Om Om Jutek Tetanggaku

Om Om Jutek Tetanggaku
Akhirnya sadar


__ADS_3

Sudah 4 hari Intan terbaring koma namun belum ada tanda tanda perubahan yang signifikan. Hingga mereka memutuskan untuk membawa Arka ke rumah sakit untuk menemui bundanya, siapa tau dengan kehadiran Arka mampu membuat Intan sadar.


" Sayang, nanti bangunkan bunda ya , biar kita bisa bersama lagi !. " Rafa mengajak berbicara Arka saat dalam perjalanan menuju rumah sakit, seakan mengerti Arka langsung bertepuk tangan sambil tertawa ceria.


Rafa membawa Arka masuk ke dalam ruangan Intan. Entah apa yang di fikirkan anak kecil itu, hingga sempat terdiam sejenak sebelum ia memaksa ingin mendekat ke arah bundanya dengan mencondong condong kan tubuhnya ke arah depan, dan Rafa pun berjalan ke arah ranjang Istrinya. Arka di duduk kan di samping Intan, Tangan mungil itu memukul mukul kecil wajah Intan, seperti sedang membangunkan, Celotehan celotehan tak jelas yang keluar dari mulut mungil itu seperti mengajak bundanya untuk berbicara,


Semua yang ada di ruangan itu melihatnya dengan penuh haru, sampai meneteskan air mata, entah apa yang terjadi pada Arka nantinya jika Intan tak lagi ada.


" Sayang, bangun lah, Arka rindu padamu, setiap malam Arka selalu menangis dia merindukanmu, bangun lah sayang demi Arka ,...! " Ucap Rafa dengan suara serak menahan kesedihan.


" Arka kini sudah tak lagi minum asi, dia menginginkan asi sayang, kasihanilah Arka, mas mohon bangun ...! Lanjut Rafa


Tiba-tiba saja Arka menangis di samping Intan, tangisan yang awalnya pelan kini semakin kencang, tak ada yang mengangkat Arka dari samping Intan, mereka sengaja melakukan itu.


" Sayang, lihatlah anak kita menangis, dia haus sayang, bukankah kamu tidak bisa kalau mendengar Arka menangis, dengarlah sayang, kenapa sekarang kamu begitu tega, kamu egois sayang....!, "


Pak Kuncoro memegang pundak anaknya yang terlihat rapuh itu. Dan terlihat begitu emosional.


" Tenang lah nak .! "


" Pah, Intan tak lagi sebaik dulu , ia tak mau bangun untuk melihat anaknya, mah, bu, bawalah Arka keluar dari sini ...! "


Bu Ida dan Mamah Elen meneteskan air mata, ketika melihat dari sudut mata Intan mengeluarkan air mata. Mereka sangat yakin kalau Intan kini bisa merespon nya.


" Baiklah kalau kamu memang masih ingin terus tertidur terserah , mas tak ingin mengganggu mu lagi, mas dan Arka akan pulang. "


Rafa hendak mengangkat Arka dari samping Intan,


" Nak , lihat ! , " Mamah Elen menahan tangan Rafa, dan menyuruh nya melihat ke arah matanya.


Ternyata tangan Intan menahan celana bagian bawah Arka. Hingga membuat semua yang berada di ruangan itu terkejut. Rafa meletakkan kembali Arka, lalu langsung mengecup kening Intan dengan tetesan air mata.


" Sayang, kamu sudah bangun, lihat lah anak kita masih di sini , mas tidak akan membawanya kemana mana !!, "


Dengan perlahan Intan menggerakkan matanya.


# Pov Intan #

__ADS_1


" Bunda, bunda Arka haus , Arka mau mimi bun, "


" Nak kamu di sini ? maaf bunda tak lagi bisa memberimu asi?, "


" Kenapa bun, bunda mau pergi yah ?, "


" Iya, bunda sudah lelah nak !, "


" Bunda sudah tak sayang lagi sama Arka ?, "


" Masih banyak yang sayang padamu nak. "


" Tapi Arka mau berbakti sama bunda !, "


" Masih ada ayah !!, "


" Arka ingin kalian berdua !!. "


" Maaf kan bunda !, "


" Kalau begitu Arka juga mau ikut bunda.! "


" Lihat sayang, Arka tak lagi minum asi, dia menginginkan asi, dia haus sayang, kamu egois, kamu egois Intan, kamu sangat sangat egois, Baiklah Arka kita tinggalkan saja bunda.. "


Intan seperti mendengar suara Rafa, namun ia tak dapat melihat nya, hanya arka yang dapat ia lihat, ia bingung kenapa arka sudah bisa berbicara...!!


" Jangan mas, tunggu jangan bawa Arka. bantu aku bangun mas, TOLONG AKU MAS, ARKAAA TOLONG BUNDA.....!!!!. "


# # #


" Arrrkaa... " Ucap Intan dengan lirih...


" Sayang..., Pah cepat panggil dokter, Intan sadar !!!. "


Pandangan Intan masih lemah, kadang terpejam kadang membuka matanya, seolah olah matanya begitu berat,


" Sayang, tidak perlu mengatakan apapun, cukup lihat kami saja..! " Rafa tak mau Intan berbicara terlebih dahulu..

__ADS_1


Dokter pun datang dan segera memeriksa Intan dengan menyeluruh. Dokter pun tersenyum kecil menandakan ada kabar baik.


" Pasien sudah siuman, organ vitalnya mulai stabil, hanya saja jangan dulu di berikan pertanyaan apapun karena kondisi nya masih lemah, Biarkan pasien beristirahat ,nanti kesehatannya akan di cek secara berkala. " Dokter pun memberikan beberapa nasihat untuk keluarga Rafa agar tak membicarakan tentang kejadian yang menimpa pasien, karena kita belum tau seberapa trauma nya pasien akan kejadian buruk itu.


Kini hanya tinggal Rafa seorang diri di dalam ruangan Intan, yang lain sengaja keluar untuk memberikan ruang pada Rafa untuk menyemangati Istrinya.


" Sayang, terimakasih sudah bertahan sejauh ini, kamu sangat kuat., !. " Rafa mencium beberapa kali tangan Intan yang di genggamnya. Tangan itu kini menghangat tak lagi dingin seperti sebelumnya. Wajahnya masih pucat tapi tak se pucat sebelumnya.


" Sayang, mas merindukan mu,! "


Intan hanya tersenyum kecil tanpa bisa berkata, hanya air matanya menetes dari kedua sudut mata sayu itu.


" Nanti mas tidak ingin lagi melihat air mata ini, cukup sekarang saja karena mas anggap air matamu sebagai tanda kebahagiaan . "


Makin lama mata Intan terpejam karena efek obat yang dokter berikan, dan Rafa sudah tau itu hingga membuatnya tenang. Dua jam sekali dokter akan masuk ke ruangan Intan.


Tangan kanan Rafa mengelus pucuk Intan dan tangan kirinya menggenggam tangan mungil yang masih pucat itu.


Rafa sangat bersyukur dengan sadar nya Intan, wanita yang teramat ia cintai, entah apa yang akan terjadi padanya kalau sampai kenyataan buruk itu terjadi. Rafa memilih menyerahkan kasus ini pada polisi, karena sementara ini ia hanya ingin fokus pada kesembuhan Istrinya. Namun ia pastikan penjahat itu mendapatkan hukuman yang seberat beratnya.


Tanpa sadar Rafa tertidur di samping Intan dengan tangan yang masih bertautan, Rafa seperti tak ingin jauh dari Istrinya itu.


Hampir dua jam Intan tertidur kini ia terbangun. Matanya langsung tertuju pada suaminya yang tertidur sembari duduk dengan wajah miring menghadapnya.


Intan memandangi wajah suaminya, rambut yang terlihat berantakan, jambang serta kumis yang biasanya tak di izinkan untuk tumbuh kini mulai menampakkan rupanya. Intan tau Rafa mungkin tak memperhatikan dirinya sendiri, Intan tak tau sudah berapa lama ia tak sadarkan diri. Dengan perlahan Intan mencoba mengangkat tangan kanannya, ingin sekali ia mengelus suaminya rindunya pun sudah teramat sangat pada suami juga anaknya, mereka lah yeng membuat dirinya mampu bertahan sejauh ini.


" Sayang...! " Rafa memegang tangan Intan yang berada tepat di pipinya.


*


" Sejak kapan kamu berada di sini?, dan kenapa kamu menyembunyikan ini dari ku ?, " Sandy membuang nafas nya kasar,ingin rasa nya ia membentak gadis yang kini terbujur lemas di atas ranjang rumah sakit, jika saja ia tak ingat dengan kondisi kekasih nya kini.


" Kita akan segera menikah, dengan persetujuan atau pun tanpa persetujuan orang tua mu, tak ada bantahan dan aku tak akan lagi meminta pendapatmu, beristirahat lah aku akan keluar sebentar, dan jangan terlalu banyak memikirkan apapun yang tidak penting, termasuk restu orang tuamu yang kini tak lagi penting....!!!


-


-

__ADS_1


tbc


__ADS_2