Om Om Jutek Tetanggaku

Om Om Jutek Tetanggaku
Gara gara motor


__ADS_3

Ucapan Rafa masih terngiang ngiang di pikirannya,


" Bantu saya untuk memastikan perasaan apa yang sebenarnya saya rasakan, jangan men diamkan saya, ceria lah seperti biasa, karena saya suka kamu yang seperti itu, dan jangan berusaha menjauhi saya . " Kata kata yang di ucapkan Rafa dengan begitu lembut tak dingin seperti biasanya. Intan merasa Rafa seperti memiliki dua sisi yang berbeda.


Saat itu Intan tak menanggapi apapun. Entah dia harus berekspresi seperti apa, antara senang dan entahlah...


Dan di situ Rafa juga meminta Intan untuk mengubah panggilannya


Siang Ini Rafa mengirimkan pesan pada Intan menanyakan apakah sudah minum obat atau belum.


" Sudah tau jawabannya masih saja bertanya." gerutu Intan


Intan tak membalas pesan itu.


***


Hari hari sudah berlalu, Intan dan Rafa bersikap seperti biasa, yah walaupun kadang mereka merasa canggung .


Kata kata Rafa saat itu tak di anggap oleh Intan, lebih tepatnya ia tak ingin terlalu percaya diri bahwa Rafa memiliki perasaan kepadanya, dan Rafa pun semenjak itu tak lagi membahas apapun. Itu yang membuat Intan sedikit demi sedikit mengubur perasaan nya.


Padahal Pria dewasa yang sedang duduk termenung memandangi langit dari dalam kaca gedung ruangannya begitu sangat berat memendam rasa selama ini. Dalam pikiran nya tak mungkin Intan gadis cantik yang masih belia mau dengan dirinya yang yang berumur jauh dari nya. Sikap dinginnya selama ini hanya untuk membentengi dirinya .


Dua hati yang yang berbeda generasi sebenarnya saling memendam rasa namun tak ada satupun di antara mereka yang berani menyatakannya.


***


" Bu, Ibu... " Intan berteriak memanggil ibunya yang berada di dalam, sedangkan Intan sedang melayani pelanggan


" Ada apa sih tan . "


" Itu mobil bawa motor baru kenapa berhenti di depan rumah kita . "


Bu Ida hanya senyum senyum saja.


" Dengan bu Nurida Lestari ?. " Tanya salah satu sales motor yang baru saja turun dari dalam mobil.


" Iya betul mas. "


" Saya mengantarkan pesanannya bu, silahkan di cek dulu . "


Bu Ida mendekati mobil yang membawa beberapa motor dan salah satunya milik Intan yang sengaja dia belikan.


" Yang Ini ya mas ?. " Tunjuk bu Ida


" Iya bu. "


" Ya benar , cocok. "


Setelah itu motor di turunkan dan bu Ida melihat semua kelengkapan nya. Dan setelah semuanya beres sales itu pun pergi.


" Bu Ini motor siapa?. " Intan mengitari motor matic keluaran terbaru.


" Itu motor buat kamu tan . "


" Buat aku bu?. "


" Iya . "


"Aaah.. terimakasih bu . " Intan memeluk ibu nya erat.


Bu Ida mengumpulkan uang bulanan yang biasa di berikan Rafa untuk membelikan Intan motor tanpa mengurangi tabungan nya.


Sore menjelang Intan dan Bu Ida sudah membereskan dagangan nya karena sudah habis.


" Bu aku mau ke depan sebentar ya. "


" Mau kemana ?. "

__ADS_1


" Ke mini market doang bu . "


" Ya sudah jangan lama lama mau magrib ini . "


" Iya bu . " Intan keluar rumah sambil membawa kunci motornya .


Intan mengendarai dengan hati hati, karena ia juga belum terbiasa mengunakan sepeda motor.


" Apa itu Intan ?. " Rafa melihat Intan baru saja keluar dari gang rumah.


" Dia mengendarai motor siapa ?. " Rafa masih melihat Intan dari kaca spion nya.


Intan berhenti di depan minimarket dekat rumahnya untuk membeli sesuatu. Setelah selesai Intan langsung pulang namun saat ia hendak masuk ke jalan raya ada seekor anak kucing yang tiba tiba saja memotong jalannya hingga membuat Intan mengerem mendadak hingga ia terjatuh ke samping.


" Adduuh..... " Intan merasakan sakit di sikut dan lutut nya. karena kebetulan Intan menggunakan celana pendek, hingga lutut nya berdarah


" Neng ga apa apa ?. " Tanya beberapa orang warga yang kebetulan ada di sekitar situ.


" Ga apa apa bang, bu, cuma lecet sedikit aja . "


" Mau di anterin ga neng . " Salah satu pedagang di pinggir jalan menawarkan diri.


" Ga usah bang makasih . "


" Ya udah hati hati ya neng . "


" Iya bang. " Intan pun melajukan kembali motornya.


" Ibuuuu...., bu... "


" Kamu itu seneng banget teriak teriak sih, magrib magrib juga . "


" Sakit bu . " Intan menunjukkan lutut juga sikut nya.


" Ya Allah Intan, kenapa ?. "


" Terus motornya ga apa apa ?. "


" Iiih... ibu kok yang di tanyain motor sih. "


" Ya kalau kamu kan udah keliatan ga apa apa, ini motor belum juga ada 1 hari udah di bawa ngebut aja. "


" Aku ga ngebut loh bu, itu tadi ada kucing. "


" Udah di bilangin kalau mau magrib ga usah kemana mana, sudah sana masuk, sekalian itu motornya di masukin, ibu lagi masak buat nak Rafa. " Bu Ida segera masuk ke dalam.


"Kamu beneran bisa nganterin makanan ini tan ?. "


" Bisa bu, lagi pula ini cuma luka kecil aja . "


" Luka kecil tapi tadi siapa yang merengek kesakitan. " Sindir ibu...


" Aah ibu, itu kan tadi pas lagi sakit sakit nya, sekarang kan udah sembuh . "


" Ya sudah ini kamu antar. "


Intan berjalan dengan sedikit tertatih karena luka yang di lututnya masih terasa jika di bawa berjalan.


Tak seperti biasanya Rafa sudah menunggu Intan di teras rumahnya. Karena sebelum sebelumnya Intan harus mengetuk beberapa kali dulu baru Rafa keluar


" Om, tumben om udah nungguin di luar, udah lapar ya , nih aku bawain . "


" Mas . " tegur Rafa


" Eeh iya mas . " Ucap Intan cengengesan melupakan perjanjian soal panggilan itu


"Masuk!!" Suara dingin Rafa terdengar

__ADS_1


" Diih... kenapa nih orang. " Batin Intan, namun Intan tetap mengikuti perintah Rafa untuk masuk kedalam.


Seperti biasa Intan langsung menyiapkan piring serta minuman di meja. Sedangkan Rafa masih berdiri sambil bersidekap memandangi Intan dengan tatapan tajam


" Kenapa sih mas liatin aku begitu ?. " Intan pun sebenarnya menyadari sedari tadi Rafa terus memandanginya.


" Kamu tadi naik motor siapa ? . "


" Motor aku mas, di beliin ibu . "


" Apa kamu sudah punya SIM ?. "


" Belum , mungkin lusa aku mau membuat nya . "


" Kamu tidak usah membuatnya!!. "


" Loh... memangnya kenapa ?. "


" Nanti kamu jadi main terus . "


" Dih,,, memangnya aku anak kecil apa ?. " Intan tak Terima


" Memang anak kecil. " Gumam Rafa


Intan tak ingin berdebat lagi, ia duduk di sofa tamu sambil memainkan ponselnya.


Intan menyelonjorkan kaki nya yang terasa sakit kalau di tekuk , sesekali ia meniup niup pelan kalau terasa perih.


" Lutut mu kenapa ?. "


" Jatuh .. "


" Jatuh dari motor ?. "


" Iya. "


" Saya bilang apa, kamu tidak usah bawa motor !!!" Suara Rafa sedikit meninggi hingga membuat Intan terkejut


" mas apa apaan sih, mas ga berhak ngatur ngatur aku . "


Intan berdiri hendak keluar dari rumah Rafa dia tak Terima tiba-tiba saja Rafa membentaknya.


" Tunggu. " Rafa berhasil menarik lengan Intan sebelum Intan keluar dari pintu


"Awww... " Intan merasakan sakit di sikutnya yang di pegang Rafa terlalu erat.


" Maaf, apa ini juga sakit ?. "


Intan mengangguk. Rafa membuka sedikit kaus yang menutupi sikut Intan ada luka gores yang lumayan lebar dan dalam.


" Apa sudah di obati ?. " Kata kata Rafa melembut


" Sudah. "


" Saya mohon berhati hati lah. "


Intan begitu terharu dengan kata kata yang di ucapkan Rafa. Lelaki yang kadang terlihat dingin, keras dan tak mau di bantah ucapannya itu kini berkata dengan lembut dan penuh perhatian '


" Saya tak ingin terjadi apa apa padamu. "


" Mas, kenapa mas bersikap seperti ini ? . "


" Kamu sudah dewasa untuk mengerti semua bukan ?. "


-


-

__ADS_1


tbc


__ADS_2