Paket Cinta Sang Embun

Paket Cinta Sang Embun
Suara dalam kamar


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Kabar bahagia itu tentu di sambut baik oleh keluarga Rahardian, meski harus di awali dengan rengekan Sam yang seolah tak percaya dengan apa yang di katakan putrinya barusan.


Sedangkan Air langsung menghubungi kedua saudara kembarnya dan tak lupa Onty Ameera, ia adalah satu-satunya yang paling di tuakan.


Wanita itu masih hidup meski harus bergantung dengan obat karna sakit yang diderita, bersyukur suami dan dua anaknya begitu sabar dan setia mendampingi sang Nyonya besar Pradipta tersebut.


"Mhiu gak nyangka akan dapat kabar baik ini, Sayang. Jaga dirimu ya, Nak. Mhiu sangat-sangat bahagia" ucap Biru saat memeluk erat penuh sayang si sulung.


"Iya, Mhiu. Doakan kami selalu dalam keadaan baik-baik saja ya."


Lain Biru, lain juga dengan Sam. Ia yang paling histeris saat mendengar gadis kecilnya sedang mengandung. Embun yang serasa baru kemarin ia timang dan ia gendong dalam hitungan bulan justru ia yang akan menggendong.


Waktu begitu cepat berlalu, dan Sam tak ingin melewatkan semua momen terbaik dalam keluarganya.


"Ada keturunan Rahardian dalam Rahimmu. Phiu senang dan bangga"


"Iya, Phiu. Rahardian dan Lee ada di sini" sahut Embun sambil mengelus perutnya.


"Kita harus adakan syukuran kecil kecilan, Moy kamu sama Khayangan bisa urus, kan?" titah Air yang mulai sibuk mempersiapkan banyak hal untuk cicit pertamanya itu.


"Acara apa?" tanya Hujan.


"Kita bisa silaturahmi, Moy. Panggil semua anak yatim piatu kita. Kumpulkan di tempat biasa"


Hujan mengangguk paham begitu pun dengan Biru tapi tidak dengan Keanu.

__ADS_1


"Panti asuhan keluargamu kan banyak" bisik pria itu.


"Seratus dua lima"


"Anak yatimnya jadi berapa?" tanya Keanu lagi.


"Butuh sehari buat ngitung" sahut Embun.


Bukan hal aneh bagi keluarga Rahardian berbagi dengan cara seperti itu.Selain Panti asuhan ada juga panti jompo. Semua akan merasakan kebahagiaan yang sama rata tanpa perbedaan.


"Abi dan Umma mu sudah tau?" tanya Hujan pada Keanu.


"Belum, Moy. Baru nanti malam kami akan kesana sekalian menginap seperti biasa."


"Iya, kabar baik tak boleh di tunda. Segera beritahukan mereka agar bisa ikut di acara nanti"


"Iya, Pay.


.


.


.


Malam hari, pasangan suami istri bergegas ke rumah Abi dan Umma. Tanpa berkabar lebih dulu mereka berniat memberi kejutan.


"Kok sepi ya?" ucap Embun saat mobil sudah berhenti di depan pagar.

__ADS_1


"Mau rame kaya gimana? dari dulu juga begini"


Keanu turun dari mobil untuk membuka pagar, rumahnya memang tak secanggih rumah utama yang memiliki remote khusus untuk membuka pagar besi.


"Assalamu'alaikum"


"Abi.. Umma. Nunu dan Embun pulang" ucap Keanu setelah mengucap salam.


"Gak ada orang, Bang"


"Tapi mobil sama motor Abi ada. Gak mungkin pergi. Masa iya pintu juga gak di kunci"


"Iya juga sih, tapi---"


"Tapi apa, Buy?" Tanya Keanu saat tangannya ditarik embun ke depan pintu kamar orang tuanya.


"Kenapa?"


"Abang gak denger ada suara di dalam?" ucap Embun yang menempel kan telinganya ke daun pintu.


"Suara apa sih, Yang?"


.


.


.

__ADS_1


.


Suara tarik ulur tombak tumpul..


__ADS_2