Om Om Jutek Tetanggaku

Om Om Jutek Tetanggaku
Sulit terucap


__ADS_3

" Ini lah yang gue mau dari dulu, kenapa lo sulit sekali gue dapetin, bahkan gue rela menjadi teman lo agar rasa itu bisa tumbuh, tapi nyatanya lo sama sekali ga punya perasaan apa apa sama gue. " Irfan mengelus pipi Intan yang sedang tertidur pulas di mobil nya, dan bahkan dengan kurang ajarnya Irfan mengecup sekilas bibi Intan.


" Manis, mungkin suatu saat nanti gue akan ngerasain semua rasa manis yang ada di dalam tubuh lo, tapi bukan saat ini, kita tunggu saja nanti. "


Irfan pun melajukan kembali mobil nya yang sedari tadi berhenti di pinggir jalan menuju rumah Intan. Bukan tanpa sebab, Irfan merasa sedari tadi ada yang mengikuti mobilnya, saat mobilnya berhenti mobil yang mengikutinya pun ikut berhenti walau berjarak jauh tapi Irfan masih melihat mobil itu.


Rafa dengan tak sabaran menunggu kedatangan Intan , ia yang mendapat kabar bahwa mobil yang membawa Intan sudah bejalan menuju rumah.


Sebuah mobil mewah memasuki pekarangan rumah Intan. Rafa dan bu Ida segera berdiri untuk melihat siapa yang datang.


" Nak Irfan ?. " bu Ida sedikit terkejut melihat Irfan turun dari mobil itu.


Dengan segera Rafa mendekati mobil dan membuka pintu melihat Intan yang sedang tertidur.


" Biar saya yang angkat !. ' Ucap Irfan yang kesal dengan kehadiran Rafa.


" Diam kau . " Dengan perlahan Rafa mengangkat Intan yang tertidur pulas, bahkan saat Rafa menggendong nya ia tak merasa terganggu sedikit pun.


" Ayo nak, taro saja di kamar. " bu Ida mengikuti Rafa


Rafa merebahkan Intan dengan perlahan badan nya terasa panas.


" Bu sepertinya Intan demam. "


" Ya Allah Intan. " Ibu mendekati Intan dan memegang kening nya yang memang terasa panas.


" Biar saya panggil dokter bu . " Rafa keluar dari kamar Intan untuk menelpon dokter


" Untuk apa anda masih di sini ?. " Rafa masih melihat Irfan berada di teras bu Ida.


" Memang nya kenapa ?, anda bukan pemilik rumah . " Jawab Irfan tak mau kalah


" Apa yang sudah anda lakukan pada Intan ?. "


" Kenapa saya harus bilang pada anda, memang nya anda siapa nya Intan ?. "


" Jangan macam macam pada Intan . " Rafa berbicara dengan tatapan membunuh pada Irfan.


" Anda mengancam saya.. hahaha.. anda pikir saya takut??, Tidak sama sekali, dan anda tidak berhak mengatur Saya juga Intan. " Jawab Irfan yang sama sekali tak takut dengan Rafa.


" Kau.... " Ucapan Rafa terhenti saat di belakangnya muncul bu Ida


"Nak Irfan terimakasih sudah mengantarkan Intan . "


" Sama sama bu, tidak sengaja tadi saya bertemu Intan di halte bus . "


" Ooh gitu,,, ya sudah kalau begitu terimakasih. "


" Baik bu, saya permisi, salam untuk Intan. " Irfan berpamitan dengan mencium tangan bu Ida.


Bu Ida pun segera masuk ke dalam, namun Rafa tetap berdiri di teras, menunggu dokter datang.


" Ooh Iya, lebih baik anda urus kekasih anda itu, dari pada anda sibuk dengan urusan orang. " Sindir Irfan sebelum masuk ke dalam mobilnya.


" Apa maksud anda ?. "

__ADS_1


" Lucy, bukan kah dia kekasih anda ?. " Setelah mengucapkan itu Irfan segera menjalankan mobil nya keluar dari pekarangan rumah Intan.


Dan Rafa masih terdiam mendengar ucapan dari Irfan tadi .


" Dari mana dia tahu tentang Lucy , siapa sebenarnya dia ??. " Pertanyaan di hati Rafa, mungkin setelah ini ia akan mencari tau tentang anak tengil itu.


Dokter pun datang dan segera memeriksa Intan,


" Ini hanya demam biasa, mungkin adik ini belum makan dan terkena udara dingin, saya tuliskan resep ya, setelah adik ini bangun bisa langsung di minum. " ucap Dokter


" Baik dok terimakasih . "


" Sama sama bu, kalau begitu saya permisi . "


" Silahkan Dok. " Rafa mengantar dokter itu sampai keluar rumah, lalu masuk kembali ke kamar Intan.


" Bu, saya mau menebus obat nya dulu ya sebentar. "


" Maaf loh nak Rafa ibu jadi merepotkan. "


" Tidak apa apa bu. " Rafa segera keluar untuk menebus obat.


Setengah jam kemudian Rafa sudah kembali dari membeli obat, ia pun menyerahkan obat itu pada bu Ida.


" Nak Rafa sebaiknya pulang saja istirahat , kelihatannya nak Rafa sudah lelah sekali, terimakasih banyak atas bantuan nya. "


" sama sama bu, bagaimana ke adaan Intan sekarang?. "


"Tadi sudah sempat bangun dan berganti pakaian , ini baru mau di suruh minum obat . "


" Iya nak Rafa ... "


Sebenarnya Rafa ingin sekali menengok Intan, namun Ia sadar ini sudah malam dan ia tak mau Intan menjadi terganggu dengan kehadirannya, mengingat kejadian siang tadi, yang terpenting Intan sudah pulang ke rumah dengan keadaan baik baik saja.


***


Pagi pun menjelang, pagi ini Rafa bangun dengan keadaan tak bersemangat semalaman ia tak bisa tidur karena memikirkan Intan.


Hari ini dan beberapa hari kedepan Rafa akan sarapan juga makan malam di rumah bu Ida. Setelah berpakaian rapih Rafa menuju rumah bu Ida, Ia akan mengambil kesempatan ini untuk menjelaskan kejadian yang kemarin.


" Masuk nak Rafa. " Ibu Ida melihat Rafa yang keluar dari mobil.


" Iya bu. " Rafa duduk seperti biasa di meja makan, mata nya sibuk mencari Intan. Dan kamar Intan yang masih tertutup rapat.


" Silahkan nak, sarapan nya . "


" Terimakasih bu , Oh iya Intan sudah sehat bu ?. "


" Sudah nak, ya walaupun tak mau minum obat. . "


" Pagi ini sudah minum obat ?. "


" Belum, ini baru mau ibu suruh sarapan dulu . "


Bu Ida berjalan menuju kamar Intan.

__ADS_1


" Sudah ayo, sarapan di luar saja, jangan di kamar terus. "


Bu Ida menuntun Intan yang terlihat malas untuk keluar kamar,


" Duduk sini sekalian temenin nak Rafa sarapan, nak Rafa sudah mau ibu repotkan kemarin . " Bu Ida mendudukkan Intan di hadapan Rafa.


Intan pun duduk namun tak sedikitpun ia melihat ke arah Rafa. Berbeda dengan Rafa yang terus memandangi wajah polos yang terlihat pucat itu tanpa kata.


" Ini bubur nya, kamu makan yang lembut lembut saja dulu . "


" Bu aku gak mau bubur... " rengek Intan


" Sudah jangan protes, harus makan yang lembut dulu, biar gampang di cernanya . "


Bu Ida pun berpamitan pada Rafa untuk ke dapur, karena bu Ida sedang sibuk memasak.


Rafa menyuap makanannya dengan perlahan, namun Intan belum sekali pun memakan makanan nya, dia menjadi tak berselera.


" Makan lah, jangan hanya di aduk saja. "


Intan diam saja tak menanggapi ucapan Rafa.


" Apa kamu tidak suka bubur ? , ternyata banyak yang kamu tidak suka ya ?. "


Masih tak ada tanggapan dari Intan.


" Soal kemarin saya..... "


" Stop jangan bahas itu . " Intan segera memotong ucapan Rafa,


" Tunggu, saya mohon beri kesempatan saya menjelaskan. " Rafa memegang tangan Intan karena Intan ingin beranjak pergi


" Saya mohon jangan salah paham, saya sadar saya sudah bertindak kurang ajar sama kamu , Dan saya hanya.... "


" Hanya apa ?, hanya berpura-pura begitu ? , akting seperti pemain sinetron ?, orang kaya bisa nya hanya mempermainkan saja . "


" Tidak, tidak, kamu tidak paham. "


" Lalu kenapa ?. "


" Emmm. " Rafa bingung harus berkata apa, bisa di bilang Ia masih terlalu gengsi untuk mengatakan kalau dirinya memiliki perasaan lebih.


Intan ingin masuk ke kamar namun pegangan tangan Rafa belum terlepas. Walaupun pegangan hangat ini begitu membuatnya nyaman tapi ia tak ingin terlena dulu.


" Duduk dulu , selesaikan sarapan mu. " Ucap Rafa dingin. Sikap yang dulu kini tiba tiba datang kembali.


Seperti terhipnotis Intan menuruti ucapan Rafa, ia pun duduk kembali.


mereka kini duduk berhadapan dalam diam,


" Tolong bantu saya....!. "


-


-

__ADS_1


tbc


__ADS_2