
" Rafffaaa... " Ucap mamah Elen penuh tekanan.
Saat Rafa ingin berkata lagi tiba tiba saja tangan nya dipegang oleh Intan.
" Ka Rafa memang suka bercanda mah , bu . " Intan berbicara dengan senyum yang di paksakan.
Dan Rafa menatap Intan dengan tatapan yang dalam, ingin sekali ia mencium Intan saat ini juga agar semua orang tau kalau ia tak sedang bercanda, tapi akal sehatnya masih bisa bekerja saat ini.
" Kamu itu ada ada saja nak Rafa , ya sudah kita langsung makan saja, ibu sudah siap kan ! . "
" Saya kangen loh Da sama masakan kamu . "
" Ya sudah ayo langsung makan saja mba . " Seketika panggilan antara mamah Elen dan Bu Ida berubah , panggilan itu sama seperti panggilannya pada zaman Sma dulu .
Mereka kini tengah berkumpul di ruang makan.
" Ini loh pah yang waktu itu Intan bawa saat di rumah sakit , dan ternyata tebakan kita benar . " Mamah Elen menunjukkan satu piring lauk pada suaminya,yang mengingatkannya pada makanan yang sering ia makan dulu.
Dan pak Kuncoro hanya manggut manggut saja sambil tersenyum menyetujui.
Obrolan hangat hanya terjadi dengan 3 orang dewasa itu tapi tidak dengan Intan dan Rafa, mereka saling diam, Intan hanya menanggapi saja ketika ditanya.
Tak terasa waktu sudah malam, keluarga Rafa pun sudah pamit pulang, dan bu Ida sudah izin lebih dulu untuk beristirahat. Tetapi tidak dengan Rafa, ia masih berada di teras rumah Intan berdua dengan Intan walaupun sudah 10 menit tak ada satupun yang berbicara .
" Ka, istirahat lah, sepertinya kaka lelah sekali."
" Jangan memanggil saya kaka !. "
" Ka jangan seperti itu, sekarang kita kan.... "
" Tidak akan pernah jadi kakak adik ..!!!. " Ucap Rafa memotong kata kata Intan,penuh tekanan dengan tatapan tajam pada Intan.
Intan terdiam ia bingung harus apa.
" Apa kamu menolak saya ?. "
Intan menunduk terdiam, ia harus apa sekarang?,
" Kamu tidak menolak saya juga tidak menerima saya itu , itu membuat saya tidak mengerti !!!. " Rafa berdiri dari duduknya seperti memukul angin karena kesal
" Ka, sebaik nya tidak kita teruskan perasaan kita ini . " Intan berkata pelan sambil terus menunduk dengan suara yang sedikit bergetar.
Seketika Rafa langsung berpaling menatap Intan, ia pun duduk di hadapan Intan.
" Kenapa Intan ?. "
Intan masih diam.
" Kita bahkan belum memulai apapun tapi kamu sudah berani melarang perasaan kita untuk tumbuh , haahh. . seharusnya saya sadar , memiliki perasaan dengan anak yang masih labil ,plin plan dengan perasaan nya, berarti selama ini kamu hanya mempermainkan perasaan saya saja. " Rafa kembali berdiri ,
Intan masih menunduk sekarang sungguh dirinya tak kuat menahan air mata yang sedari tadi ingin menetes. Ingin membantah semua ucapan lelaki dewasa di hadapannya ini, dengan tuduhan yang tidak benar atas dirinya, tapi sungguh kata kata itu tak bisa ia ucapkan, tak ada keberanian untuk menyatakan kalau dirinya juga memiliki perasaan yang sama bahkan mungkin lebih besar dari perasaan lelaki itu pada dirinya.
" Baik lah, saya permisi . " Rafa pamit pulang dengan perasaan hancur, ia bahkan tak menengok sedikitpun ke arah Intan, Berjalan dengan gontai ingin rasanya ia berteriak meluapkan rasa kesal dan kecewa, dirinya baru merasakan cinta bersamaan dengan patah hati yang mendalam.
__ADS_1
Ya Rafa kini merasa di tolak, perasaan sakit yang tak pernah ia bayangkan sebelum nya, dengan tingkat percaya diri yang tinggi ia begitu berharap cintanya berbalas pada gadis belia itu, tapi nyatanya.... aaah... sudahlah...!!
Rafa membuka hendle pintunya, namun saat ia hendak menutup pintu ia melihat sosok yang membuatnya kecewa.
" Bruukk.. " Intan langsung memeluk Rafa dengan erat , mereka berdua masih dalam diam bahkan Rafa tak membalas pelukan dari Intan.
Intan pun melepaskan pelukannya matanya menatap netra milik Rafa yang jauh lebih tinggi dari nya, namun tangannya masih berada di sisi kanan dan kiri pinggang Rafa.
Rafa menatap Intan dengan datar sedangkan Intan menatap Rafa dengan kerinduan. Rafa segera membuang pandangannya tak ingin menatap mata cantik itu.
" Maass, , " Intan memanggil Rafa dengan sebutan yang memang lelaki itu inginkan. Namun Rafa belum merespon nya.
" Maasss, " Untuk kedua kalinya , Namun Rafa masih tetap diam.
" Maas,,, dingin . " Intan berkata dengan lembut. Karena udara malam juga pintu yang masih terbuka lebar
" Braakk, . " Pintu di tutup oleh Rafa dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memegang pinggang ramping milik Intan,
Dan kini Rafa memeluk tubuh mungil Intan dengan menarik nafas dalam lalu menghembuskan nya secara perlahan, ia sedang menetralkan detak jantung nya yang bekerja tak beraturan, karena 5 menit yang lalu berdetak kencang karena menahan kesal dan kecewa tiba-tiba kini berdetak karena bahagia di peluk oleh sang pemilik hati.
" Apa artinya ini ?. " Rafa bertanya sambil melonggarkan pelukan nya dan menatap intens Intan.
" Mass... "
" Hemmm ?. "
" Jangan marah. "
" Trus menurut mu apa saya harus bahagia karena di tolak ???. "
" Katakan apa artinya ini ?. " Rafa mengangkat dagu milik Intan agar menatap ke arahnya.
" Aaku... " Belum juga Intan meneruskan ucapannya ia sudah kembali memeluk Rafa dan menyembunyikan wajah nya di dada bidang milik Rafa. Sungguh ia malu saat ini dan tak ingin Rafa melihat rona merah di wajahnya
Rafa yang mengerti Intan sedang malu pun malah semakin mengeratkan pelukannya, Ia yakin kalau gadis ini malu untuk menyatakan perasaan nya.
" Apa ini tanda nya kamu menerima saya ?. "
Intan mengangguk masih dalam pelukan Rafa.
" Kamu serius ?. " Kini Rafa melepaskan pelukan itu dan menatap Intan dengan memegang kedua bahu .
Intan hanya mengangguk pelan sambil menunduk malu.
" Tidak, tidak, tatap mata saya Intan. " Rafa menangkup kedua pipi Intan dan mengarahkannya agar menatap nya.
" Jawab Intan, apa kamu menerima saya ?. " Rafa berucap dengan serius
" Iiiiya mas . " Dan Intan kembali menunduk, namun tubuhnya segera di tarik masuk ke dalam pelukan Rafa.
" Maass, aku ga bisa nafas . " Rafa terlalu erat memeluk Intan.
" Maaf, maaf sayang . " Rafa menuntun Intan untuk duduk di sofa, kini mereka duduk berhadapan dengan tangan saling bertautan.
__ADS_1
" Apa yang membuat mu berubah pikiran ?. "
" Tidak ada yang berubah mas, semuanya masih sama, lagi pula aku kan belum memberi jawaban apa apa . "
" Tanpa kamu memberi jawaban kalau perkataan kamu seperti itu sama saja kamu menolak nya. "
" Begitu kah ???. "
" Kamu memang tidak tau apa pura pura tidak tau ??. " Kesal Rafa
" Hehehe... maaf mas . "
" Sudah lah itu tak lagi penting, yang terpenting sekarang kita sepasang kekasih bukan ?. " Rafa mencium tangan Intan dengan lembut
" Tapi aku punya syarat untuk mas !. "
" Syarat ?. " Rafa menatap bingung
" kita sembunyikan dulu hubungan kita dari semua orang . "
" Saya tidak mau . " Dengan cepat Rafa membantah nya.
" Mas, dengerin aku dulu. "
" Apa alasannya ?. "
" Mas, mas kan tau sendiri kedatangan orang tua mas ke rumah aku untuk apa , biarkan seperti keinginan orang tua kita dulu, jangan langsung mengecewakannya, lagi pula kita kan jadi lebih sering ketemu . " Sejujurnya Intan pun merasa sangat bersalah kepada ibunya juga orang tua angkatnya kini
" Heemm,,, baiklah, tapi sampai kapan ?. "
" Kita jalani saja dulu mas, dan kita lihat nanti kedepannya. " Kali ini Intan lebih terlihat dewasa dari pada lelaki dewasa di hadapan nya.
" Dan satu lagi, jangan melarang aku memiliki teman lelaki. " Intan sudah mengerti Rafa orang yang seperti apa .
" Saya tidak bisa kalau itu !!. "
" Ya sudah kalau ga bisa, aku mau pulang aja, ribet banget sih . " Intan tak mau di repot kan dengan cemburunya orang dewasa.
" Sayang, sayang, baik lah. " Rafa memegang tangan Intan yang hendak pergi
Intan merasa aneh dengan ucapan sayang yang ia dengar, karena baru pertama kali.
" Saya janji tidak akan melarang mu berteman dengan siapa pun termasuk laki laki, asal tidak terlalu dekat... "
" Huufff, Baiklah, aku pulang ya mas, ini sudah malam . "
"Berikan satu saja, setelah itu kamu boleh pulang . " Rafa menunjuk salah satu yang menjadi candunya
" Hahhhh???. "
-
-
__ADS_1
-
tbc