
Intan begitu takut dengan tatapan Rafa yang tajam padanya. Hingga membuat nya memundurkan langkah nya menjauhi Rafa.
Rafa kembali menarik tangan Intan, namun di tepis kasar oleh Intan, dengan segera Intan masuk ke dalam rumahnya tanpa kata.
Rafa mengusak rambut kasar, ia menyesal telah berbuat kasar pada Intan, ia sulit sekali mengendalikan diri saat sedang cemburu, Namun untuk mengejar masuk ke dalam itu tidak mungkin karena sudah terlalu malam. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang jalan kaki membiarkan mobilnya terparkir di rumah Intan.
Kini Rafa sudah berada di kamarnya, ia selalu memikirkan Intan hingga matanya enggan terpejam. Akhirnya ia memutuskan untuk menulis pesan, entah di balas atau tidak yang terpenting pesannya nanti terbaca.
" 📩 Sayang maafin mas karena udah kasar sama kamu, mas cemburu , mas begitu frustasi saat melihat foto dirimu dengan si brengsek itu, mas takut dia menyakitimu lagi, jangan marah lagi yah, selamat malam mimpi indah 😘. "
Rafa langsung menaruh ponselnya di nakas samping ranjang nya, tidak mungkin Intan membalas pesannya, Ia mencoba memejamkan matanya berharap matahari pagi segera terbit .
"tring.. " Bunyi pesan dalam ponsel Rafa berbunyi, dengan segera ia mengambil ponselnya.
" 📩 Hemm... "
Rafa tersenyum bahagia melihat balasan dari Intan, walaupun hanya empat kata yang bisa memiliki banyak arti, ia tak perduli yang terpenting Intan merespon pesannya.
" Sepertinya harus meminta bantuan mamah untuk membujuk Intan agar mau di ajak menikah, tapi bagaimana yah ? , saya tidak bisa kalau harus menunggu satu tahun lagi !!. " Intan berfikir bagaimana caranya agar Intan mau di ajak menikah dalam waktu dekat.
Malam berganti pagi.
Intan merasakan kepalanya sangat pusing, ia masih duduk di samping sambil memegangi Kepala nya.
" Kok pusing gini yah, " Intan juga merasakan mual hingga membuatnya segera lari keluar kamar menuju kamar mandi.
" Intan kamu kenapa ?. " Tanya Bu Ida yang melihat Intan tergesa-gesa ke kamar mandi
" Hooeekk,,, hoeekk. " Intan muntah muntah di kamar mandi, bu Ida yang mendengarnya segera menyusul Intan dan memijat pelan tengkuk anaknya.
" Kamu masuk angin yah tan ?. "
" Iya bu, semalam ga sempet makan !. " Intan memang tidak sempat makan saat acara pembukaan cafe milik Irfan, hanya minum dan satu potong cake yang ia makan.
" Ya sudah kamu istirahat saja, ibu bikinin air jahe yah ?. "
Intan hanya mengangguk, ia pun kembali ke kamar di papah oleh Ibunya.
" Intan kamu kenapa ?. " Tanya Rafa yang baru saja masuk dengan sedikit panik melihat wajah Intan yang pucat .
" Eeh,, nak Rafa, ini Intan muntah muntah !. "
" Eeh... " Intan terkejut karena tiba-tiba saja Rafa mendekati dan menggotongnya di depan sang ibu.
" Biar saya bawa ke kamar bu !. "
" Baik lah, ibu buatkan air jahe dulu yah !. " Jawab bu Ida sambil senyum senyum melihat tingkah Rafa
Rafa terus memandangi Intan, namun Intan justru melihat ke arah lain, jantung nya tak sehat jika dekat dengan Rafa apalagi posisi mereka yang seperti ini.
" Mas Rafa turun !. " Mereka sudah ada di dalam kamar namun Rafa belum juga menurunkannya di ranjang.
Rafa pun tersadar, ia meletakkan Intan secara perlahan, ia ikut duduk di samping tubuh Intan, memegang kening Intan yang terasa panas.
" Mas panggilkan dokter yah ?. " Rafa berkata lembut
Intan menggeleng.
" Nanti sakitmu semakin parah sayang !. "
" Aku hanya masuk angin mas !. "
" Tadi ibu bilang kamu muntah muntah, apa ciuman semalam langsung bisa membuat mu hamil ??, kalau begitu hari ini juga kita menikah !!!. "
__ADS_1
Mata Intan membulat sempurna ketika mendengar ucapan ngawur dari seorang Rafa.
" Awww..., Sakit sayang.. " Rafa menggosok gosok lengannya yang terasa panas karena di cubit.
" Jangan ngaco kalau ngomong mas, nanti ada yang dengar !. " Intan menatap kesal Rafa.
" Maaf ... "
Intan enggan menatap Rafa, ia lebih memilih menatap tembok pada sisi ranjang seperti ada yang lebih menarik di sana.
Terjadi keheningan sejenak, Dan saat itu ibu masuk ke dalam kamar Intan membawa jahe hangat dan satu mangkuk bubur.
" Nak Rafa kalau mau sarapan sudah ibu siapkan di meja!."
" Nanti saja bu, "
" Intan ibu tinggal ke pasar sebentar bisa tidak, Kulkas kita sudah kosong kemarin ibu lupa !. "
" Ga apa apa bu. lagi pula aku juga ga kenapa kenapa kok , " Jawab Intan
" Biar saya antar bu , "
" Tidak usah nak, lagi pula ibu sudah punya ojek langganan, itu sudah nunggu di depan. "
" Hati hati yah bu !."
" Iya, oh iya kamu sudah izin belum sama bos kamu kalau hari ini kamu ga masuk kantor ?."
Intan dan Rafa saling berpandangan rupanya bu Ida belum tau jika bos tempat Intan magang adalah Rafa.
" Baik bu nanti Intan coba hubungi buat minta izin !. "
" Kalau begitu Ibu tinggal yah !. "
" Kamu mau menghubungi siapa ?. "
" Berikan mas ! ," Intan mencoba bangun untuk merebut ponselnya dari tangan Rafa .
" Aku mau menghubungi kak Sandy !. " Jawab Intan dengan raut wajah kesal
" Untuk apa ?. "
" Keppoo... " Intan berhasil merebut poselnya dari tangan Rafa.
Keluarlah jiwa posesif nya yang selalu terpancing dengan kata kata Intan yang selalu membuat nya menerka nerka sendiri.
" Apa hubungan mu dengan Sandy ?. " Rafa bertanya dengan raut wajah yang curiga.
Dahi Intan berkerut halus mendengar pertanyaan aneh dari Rafa.
" Hubungan apa ?, Mas Rafa ini sebenarnya ngomong apa sih ?. "
" Mas ada di sini kenapa kamu menghubungi laki laki lain ?. "
" Ya ampun mas Rafa aku.... " Intan menghentikan ucapannya karena kepalanya bertambah pusing.
" Sayang,, kamu kenapa ?. " Rafa panik segera menuntun Intan ke ranjang nya.
" Mas lebih baik mas berangkat deh, sebelum kepalaku bertambah pusing !. " Intan berkata sambil memejamkan matanya.
" Mas tidak bisa meninggalkan kamu dalam kondisi seperti ini sayang,,, mas akan menghubungi Sandy kalau hari ini mas tidak ke kantor, begitu juga dengan kamu !!. "
" Kenapa tadi otak nya tidak dia fikir ke arah situ ."Batin Intan, tadi dia mau menghubungi Sandy karena ingin meminta izin.
__ADS_1
Intan ingin melarang Rafa untuk menemaninya, tapi di rasa percuma dia pasti akan memaksa , Intan tak ingin berdebat karena kepala terasa begitu pening.
" Sayang, Minum obat ya ?. "
" Ga . "
" Tapi rasa sakit itu tak akan hilang jika kamu tidak minum obat. "
" Aku ga mau !. "
Rafa melihat cairan bening yang mengalir di sudut mata Intan yang terpejam, Yang ia tau Intan akan manja dengan ibu nya jika sedang sakit.
" Apa sesakit itu sayang ?. "
Intan mengangguk lemah masih dengan mata terpejam.
Rafa tau Intan tak bisa minum obat, namun ia harus mencari cara bagaimana agar obat itu bisa masuk ke dalam mulutnya.
" Tunggu sebentar yah !. "
Rafa keluar dari kamar Intan menuju mobilnya, mengambil obat di kotak P3K yang selalu ada di mobil . Lalu ia pergi ke dapur mencari benda untuk menghaluskan obat tersebut dan kembali ke kamar. Ia melihat Intan masih terpejam.
" Sayang duduk sebentar yah,!. " Rafa membangunkan Intan agar duduk bersandar, dan Intan pun mengikuti saja
' Mau ngapain mas ?. "
Rafa mencampur obat yang sudah ada di sendok dengan sedikit air, lalu meminumnya,
Kening Intan sedikit berkerut dengan apa yang di lakukan Rafa, dan wajah Rafa semakin mendekat ke wajahnya.
Rafa memegang tengkuk Intan dan menempelkan bibirnya dengan bibir Intan dan memasukkan obat melalui mulut nya, Hingga membuat Intan terkejut dan ingin melepaskan ciuman yang terasa pahit itu, namun Rafa semakin menekankan ciumannya, tanpa sadar Intan menelan obat itu karena Rafa tak Ingin melepaskan ciuman nya.
Rafa melepaskan ciuman nya dan memberi Intan minum,
" Bagaimana enak kan minum obat pakai cara cinta !. " Rafa menaik turun kan alisnya.
Intan tersipu malu lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
" Sayang... " Rafa memegang kedua tangan Intan, Tatapan mereka kini saling bertemu mengunci satu sama lain
" Mas minta maaf karena sudah kasar pada mu tadi malam, mas cemburu saat melihat kamu bertemu dengan Irfan, mas takut kamu ninggalin mas. " Rafa berkata dengan lembut dengan tatapan sendu.
" Mas cemburu sama aku?, lalu bagaimana dengan aku yang melihat kak Diana mencium mu mas, dan tangan mas bahkan menyentuh sesuatu !. " Intan kesal jika mengingat itu
" Sayang,,, mas sama Diana tak ada hubungan apa pun, dan soal sentuhan itu ...., mas kan ga sengaja sayang... " Rafa mengusap tengkuknya malu .
" Mas minta maaf yah !. " Rafa mencium tangan Intan,
Dan luluhlah Intan dengan kelembutan yang Rafa berikan. Hingga ia mengangguk memaafkan, karena bukan hanya Rafa yang bersalah dirinya juga merasa bersalah.
" Cup,,, " Rafa mengecup bibir Intan
" Seperti nya kita harus buru buru menikahkan mereka Da !!!. "
-
-
-
tbc.
dukung terus cerita ini yah, like, komen vote jangan lupa 😘😘😘
__ADS_1