
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Keanu yang baru memulai pekerjaanya beberapa waktu harus berhenti di tengah jalan karna getar ponsel yang tak kunjung berhenti. Orang-orang terdekatnya sudah paham betul dan tak akan mengganggu jika bukan hal penting, termasuk Embun yang sudah di beri pengertian untuk tidak merajuk saat pesannya lama di balas atau teleponnya sedikit di abaikan. Bersyukurnya gadis cantik itu sangat paham.
"Hallo, Bi" ucap Keanu setelah ia menggesee icon hijau di layar benda pipih miliknya yang terdapat foto Embun sebagai wallpaper.
"Kamu dimana, Nak?"
"Di jalan, ada apa? Umma baik, kan?" tanya Keanu saat mendengar suara Abinya seperti orang panik di seberang sana.
"Baik, Nak. Maaf, Abi boleh minta sesuatu darimu"
Keanu mengernyitkan dahi dengan ponsel terjepit diantara telinga dan Helm karna ia tak melepas benda pelindung kepala tersebut.
"Tentu, ada apa? katakan, Bi"
"Pulang sekarang ya, kita harus pergi" jawab Rendra yang membuat Keanu semakin tak paham dan penasaran.
"Pulang?" pekiknya pelan. Sedangkan barang di jok belakangnya masih menumpuk. Baru tiga barang yang ia kirim dan masih ada beberapa lagi.
__ADS_1
"Abu mohon, Nak"
Keanu menghela napas berat, tentu ia tak akan membantah jika pria kebanggaannya itu sudah memohon. Tanpa pikir dua kali Keanu akan melakukannya.
"Iya, Bi. Nunu pulang sekarang"
Keanu menyalakan lagi mesin motornya, ia melanjutkan perjalanan kearah rumahnya karna jika balik ke gudang penyimpanan barang tentu akan lebih lama memakan waktu. Dengan perasaan kalut, Keanu tetap harus fokus pada jalan di depannya. Dan tak sampai enam puluh menit ia sudah bisa memikirkan motornya di garasi.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikum salam, Nak" jawab Rendra dan Cheryl berbarengan.
"Umma sama Abi mau kemana?" tanya Keanu yang kembali berjalan menuju sofa ruang tamu.
"Cepat ganti baju, kita pergi sekarang"
"Iya, kemana?"
"Menemui kakekmu, keadaannya kritis. Abi tak mau menyesal karna tak membawa mu dengan cepat"
__ADS_1
Keanu diam sesaat, ia menoleh kearah Umma nya yang mengangguk seolah memberi kode agar Keanu menurut dan cepat bersiap. Tak ada yang bisa pria tampan itu lakukan kecuali menurut lagi.
"Aku ke kamar dulu"
Tubuh tinggi putihnya kini bangun dari duduk, Keanu bagai melayang saat ia menapaki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua.
Keanu membuka jaket dan kaosnya tapi tidak dengan celana. Ia mengganti pakaian atasnya itu dengan kemeja berwana navy lalu di gulungnya sampai ke siku. Keanu menatap dirinya di depan cermin, tak ada sedikit pun senyum terulas disana hanya tarikan napas berat yang di buang dengan kasar.
"Setelah aku mencoba untuk menutup mata, tapi akhirnya aku harus tau juga. Aku tahu ini takdir yang sudah di gariskan untukku. Tapi bisakah aku menolak?" lirih Keanu di iringi satu tetes cairan bening yang jatuh ke pipinya.
Jika boleh bernegosiasi tentu Keanu akan tetap memilih hidupnya yang sekarang, damai bersama Umma dan Abinya termasuk Embun. Ketiga orang itu sudah sangat cukup membuat seorang Keanu si mahasiswa sekaligus si pengantar paket bahagia dan nyaman.
Keanu keluar dari kamar kembali menuju lantai bawah, orangtuanya langsung bangun saat sang putra sudah berada di ujung tangga.
.
.
.
__ADS_1
Tunggu, aku hubungi Embun dulu..