
" Mas Rafa jangan seperti ini nanti ada yang lihat.! Rafa menyudutkan Intan ke tembok samping rumah nya .
Rafa mengungkung Intan hingga gadis itu tak bisa bergerak.
" Sayang kita langsung menikah saja yah !?. "
" Apaan sih mas Rafa, aku juga kan belum selesai kuliahnya, tunggulah satu tahun lagi !. "
"Setahun itu lama sekali Sayang !. " Rafa terlihat frustasi.
" Emang nya mas Rafa mau ngapain sih buru buru banget mau nikah ?. "
" Mas Rafa ingin kasih orang tua kita cucu sayang !. " Ucap Rafa lembut sembari mengelus lembut bibir pink imut milik Intan dengan ibu jarinya.
Intan paham apa yang akan terjadi jika Rafa memegang bibir nya.
" Mas jangan nanti ... Eeemm... . " Rafa sudah menempelkan bibirnya dulu sebelum Intan menyelesaikan ucapannya.
Intan mendorong paksa tubuh Rafa hingga ciuman syahdu itu selesai.
" Sayang ada apa ?. " Rafa terlihat tak Terima.
" Mas Rafa kok jadi mesum gini sih, bentar bentar cium, bentar bentar cium !. "
Rafa terkekeh mendengar perkataan kekasih nya itu.
" Itu karena ini adalah milik mas .! " Rafa mengelus bibir mungil Intan
"Enak saja ini milik aku, !. "
" Tidak boleh ada siapa pun yang menyentuh nya kecuali mas, Cup ...!. " mengecup kilas Bibir mungil itu.
" Tapi boleh dong bibir ini merasakan yang lain !. "
" Jangan macam macam Intan !. " Rafa menatap tajam Intan
Intan menelan ludahnya ngeri melihat tatapan tajam itu. Padahal maksudnya bukan itu. Rafa pikir ia perempuan apaan.
" Di kantor nanti kamu tidak boleh dekat dengan lelaki manapun, ,,!. "
" Mana bisa begitu mas, kita saling berhubungan hanya karena ada pekerjaan, masa aku harus menghindari setiap ada karyawan laki laki, nanti aku di kira sombong lagi!. " Rafa terlalu berlebihan menurut nya
" Ya sudah kalau begitu kita segera menikah agar mas bisa tenang !. "
" Tau aah mas, aku mau tidur ...! , " Intan mendorong tubuh Rafa dan berlalu masuk ke dalam.
" Kita lihat saja besok !!!. "
***
Hari ini Intan sudah berangkat ke kantor dengan menggunakan sepeda motor nya, karena ia berangkat pukul 7 , sedangkan Rafa baru akan berangkat pukul sembilan.
Ya walaupun Rafa bilang akan mengantarkannya lebih dulu, namun Intan menolak nya. Terjadilah perdebatan namun itu di menangkan oleh Intan
" Intan cepat bereskan meja mu, mulai hari ini kamu di pindahkan ke lantai atas . " tiba-tiba saja pak Budi berkata seperti itu saat baru datang ke ruangan nya
" Kenapa pak ?, apa saya membuat kesalahan ?. " Intan bingung kenapa tiba-tiba ia di pindahkan
" Tidak, Pemilik perusahaan ini sendiri yang meminta mu , jika ada pertanyaan silahkan tanyakan langsung dengan pak Sandy. " Sejujurnya Pak Budi sendiri juga bingung dengan perintah itu, karena dengan kehadiran intan sudah membantu meringankan pekerjaannya
__ADS_1
# flashback #
Pak Budi kini berada di dalam ruangan Rafa.
" Bagaimana kinerja anak magang di bawah bimbingan Anda pak ?. " Rafa bertanya dengan Pak Budi
" Maksud bapak Intan ?. "
Rafa hanya mengangguk.
" Kinerjanya bagus Pak, hampir minim kesalahan semua sesuai waktu yang di berikan, anak yang rajin juga tak pernah mengeluh !. "
" Bagus, sesuai kriteria !. "
" Maaf Pak maksudnya bagaimana ?. "
" Begini, minggu depan saya ada proyek di Canada dan akan di wakilkan oleh Sandy , Dan secara otomatis posisi sekertaris kosong, tolong suruh Intan menggantikan posisi Pak Sandy sampai dia kembali. "
" Baiklah Pak. " Pak Budi sebenarnya sedikit keberatan karena selama ini Intan dapat meringankan pekerjaan. Namun sekali lagi ia bisa apa jika yang memintanya seorang pemilik perusahaan nya langsung.
" Baik Terimakasih pak Budi, dan kalau dia bertanya silahkan menanyakan langsung pada pak Sandy. " Ucap Rafa
" Baik pak, Saya permisi . "
" Silahkan !. "
Pak Budi pun keluar dari ruangan Rafa
# Flashback of #
" ini pasti ulah mas Rafa, seenaknya saja. " Intan merapikan mejanya, keluar dari ruangan itu menuju lantai atas di mana ia di pindahkan.
" Siang !. " Sandy menahan tawa nya melihat raut wajah Intan yang
" Di mana ruangan ku ?. " Intan bertanya dengan sedikit ketus
" Santai Demus, seharusnya kamu duduk di sini menggantikan ku, tapi selama aku belum berangkat ruangan mu ada di dalam !. " Sandy menunjuk ruangan Rafa yang tertutup
" Yang benar saja ?. " Intan terlihat tak Terima
" Protes lah di sana !. " Sandy menunjuk kembali ruangan Rafa
" Dengan senang hati ! " Intan melangkah kesal berjalan ke ruangan Rafa. Bahkan ia lupa mengetuk lebih dulu.
" Rasakan kau!!. " Sandy tertawa saat Intan menerobos masuk ke dalam
" Apa maksud mu mas ? ." Intan langsung saja bertanya pada Rafa
" Silahkan tempat duduk mu di sana, kerjakan apa yang harus kamu kerjakan. " Rafa berkata datar tanpa melihat Intan,
Dan itu membuat Intan sadar kalau Rafa adalah bos nya di sini, Intan merasa sedikit malu. " Baiklah Intan kamu profesional." ucap Intan dalam hati.
Intan menengok ke sebelah kanan nya ada 1meja dengan kursinya yang sebelumnya tidak ada di ruangan itu.
" Duduk lah, kamu tidak akan bisa bekerja sambil berdiri !. " Rafa melihat Intan yang masih berdiri memandangi meja kerja nya yang baru.
Intan duduk tanpa berkata apa apa, merapikan beberapa barang yang ia bawa dari meja nya yang lama.
Rafa tersenyum menang dalam hatinya. Ia bisa terus memandangi Intan yang kini menjadi moodbooster nya, dan juga bisa melihat dengan siapa saja ia berinteraksi. Dengan kata lain Rafa bisa menjaga Intan agar tak ada lelaki yang selalu mencuri curi pandang pada nya.
__ADS_1
Intan fokus dalam bekerja, Sehingga tak sadar jika ada yang memperlihatkan nya, menikmati raut wajah Intan yang berubah-ubah saat sedang berfikir. Hingga Intan mengucak kedua matanya dengan kedua tangannya karena matanya begitu terasa lelah karena terus saja memandangi layar laptop.
" Jangan di biasakan seperti itu, itu bisa melukai mata mu nanti !. " Ucapan Rafa pada Intan
Intan langsung menatap Rafa sekilas, ia tak menanggapi ucapan nya , lalu fokus kembali pada pekerjaannya, ia masih menyimpan kesal dengan Rafa.
" Huufff... " Rafa paham kalau kekasih kecilnya itu sedang ngambek pada nya.
Sampai tiba saatnya makan siang, Intan merogoh dompet pada tas nya juga membawa ponsel nya, ia ingin pergi ke kantin
" Mau ke mana ?. " Tanya Rafa saat melihat Intan beranjak dari duduk nya
" Mau ke kantin pak, ini sudah waktunya istirahat !. "
" Apa kamu tau tugas mu sebagai sekertaris itu apa saja ?. "
Ingin rasanya Intan mencabik cabik lelaki yang bergelar bos sekaligus kekasihnya .
" Maaf Pak saya tidak tau kalau saya di sini itu sebagai Sekretaris. " Intan berkata dengan penuh penekanan, sekaligus tatapan yang tak bersahabat.
Rafa sudah tidak tahan kali ini , ia pun segera berdiri menghampiri Intan yang tetap hendak keluar.
" Sayang tunggu!!!. " Rafa memeluk Intan dari belakang, menghirup aroma manis khas kekasihnya
" Lepas pak aku mau keluar !, ini adalah kantor, bapak jangan macam macam atau aku laporkan pada......!. " Intan berfikir pada siapa ia harus melaporkan sedangkan lelaki yang seenaknya ini adalah pemilik nya
" Sayang maaf, kamu pasti marah yah?. "
" Iya aku marah sama mas yang selalu semaunya saja !. "
" Sayang ..., " Rafa membalikkan tubuh Intan hingga mereka saling berhadapan. Intan memalingkan wajahnya enggan menatap Rafa. Tangan Rafa menyentuh rahang Intan lembut dan menggesernya hingga tatapan mereka bertemu.
Rafa mendekatkan wajahnya pada wajah Intan hingga tak berjarak, saling merasakan deru nafas masing-masing. Bibir tebal Rafa bertemu dengan bibir mungil Intan. Ciuman pun terjadi, kesyahduan dan kelembutan Rafa yang selalu tak bisa di tolak Intan. Belaian lembut tangan Rafa pada tengkuk nya membuat sensasi yang berbeda, Hingga Intan terhanyut, rasa kesal dan marah entah menguap kemana, itulah sebabnya jika Intan marah ia lebih memilih menghindari Rafa agar rasa marahnya tetap utuh, Jika sudah begini ia jadi malu sendiri.
Rafa memberi jeda untuk Intan menghirup oksigen lalu melanjutkan kembali yang menjadi candunya. Dan ciuman itu terhenti saat terdengar ketukan pintu hingga membuat Intan terkejut dengan segera mendorong tubuh Rafa
Rafa mengeram kesal, Intan buru buru kembali ke meja nya. Menetralkan detak jantung nya agar normal kembali.
Rafa menggeser kunci membuka pintunya.
" Haai....Rafa apa kabar ?. " Diana menyapa sambil mencium pipi kanan dan kiri Rafa.
Dengan reflek Rafa mendorong tubuh Diana namun tanpa sengaja ia justru memegang sedikit bagian yang menonjol milik Diana.
" Aawww... "
" Maaf, maaf saya tidak sengaja . " Rafa mengangkat kedua tangannya panik
Intan yang sedang duduk dan kejadian tadi tak luput dari penglihatan nya , ia mengepalkan kedua tangannya di meja dengan raut wajah yang merah menahan marah
Sekilas Rafa melihat itu tubuhnya kini menjadi gemetaran, ia sungguh tak sengaja dan betapa bodohnya dia melakukan itu di depan kucing kecilnya dan ia yakin sebentar lagi akan menjadi singa.
-
-
Tbc
Jangan lupa like, komen dan beri vote juga bintang 5 nya yah, agar cerita ini bisa naik 🙏
__ADS_1