
Hari ini adalah hari di mana kedua orang tua Rafa berkunjung ke rumah Intan. Bu Ida mempersiapkan beberapa masakan istimewa untuk menyambut tamu nya yang ia rasa begitu sangat baik pada Intan walaupun dia sendiri belum pernah bertemu secara langsung dengan kedua orang tua Rafa.
" Bu apa ini tidak terlalu banyak ya makanan nya ? . " Intan melihat makanan yang menurut nya terlalu banyak kalau hanya untuk menyambut tamu dua orang saja.
" Tidak apa apa, lebih baik lebih dari pada kurang. "
Keluarga Rafa akan berkunjung pukul 7 malam nanti. Sedangkan sekarang baru pukul 5 , dagangan Bu Ida sudah hampir habis hanya tinggal sedikit saja karena itu bu Ida memilih untuk menutup warungnya saja dan akan bersiap siap.
" Bu berarti aku tidak perlu mengantarkan makan malam kan ?. "
" Tidak perlu, nanti makan malam bareng saja sekalian , kemarin nak Rafa sendiri yang bilang sama ibu . "
Semenjak mengantarkan Intan pada malam itu, sudah 2 hari ini Intan tak bertemu dengan Rafa, ia juga tidak perlu mengantarkan sarapan dan makan malam karena menurut cerita dari ibunya Rafa sudah bilang sedang banyak pekerjaan hingga berangkat lebih pagi dan pulang larut malam .
Namun Intan merasa Rafa sedang menghindarinya. Setiap hari gelisah menunggu pesan yang biasanya Rafa kirim siang dan malam hari. Tetapi tak satupun pesan masuk,
Setelah magrib tiba Intan terlebih dahulu menjalankan ibadahnya lalu bersiap siap untuk menyambut tamu. Semua jamuan sudah tersedia Intan dan Ibunya sedang berbincang santai di depan TV , tak lama berselang terdengar deru mobil di pekarangan rumah Intan.
" Bu sepertinya tante Elen sudah dateng deh. "
" Coba kamu lihat sana ?. "
Intan beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu, sedikit mengintip di balik gorden jendela.
" Iya bu benar, itu tante Elen . "
" Ya sudah buka pintunya . " Bu Ida berjalan menyusul Intan
" Asalamualaikum .. "
" Walaikumsalam . "
" Ooh ini mamahnya Intan . " Tante Elen mengulurkan tangan nya pada bu Ida, di susul oleh pak Kuncoro yang berada di samping Istrinya
" Iya bu, silahkan masuk pak , bu. " Bu Ida mempersilahkan kedua tamu nya untuk masuk ke dalam rumahnya.
" Baik terimakasih . "
Ke empat orang itu pun masuk ke dalam rumah dan mereka duduk lesehan menggunakan permadani yang sengaja di gelar karena di rumah Intan hanya ada satu sofa panjang di depan TV, sehingga tak cukup untuk duduk mereka semua.
" Maaf loh bu, duduk nya di bawah, maklum sofa nya ga cukup . " Ucap bu Ida sedikit malu.
" Iisss... tidak apa apa bu, santai saja, saya lebih suka seperti ini, iya kan pah ?. "
" Iya bu, malah saya yang tidak enak jadi merepotkan. " Ucap pak Kuncoro
__ADS_1
" Saya malah tersanjung, bapak dan ibu mau berkunjung ke gubuk saya . "
" Jangan seperti itu, rumah itu yang penting nyaman loh ... " Jawab mamah Elen sambil tersenyum ramah.
Merekapun duduk di atas permadani saling berhadapan. Dan Intan sedang membuatkan minuman serta cemilan yang akan di hidang kan.
" Apa Intan sudah cerita sama ibu soal kita ?. " Tante Elen membuka obrolan utama tanpa berbasa-basi terlebih dahulu
" Sudah bu . "
" Lalu bagaimana pendapat ibu ?. "
" Kalau saya terserah pada Intan asalkan dia bahagia , tetapi.....?. "
" Tetapi apa bu ?. "
" Jangan ambil Intan dari saya . " Ucap bu Ida dengan raut wajah yang serius.
" Ooalaaah... ya tentu tidak dong bu, tidak perlu khawatir akan hal itu... " Tante Elen sedikit tertawa, ia paham betul apa yang di rasakan Ibunya Intan saat ini.
Sedangkan pak Kuncoro sedari tadi hanya diam saja sambil sesekali memperhatikan bu Ida dengan rasa sedikit penasaran. Kadang ia juga memberi kode pada sang istri untuk mengingat siapa bu Ida itu karena menurutnya wajahnya tak asing.
Namun karena istri nya begitu asik mengobrol sehingga tak terlalu memperhatikan .
Intan pun datang dengan membawa minuman serta cemilan.
" Tidak repot kok tante . "
" Kok tante lagi sih . " Mamah Elen dengan raut wajah cemberut yang di buat buat.
" Mmaaf mah . " Ucap Intan pelan sambil melihat ke arah ibunya. Dan bu Ida memberikan anggukan serta senyuman tanda setuju.
" Pah, kok dari tadi diam saja sih . " Mamah Elen sedikit berbisik pelan sambil menyikut suaminya yang sedari tadi hanya diam saja .
" Mah apa mamah tidak ingat dengan wajah itu . "
Mamah Elen baru tersadar kalau wajah Ibunya Intan tak asing baginya.
" Maaf loh bu, apa sebelumnya kita pernah bertemu ?. " Tanya mamah Elen penasaran
" Saya rasa ini pertama kali kita bertemu . " Bu Ida menjawab namun dengan sedikit ragu.
" Apa nama Ibu Nurida Lestari ?. " Ucap pak Kuncoro
Seketika semua mata tertuju pada pak Kuncoro, lalu Bu Ida dan Mamah Elen seketika saling memandang.
__ADS_1
" Elena ?. "
" Nurida ?. "
" Ya ampun, ternyata itu kamu . " Tante Elen dan Bu Ida malah saling berpelukan erat . Mereka sungguh terkejut dengan pertemuan yang tak mereka sangka ini
Hanya Intan yang masih bingung dengan pemandangan yang ada di depan nya. Namun ia masih enggan bertanya, ia biarkan ibu dan mamah Elen menyelesaikan kangennya terlebih dahulu.
" Dari tadi kenapa kita ga saling kenal yah . " Mamah Elen dan bu Ida tertawa bersama, menertawakan kebodohan mereka yang mengobrol layaknya tak saling kenal. maklum lah mungkin terakhir mereka bertemu 20 Atau 25 tahun lalu. Bu Ida merupakan adik kelas dari pak Kuncoro dan Mamah Elen saat SMA dulu, Namun mereka begitu akrab karena Mamah Elen dulu sempat berlangganan katering milik orang tua nya Bu Ida hingga lulus sekolah. Dan setelah itu komunikasi mereka putus hingga sekarang.
" Pantas saja saya merasa tidak asing dengan wajah Intan dan masakannya , ternyata dia anak mu . " Mamah Elen mengelus lembut rambut Intan
Dan bu Ida hanya tersenyum saja.
" Asalamualaikum . "
" Waalaikumsalam . "
Rafa yang baru saja datang dengan wajah tak bersemangat. Rafa menyalami kedua orang tuanya dan juga bu Ida, sejenak tangan nya berhenti di hadapan Intan dan dengan segera Intan menyambut tangan itu lalu mencium tangan Rafa selayaknya dia bersalaman dengan ibunya.
Seperkian detik Rafa enggan melepaskan tangan Intan, namun dengan sedikit kencang Intan menarik tangan nya hingga membuat Rafa tersadar. Dan Rafa pun duduk di samping Intan, ingin sekali ia bersandar di bahu Intan saat ini namun apa daya dengan situasi yang tidak memungkinkan saat ini.
" Muka mu itu kusut seperti sih Rafa ?. " mamah Elen menegur anak nya
" Rafa lelah mah, . "
" Nak Rafa istirahat saja kalau begitu!. " Bu Ida menjadi tak enak
" Tidak apa apa bu, siapa tau setelah ke sini lelahnya hilang . " Rafa melirik Intan sekilas
" Ini loh Rafa, ternyata bu Ida ini adik kelas mamah sama papah saat SMA . "
" Ooh ya ?. " Rafa sedikit terkejut
" Jadi mamah bahagia sekali saat ini, bisa bertemu dengan teman lama juga sudah di izinkan untuk mengangkat Intan menjadi adik mu . " Terlihat sekali raut bahagia dari mamah Elen.
" Jadi mamah dan Bu Ida sudah akrab?. "
" Ooh tentu dong . "
" Kalau begitu kenapa kalian tidak berbesanan saja......!. "
-
tbc
__ADS_1
Akhir akhir ini Gerd sering kambuh, jadi tidak bisa rutin update . sebenernya dilema dengan novel ini, antara ingin di lanjutkan atau tidak. Respon yang kurang serta kesehatan yang menurun menjadi pertimbangan saat ini. Mudah mudahan bisa di selesaikan walau lambat.