
Hari hari berlalu, Rafa dan Intan tetap berhubungan seperti biasa tanpa ada keluarga yang curiga, Intan kini tak lagi mengantarkan makanan ke rumah Rafa, kini Rafa sendiri yang ke rumah Intan untuk sarapan dan makan malam.
Dan Intan pun kini sudah mulai berkuliah, perdebatan panjang antara Rafa dan Intan tentang tempat berkuliah , Rafa memilih yang jarak nya tidak terlalu jauh dengan kantor nya, namun Intan memilih perguruan tinggi Negri yang lumayan jauh dari rumahnya , dengan alasan biaya yang lebih ringan, lagi pula ia memiliki motor jadi jarak tidak masalah baginya . Namun Rafa tidak menerimanya dan semuanya berakhir dengan kemenangan Rafa. Dengan itu Rafa bisa mengontrol Intan kapan saja, karena ia tau betul Intan menjadi incaran para mahasiswa di kampusnya. Ada ketakutan kalau Intan akan berpaling darinya, karena pemuda di kampusnya jauh lebih muda dari nya.
Dan bu Ida kini tak lagi berjualan, Intan tak lagi bisa sering membantu nya, dan semakin kesini kesehatan bu Ida semakin menurun. Jadi dia tak boleh lagi berjualan karena takut kelelahan. Uang kuliah Intan di tanggung sepenuhnya oleh ibu angkatnya atau orang tua Rafa, atas permintaan mamah Elen sendiri dengan sedikit memaksa Intan , dan kesehariannya mereka mengandalkan tabungan juga uang dari Rafa yang setiap bulannya di transfer ke rekening Bu Ida, walau bu Ida sudah menolaknya tetapi Rafa tetap saja mengirimkan setiap bulannya.
Dan Intan berencana akan bekerja paruh waktu, untuk mencukupi kebutuhan hariannya
" Bu aku berangkat ya !. " Intan menyalami ibu nya.
" Loh,, ini masih pagi Tan, apa kamu tidak sarapan dulu ? . "
" Aku sarapan di kampus saja bu, takut telat , ada kelas pagi . " Intan melihat jam tangan nya
" Tidak bareng mas mu ? . "
" Aku duluan aja bu naik motor . "
" Ya sudah kalau begitu, hati hati . "
" Iya bu . "
Intan mengeluarkan motornya dari dalam rumah. Namun ada sebuah mobil masuk ke dalam pekarangan nya, mobil siapa lagi kalau bukan mobil Rafa.
" Bakal runyam nih ... " Intan berkata dalam hati, ia menyalakan motornya dan sudah dalam posisi siap jalan.
Tiba-tiba Rafa menghadang motor nya.
" Tuh kan benar. " Gerutu Intan dalam hati
" Mau kemana ?. "
" Ke kampus mas , "
" Ini masih terlalu pagi Intan . " Rafa melihat jam di pergelangan tangan nya
" Iya mas, tapi aku ada kelas pagi . "
" Tunggu mas sarapan nanti mas antar. "
" Tapi nanti aku telat mas . "
" Tidak ada tapi tapian. "
Intan berfikir sejenak untuk mengecoh lelaki yang menyebalkan ini.
" Buuu,, ada mas Rafa nih !. " Intan sedikit berteriak memanggil ibunya.
" Ooh nak Rafa,,, ayo sarapan dulu sudah ibu buatkan . " bu Ida berbicara di depan pintu
" Iya bu. " Rafa berjalan mendekati bu Ida
__ADS_1
Dan itu menjadi kesempatan buat Intan untuk kabur...
" Akuuu berangkat ya Mas Rafa ... " Intan berteriak sambil melajukan kendaraannya.
" Intaaan. " Rafa memanggil Intan dengan kesal, " Anak itu awass kau nanti, tak akan ku biarkan bisa tidur malam ini." geram Rafa.
Bu Ida hanya menggeleng geleng saja, Bu Ida tak mencurigai apapun, perhatian Rafa dan sikap manja Intan ia lihat masih dalam batas normal.
" Sudah nak Rafa biarkan saja, ayo masuk sarapan dulu . "
" Iya bu. " dengan rasa yang masih kesal dengan kepergian Intan tadi .
***
Bertambah lah kekesalan nya pada Intan saat ini, karena pesan pesan nya belum juga di baca oleh Intan, sehingga membuatnya uring uringan saat di kantor.
" Kenapa sih bro dari tadi tuh muka angker banget, belom dapet jatah ya semalem . " Sandy meledek sahabat nya itu
" Sialan lo . " Rafa melempar gulungan kertas yang baru saja ia remas pada Sandy
" Weeeits , santai bro , lagian lo kenapa sih?? , di rapat tadi ga ada cerah cerahnya tuh muka, padahal kita menang tender tadi.
" Sore nanti gue mau pulang lebih awal. " Rafa tak menjawab pertanyaan Sandy tadi
" Ooohh, tidak bisa bos, sore nanti kita ada meeting dengan Klien penting. "
" Huuffff... " Rafa hampir saja melupakan pertemuan penting itu
" Dasar otak ngeres. " teriak Rafa pada sahabatnya itu
Hari ini waktu begitu bejalan sangat lambat buat Rafa. Seolah jam di tangannya tak bergerak. Namun notif pada ponselnya membuat nya sedikit tersenyum..
***
Intan benar benar di sibukkan dengan kuliahnya, ia termasuk anak yang tekun dalam belajar, tak ada yang bisa mengalihkan fokusnya termasuk getaran ponsel yang sedari tadi ia sadari, namun ia enggan untuk membuka ponselnya. Saat ini baru ia membuka ponsel karena kuliahnya sudah selesai, kini ia sedang duduk di bawah pohon rindang yang masih ada di lingkup kampusnya, ada beberapa Mahasiswa juga yang sedang duduk duduk sambil mengobrol , hanya Intan yang duduk sendirian sambil memainkan ponselnya membalas hampir sepuluhan chat masuk juga 15 kali panggilan tak terjawab.
Intan hanya menggeleng geleng saja sambil tersenyum membaca serentetan pertanyaan dari kekasih nya yang pencemburu itu.
" sayang apa kamu sudah sampai ? , jangan lupa sarapan karena tadi kamu tidak sarapan, sayang kamu sedang apa ? , Apa sudah selesai ? . " Itu hanya sebagian kecil dari banyak pesan yang Rafa kirim . Yang harus Intan lakukan saat ini adalah segera membalasnya atau Rafa akan ada di hadapannya saat ini juga.
Dan Intan juga meminta izin pada Rafa untuk pergi dengan temannya seusai kuliahnya selesai. Dia berencana akan melamar pekerjaan di salah satu restoran yang di rekomendasikan oleh teman kampusnya.Dan apa Rafa mengizinkan ??, tentu saja jawaban nya TIDAK, namun kali ini Intan sudah bertekad.
***
"Terimakasih pak. " Intan menjabat tangan sang Manajer yang sudah menerima nya bekerja.
" Sama sama , semoga bisa memberikan yang terbaik ya . "
" Pasti pak " Intan bahagia kali ini ia mendapatkan pekerjaan dengan menyesuaikan jadwal kuliahnya.
Intan pun pulang ke rumah sudah hampir magrib, Jalanan sore sungguh menguji kesabaran.
__ADS_1
Saat Intan masuk ke dalam pekarangan nya sudah terparkir mobil Rafa.
" Aduuh... bagaimana ini, kenapa mas Rafa ada di sini sih ?. " Gumam Intan ada sedikit rasa takut di hati Intan
Intan memarkirkan motornya dengan perlahan, Di iringi tatapan tajam dari Rafa yang sudah menunggunya di teras depan.
" Asalamualaikum . "
" Wa'alaikumsalam, dari mana ?. " Rafa langsung saja menodongkan pertanyaan
" Emmm,,, itu mas, dari....., dari rumah teman . " jawab Intan sedikit gugup
" Teman Siapa ?. " Rafa tak akan puas dengan jawaban Intan barusan.
" Temaaan...., mas nanti ya cerita nya, aku mau pipis dulu . " Intan langsung buru buru masuk kedalam, karena ia memang sungguh sungguh ingin buang air kecil yang ia tahan sejak di jalan.
Rafa mengikuti Intan masuk ke dalam dan duduk di depan TV.
" Bu, Ibuu... " Intan berteriak memanggil ibunya setelah keluar dari kamar mandi
" Ibu tidak ada di rumah. "
" Loh... memang nya ibu kemana ? , kok ga bilang sama aku ?. "
" Coba cek ponsel mu . "
Intan pun mengecek ponselnya, ternyata ponselnya mati karena habis baterai.
" Ibu sedang di rumah mamah. "
" Ada apa ?. "
" Entahlah . "
Intan pun meninggalkan Rafa menuju kamarnya hendak berganti pakaian.
" treekkk.. " Bunyi kunci yang di putar oleh Rafa.
" Mmmaasss, ke kenapa di kunci ?. "
" Mas mau menghukum gadis nakal ini , yang sudah mulai membangkang. " Rafa semakin mendekatkan tubuhnya pada Intan
" Jjjangaan begini mas, nanti kita di grebek loh . "
" Tidak masalah, jadi kita bisa nikah malam ini juga... " Rafa tersenyum smirk
-
-
-
__ADS_1
tbc