
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Bulan berganti bulan, perut Embun sudah tak tahu kini sebesar apa di usia kandungan 7 bulan. Bahkan saat syukuran kemarin ia hanya bisa duduk manis menerima tamu undangan dan pengajian seperti biasa. Beruntungnya ia punya suami yang begitu sabar menemani, tak pernah lelah jika sang istri ingin ini dan itu dalam waktu yang bersamaan.
Lalu bagaimana dengan ketiga pria yang mengalami hamil simpatik?
Mereka kini sudah jauh lebih aman, Air tak lagi mual dan muntah setiap pagi tapi napsu makannya jadi tiga kali lipat setiap hari, apapun ia makan dan masuk ke dalam perutnya, pria baya itu akan berhenti mengunyah hanya saat tertidur pulas saja. Berbeda dengan Samudera yang sejak awal anaknya hamil menjadi pemalas dengan hanya ingin jadi kaum rebahan kini sudah kembali aktif ke kantor tapi harus dengan menaiki kereta api menuju kantor. Ia akan mengembang kan senyum selama 24 jam jika sudah duduk manis di sisi sang masinis.
Lalu Rendra, pria soleh itu masih saja senang melihat orang lain bahagia meski tak sepemaksa beberapa bulan kemarin.
"Ini isinya apa sih, kak?" tanya Rain saat mengusap perut kakak perempuannya.
"Keponakan kamu lah"
"Jumbo kayanya, keluarin sekarang dong" pintanya iseng, tapi Embun malah memukulnya memakai bantal sofa.
Rain yang terus saja menggoda memang sangat gemas melihat kakaknya yang mengembang besar berkali-kali lipat dari tubuhnya yang semula. Pipi bulat dengan mata yang semakin sipit sering kali di ledek oleh si bungsu, jadi tak heran jika rumah utama akan menjadi heboh dengan pertengkaran mereka.
"Awas aja! Gak akan kakak pinjemin kalo ini anak udah lahir" ancam Embun.
"Bodo ih, Bum punya anak kucing banyak" balas Rain semakin meledek
Biru yang mendengar perdebatan dua anaknya hanya bisa membuang napas kasar, sedangkan suaminya tersenyum simpul. Samudera justru sangat menikmati momen tersebut. Lahir menjadi anak sulung yang adiknya harus pergi lebih dulu menjadikan ia sebagai anak tunggal karna kedua orangtuanya seolah trauma pasca keguguran.
__ADS_1
"Kamu besok jadi kerumah mertua mu?" tanya Biru.
"Jadi, Mhiu"
"Iiiiiiih, JANGAN!!!" cegah Rain seperti biasa. Pria tampan itu akan merengek jika kakaknya pergi.
"Cuma nginep dua hari, soalnya lusa mau ke kakek. Kakek kangen katanya. Aku bingung kami berdua rentan naik pesawat" keluh Embun, ia serba salah jika sudah menyangkut Tuan Lee.
"Wajar dia begitu, Phiu pun mungkin akan merasakan hal yang sama"
"Bum aja yang gantiin kak Buy kesana, Keh"
"Lah, kakek mau apa ketemu kamu, Aneh!" sahut Embun.
Sampai perbincangan berakhir saat Keanu datang pulang dari kantornya. Malam ini ia memang pulang sedikit terlambat karna harus menghadiri beberapa rapat.
.
.
Cek lek..
Keanu membuka pintu kamar mereka sambil menggandeng tangan Embun, ia biarkan wanita istimewa itu masuk lebih dulu ke arah ranjang.
__ADS_1
"Kamu diem sini ya, aku mau mandi sebentar" pesan Keanu setelah ia mengangkat satu persatu kaki istrinya keatas ranjang.
"Iya, jangan lama-lama, aku kangen"
"Siap, sayang" sahut Keanu yang kemudian mencium kening Embun.
Hampir tiga puluh menit berlalu, Keanu kembali dengan hanya handuk yang melilit sebatas pinggangnya saja. Senyumnya sudah nampak lain sejak ia menutup benda bercat putih tersebut.
"Mau nengokin bayi, Ah" godanya sambil naik ke atas ranjang.
"Perutku, makin gede ini sih di siramin mulu" cibir Embun yang membiarkan tangan Keanu membuka kancing depan dress nya.
"Biar makin gemoy" sahut Keanu yang sekilas mencium bibir istrinya sekilas.
"Ish, emang Abang gak malu kalau bawa aku? aku tuh udah berubah banget loh, Bang. Badanku jadi super besar kaya gini"
.
.
.
.
__ADS_1
" Tak apa, justru Tuhan sedang membuat ku agar tak bosan mencintaimu, ia hadirkan dua versi bentuk terindahmu untukku"