NIKMAT MEMBAWA PETAKA

NIKMAT MEMBAWA PETAKA
BAB 13


__ADS_3

BAB 13


Setelah beberapa hari berlalu, aku memberanikan diri menemui tuan bambang kusuma Wijaya di rumahnya dengan menyewa sebuah taksi online aku menuju rumahnya dengan niat akan menolak permintaannya ,tetapi berapa kagetnya aku setelah sampai di sana karena sudah ada banyak tamu yang berdatangan, sempat terbersik di hatiku untuk mengurungkan niatku untuk berbicara, karena mungkin tuan bambang Wijaya ada acara penting sehingga aku berniat pulang saja tetapi baru aku memutar badan tiba tiba datanglah seorang laki laki paruh baya memegang pundakku sambil bertanya.


"Mau kemana anak muda....


Mendengar pertanyaan itu aku pun menoleh karena merasa suara itu sungguh tidak asing di telingaku dan ternyata pak aksan sudah berdiri sambil tersenyum kepadaku .


" Pak aksan.... Tanyaku heran.


"Iya... Aku kenapa kaget..? Tanya beliau.


" Tuan bambang ada acara ya.... Tanyaku yang memang tidak tau apa apa.


"Lha kok nanya aku toh..... Balas beliau sambil tertawa.


Jawaban pak aksan membuat aku semakin bingung di tambah lagi kedatangan seorang wanita jadi jadian mendekati diriku bersama pak aksan dengan gerakan melambai lambai lalu menyapa aku dengan sok akrab.

__ADS_1


" Hai ganteng.... lambat amat sih datangnya bikin kita cape menunggu deh... Ucapnya sambil melenggokkan badannya ke kiri dan ke kanan persis seperti cacing kepanasan.


Kebingungan ku semakin bertambah sehingga membuat aku berbalik ke pak aksan dan berbisik di telinganya.


"Pak.... Memangnya ada apa ya.... Kok mereka harus menunggu aku... Tanyaku.


Pak aksan lalu berbisik kembali ke telingaku.


" Sungguh kamu tidak tau... Tanya beliau.


Tetapi belum sempat aku mendengar apa yang hendak di katakan pak aksan aku sudah terlebih dahulu di tarik oleh wanita jadi jadian yang dari tadi terus menatap aku dengan penuh rasa yang entah rasa apa itu, yang pasti membuat hatiku berasa seperti nano nano.


Belum sempat terjawab rasa bingung yang terus berputar putar di dalam otakku ini , tiba tiba datang seseorang yang mengucapkan selamat kepadaku sambil memuji ketampanan ku.


"Aduh selamat ya..... Kalian memang pasangan yang serasi yang satu cantik yang satunya lagi tampan, ucapnya yang makin membuat hatiku semakin berdebar debar.


Ingin rasanya aku segera bertanya kepada dua wanita jadi jadian yang sekarang dalam posisi mengapit ku, tetapi mulutku seakan tidak sudi berbicara dengan mereka, hingga sampailah kami di sebuah kamar yang sangat luas dan mewah lalu kedua wanita jadi jadian segera mendudukkan ku di sebuah kursi yang berhadapan dengan cermin besar.

__ADS_1


"Duduklah tampan hari ini akan aku keluarkan kharismamu menjadi raja sehari yang paling tampan sedunia, ucapnya yang membuat aku terpaksa mendongak dan ku tatap mereka satu persatu lalu aku memaksakan diri bertanya.


" Maksud kamu apa....? Tanyaku dengan tatapan tajam.


"Aduuuh.... Gemes deh akiyu..... Jawab mereka dengan gaya khas tulang lunak.


" Serius ya... Aku bertanya sama kalian, ucapku dengan tegas sambil berdiri dari tempat dudukku.


Mereka pun seketika saling tatap dengan raut wajah penuh tanya.


"Bener tampan kamu tidak tau .... Tapi masa sih.... Tanya keduanya sambil kembali menatapku.


" Saya berani sumpah... Atas ketidak tahuannku dengan semua hal yang terjadi di rumah ini, ucapku dengan lantang.


Tiba tiba pintu kamar terdengar di buka dan tampaklah tuan bambang kusuma wijaya berjalan menghampiriku lalu mengusap ke dua pundakku sambil tersenyum penuh arti kepadaku, setelah posisinya sudah berdiri berdampingan denganku, beliau pun memutar tubuhnya sehingga posisi kami sekarang sudah berhadapan dengan kedua tangan tuan bambang kusuma wijaya sudah memegang kedua pundakku lalu menatapku sejenak kemudian dirinya menunduk.


Melihat situasi dan keadaan bahkan kesenduan dari tatapan tuan bambang kusuma wijaya saat menatap wajahku, membuat aku sangat berani menyimpulkan jika tuan bambang benar benar nekat mengambil keputusan sepihak, yang membuat lututku bergetar dengan tetesan air bening jatuh di kelopak mataku, aku terduduk lemas tidak perduli akan adanya tuan bambang di depanku, sungguh kedua kakiku sudah tidak mampu menopang berat badanku lagi.

__ADS_1


__ADS_2