
" Sepertinya lo harus lebih menjaga Intan lagi Bro !, Bed**ah kecil itu sepertinya bukan orang sembarangan , karena dia terobsesi dengan Intan !!. " Sandy memberi nasihat pada Sahabatnya itu
Rafa manggut manggut setuju " Dan gue juga ga mau Intan bekerja lagi di tempat itu, masih berisiko jika Intan masih bekerja karena tempat nya yang lumayan jauh . "
" Ya gue setuju , terus langkah selanjutnya apa ?. "
" Gue nunggu Intan pulih dulu. "
Sandy paham, fokus Rafa kini tertuju pada Intan, namun dia akan siap membantu sahabatnya itu kapan pun di butuhkan.
***
Tiga hari sudah Intan di rawat di Rumah sakit dan akhirnya di perbolehkan pulang.
Kini mamah Elen, Pak Kuncoro, juga Rafa berada di rumah bu Ida ikut mengantar Intan pulang dari rumah sakit.
" Mbak Elen, mas kuncoro terimakasih loh, selama ini sudah membantu Intan dan juga buat Nak Rafa yang selama ini selalu di repotkan. " Bu Ida merasa sangat bersyukur bisa di pertemukan dengan orang baik seperti keluarga Rafa
" Kamu itu bicara apa sih Da ?, Intan juga kan anak kita bersama, sudah sepantasnya kami di ikut sertakan, Ini loh yang kami mau sebenarnya, dari pada punya anak tapi seperti tidak punya anak . " Sindir Mamah Elen untuk anak lelakinya yang terlalu mandiri hingga membuat mereka seperti tak punya anak
Rafa melirik sekilas ke mamah nya , ia tau sindiran itu untuk nya.
" Kalau ada apa apa hubungi kita saja Ida, jangan sungkan !. " Pak Kuncoro menimpali
" Iya mas, jadi kalaupun saya pergi lebih dulu, mungkin saya akan tenang karena Intan memiliki keluarga seperti kalian. "
" Huusss, kamu itu Da, ngomong nya ngelantur . "
Mereka pun mengobrol santai, sedangkan Intan sudah lebih dulu beristirahat di kamar,
Dalam hati Rafa ingin sekali ia menyusul Intan di kamar dan menemaninya, namun itu tidak mungkin ia lakukan saat ini.
" Ida kita pamit dulu yah ?, kalau ada apa apa segera hubungi kami. "
" Iya mba . "
Keluarga Rafa pun pamit, Rafa mengantarkan mereka sampai ke mobil
" Kamu mau ikut mamah pulang ?. " Mamah Elen bertanya pada Rafa.
" Nanti mah .. " Rafa menggaruk lehernya
" Nanti,,, nanti,,, nanti kapan ?. " Bu Ida sudah mulai kesal
" Mah,, sudahlah jangan Ribut di sini , " Pak Kuncoro menengahi ibu dan anak itu sebelum panjang urusannya
Dan akhirnya Mamah Elen pun masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi.
Rafa kembali ke dalam rumah Intan, Ia melihat bu Ida melamun di depan TV.
" Bu Istirahat lah dulu, biar saya yang menjaga Intan, Ibu kelihatan lelah sekali , "
"Tidak apa apa nak Rafa, nak Rafa saja yang beristirahat !. "
__ADS_1
" Bu, Ibu jangan sampai kelelahan, Intan masih butuh Ibu saat ini, kalau ibu sakit siapa nanti yang menemani Intan! "
" Baik lah Nak, Ibu istirahat sebentar yah, kalau ada apa apa jangan sungkan bangunkan Ibu. "
" Iya bu . "
Dan bu Ida pun memasuki kamar nya, Sedangkan Rafa ia berkutat di sofa depan TV sambil memangku laptopnya mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda , sesekali ia melihat ke kamar Intan di lihatnya masih tertidur pulas ia pun menutup kembali secara perlahan pintu kamar Intan
Tanpa Rafa sadari ia tertidur di sofa dengan posisi duduk dan bersandar pada sofa. Intan keluar dari kamar secara perlahan tak Ingin membangunkan Rafa
Gemericik Air terdengar di telinga Rafa, hingga ia terbangun, berjalan ke arah kamar Intan dan membuka pintu kamar, ternyata Intan tak ada di sana, ia pun berjalan menuju kamar mandi.
"tokk, tokk, Intan kamu di dalam ?. "
" Iya mas . "
Rafa pun bersandar pada dinding kamar mandi menunggu Intan keluar.
" Sayang, kenapa kamu ke kamar mandi tidak membangunkan mas !. " Rafa memapah Intan
" Mas, jangan berlebihan deh, aku tuh sehat tau ,,.!
" Iya sayang mas tau kamu sudah sehat , " Rafa mengusap pucuk kepala Intan
" Mungkin lusa aku sudah bisa bekerja!. "
Rafa menarik pelan tangan Intan menuju kamarnya .
Intan mengangguk
" Apa kamu tidak takut kejadian serupa menimpa kamu kembali ??. "
Intan terdiam menunduk, sungguh kejadian itu sebenarnya membuatnya trauma, bahkan sampai saat ini ia tak mau melihat cermin. Tanda merah di lehernya karena ulah bejat Irfan membuat nya takut
Tiba tiba saja bahu Intan bergetar menahan tangis, Intan menutupi wajah dengan kedua tangan nya.
" Sayang maaf kan mas, bukan maksud mas mengingatkan mu atas kejadian itu! , " kini Rafa merasa bersalah membuat Intan mengingat kembali tragedi itu
" Aku takut mas . "
" Sayang, lihat mas !. " Rafa memegang kedua bahu Intan
Intan menatap mata Rafa dengan tatapan sendu, yang membuat Rafa sedikit menarik nafas panjang.
" Sayang, mau kah kamu menurut sama mas ?. "
Dan Intan mengangguk.
" Berhentilah bekerja di tempat itu !!, dan jika kamu ingin tetap bekerja mas akan carikan pekerjaan untuk mu , apa kamu mengerti ?. "
Intan kembali mengangguk pasrah, kejadian kemarin membuat Intan trauma, jadi dia mau tidak mau akan menurut dengan Rafa.
" Kekasih mas bisa kan mulai kali ini menjadi gadis penurut ??. "
__ADS_1
" Iya mas. "
Rafa mendekatkan wajahnya pada wajah Intan, namun di tahan oleh Intan
" Mas, nanti ada Ibu . "
" Ooh Iya . " Rafa menggaruk tengkuknya malu
" Dan jangan panggil sayang jika di rumah, takut Ibu dengar. "
" Iya mas kebiasaan, Kalau begitu mas pulang yah, kamu Istirahat lagi, besok pagi mas ke sini . "
Intan mengangguk.
Rafa pun pulang tanpa berpamitan dengan bu Ida karena takut menganggu. Intan lah yang mengunci rumahnya saat Rafa keluar.
***
Pagi pun menjelang, sebelum berangkat bekerja seperti biasa Rafa sudah berada di rumah Bu Ida untuk sarapan .
" Ini mas sarapannya . " Intan sudah menyendokkan nasi beserta lauk pauknya di piring dan memberikannya pada Rafa.
" Terimakasih sa.... " Rafa tak meneruskannya karena mendapat tatapan tajam dari Intan
Mereka pun sarapan bertiga dalam diam, Intan akan mulai berkuliah hari senin depan setelah mengambil cuti selama satu minggu .
" Ooh iya bu, besok mamah mengundang Ibu dan Intan kerumah !. "
" Ada acara apa nak ?. "
" Tidak tau bu, mamah kadang kadang susah di tebak orangnya !. " Jawab Rafa dengan ekspresi datar
" Mamah mu itu memang lucu loh , " Jawab bu Ida sambil tersenyum
" Lebih ke menyebalkan sepertinya bu ! , " Rafa menimpali
" Kamu itu ada ada saja nak !. "
Intan membereskan bekas makan mereka dan membawanya ke dapur.
" Ooh iya Ibu baru ingat, waktu yang lalu mamah mu pernah bercerita pada Ibu kalau akan mengenalkan mu pada salah satu anak sahabat nya yang tinggal di Surabaya , atau jangan jangan besok itu akan membahas tentang perjodohan mu nak .? !. "
" Pranggg... " Bunyi benda kaca yang terjatuh
" Intaaan... " Rafa langsung berjalan cepat ke dapur di susul Bu Ida.
-
'
-
tbc
__ADS_1