
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Punggungku udah panas banget, Bang" keluh Embun yang menghampiri suaminya di sofa depan Tv dengan laptop diatas pangkuannya.
"Kenapa? nyeri lagi"
"Enggak, cuma berasa panas. Kadang juga mules"
Keanu mengernyitkan dahi, ia letakan semua pekerjaannya itu keatas meja lalu meraih tangan sang istri yang kini sudah duduk di sebelahnya dengan sesekali meringis.
"Kerumah sakit ya" ajak Keanu mulai panik.
"Enggak, ini pasti cuma kontraksi palsu kok, lagian baru tiga puluh enam minggu, Bang" tolak Embun sambil menenangkan suaminya.
"Kita gak tahu kapan babynya lahir, itukan prediksi dokter kecuali kamu udah fix mau Caesar"
"Aku mau normal, Bang" keukeh Embun masih dengan keputusannya.
"Meski kamu tahu jika itu sangat berbahaya bagi kalian?" sindir Keanu yang sebenarnya tak setuju. sedang keinginan si pemilik hati.
Embun yang tak ingin berdebat akhirnya beranjak ke tempat tidur, sedangkan Keanu yang tahu istrinya sedang menghindar langsung ikut menyusul.
"Aku hanya sedang takut, Sayang"
"Tak ada yang harus kamu khawatir kan. Aku dan anak kita baik-baik saja, percaya padaku ya. Aku senang kalian sangat menjaga ku termasuk Abi dan Umma yang mau menginap disini" balas Embun, senyum terukir jelas di ujung bibirnya mana kala ia menyebut nama kedua mertuanya yang sudah tiga hari tinggal di rumah utama.
__ADS_1
"Siapapun akan antusias menyambutnya. Apalagi ini pertama dari semuanya. Cucu pertama dari Abi dan Phiu juga cicit pertama dari kakek juga papAy" kekeh Keanu.
"Aku gak bisa bayangkan jadi dia, Bang. Betapa sulitnya nanti menghabiskan uang" ucap Embun sambil tertawa.
Jadi Embun saja sudah pusing, padahal semua hartanya hanya dari satu keturunan. Lalu bagaimana dengan anaknya kelak yang akan menuruni harta dan tahta dari tiga keluarga.
"Gak usah di pikirin, tapi di nikmatin. Toh dari semua harta yang kita punya itu ada hak mereka yang kurang mampu" jelas Keanu yang memberi peringatan.
Embun mengangguk paham, tak perlu di ajarkan tentu ia tahu hal itu karna entah sudah berapa harta yang sudah ia sumbangkan di dalam dan luar negeri.
.
.
Malam yang semakin larut, membuat keduanya. bersiap untuk tidur tapi entah kenapa hasrat Keanu justru perlahan memuncak saat dada besar istrinya menempel.
"Boleh apa?" tanya Embun yang sudah memejamkan matanya.
"Nanem si Buntut di lobang buaya kamu?" tanya Keanu yang sebenarnya ragu.
"Boleh, asal pelan-pelan"
Keanu langsung bersorak senang dalam hati, ia langsung melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya hingga polos tanpa apapun.
Perlahan, ia rentangkan kedua paha istrinya setelah ia membuang kain tipis yang menutupi sang lobang buaya.
__ADS_1
"Pelan ya, Bang" pinta Embun, ia tak mau suaminya lepas kendali sampai lupa diri.
"Iya, Sayang."
Keanu mengelus perlahan miliknya yang sudah tegak sempurna bagai pohon pinang saat lomba kemarin, ujungnya yang merah padam menandakan betapa bergai rahnya ia malam ini.
Lobang buaya yang bersih terawat itu seolah memancar kan keharuman yang begitu khas siap untuk di nikmati.
"Sekarang ya, Kamu nikmatin. Tapi kalau mau tidur gak apa-apa, aku gak maksa" ucap Keanu saat sedikit demi sedikit buntut kadalnya masuk.
Keanu memang tak pernah menuntut, ia tahu jika istrinya kini mudah lelah dan mengantuk, bermain sendiri pun tak masalah baginya.
Keanu mulai menghentak pelan, rasa hangat dan nikmat mulai menjalar di tubuhnya yang bermain dengan sangat pelan dan Lembut.
"Bang--"
"Hem, apa? sakit?" tanya Keanu.
.
.
.
.
__ADS_1
Bukan, tapi Mules...