Om Om Jutek Tetanggaku

Om Om Jutek Tetanggaku
Belum sadar


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Istri saya Dok ? "


Dokter diam sejenak sebelum menjelaskan, karena ia sudah tau siapa pasien yang ada di dalam.


" Begini pak, Pasien mengalami dehidrasi parah, sepertinya sudah sering muntah juga diare hingga ketidakseimbangan elektrolit ini sudah terlambat hingga menyebabkan pasien koma." (( Mohon maaf kalau othor salah 🙏)).Ucap Dokter dengan perlahan agar keluarga pasien bisa memahami.


Rafa langsung menerobos masuk hingga mendorong sang Dokter ke belakang . Ia tak mau mendengarkan penjelasan Dokter lebih lanjut.


Pak Kuncoro berbicara dengan serius pada Dokter. Sandy menemani Rafa masuk ke dalam, namun pada posisi bersandar di tembok belakang Rafa tak ingin mengganggu pertemuan mengharukan ini.


" Sayang bangun, ini mas, sayang ayo kita pulang !, " Ucap Rafa dengan lirih, air mata nya kini mengalir begitu saja, melihat Istrinya tergeletak tak berdaya dengan berbagai macam selang di tubuhnya, kulit putih nya yang memucat, pipi caby nya yang kini tirus, tubuh nya yang di penuhi beberapa luka. Lima hari ini mungkin Intan melewati masa tersulit dalam hidupnya.


" Sayang bangun, lihat mas, mas mohon demi anak kita, sayang bangun...! Rafa bahkan sedikit keras mengguncang kan tubuh istrinya.


" Bro,, tenang lah, jangan seperti ini !, " Sandy memegang pundak Rafa.


" Dia ga mau bangun San, !, "


" Tenang Bro!. "


" Kita akan membawa Intan ke kota, ambulans yang lengkap dari kota sudah menuju kemari."


Ucap pak Kuncoro saat masuk ke dalam ruangan Intan. Ia pun tak tega melihat kondisi menantu kesayangannya seperti itu, juga melihat bagaimana anaknya itu menangis.


" Pah, tolong bangunkan Intan , tolong lah pah ! " Rafa mengguncang tubuh papahnya


" Nak sabarlah, dan teruslah berdoa, papah yakin Intan anak yang kuat.


Setengah jam kemudian ambulance sudah datang. Dan kini mereka ada dalam perjalanan menuju Rumah Sakit besar yang ada di kota . Tetapi Rafa meminta Istrinya itu di bawa ke Rumah sakit yang tak jauh dari rumahnya.


Kini Intan sudah berada di Rumah Sakit besar dan terlengkap, Di ruang ICU hanya boleh satu orang saja yang masuk ke dalam ruangan itu, dengan selang selang yang menempel di tubuh Intan, denyut nadi Intan melemah begitupun dengan detak jantung nya, semua dokter sedang berusaha melakukan pengobatan terbaik yang mereka bisa.


Di depan ruangan itu sudah ada Bu ida juga mamah Elen sedangkan pak Kuncoro pulang ke rumah untuk beristirahat sejenak begitupun dengan Sandy, tetapi Rafa sama sekali tak ingin pulang, ia ingin terus berada di samping Istrinya. Tak ingin beranjak sedikit pun,


Kedua orang tua itu saling berpegangan tangan, saling diam dengan pikiran masing masing namun yang pasti pikiran mereka terfokus pada Intan, anak perempuan yang begitu mereka sayangi mengalami musibah yang begitu menyakitkan.


" Nak beristirahatlah, nanti kamu sakit, bahkan seharian ini kamu tidak makan apapun !, "


" Aku tidak lapar mah,,,!. " Rafa kini tengah berada di depan ruangan Intan bergantian dengan bu Ida yang kini sedang di dalam menemani anaknya.


" Nak, jangan seperti ini, kalau nanti istrimu bangun, melihat keadaan kamu yang tak terurus seperti ini pasti dia akan sedih . "


" Tapi mah ?, "


" Mamah sudah menyewa satu ruangan di rumah sakit untuk kamu beristirahat, mandi dan makan lah, mamah sudah menyiapkan baju ganti untuk mu,biar mamah dan Bu Ida yang menjaga Intan . "


Rafa terlihat ragu untuk beranjak dari duduknya, namun ia juga sudah terasa lengket dengan tubuhnya karena dari kemari ia belum mandi. Rafa pun meninggalkan mamah nya yang sedang duduk seorang diri menuju ruangan yang sudah di sewa yang tidak terlalu jauh dari ruangan Intan.

__ADS_1


Malam hari Diana ke rumah sakit seorang diri setelah mendapatkan kabar dari mamah Elen tentang Intan yang sudah di temukan. Duduk seorang diri di depan ruangan Intan. mamah Elen sedang pulang sebentar untuk melihat sang cucu sedangkan Rafa berada di dalam bersama Intan, ia menunggu giliran untuk masuk ke dalam ruang rawat Intan.


" Kamu di sini ?. "


Diana terkejut ketika melihat Sandy yang tiba-tiba saja ada di hadapannya, ia berdiri ingin berlalu dari sana. Namun tangan nya lebih dulu di cekal oleh Sandy.


" Duduklah kita harus berbicara jangan seenaknya saja terus menghilang, kamu sendiri yang meminta untuk kita tidak berpisah tapi kenapa setelah kejadian itu kamu justru menghilang ?. " Setelah malam panas yang terjadi antara Sandy dan Diana, Diana menghilang begitu saja.


Diana pun duduk dengan pandangan lurus ke depan, pertanyaan Sandy sulit untuk dia jawab.


" Kenapa hanya diam saja ?, " Sandy memiringkan duduknya menghadap Diana.


" Aaku...! "


" Kamu senang rupanya menarik ulur perasaan,!!!. "


Diana menahan gejolak yang ada di tubuhnya, menahan nya hingga membuat keringat dingin ,


Sandy memicing kan matanya menatap Diana, kenapa tiba-tiba saja berkeringat dan wajah terlihat pucat.


" Kamu tidak apa apa ?. "


" Aaku,, ingin ke toilet !, " Diana beranjak dari duduknya dan berjalan cepat.


" Tunggu apa kamu sakit ?, " Sandy sempat manahan tangan Diana.


Sandy melihat dari kejauhan tubuh Diana , tidak biasanya Diana memakai sendal ceper tanpa hak sama sekali, dan tubuhnya kenapa terlihat kurus dari dua bulan yang lalu.


Hari ini Intan akan di pindahkan ke ruang rawat VVIP dengan fasilitas lengkap seseorang permintaan Rafa, detak jantung nya sudah stabil, semua alat alat vital pada tubuhnya sudah berjalan normal, hanya saja Intan masih belum merespon apapun, sehingga harus terus di beri stimulasi agar alam bawah sadarnya mendengar hingga Intan meresponnya.


Kini di ruangan itu sudah ada seluruh keluarga, terkecuali Arka yang belum di perkenankan masuk karena masih terlalu kecil.


Bu Ida mengajak ngobrol anak nya dari mulai ia kecil hingga saat ini sudah memiliki anak, terkadang di iringi dengan tawa dan tangis. Begitupun mamah Elen yang mengungkapkan berapa bahagianya bisa memiliki anak perempuan yang cantik dan juga di berikan seorang cucu , suasana ruangan yang penuh haru,


Sandy terlihat gelisah beberapa kali melihat ke arah pintu, kenapa Diana tak kembali lagi setelah pamit ke toilet.


" Apa yang sedang kamu pikirkan nak ?, " Tanya pak Kuncoro pada Sandy, karena sedari tadi pak Kuncoro juga memperhatikan gerak gerik Sandy yang tidak setenang biasanya.


" Tidak ada om !, "


" Saya ini papah mu !. "


" Maaf, tidak ada apa apa pah !, " Jawab Sandy dengan tidak bersemangat


" Apa ini tentang Diana ?, " Pak Kuncoro sengaja berbisik agar tak menarik perhatian yang lainnya.


Seketika Sandy langsung menengok ke arah pak Kuncoro.

__ADS_1


" Apa kamu tidak bertanya dari mana papah tau ?. "


" Berarti papah juga sudah tau apa yang terjadi antara Sandy dan Diana ?, "


" Tentu saja, bilang papah jika kamu membutuhkan bantuan !, "


Sandy hanya mengangguk saja.


*


" Pah apa tidak sebaiknya kita membawa arka ke mari untuk menemui bundanya siapa tau Intan merespon anaknya, " ucap mamah Elen.


Rafa juga bu Ida langsung menyetujui apa yang di ucapkan mamah Elen,


" Nanti coba kita tanyakan dulu pada Dokter mah !. " Jawab pak Kuncoro.


Kini hanya tinggal Sandy juga Rafa yang berada di ruangan itu. Rafa tak lagi mengajak Intan mengobrol, membiarkan nya untuk beristirahat , kini mereka sedang duduk di sofa yang berada di depan ranjang Intan.


" Bukankah tadi ada Diana ?. "


" Ya... "


" Apa kalian tidak membicarakan sesuatu ?. "


" Membicarakan apa ?. "


" Pernikahan misalnya !. "


" Huufff... dia selalu menghindar, bahkan setelah gue merenggut keperawanan nya !. "


" Gila lo ya, bener bener kurang ajar lo !!. "


Sandy hanya mengangkat bahunya . ia pun menyadari itu.


" Sudah berapa lama?. "


" Hampir dua bulan yang lalu.! "


" Apa lo ga berfikir kemungkaran benih yang lo tanam akan tumbuh ! " Ucap Rafa sambil berjalan menuju ranjang Istrinya.


Sandy terdiam memikirkan ucapan Rafa.


-


-


tbc

__ADS_1


__ADS_2