
" Lepas mas, " Intan berusaha melepaskan tangan Rafa
" Tidak Intan kamu harus ikut dengan mas ! , "
Rafa berkata dengan tegas
" Baiklah nanti aku menyusul !. "
" Tidak, kita pergi bersama . "
" Tapi aku mau ke kamar kecil dulu mas, " Alasan Intan
" Baiklah mas tunggu di sini !. "
" Terserah , " Dengan kesal Intan masuk ke dalam kamar.
Intan duduk di tepian kasur,ia merenungi ucapan ke tiga ibu ibu tadi yang sepakat akan menjodohkan Rafa dengan Diana.
" Yah, mereka memang sangat cocok, cantik dan tampan, sama sama berpendidikan, dan mereka dari golongan orang yang berada , sedang kan aku,, siapa aku ini ? , hanya itik buruk rupa di antara mereka!!!. " Intan berkata dengan pelan pada diri sendiri, Kepercayaan diri Intan entah pergi kemana . Tanpa sadar Intan meneteskan air mata nya , sesak rasanya dada Ini,
" Intan, kenapa lama sekali ?, " Rafa mengetuk pintu kamar Intan
Intan langsung buru buru mengelap air matanya.
" Iya mas sebentar , " Ia harus buru buru keluar sebelum Rafa mendobrak pintu kamarnya
Namun cekalan tangan Intan pada handle pintu terhenti walupun pintu sudah sedikit terbuka, ketika mendengar percakapan di balik pintu
" Rafa,bisakah kita bicara ?. "
" Tidak di sini !. '
Rafa pergi dari depan kamar Intan dan di ikuti oleh Diana.
Intan melihat mereka berdua pergi, ia sungguh bingung harus bersikap seperti apa.
Ia cemburu, bahkan mungkin ia sangat cemburu, namun ia bingung harus berekspresi seperti apa.
Intan memilih membuatkan Rafa juga Diana minuman, rasanya tidak pantas jika ia berdiam diri di kamar,
" Silahkan minumannya mas Rafa dan kak Diana , " Intan menaruh minuman itu di meja kaca bulat di hadapan Rafa dan Diana yang duduk berdampingan.
" Terimakasih Intan, Mari duduk bersama kita , " Dengan ramah Diana menyuruh Intan bergabung dengan mereka
" Tidak kak, aku di dalam saja, "
" Duduk lah , " Ucap Rafa dingin tak seperti biasanya
Seketika Intan terkejut dengan ucapan Rafa barusan.
" Sudah duduk saja, kita hanya mengobrol biasa kok . " Diana melihat ekspresi wajah sendu Intan.
Intan pun duduk di samping Rafa, dan Rafa berada di tengah tengah antara mereka.
" Rafa bisakah lusa nanti kamu temani aku , ke kampus ku yang baru, aku belum hafal daerah sini !?. "
__ADS_1
" Baiklah lusa saya akan menemani mu !. "
Tadi Rafa berkata dingin padanya, lalu kenapa dengan Diana dia biasa saja , apa maksud nya ??
Rafa dan Diana mengobrol begitu akrab, hingga sudah beberapa kali Ia melihat Rafa tersenyum, apa Diana memang memiliki hubungan khusus di masa lalu Rafa yang ia tidak tau ?,
Rasanya Intan ingin menghilang saja, menyaksikan pasangan yang terlihat sangat serasi jika di bandingkan dengan dirinya.
" Derrrt,,, derrrtt, " Getaran di ponsel Intan berbunyi , yaah,, untuk kali ini ia begitu bahagia hanya dengan mendengar bunyi ponselnya, dengan begitu dia ada alasan untuk undur diri dari dua orang yang sedang bernostalgia itu.
" Aku permisi sebentar , " Intan berpamitan mau mengangkat telponnya, ia mendapat anggukan dari Diana namun hanya tatapan datar dari Rafa.
" Bu, mah, tante , aku pamit duluan yah ?. "
Intan memutuskan untuk pulang karena ada teman yang sedang menunggu nya di rumah.
" Looh,, memangnya ada apa Intan ? , " Bu Ida bertanya pada anak gadisnya
" Ada temanku menunggu di rumah . "
" Sepenting itu kah nak?. " Sambung Mamah Elen
" Iya mah, dia dari luar kota, kasihan kalau harus balik lagi. "
" Ya sudah kalau begitu ibu juga pulang deh, "
" No Ida , kamu jangan pulang dulu!. "
" Iya bu, nanti saja pulang nya. "
" iya bu, mah , "
" Apa kamu sudah bilang sama mas mu ?, Biar dia yang antar, " Ucap mamah Elen
" Aku sudah bilang mah, lagi pula aku sudah memesan Ojek online , " Intan terpaksa berbohong padahal yang sebenarnya ia belum izin pada Rafa
Intan pun pulang dengan mengendarai ojek online yang dia pesan nya, walaupun ia kesulitan karena memakai dress.
Kini Intan duduk di teras rumah nya seorang diri tak ada yang menunggu nya seperti yang tadi ia bilang, entah lah ia begitu merasa sesak di sana, melihat begitu akrab nya antara Rafa dan Diana, konyol memang kenapa Intan memilih pulang, bukan mengawasi kekasihnya , Intan menertawakan dirinya sendiri.
Intan memilih masuk ke dalam kamar nya , ia tak khawatir dengan ibunya karena biasanya Ibunya akan di antar oleh supir mamah Elen.
Apa Intan kekanak kanakan??, Jawabannya adalah" iya " Intan tetap lah Intan
***
Di kediaman mamah Elen
Rafa terlihat' gelisah karena sudah hampir satu jam Intan pamit mengangkat telpon sampai saat ini belum juga kembali ,
" Ada apa Rafa ? , kamu kelihatan gelisah sekali, " Diana yang sedari tadi memperhatikan Rafa
" Tidak apa apa Die, "
Diana menjadi berbunga-bunga karena Rafa tetap memanggilnya dengan nama pendek, yang hanya Rafa saja yang memanggilnya dengan sebutan itu, karena terdengar mesra di telinganya.
__ADS_1
" Sebaiknya kita masuk, udara di luar semakin dingin. "
Mereka pun masuk ke dalam dan bergabung dengan orang tua mereka yang sedang asik mengobrol di ruang tamu.
Rafa mengedarkan pandangan nya mencari seseorang yang sedari tadi tidak kelihatan.
" Rafa bisa kah kamu mencarikan apartemen untuk Diana ?. "
" Nanti aku akan suruh Sandy mencari nya mah. "
" Jadi sementara Diana belum mendapatkan apartemen dia akan tinggal di sini dulu . "
Rafa terkejut dengan apa yang di ucapkan mamahnya, ia ingin menolak tapi bisa apa, toh dia juga tidak tinggal di sini
" Dan kamu Rafa harus sering sering ke sini yah, temani Diana berkeliling sebelum dia di sibukkan dengan tugas mengajarnya , " Mamah Elen ingin mendekatkan anaknya dengan Diana
" Kita lihat nanti saja mah, kalau Rafa tidak sibuk . "
Rafa masih juga belum melihat keberadaan Intan, dia berfikir mungkin Intan ada di kamarnya, hingga ia berpamitan hendak ke kamar kecil padahal ia ingin ke kamar Intan
" Kemana dia ?. " Rafa melihat kamar Intan yang kosong, bahkan dia sudah mencari kemana mana .
" Nak Rafa kamu sedang apa ?. " Bu Ida melihat Rafa yang terdiam di depan kamar Intan.
" Intan kemana bu ?. "
" Loh, memangnya Intan tidak bilang kalau dia pulang lebih dulu ?. "
" Pulang ?, ada apa dia pulang ?. " Rafa terkejut mendengar kalau Intan sudah pulang
" Katanya ada temannya yang dari luar kota menunggunya di rumah . "
" Teman dari luar kota ?. " Rafa mengulangi ucapan bu Ida
" Tapi , tadi Intan bilang sudah pamit dengan nak Rafa. "
" haahh, Iiya mungkin tadi saya terlalu asik mengobrol sehingga tak terlalu mendengar Intan berpamitan, " Bohong Rafa
" Baik lah, ibu tinggal ke depan ya . "
Rafa mengangguk.
" Kamu selalu saja seenaknya sendiri Intan . " Rafa sungguh kesal kali ini dengan pulang nya Intan tanpa pamit terlebih dahulu, tau kah Intan kalau ia sangat menghawatirkan dirinya, ia takut kalau kalau baj***gan itu masih mengikuti Intan.
Dengan kesal Rafa mengendarai mobilnya menuju rumah Intan yang sebelumnya ia berpamitan bahwa ada urusan mendadak yang harus ia selesaikan.
" Brakk, " Rafa membuka pintu kamar Intan dengan kasar
-
-
-
tbc
__ADS_1