewati anak tangga kini kami sudah sampai di depan kamar kinayah.


"Nah....ini tuan muda kamar non kinayah, ucap bi inem.


" Bi... Panggil saya Andra saja, jangan pakai embel embel tuan muda, aku bukan orang kaya yang layak mendapat panggilan seperti itu, ucapku.


"Tapi tuan muda bibi takut di marahi...


" Tiada siapa yang akan memarahi bibi, karena aku bukan siapa siapa di rumah ini.... Ucapku sambil tersenyum.


"Baiklah nak Andra.


" Nah itu lebih bagus.. Bi.


"Kalau begitu bibi permisi dulu, mau lanjutin kerjaan bibi.


" Silahkan bi...


Setelah kepergian bibi aku mencoba memberanikan untuk mengetuk pintu kamar kinayah, tetapi tiba tiba nyonya amalia datang lalu mengajakku duduk di sebuah balkon di lantai dua dengan sebuah kertas di tangannya.


"Aku ingin bicara sama kamu....ikut denganku, ucapnya tanpa senyum.

__ADS_1


Aku pun mengikuti wanita paruh baya yang tiada lain adalah ibu mertuaku sampai ke balkon lantai dua.


__ADS_2