
" Bro, astaga,,,!! " Sandy begitu terkejut ketika melihat ruangan Rafa yang berantakan, bahkan serpihan kaca dari sebuah almari buku pun berserakan...
Rafa sendiri sedang berdiri di samping jendela, tak sedikitpun melihat ke arah Sandy yang baru saja masuk, wajah yang muram dan putus asa , ia tak ingin berlama lama di rumah, ia sungguh tak tega melihat anak lelakinya yang terus menangis.
" Bro ada kabar baik!!, "
Kata kata itu mampu menarik perhatian Rafa, ia pun berjalan mendekati Sandy dan duduk di hadapannya. Namun masih tanpa kata ia sudah beberapa kali mendengarkan kata kata itu namun pada akhirnya selalu tak berujung.
" Bro... beberapa hari yang lalu ada yang melihat sebuah Hellikopter melintas di desa A , mengarah masuk ke dalam hutan .! "
" Hellikopter tim SAR mungkin ?, " Jawab Rafa pesimis
" No bro, info ini valid ..!
Rafa mulai tertarik,
" Polisi sedang menyelidiki perusahaan pemilik helli itu ..! "
" Lalu hasil nya ?, "
" Pihak perusahaan bilang kalau Helli itu di sewa oleh seorang lelaki paruh baya , setelah gue selidiki orang itu ternyata lelaki yang tinggal di apartemen tempat yang sering di datangi Nola !, "
" Dari mana lo tau tentang apartemen itu, dan apa hubungannya dengan Nola ?!, "
" Saat masalah lo dulu dengan Intan gue udah menyelidiki dulu tentang Nola !. "
" Jadi lelaki itu kekasih Nola ?. "
" Tepat, tapi sepertinya dia tidak tau menau tentang masalah ini, ..! "
" Jadi kapan kita ke sana ?, "
" Tunggu sebentar , polisi sedang dalam perjalanan ke sini , Aaisss.. bro tapi ruangan lo berantakan seperti ini, bikin malu saja . "
Rafa tak menanggapi ocehan Sandy, ia menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa ia berharap kali ini istrinya benar benar di temukan,
Sandy menyuruh empat orang OB untuk membersihkan ruangan Rafa dengan cepat.
Tiga orang polisi berseragam preman masuk kedalam ruangan Rafa, menyampaikan beberapa temuannya yang mulai mengerucut pada sebuah desa di mana beberapa hari yang lalu Hellikopter pernah melintas rendah di wilayah itu, begitupun dari saksi saksi di sana yang pernah melihat sebuah mobil mewah melintas, namun tak seberapa lama mobil itu kembali lagi,Polisi itu menerangkan semua nya kepada Rafa juga Sandy.
__ADS_1
" Baiklah kita ke sana sekarang !!, "
" Maaf Pak ini sudah terlalu sore, akan sulit untuk masuk ke dalam hutan, ,,!. "
" Saya tidak perduli,, apakah kalian mau istri saya mati..! , sudah empat hari istri saya belum di temukan dan bahkan sampai saat ini saya tidak tau apakah istri saya masih hidup atau tidak!!!!.." Rafa membentak ketiga polisi itu.
" Bro sabar, " Sandy memegang pundak Rafa
Dengan kasar Rafa bangun dari duduk nya dan berdiri kembali di depan jendela.
Ketiga polisi itu pun memahami sikap Rafa, hingga lebih memilih diam lalu undur diri,,
" Lebih baik lo pulang bro, kasihan Arka pasti dia butuh pelukan lo, jangan sampai tak ada pelukan dari bundanya kini tak mendapatkan pula dari ayah nya , besok pagi kita berangkat." Setelah mengatakan itu Sandy meninggalkan ruangan Rafa .
Ucapan Sandy membuat air matanya menetes, ini lah titik terendah seorang Rafa , ia tak tau di mana keberadaan istri tercintanya dan setiap hari mendengar anaknya yang menjadi lebih sering menangis karena tak di beri asi karena stok asi yang selalu Intan simpan sudah habis, jadi nenek neneknya terpaksa memberikan susu formula. Dan mungkin Arka juga menahan rindu pada bundanya.
*
" Nak, kamu tidak apa apa ?, " Mamah Elen bertanya pada anaknya yang baru saja sampai dengan keadaan yang begitu kacau .
" Heemm... " Hanya itu jawaban Rafa lalu menaiki tangga menuju kamarnya. Ia ingin segera mandi dan menyegarkan tubuhnya, ia ingin segera bertemu dengan Arka. Setelah membersihkan diri Rafa turun kembali ke bawah untuk mencari anaknya.
" Di samping dengan kakek nya !, " Jawab bu Ida, sambil melihat menantu nya yang berjalan menuju keberadaan Arka, Bu Ida terenyuh dengan rasa cinta menantu nya itu pada anaknya, Rafa begitu terlihat sangat mencintai Intan, hingga tanpa sadar air matanya menetes mengingat anaknya belum juga di temukan.
" Da...? " Mamah Elen memegang pundak sang besan.
" Eeh... mba...! " Bu Ida langsung mengelap air matanya.
" Biarkan saja si bibi yang masak, kamu istirahat saja !!, " Mamah Elen paham apa yang sedang di rasakan bu Ida. Mereka sebenarnya punya beberapa pekerja. tetapi untuk memasak mereka lebih suka masak sendiri atau hanya di bantu bantu saja.
" Pah, sini Arka nya. "
" Bagaimana perkembangan nya nak ?, " Sembari menyerahkan Arka pada Rafa
" Besok pagi Rafa akan ke Desa A, ada petunjuk baru . ! "
Sebenarnya pak Kuncoro sudah mengetahui akan hal itu, karena pak Kuncoro sendiri selalu memantau perkembangan sekecil apapun,
" Besok papah ikut !!, "
__ADS_1
" Hemm...! " Hanya itu jawaban Rafa, ia lalu masuk sambil membawa Arka dan menaiki tangga menuju kamarnya melewati Bu Ida juga mamah Elen di ruang tamu,
Namun baik mamah Elen atau Bu Ida tak ada satupun yang bersuara. Mereka membiarkan Arka di bawa ayah nya, kedua ayah dan anak itu sedang melepas kangen.
Pak Kuncoro menceritakan pada Istri juga besan nya sola perkembangan pencarian dan juga tentang kepergian mereka besok .
" Pah kita boleh ikut ?, "
" Jangan dulu mah, nanti jika ini kabar baik pasti akan langsung papah kabari, lagi pula kasihan Arka, ! "
" Baiklah pah !, " Mamah Elen juga tak tega meninggalkan Arka, biarpun ada pengasuh tapi Arka selalu tidak nyaman, mungkin karena setiap harinya selalu bersama nenek nenek nya Arka menjadi tak mau jika di gendong dengan orang lain selain keluarganya.
Sudah saatnya untuk makan malam namun Rafa dan Arka belum juga keluar dari kamarnya.
" Mah, coba lihat ke kamarnya!, " Ucap pak Kuncoro.
" Iya pah . "
Mamah Elen menaiki tangga menuju kamar Rafa, secara perlahan ia membuka pintu, kamar Rafa terlihat gelap mungkin Rafa belum menyalakan lampu. Mamah Elen menyalakan lampu, Pemandangan yang ia lihat justru membuat air matanya menetes.
" Intan pulang lah dengan keadaan selamat !," Doa mamah Elen sambil melihat ke arah ayah dan anak yang sedang tertidur dengan saling berpelukan.
Hari ini Rafa bangun dengan lebih segar dan bersemangat, mungkin karena anak nya sudah memberikan energi lebih padanya, dan juga hari ini ia akan ikut proses pencarian Istrinya.
" Mah, bu , doakan yah semoga hari ini Rafa bisa pulang dengan Intan . " Rafa mencium kedua tangan orang tuanya.
" Pasti nak, !
" Amiin, hati hati di jalan !, " ucap bu Ida
Rafa dan pak Kuncoro segera berangkat karena sudah di tunggu oleh beberapa polisi juga tim SAR, Sandy pun sudah lebih dulu datang.
Perjalanan lumayan sulit untuk di lalui, Mereka sudah hampir di penghujung Desa dan akses jalan pun sudah tak bisa lagi di lalui mobil, hingga semua harus berjalan kaki. Rafa tak bisa membayangkan jika benar istrinya tinggal di dalam hutan, bagaimana dia makan , bagaimana dia tidur dan aaahh... hati Rafa begitu sakit untuk membayangkan itu .
Seorang lelaki tua segera mudur dari kerumunan penduduk Desa yang melihat begitu banyak polisi juga orang orang kota yang jarang sekali mereka lihat. Lelaki tua itu berjalan cepat menjauh, kaki nya lemas gemetar di seluruh tubuhnya. Lelaki tua itu di landa ketakutan.
-
-
__ADS_1
tbc