
" Lepasss!!!!. " Teriak Lucy saat Sandy menarik paksa tangannya untuk ikut keluar dari ruangan itu.
" Lebih baik lo pulang, sebelum lo liat adegan yang bisa membuat lo gila nantinya. "
" Dasar asongan kecil brengsek!!. " Maki lucy
" Sudahlah, nyatanya lo emang sudah kalah sama yang lo bilang asongan kecil itu . " Dengan nada puas penuh mengejek
" Sialan, awas aja lo !!. " Lucy menunjuk Sandy. Namun Sandy mengangkat bahunya acuh.
" Ooh iya,,, dan gue yakin lo belum pernah di cium Rafa sedalam itu . " Ucap Sandy yang sudah pasti masih di dengar Lucy Hentakkan kaki kesal mengiringi kepergian Lucy
***
Dan suasana canggung kini berada di dalam ruangan Rafa, Untuk seperkian menit mereka masih mengatur detak jantung masing masing. Intan masih menunduk diam di kursi , sedangkan Rafa masih berdiri tegak di hadapan Intan
" Maaf, mari kita lupakan kejadian tadi . " Ucap Rafa pelan
" Deg... " Ucapan Rafa makin membuat kejutan baru di jantung nya.
" Tes... " Seketika air mata menetes begitu saja, ucapan maaf barusan kenapa begitu terasa sakit bagi Intan. Ya mungkin ini kesalahan bagi Rafa jadi kata itu memang sudah seharusnya terucap, tapi bagi Intan??? , ciuman itu adalah ungkapan perasaan nya yang tanpa sengaja ia tunjukkan.
" Sadar Intan, sadar... " Ucap Intan mencoba menyadarkan hatinya.
" Ga apa apa om, ini memang kesalahan . " Jawab Intan dengan sedikit suara serak seolah menahan tangis. Ia segera berdiri dan berjalan keluar dengan sedikit menyenggol bahu Rafa yang ada di hadapan nya.
" Tidak Intan, bukan begitu maksud saya . " Rafa memegang lengan Intan sebelum pintu itu terbuka.
" Ga apa apa om. " Intan berusaha melepaskan lengan Rafa.
" Tunggu sebentar saya ingin menjelaskan. " Namu cekalan Rafa berhasil di lepaskan Intan, dengan segera Intan keluar dan berjalan dengan cepat melewati meja Sandy.
" Tunggu Intan . " Rafa berusaha mengejar Intan namun langkah kecil Intan jauh lebih cepat dari nya.
" Bro,, bro,, sudah bro, tahan dulu banyak karyawan lo nanti . " Sandy mencoba mengingatkan sahabatnya itu agar tak menjadi bahan gosip karyawan nya sendiri.
Rafa pun berhenti, ia pun berbalik berjalan menuju ruangan nya tanpa menghiraukan sahabatnya itu.
__ADS_1
" Braakkk... " Bunyi barang di banting yang entah sengaja atau tidak , namun Sandy tak berani masuk, ia membiarkan bos nya itu sendiri dulu, bahkan dia menghendle semua berkas berkas yang masuk. Tak membiarkan siapa pun masuk ke dalam ruangan Rafa.
Ia tak tau apa yang di rasakan sahabatnya sekarang, namun dalam pikirannya Rafa mempunyai ketertarikan tersendiri pada Intan, Jika tidak, mana mau dia melakukan hal itu bahkan dalam terpaksa sekalipun. Terbersit doa yang tulus Sandy pada sahabat nya itu agar bisa merasakan cinta yang sesungguhnya.
" Sebenarnya perasaan ini, perasaan apa!! , mengapa sampai seumur ini rasa ini baru saya rasakan, Intan maafkan saya . " Ada sedikit rasa penyesalan, bukan karena ciuman itu tapi karena ucapan maaf yang ia ucapakan, ia tak ingin Intan merasa di rendahkan oleh nya.
" Aaah.... bodoh bodoh bodoh... "
***
Tatapan nya kosong memandangi mobil lalu lalang yang tiada hentinya. Entah sudah berapa lama ia duduk di halte bus ini, matahari sudah hampir tenggelam namun ia masih enggan untuk beranjak.
Pikiran gadis 18 tahun menjadi kacau, enggan sekali rasanya kaki ini melangkah. Apa yang Rafa prasangka kan benar adanya karena saat ini Intan merasa di rendah kan, ia tak marah pada Rafa, ia hanya marah pada dirinya sendiri yang begitu rendahnya mau menerima ciuman dari seseorang yang tak memiliki perasaan pada nya.
" Tin... tin... " Klakson mobil mewah berhenti tepat di hadapan Intan, namun Intan tak bereaksi apa pun.
Dan pemilik mobil itupun akhirnya turun, berjalan menuju di mana Intan duduk.
" Intan sedang apa di sini ?. "
Intan masih tak bereaksi apapun, karena otaknya sedang melanglang buana seperti lepas dari kepalanya.
Sepertinya alam mendukung akan suasana hati Intan yang sedang galau, rintik rintik gerimis mulai membasahi bumi, andai perasaannya bisa seperti debu yang tersiram air hujan bisa bersih tanpa tersisa, ia akan dengan rela berdiri di bawah rintikan hujan agar perasaan nya itu bisa hilang. Tapi Ia bisa apa jika Tuhan yang Maha Sempurna telah menciptakan perasaan manusia sebagai pelengkap jiwa, Dia hanya perlu menata perasaan itu agar tak membuatnya kecewa terlalu dalam.
" Aaakkhh... " Intan berteriak saat mendegar kilatan petir yang menyambar dengan suara yang begitu kencang.
Dan lelaki di sebelah Intan reflek memeluk gadis galau itu, tak ada penolak kan dari si punya raga, karena rasa takut dan terkejut hingga Intan tak menolak. Sekian detik kemudian Intan baru tersadar dengan tangan kekar yang memeluknya, ia pun segera melepaskannya dan memandang siapa lelaki yang memeluknya itu.
" Sejak kapan di sini ? . "
" Kira kira sudah setengah jam berlalu !. "
" Masa ???. "
" Iya, menemani sangat bidadari melamun, dan hanya petir yang bisa menyadarkan nya ."
Intan menjadi malu sendiri, karena sedari tadi ia tak menyadari ada seseorang yang duduk di samping nya.
__ADS_1
" Ayo pulang . "
Tanpa penolakan Intan menerima ajakan itu, karena tubuhnya kini sudah merasakan kedinginan.
Lelaki itu menatap Intan dengan lembut . Intan tertidur dengan pulas di samping lelaki itu
***
Rafa mondar mandir di halaman rumah nya setelah mendapat kabar dari bu Ida kalau Intan belum juga pulang kerumah semenjak ia pamit untuk mengantarkan makan siang.
Bolak balik ia menelfon ponsel Intan namun sepertinya ponsel Intan mati karena sejak tadi tak tersambung. Semakin besar rasa penyesalan Rafa dan rasa khawatir yang begitu teramat pada Intan. Jika Rafa peka perasaan itu sudah termasuk bahwa dirinya memiliki perasaan lebih pada gadis itu.
" Intan kamu di mana ???. "
Bahkan Rafa menyuruh Sandy mencari Intan terserah di manapun. Bolak balik ia melihat ke pekarangan rumah Intan melihat Intan sudah pulang atau belum. Bahkan Rafa sediri masih menggunakan baju kerja nya.
Hujan semakin deras namun Intan belum muncul juga, ia khawatir kalau Intan bertemu dengan orang jahat. Kini Rafa sudah berada di rumah bu Ida, menemani wanita paruh baya yang terlihat sangat khawatir.
" Nak Rafa, Intan kemana ya ?. " Tanya bu Ida
" Tenang bu, saya sudah menyuruh beberapa orang untuk mencari Intan. "
" Ya Allah Intan, semoga tidak terjadi apa apa sama kamu nak . "
" Amin, kita doakan saja bu . "
Rafa memerintahkan anak buah nya untuk mengecek CCTV sepanjang perjalanan dari kantor hingga rumah Intan, tentu saja itu bisa di lakukan dengan mudah untuk seorang Rafa.
Ada satu rekaman CCTV yang di kirimkan salah satu anak buah nya. Rekaman itu berasal dari salah satu halte bus yang tak jauh dari kantor nya.
" Awas kau nanti. " Rafa mengepal kan tangannya.
-
-
tbc
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak ya kaka kaka semua , agar lebih semangat lagi nulisnya 🥰🥰