
BAB 17
Setelah sampai di sana dirinya langsung duduk di sebuah sofa dengan gayanya yang sangat angkuh, lalu melempar kertas kearahku di mana posisiku saat itu masih dalam keadaan berdiri karena nyonya amalia sama sekali tidak menawari ku duduk meski hanya basa basi.
"Tanda tangani kertas itu....ucapnya.
" Kertas apa ini nyonya.... Tanyaku
"apa selain kamu hanya seorang kuli bangunan kamu juga merupakan seorang buta huruf.. Ucapnya kembali.
Dengan sangat berat hati aku pun menarik lembaran kertas itu lalu membacanya, seketika mataku melebar setelah aku membaca kalimat demi kalimat yang tertera di atas kertas putih tersebut, lalu aku kembali bertanya kepada nyonya amalia.
"apa maksud dari semua ini nyonya....? Tanyaku.
"Kamu kan sudah baca.......berarti kamu sudah pasti tau dong....apa maksud dari isi kertas tersebut, jawabnya.
" Tetapi mengapa tidak sedari tadi nyonya surat ini di tampakkan di depan penghulu.
"Kamu kira aku bodoh...... Itu surat kontrak pernikahan di mana mana tidak ada yang pernah mengumumkan hal seperti itu di depan umum.
" Maaf nyonya, aku tidak akan menandatangani surat perjanjian ini, aku tidak akan pernah mempermainkan pernikahan.
__ADS_1
"apa kamu kira akan mendapatkan harta kami yang lebih besar dari yang aku tawarkan...
" Andai aku di beri pilihan nyonya, maka aku memang tidak akan pernah mau menikahi putri orang kaya seperti nyonya, karena menikah dengan gadis miskin akan lebih bahagia buat saya meski hidup dengan pas pasan tetapi hati tentram, di bandingkan menikahi orang kaya tetapi tubuh berselimut kan hinaan.
"Ala....nggak usah sok suci di depanku, jika bukan karena harta mana mau kamu menikahi putriku.
" Astagfirullah.... Hal adzim, terima kasih nyonya atas segala fitnah yang nyonya berikan, aku tidak akan pernah bertanda tangan di atas kertas ini jika masih ada tertera sebuah imbalan yang akan aku Terima kelak, jadi gantilah isinya yang tidak sama sekali mendapatkan imbalan.... Insya allah besok akan ku tandatangani, ucapku sambil berlalu dari hadapan nyonya amalia.
Dengan perasaan yang sangat sedih aku melangkah menuju di mana kamar kinayah berada,setelah sampai di sana aku mencoba memberanikan diri mengetuk pintu kamar kinayah.
"Tik....tok....tok... Ku ketuk sekali tidak ada jawaban.
" Tok... Tok... Tok... Dua kali masih tidak ada jawaban.
Tidak ingin membuat keributan, akhirnya aku memilih tidur di sebuah sofa yang ada di balkon tempat aku dan nyonya amalia tadi berbicara.
Perlahan aku membaringkan tubuhku di sofa dengan berselimut sebuah jas yang aku pakai sejak tadi siang.
Aku mencoba memejamkan mataku agar aku cepat terlelap tetapi kata kata nyonya amalia terus terngiang di telingaku sehingga membuat aku tidak bisa terlelap sepanjang malam.
Sayup sayup terdengar suara adzan di mesjid.
__ADS_1
"Ah.... Sudah subuh, kesahku sambil berusaha bangun dari tempat aku baring, lalu berjalan ke bawah di dapur belakang mengambil air wudhu lalu kembali ke balkon atas untuk melaksanakan sholat subuh, setelah selesai aku kembali berjalan turun ke lantai bawah lalu membuka pintu dan berjalan mendekati pagar besi yang menjulang tinggi, di sana ada seseorang yang sedang menjaga yang tiada lain adalah satpam di rumah ini.
" Tuan muda..... Mau kemana sepagi ini, tanya pak satpam .
"Aku mau berangkat kerja pak, jawabku.
" Tetapi ini masih sangat pagi tuan...
"Maaf Pak, namaku Andra bukan tuan muda dan aku hanya seorang kuli bangunan jadi sangat tidak pantas jika bapak memanggil saya dengan sebutan tuan muda, ucapku sambil tersenyum.
" Tapi tuan.
"Sttt.....lebih enak manggil aku dengan nak Andra itu bermakna penuh dengan kasih sayang.
" Baik nak Andra, ucapnya.
"Tuh... Lebih enak kan.
" Baiklah pak...aku permisi dulu, takut telat soalnya aku masih mau mampir ngambil baju ganti di rumah, nggak enak pakai kemeja dan jas takut di kira aku ini seorang ceo, ucapku dengan penuh senyum.
"Nak Andra bisa aja.
__ADS_1
" Assalamu alaikum pak...
"Wa alaikum salam. Ucapnya.