Paket Cinta Sang Embun

Paket Cinta Sang Embun
Air mata Rendra


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂.


"Kenapa?" tanya Keanu.


Kini pasangan itu sedang ada di taman kampus Embun, Keanu datang di sela jam kerjanya yang kebetulan sedang mengantar barang di sekitar sana. Hal itu tentu tak di lewatkan oleh pria itu, kapanpun ia sempat tentu akan di usahakan untuk datang meski hanya lima atau sepuluh menit saling menatap.


"Gak apa-apa, kamu selesai kapan?" Embun balik bertanya dengan senyum kecil di ujung bibirnya.


"Paling malam, aku kan harus balik ke gudang dulu." jawab Keanu sambil meraih tangan Embun.


Semenjak kemarin, hatinya tak lagi tenang karna Embun memikirkan yang kini sedang terjadi di luar kota tepatnya di kediaman Tuan Lee. Phiu dan Abi Rendra sangat sulit di hubungi padahal Embun sudah menohon untuk cepat kembali dan mengabarinya.


"Hati-hati di jalan, aku tak ingin terjadi sesuatu padamu, Bang" pesan Embun yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Keanu.


Banyak yang mereka bincangkan termasuk para deretan mantan Embun yang masih satu kampus. Jujur, Keanu kadang tak tenang jika memikirkan itu bagaimana pun ia dan para pria tersebut sungguh jauh berbeda, Embun bisa saja kembali tergoda masuk kedalam pelukan salah satunya.


"Itu tak mungkin, cintaku sudah bulat dan tak berujung, Bang" kekeh Embun saat Keanu membuany napas kasar. Ia yang memulai dan ia juga yang kesal sampai membuat Embun begitu gemas padanya.


"Abang cukup tahu diri, Buy"

__ADS_1


"Emang Abang kenapa? aku memilihmu karna tentu kamu jauh berbeda dari yang lainnya. Jangan berpikir yang macam macam lagi ya" sahut Embun, ia tahu apa yang kini sedang di pikirkan oleh pria yang tak bisa di sebutnya kekasih itu.


.


.


.


Sementara di sebuah kota lain.


Samudera dan Rendra yang baru saja sampai di kediaman Tuan Lee sedang menunggu pria baya itu keluar dari kamarnya. Rendra sesekali di usap bahunya oleh Samudera saat pria itu benar benar gelisah dan takut.


"Tapi saya khawatir"


Belum sempat Samudera menjawab, Tuan Lee datang bersama seorang pria dan wanita yang mendorong kursi roda. Ketiga orang itu tentu langsung melempar senyum terbaik mereka.


"Selamat siang, Tuan Lee" sapa Sam dan Rendra yang berbarengan bangun dari duduk.


"Selamat siang, maaf lama menunggu. Silahkan duduk" jawab Tuan Lee, mata pria baya itu tak lepas menatap Rendra.

__ADS_1


"Terimakasih, Tuan"


Hampir lima menit tak obrolan apapun yang terjadi sampai akhirnya Samudera mulai angkat bicara.


"Perkenalkan, Tuan. Ini adalah Tuan Rendra yang tak lain adalah orang yang mengurus Keanu selama ini."


"Sudah saya duga. Terima kasih banyak sudah menyayangi cucuku dengan penuh kasih sayang selama dua puluh tahun. Ucapan Terima kasih tentunya tak akan pernah cukup" jawab Tuan Lee dengan suara pelan seolah menahan gejolak dalam dada.


"Saya dan istri saya benar-benar menyayangi Keanu, Tuan. Dia anak kami dan akan selalu seperti itu" balas Rendra yang nada bicaranya bergetar penuh rasa takut luar biasa.


"Saya paham, tentu ini tak mudah bagi kalian."


Ketiganya diam lagi, apalagi saat Rendra menitikan air mata kala ia menundukkan pandangan. Hatinya perih karna mungkin akan kehilangan anak yang sangat ia sayangi. Bayi yang dua puluh tahun ia peluk saat sakit dan sehat, saat tawa dan tangisnya.


.


.


.

__ADS_1


Jangan bersedih, Aaron Lee akan tetap menjadi anakmu.


__ADS_2