
"Tapi dari novel yang aku baca katanya itu akan sakit !!!. " ucap Intan dengan sangat pelan karena malu
" Apakah di novel itu juga menjelaskan bagaimana ni**at nya ?. " Tanya Rafa dengan penuh kelembutan dan tatapan penuh arti
Lagi lagi Intan mengangguk.
Rafa mencium bibir itu kelembutan, kesyahduan selalu Rafa ciptakan dengan suara Indah yang mengalun saling memejamkan mata menikmati rasa masing masing.
Rafa melepaskan ci**an itu memandang mata indah Intan yang baru saja terbuka, pandangan mata penuh rasa dari keduanya. Rona merah wajah Intan menandakan pancaran kebahagian yang di sembunyikan.
Intan menunduk malu di pandangi dengan penuh cinta oleh suaminya. Rafa memegang dagu runcing Intan dan mengangkat wajahnya, mata keduanya bertemu Rafa memegang bibir yang mulai membengkak itu dengan ibu jarinya, mengelus lembut begitu membuat Intan merasa nyaman
" Hari ini kamu menjadi milik mas seutuhnya, mas sangat mencintaimu, dengan segenap jiwa dan raga, ,, "
Intan terharu mendengar nya.
" Aku juga mencintai mu mas, sepenuh jiwa dan raga ku, jadikan aku milik mas satu satu nya ,!. "
" Itu pasti sayang...!. "
Rafa melanjutkan kegiatan yang selalu ia inginkan pada Intan, entah siapa yang mulai lebih dulu hingga mereka kini sudah tak mengenakan sehelai benang pun, Rafa membuat jejak di manapun yang ia sukai di tubuh mulus Intan ,termasuk sesuatu yang begitu lembut dan kenyal yang selalu ingin Rafa sentuh ,dan Intan mengikhlaskan apapun yang di lakukan suaminya .
Mereka berdua bermandikan keringat, hingga sudah tiba waktu nya melepaskan status gadis dan perjaka dari seorang Intan dan Rafa
" Sayang, tahan sebentar yah, mungkin akan sakit di awal,tapi itu tak akan lama setelah itu kita akan merasakan sesuatu yang berbedaberbeda. " Rafa berusaha menjelaskan pada istri kecilnya ini dengan suara berat nya, dan mata yang sudah di penuhi kabut
Intan mengangguk pasrah, hanya dengan bermain main seperti tadi saja sudah membuat nya lemas, ternyata itu masih belum selesai , hingga membuat dirinya menjadi takut.
Rafa kembali melakukan kegiatan itu hingga suara Intan yang berbeda terdengar Indah di indra pendengaran Rafa, suara itu dapat kembali membangkitkan semangat berci***ta dalam diri Rafa.
" Maass... " Tiba tiba saja Intan menahan dada bidang Rafa yang berada di atasnya .
" hemm?. "
" Aaaku takut !. " Intan berkata dengan pelan
" Sayang, percayalah sama mas !. "
" Bisakah kita tunda ?. "
" Tidak bisa !!!. " Kata Rafa tegas
Kali ini ia tak akan menuruti Intan untuk menundanya, ia sungguh-sungguh tak akan bisa, bisa bisa nanti otaknya meledak jika tak segera di tuntaskan.
" Tap..... emmmm. " Rafa segera membungkam bibir itu dengan bibir nya agar tak ada kata yang membuatnya berhenti di tengah jalan.
" Aakkkkhhhh..... " suara indah Intan terdengar serta cakaran kuku Intan pada punggung Rafa menjadi pertanda hilang sudah predikat gadis pada diri Intan. Tubuh Intan seperti tak bertulang, lemas sekali ia juga bingung padahal ia tak menggerakkan apa pun.
" Kenapa bisa selemas ini ??. " Gumam Intan dalam hati
Rafa merasakan lega karena sesuatu yang ia inginkan berhasil di keluarkan
__ADS_1
Rafa terus saja melakukan nya tanpa menghiraukan ocehan lucu dari mulut Intan,
" Mas Rafa sakit, mas Rafa bohong katanya ga sakit, mas Rafa menyingkir, mas aku mau pipis, mas Rafa jahat ,aku mau ke kamar ku saja...... "Dan masih banyak lagi kata kata yang menurutnya lucu..
Rafa melirik Intan yang tertidur karena kelelahan. Menutup seluruh tubuhnya yang polos dengan selimut, mata itu terlihat sedikit sembab, serta bibir yang membengkak akibat ulahnya,
" Maaf kan mas sayang, mas sungguh tak bisa menundanya lagi ...! " Dan apakah Rafa menyesal ? , jawabannya adalah tidak bahkan seandainya Intan tak menangis kesakitan mungkin ia akan melakukan lagi dan lagi Rafa mengelus pipi mulus Intan serta mencium dahi nya lalu beranjak menuju kamar mandi, ia mandi untuk menghilangkan rasa lengket karena keringat di tubuhnya karena aktifitas tadi.
Rafa sudah terlihat segar, menggunakan kaos polos serta celana bahan pendek ia keluar dari kamar, untuk mengambilkan Intan makanan.
" Cekrek...! " Rafa sengaja mengunci pintu kamarnya agar Intan tak keluar, Rafa turun ke lantai bawah, hanya tingal beberapa orang saudara nya dan para pekerja yang masih membereskan rumah.
Mamah dan papahnya masih ada di ruang keluarga, sedangkan bu Ida ada di kamarnya sedang beristirahat.
" Mah, pah...! " Rafa menyapa kedua orang tuanya dan duduk di sofa yang kosong.
" Mamah pikir kamu akan keluar kamar besok pagi, dan mungkin kamu akan di laporkan Intan karena adegan penyekapan tanpa di kasih makan !!!. " Ucap mamah Elen dengan sinis menatap Rafa
Pak Kuncoro mencoba menahan tawanya mendengar ucapan yang terdengar aneh.
" Apa sih mah !. " Rafa melirik kesal.
" Kamu itu , Intan ga kamu Izinin keluar yah ?."
" Intan sedang tidur mah, dia kelelahan !. "
" Memangnya kamu apakan Intan sampai kelelahan seperti itu ???. "
" Ini kan juga karena janji Rafa sama mamah !. "
" Janji apa ?. " Mamah Elen seperti sedang mengingat.
" Janji memberikan mamah cucu dengan segera !. " Ucap Rafa santai
" Ooalaah,,, iya, tidak apa apa kalau kamu dan Intan tidak keluar kamar, mamah siapkan makanan dan buah buahan yah, agar tenaga mu tetap kuat, kamu telfon saja jika butuh sesuatu tak perlu keluar kamar,,ooh iya mamah juga punya vitamin untuk Intan, tunggu di sini yah mamah siap kan semuanya nanti kamu bawa ke kamar....!!! " Mamah Elen langsung bangun dan berjalan menuju dapur.
Pak kuncoro hanya menggeleng geleng saja kalau sudah dengar kata cucu, istrinya itu langsung bersemangat .
Dan Rafa mencoba menahan tawanya melihat sikap mamah yang langsung berubah.
Rafa tak bisa menolak ketika mamahnya menyuruhnya membawa begitu banyak makanan dan minuman ke dalam kamar,
Saat Rafa masuk ke dalam kamar ia melihat Intan yang tertidur pulas . Mata yang begitu rapat terpejam.
Rafa yang sudah begitu lapar akhirnya ia memutuskan untuk makan duluan, Sampai dirinya selesai Intan belum juga terlihat bergerak bangun.
" Apa jangan jangan dia pingsan ?. " Rafa yang panik berjalan cepat ke arah ranjang.
" Sayang, sayang bangun !. " Rafa mengelus pelan pipi Istri nya. Belum ada tanda tanda kalau Intan akan bangun.
Rafa berdiri, dirinya mondar mandir di samping ranjang, ia bingung apa ia harus bilang pada mamahnya ? tapi mamahnya pasti akan memarahinya dan lagi Intan belum mengenakan apapun di tubuhnya.
__ADS_1
" Bagaimana ini ?. " Rafa masih terlihat bingung, " Coba sekali lagi deh ...!, "
" Sayang, sayang bangun,! " Kali ini Rafa menepuk nepuk pelan pipi Intan.
" Ibuuu, aku masih ngantuk...! " Intan berkata masih dengan mata terpejam dan ia menyingkirkan tangan Rafa pada pipinya.
" Huuffh... " Rafa merasa lega karena Intan tak sedang pingsan.
" Sayang apa kamu tidak lapar ?, ayo bangun kamu harus makan dulu. "
Intan membuka matanya, ia menampakkan wajah bingung, mengerjapkan matanya beberapa kali seolah olah sedang menegaskan penglihatannya. Dan itu terlihat menggemaskan bagi Rafa.
Rafa tersenyum manis pada Intan
" Mas Rafa sedang apa di sini ?. "
" Mas sedang apa ??. " Rafa mencoba menahan tawanya, rupanya Intan belum sadar sepenuhnya.
Intan duduk menyandarkan tubuhnya melihat ke sekeliling, ia tau bukan berada di kamar nya, Intan mencoba mengingat ngingat mengapa dirinya bisa ada di sini. Seketika ia menutup mulut dengan telapak tangan nya dengan ekspresi terkejut. Dan Intan juga merasakan dingin pada tubuhnya.
" Mas Rafaaaa......!. " Intan segera menutup tubuhnya dengan selimut karena ia lupa kalau belum mengenakan apa pun. Matanya menatap tajam ke arah Rafa.
" Kamu sudah sadar sayang ?, " Rafa menaik turunkan alisnya menggoda Intan
Intan menutup wajahnya dengan selimut karena malu
Rafa yang sejak tadi mencoba menahan sesuatu saat melihat pemandangan indah yang membuat suhu tubuhnya naik,
" Mas Rafa baju aku kemana ?. " Intan menengok ke kiri dan kekanan untuk mencari bajunya
" Kotor, ada di kamar mandi !. "
" Mas Rafa bisa tolong ambilkan aku baju ?, " Dengan perasaan malu Intan menyuruh suaminya.
" Memang nya mau kemana ?. "
" Ke kamar mandi !. "
Rafa mendekati Intan, Ia menunduk menyentuh kulit punggung dan lutut bagian bawa...
" Mmass Rafa mau aapa? , " Intan terlihat gugup. Sentuhan tangan Rafa pada kulit polosnya membuat Intan merinding.
" Kamu mau ke kamar mandi kan? mas bantu !. " Rafa membopong Intan hingga selimut itu otomatis terjatuh hingga membuat Intan begitu malu
" MAS RAFAAAA.....!!!!. "
-
-
tbc
__ADS_1
terimakasih untuk like, komen dan vote nya yang membuat othor menjadi semangat 😍😍 episode ini selalu di tolak 🥺. padahal sudah di kirim dari jam 5 pagi😔 itulah mengapa Episode ini di sebut mengesalkan