Paket Cinta Sang Embun

Paket Cinta Sang Embun
Terikat


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Dua tahun, Kek. Ku mohon" lirih Keanu.


Kini pria tampan berusia dua puluh tahun itu sedang berjongkok dihadapan Tuan Lee yang duduk di kursi roda, keduanya baru saja pulang dari acara makan siang bersama dengan kolega perusahaan sembari memperkenalkan sang pewaris baru AR Media Gruop.


Tuan Lee mengusap kepala sang cucu yang meski sudah di temukan tetap tak bisa bersama, Keanu tetap memilih tinggal di ibu kota bersama orang-tua angkatnya dengan alasan ingin tetap melanjutkan kuliah dan kerja disana.


"Apa kakek akan bisa tetap hidup sampai dua tahun mendatang, hem?" tanya Kakek dengan sorot mata teduhnya.


"Aku akan mendo'akan hal itu, bahkan lebih dari dua tahun. Aku dan Embun akan memberimu cicit yang lucu dan pintar maka kakek harus berjanji padaku untuk tetap sehat"


Keanu menggenggam dan menciumi tangan pria baya itu berkali-kali. Ia sudah mulai menyayangi kakek dan berjanji akan datang jika ada waktu luang.


"Kamu bisa menikah sambil kuliah, bukankah itu tidak masalah, Ar? asetmu banyak dan itu cukup untuk kamu hidup berdua dengan Embun. Jangan khawatir" rayu Tuan Lee.


"Aku tahu, tapi itu saja tak cukup. Kita tahu siapa Embun, Kek. Uang jajannya saja sudah membuat ku sesak napas. Aku ingin menjadi suami yang bisa mengimbanginya" jawab Keanu, ia tahu jika perusahaan yang di wariskan padanya tentu tak sebanding dengan Rahardian Gruop.


"Baiklah, tapi sering-sering ya ajak ia kemari. Senyumnya mengingat kan kakek dengan almarhum Tuan besar Rahardian. Ia orang baik dan ramah dengan siapapun, sungguh keturunannya tak ada yang gagal dalam bersikap"


.


.


.

__ADS_1


Keanu membaringkan tubuhnya diatas kasur yang nyamannya tentu berbeda dengan kasur di rumahnya. Ukurannya sedikit lebih besar dengan luas kamar tiga kali lipat dengan tetap kamar mandi di dalam. Meski sudah beberapa kali menginap rasa canggung tetap ia rasakan, bahkan Keanu sulit terpejam hingga lewat tengah malam.


"Kangen kamu, Buy" lirih Keanu dengan sorot mata menatap langit-langit kamar.


Baru satu jam lalu ia mengakhiri teleponnya tapi rasa rindu itu seolah tak tuntas. Sedangkan ia baru akan pulang lusa karna ada beberapa yang harus ia urus bersama dengan sang kakek termasuk berkunjung ke makam orangtuanya.


Hingga lamunannya kini berganti dengan deretan mimpi indah yang siap menemani hingga esok pagi.


💫💫💫


Suara ketukan pintu membuat Keanu menoleh, ia yang baru saja keluar dari kamar mandi tentu langsung menghampiri pintu bercat putih tulang tersebut.


Ceklek


"Selamat pagi, Tuan. Saya hanya memastikan anda sudah bangun karna tiga puluh menit lagi waktunya sarapan" ucap seseorang wanita berkacamata yang umurnya dua tahun lebih tua dari Keanu.


"Ya, aku akan turun sebelum tiga puluh menit"


Lexa mengangguk paham dan akhirnya pamit untuk kembali ke lantai bawah, ia memilih menunggu dua Tuannya itu di ruang tengah sambil mengecek sedikit pekerjaannya.


Keanu menutup pintu kamar setelah wanita itu pergi, ia kembali merapihkan diri karna harus selesai sebelum kakeknya datang ke ruang makan.


Sebelum Keanu sarapan tentu ia akan menyempat kan diri lebih dulu menghubungi sang pemilik hati yang kini sedang jauh di kota lain.


Hampir satu menit, panggilan telepon pun akhirnya di jawab oleh Embun.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum abang ganteng" sapa Embun sambil terkekeh.


"Waalaikum salam, cantik"


"Kangen, cepet pulang ya" pinta Embun yang suaranya langsung pelan seolah tertahan.


"Iya, Sayang. Akan ku usahakan cepat pulang.".


" Janji?"


"Tentu, semua untuk mu" jawab Keanu meyakinkan.


"Baiklah, akan menunggu meski aku benci harus menahan rindu" lirih Embun yang akhirnya membuang napas kasar.


"Percaya padaku ya, Buy"


"Percaya untuk apa?" tanya Embun malas.


.


.


.


Jauh ataupun dekat, lama ataupun singkat

__ADS_1


jika takdirmu dan takdirku terikat suatu hari kita akan di satukan dalam akad.


__ADS_2