
Sudah satu minggu Ini Intan magang ia mulai merasa nyaman, Dia dapat memahami pekerjaannya, lingkungan kerja yang baik serta karyawan yang ramah, Termasuk pak Budi yang selalu mengajarkannya dengan sabar, Intan sempat khawatir saat akan mulai magang karena menurut teman teman nya biasanya anak magang sering di tindas oleh karyawan lama, Namun Intan sangat bersyukur di kantor tak ada yang seperti itu, semua sibuk dengan tugas nya masing masing, saling bertegur sapa secara normal , Selama ini Intan selalu membawa bekal dari rumah sehingga tak perlu pergi ke kantin. Juga bisa menghemat pengeluarannya.
" Intan, tolong serahkan ini kepada pak Sandy yah di lantai atas!, nanti kamu tanya saja, saya ada rapat, tolong di antar segera !, " Pak Budi memberikan map pada Intan.
" Baik Pak !. " Intan bingung sendiri bagaimana kalau nanti di sana bertemu dengan Rafa, Ini pasti akan runyam nantinya, tapi ia juga tidak bisa menolak ini adalah perintah dan ia harus profesional pada pekerjaannya.
Dengan menarik nafas panjang Intan masuk ke dalam lift menuju lantai atas, ia tak perlu bertanya lagi karena ia sudah hafal di mana ruangan Sandy berada.
" Permisi pak, saya mengantarkan berkas dari Pak Budi !. " Intan sudah berada tepat di depan Sandy yang sedang sibuk dengan laptop nya.
" Taruh saja meja !. " Jawab Sandy belum sadar siapa yang mengantarkan nya , karena terlalu fokus pada layar laptop nya.
" Baik Pak , saya permisi !, "
" Tunggu,, tunggu,, saya kira siapa ?, " Sandy memanggil Intan sebelum pergi, ia baru sadar jika itu Intan ,
" Iiiya pak ada apa ?. "
" Jangan terlalu formal jika kita sedang berdua , Ayo duduk dulu !, "
" Tapi maaf Pak, ini masih jam kerja tidak enak dengan karyawan yang lain , "
" Duduk saja dulu Demus , " Sandy sudah mengeluarkan panggilannya untuk Intan
Intan pun duduk di hadapan Sandy, ia bingung harus apa, jadi hanya menunduk saja.
" Kamu kenapa jadi seperti itu seh Demus ?. "
" Seperti itu bagaimana pak ?. "
" Panggil seperti biasa saja, terkecuali ada orang di antara kita !, "
" Iiiya,, ka . "
" Sepertinya ada yang berbeda dalam diri kamu ?. "
" Berbeda bagaimana maksudnya ka ?. "
" Yah,,, Demus yang saya kenal dulu anaknya ceria, sering tertawa dan banyak bicara , "
" Apa aku memang seperti ka ?. " Intan sendiri bingung apa mang itu sifatnya, karena menurutnya ia tak pernah merubah apapun dalam dirinya,
" Looh,, loh,,,kamu itu lucu sekali, " Sandy tertawa lepas
"Sepertinya kamu dan Rafa sama sama berubah, apa ada masalah di antara kalian ?," Sandy mencoba menggali Informasi, karena kalau dari rafa itu sangat tidak mungkin.
" Ttidak ada ka !, " Intan menjawab dengan gugup pertanyaan Sandy tanpa berniat untuk menatap matanya, ia takut lelaki itu bisa melihat kebohongan di matanya.
__ADS_1
" Huuffff,,,, kalian berdua sama saja. "
Sekilas Intan melihat pintu ruangan Rafa yang tertutup.
" Apa kamu ingin menemui Rafa ?, masuk saja dia ada di dalam, mungkin sebentar lagi keluar !, "
" Tidak, tidak, ka , aku permisi mau mengerjakan pekerjaan ku kembali !. " Intan langsung buru buru beranjak dari duduk nya dan berlalu berjalan menuju lift, tanpa meminta persetujuan dari Sandy.
" Hahahaha,,,, " Sandy tertawa sambil memegang perut nya.
" Apa kamu sudah gila tertawa sendiri seperti itu !!. " Tiba-tiba saja Rafa keluar dari ruangan nya
" Enak saja !, " Kesal Sandy
" Terus kamu tertawa dengan siapa ?, " Rafa melihat ke sekeliling tak ada siapapun
" Aku hanya sedang membayang kan jika manusia batu menjadi bucin , hahahaha,,,! " Sandy melanjutkan tawa nya.
" Berisik , jadwal saya setelah ini apa ? saya mau pulang lebih awal, Mamah memintaku untuk pulang !, "
" Apa Tante sakit ?, "
" Entahlah, sepertinya tidak , "
" Hari ini hanya ada 1 pertemuan jam 1 setelah makan siang , " Sandy menjawab sembari melihat jadwal pada ponselnya
" Ooh iya, suruh Ob mengantarkan makan siang, " Pesan Rafa saat sudah membuka pintu ruangannya.
" Siap Bos , "
Rafa menutup pintu ruangannya. Ia menjatuhkan tubuh nya di sofa sambil memandang langit langit di ruangannya, Rafa merindukan Intan kali ini, ia ingin sekali merangkul tubuh mungil itu, ia merasa hubungannya dengan Intan belum berakhir, ia ingin mencari cara agar Intan sendiri yang mendatanginya, Tapi ia takut kalau Intan semakin menjauhinya dan mendapatkan lelaki lain selain dirinya, dan ia berencana akan membicarakan ini pada sang mamah, tak perduli apapun reaksinya nanti ia akan Terima,
Rafa kembali ke kursi kebesarannya setelah melamun yang membuatnya justru semakin merindukan Intan.
" Intan kamu di minta pak Sandy mengantarkan ini ke ruangan pak Rafa !, " Pak Budi memberikan Satu kantung berwarna coklat yang bertuliskan Restoran ternama
" Aaapa ini pak ?, " Intan terlihat bingung
" Kalau dari tulisannya sepertinya itu makanan !, " Pak Budi mengangkat kantung itu di depan wajahnya sembari membaca tulisan yang ada di kantung itu.
" Maaf Pak, bukan maksud saya untuk menolak, tapi bukan kah ini tugas nya OB ?, " Ucap Intan sedikit takut kalau Pak Budi akan tersinggung
" Seharusnya memang seperti itu, tapi siapa yang bisa menolak kalau yang menyuruh pak Sandy sendiri !, "
" Baaik pak, saya antar sekarang, " Intan menerima kantung bungkusan itu. Intan keluar dari ruangan nya.
" Ini benar benar aneh, kemarin pak Sandy datang langsung ke sini untuk menemui Intan, Meminta Intan mengantarkan berkas dan sekarang menyuruh Intan untuk mengantarkan makan siang untuk pak Rafa, perasaan Ob di sini lebih dari cukup !!!, " Pak Budi berbicara pada dirinya sendiri, " Ini sungguh aneh , " Tapi ia tak ingin ikut campur lebih dalam lagi,
__ADS_1
Intan memasuki lift dengan perasaan yang tak karuan, iya bingung setelah ini bagaimana nasibnya nanti,
sudah pasti Rafa akan mengetahuinya, ia pikir seminggu ini ia sudah menjalaninya dengan mudah namun sekarang?????,,,
Tringg... lift berbunyi yang menandakan pintunya sudah terbuka, Intan enggan sekali melangkah keluar, namun ia paksakan juga,
tepat di depan ruangan Rafa Intan berdiri sambil mengangkat tangannya dengan posisi ingin mengetuk pintu.
" ketuk tidak, ketuk tidak , " Intan menimbang nimbang, Ia menengok ke arah meja Sandy yang kosong, jika saja ada orang ia sudah menitipkannya di situ.
" Tokk, tokk, tokk, " Dengan berat hati Intan mengetuk.
" Cekleek ,,, "
Intan memejamkan matanya sejenak ketika mendengar suara pintu terbuka.
" Santai Demus ... " Bisik Sandy melihat wajah Lucu Intan yang tegang.
" Pak Sandy ini makanan nya ?, " Intan ingin langsung memberikannya pada Sandy dan lalu cepat cepat pergi.
" Taruh di meja, dan tolong di siapkan !!, " Sandy meninggalkan Intan yang masih melongo di depan pintu sambil menahan tawa nya.
" Haaahhh, " Intan begitu kesal dengan Sandy.
Intan melangkah masuk ke dalam, sekilas Ia melihat Rafa yang sibuk dengan pekerjaannya hingga tak memperhatikan siapa yang masuk ke dalam.
Intan membuka kantung itu dan menjejerkan beberapa makanan di atas meja. dengan tangan yang sudah berkeringat.
Sandy duduk di hadapan Intan menahan tawa nya,
" Terimakasih INTANN,, " Dengan sengaja Sandy menekankan nama Intan
" Oke kita hitung mundur , 3 , 2,1 ," Sandy menghitung dalam hati
" Tuuk... " pena yang berada di tangan Rafa terjatuh.
" Intannn??, " Rafa memanggil Intan dengan mata membola sempurna.
'
-
tbc
Tetap dukung Othor yah, like, komen, love,
kasih vote dan hadiah nya biar semakin tambah semangat ðŸ¤ðŸ¤. terimakasih 😘😘
__ADS_1